Allana tidak akan pernah lupa dengan bagaimana awal persahabatannya dimulai. Lewat susunan memori yang tersimpan baik di otaknya Allana ingat betul kala pertama kali dia bertemu Razella.
Kenangan itu terasa indah jika diingat lagi, terlalu manis untuk dilupa. Jika Allana bisa memutar waktu, dia ingin kembali pada saat Razella memperkenalkanya dengan Elenio. Dan untuk pertama kalinya bagi Allana mempunyai seorang teman.
Gadis kecil berusia delapan tahun dengan surai hitam sepunggung serta rambut berponi menutupi keningnya. Dia duduk di atas kasur serta memeluk boneka teddy bear berwarna pink. Waktu hampir memasuki tengah malam, tapi gadis imut itu masih tetap terjaga.
"Besok, aku ulang tahun, kira-kira Mama sama Papa kasih kejutan apa, ya?" tanya Allana yang tidak sabar menyambut datangnya hari esok.
Allana berkhayal dia terbangun dengan kondisi rumah yang sudah di dekorasi penuh dengan balon-balon warna-warni.
Paginya disambut dengan ucapan selamat serta raut kegembiraan dari keluarganya.
"Andai apa yang aku ingin bisa terwujud, pasti aku bakal jadi orang yang paling bahagia di dunia," kata Allana tersenyum lebar.
Seingat Allana orang tuanya tidak pernah ada di hari ulang tahunnya. Meski kenangan lama menghantui. Tetapi Allana tetap berharap keadaan akan lebih baik untuk besok.
"Tolong, sekali aja, aku ingin bahagia di hari ulang tahun aku, aku ingin, Mama sama Papa ada di sini, semoga besok mereka pulang," pinta Allana menengadahkan tangan berdoa seraya memejamkan mata. Tanpa sadar Allana mulai terlelap dan terbuai dalam alam mimpi.
***
Gadis kecil yang tertidur nyenyak di ranjang itu menggeliat meregangkan tubuhnya. Dia melihat ke arah jendela, perlahan sinar matahari menembus masuk dari kaca.
Dia mengucek kedua matanya. Hatinya berbunga-bunga penuh rasa bahagia.
"Ye, akhirnya udah pagi," ujae Allana yang masih berbalut selimut itu lantas turun dari ranjang.
Allana berlari keluar dari kamar menuju ke ruang keluarga lantas berlanjut ke ruang tamu. Keadaanya masih sama tidak ada hiasan apapun yang tertata di ruang ini.
"Mungkin di taman belakang," tebak Allana menaruh sejuta harapan, bisa saja keluarganya mempersiapkan pesta ulang tahun itu di sana. Allana berlari kecil dengan senyum yang terus mengembang sempurna.
Setibanya Allana semuanya tampak sepi dan kosong. Tidak ada pernak-pernik pesta ulang tahun dan tidak ada ucapan selamat untuknya. Raut wajahnya merengut sedih, rasa antusias untuk menyambut hari ini berakhir dengan rasa kecewa yang kembali terasa. Kejadian itu terulang lagi, orang tuanya tidak peduli pada Allana.
Allana merasa dia diperlakukan sangat berbeda dari Rama. Dimas dan Hanna bahkan mencurahkan segala perhatian dan kasih sayangnya pada Rama, saking sayangnya mereka selalu mengajak Rama kemanapun mereka pergi seperti saat ini, Allana ditinggal sendiri. Allana yang berhati lembut itu sedikit meneteskan air mata menghadapi kenyataan di depan matanya.
Apa yang dia inginkan semalam hanya akan menjadi angan-angan.
Allana kembali masuk ke dalam rumah dengan lesu.
"Selamat Ulang Tahun, Non Allana," kata Ratih sambil membawa kue coklat lengkap dengan lilin angka delapan yang menyala.
Sesaat Allana mengulas senyun lalu senyum itu sirna seban Allana kecewa menerima semua ini.
"Kok sedih gitu wajahnya?" tanya Ratih.
"Harus senyum dong, Non, ini hari spesialnya Non Allana," ucap Ratih.
"Bi, Papa sama Mama gak peduli ya, sama aku? Mereka lupa ya Bi?" tanya Allana merasa tidak dianggap.
Ratih ikut bersedih saat Allana mengatakan hal itu. Gadis kecil ini tak seharusnya bersedih di usinya yang masih belia. Dalam masa tumbuh kembangnya Allana seharusnya mendapat banyak kasih sayang bukan sebaliknya.
"Mereka peduli sama Non Allana, tadi Bibi habis telfonan sama mereka, katanya mereka ucapin selamat ulang tahun buat Non Allana," papar Ratih terpaksa berbohong agar hati Allana tidak terluka lebih dalam lagi.
"Kenapa mereka gak bilang langsung ke Allana walaupun cuma lewat telfon, kenapa malah ke Bibi? Kan yang ulang tahun sekarang itu aku," ujar Allana tidak terima.
"Jadi gini Non mereka telfon masih pagi banget dan Non Allana masih tidur, Bibi gak tega bangunin Non," alibi Ratih padahal apa yang dia katakan hanyalah rekayasa untuk menghibur kesedihan yang Allana rasakan.
Allana tidak sepenuhnya percaya tapi dia mencoba mengiyakan.
"Papa sama Mama masih sibuk ya Bi, udah sebulan mereka gak pulang," keluh Allana merasa rindu.
"Iya, Non, bisnis Tuan Bagas sekarang naik pesat, Non Allana doa'in aja semoga pekerjaan mereka dilancarkan dan bisa cepat pulang ketemu Non Allana." Ratih menasehati.
"Tapi Bi, kalau mereka sayang sama aku, kenapa mereka gak pernah peluk aku?" tanya Allana menatap lekat pada Ratih.
Ratih terdiam sejenak, pertanyaan ini sulit untuk Ratih jawab, dia harus segera mengalihkan perhatian Allana. Saat matanya menatap ke arah kue ulang tahun Ratih menemukan ide
"Non Allana, ayo tiup lilin keburu mati lo apinya," perintah Ratih.
"Aku buat permintaan dulu ya Bi," kata Allana lalu mengeratkan kedua telapak tangan di depan dadanya.
'Suatu saat nanti, aku ingin disayang sama Papa sama Mama, aku ingin dipeluk mereka,' permintaan Allana yang sederhana namun bermakna baginya.
***
Allana duduk di teras rumahnya menanti kepulangan Dimas dan Hanna yang tak pasti. Dia menerawang jauh ke depan, pikirannya berkelana. Bayangan kebahagiaan yang Allana inginkan hanya tercipta dalam ilusinya.
Seorang gadis kecil dengan rambut dikuncir satu tidak sengaja melewati gerbang depan Allana, dia melihat Allana tampak melamun.
"Hai," panggil gadis itu sambil melambaikan tangan ke arah Allana.
Allana segera berdiri menghampiri ke gerbang.
"Kamu siapa?" tanya Allana lugu.
Gadis itu mengulurkan tangan kanannya. "Nama aku Razella kalau kamu," jelas Razella.
Allana membalas uluran tangan itu. "Aku Allana."
"Aku lihat tadi kamu melamun terus wajah kamu juga kelihatan sedih," ujar Razella memindai raut wajah Allana.
"Gak pa-pa tadi aku cuma mikirin sesuatu," balas Allana menutupi. Razella mengangguk paham.
"Kamu mau gak, main sama aku?" ajak Razella.
"Mau," balas Allana girang.
"Aku pamit dulu ya ke Bi Ratih," ujar Allana bergegas masuk.
"Iya," sahut Razella.
Beberapa menit menunggu Allana akhirnya keluar.
"Ayo." Keduanya lantas berjalan, di sepanjang jalan yang mereka lalui Razella selalu mengajak Allana mengobrol dan membahas hal-hal seru.
"Kita udah sampai," kata Razella yang mengajak Allana ke danau untuk bertemu Elenio.
"Hai El," sapa Razella.
"Hai, Ra, ini siapa? tanya Elenio.
"Aku Elenio," ucap Elenio.
"Aku Allana," ujar Allana.
"Oke sekarang kita berteman dan mulai saat ini kita sahabat," ucap Razella.
"Teman? Akhirnya aku punya teman!" seru Allana melompat gembira. Pasalnya Allana baru pertama kali memiliki teman.
"Gimana kalau kita main?" ajak Elenio.
"Tapi main apa?" tanya Razella mengetukan jari telunjuknya pada pipi.
"Petak umpet gimana," usul Elenio.
"Caran mainnya gimana?" tanya Allana dengan raut kebingungannya. Dia menggaruk tengkuk bagian belakang lehernya.
"Masa kamu gak tau?" tanya Elenio meragu.
"Enggak," jawab Allana lugu.
"Jadi, petak umpet itu yang satu jaga di pos sambil merem terus dua orang lainnya bersembunyi," jelas Elenio menatap Allana.
"Gimana, paham gak?" tanya Razella.
"Enggak," balas Allana menggeleng membuat Elenio dan Razella kompak menepuk jidat masing-masing.
"Kalau gitu aku contohin ya," ujar Razella. "Aku yang jaga kalian yang sembunyi," perintah Razella.
Begitu Razella mulai menghitung angka. Elenio dengan cepat menggandeng tangan Allana untuk sembunyi di balik rumput yang tinggi
"Apa kita aman?" tanya Allana yang berjongkok bersama Elenio.
Elenio menempelkan jarinya di depan bibir."Jangan berisik nanti, Razella dengar," peringat Elenio. Allana dengan cepat menutup mulutnya sendiri.
Elenio terkekeh dengan tingkah Allana yang menggemaskan. "Kamu lucu ya, masa petak umpet aja gak tau," ujar Elenio.
"Soalnya aku gak dibolehin keluar rumah dan aku juga gak punya teman," jawab Allana lirih ada kesedihan yang terpancar dari sorot matanya.
"Tapi, sekarang kamu udah punya teman," kata Elenio tersenyum menghibur Allana.
Raut wajah kembali ceria.
"Iya, aku senang banget hari ini," kata Allana semangat membuat Razella mendengarnya.
"Elenio, Allana kalian ketangkap," ujar Razella.
"Yah kita kalah Al," keluh Elenio.
"Allana kamu udah paham kan permainannya.
"Udah," Allana tersenyum simpul. Mungkin ini kado terindah yang diberikan Tuhan untuk dirinya.
"Gimana kalau selanjutnya kita main lari-larian dia yang kena dia yang kalah," aja Elenio.
"Razella kamu kena!" seru Elenio menyentuh tangan Razella.
"Kamu curang El! Aku belum siap," rajuk Razella.
Mereka berlari penuh dengan canda tawa. Baru kali ini Allana merasa sebahagia ini seumur hidupnya. Setelah berlari dari ujung danau sampai ujung lagi membuat Allana dan Razella kelelahan merek lantas duduk di atas rumput hijau di bawah pohon dengan angin sepoi-sepoi yang menyejukkan tubuh mereka.
"Capek," keluh Allana mengipasi wajahnya dengan tangan.
"Iya, sama, tapi asik kan?" tanya Razella napasnya masih memburu.
"Iya, seru banget," jawab Allana.
"Tapi, El, kemana?" tanya Razella mencari keberadaan Elenio.
"Itu dia tunjuk Allana saat melihat Elenio berjalan ke arah mereka.
"El, kamu bawa apa?" Razella bertanya.
"Rumput," jawab Elenio duduk diantara Allana dan Razella.
Kening Razella mengerut dalam.
"Emangnya, bisa dibuat apa?" tanya Razella mengamati Elenio merangkai satu demi satu rumput menjadi sebuah gelang.
"Ini buat kamu, Ra," kata Elenio memberi gelang yang terbuat dari rumput berhias bunga di sisinya untuk Razella.
"Lucu banget, El, kamu dapat ide dari mana," puji Razella memandangi hasik karya Elenio.
Allana melipat kedua tangan di dadanya. "Jadi cuma Razella aja yang di kasih aku enggak," sungut Allana mengerucutkan bibirnya.
"Siapa bilang, nih aku mau bikin untuk kamu," jawab Elenio fokus merangkai helai demi helai rumput itu lagi.
Allana dengan sabar menunggunya seraya mengamati tangan Elenio yang terampik membuatnya
"Nih buat kamu Allana," ujar Elenio memasangkan gelang itu di tangan Allana.
"Cantik," puji Allana takjub.
"Aku seneng banget punya sahabat seperti kalian, akhirnya aku bisa merasakan bagaimana rasanya bermain bersama teman," ungkap Allana tulus.
"Kita juga senang bisa bertemu kamu Allana," jawan Razella dan Elenio bersamaan.
"Coba mana aku minta satu rumputnya," pinta Razella memegang rumput itu lantas membentuknya menjadi lingkaran kecil.
"Jari kamu mana El?" tanya Razella membuat Elenio menaikan alisnya. Razella memasukan rumput berbentuk cincin itu di jari telunjuk Elenio.
"Wah, makasih banyak, ya, Ra," kata Elenio.
"Kalian temenan udah lama ya? tanya Allana mekihat interaksi akrab antara Razella dan Elebio.
"Baru satu minggu sih," jawab Razella.
"Coba aja, aku bisa seperti kamu Ra, ramah dan mudah bergaul," kata Allana menunduk.
"Kita gak perlu jadi orang lain untuk bisa di terima di dunia ini, kita hanya perlu menjadi diri sendiri. Versi kita, bukan orang lain," balas Razella membuat Allana kagum.
"Wah pemikiran kamu udah seperti orang dewasa, Ra, padahal kita kan seumuran, tanya Allana heran.
"Aku cuma banyak belajar aja Al," jawab Razella rendah hati.
Allana telah menyerap banyak kata-kata dari Razella. Selama itu juga Allana mengerti jika hidup itu terus bergerak, Allana tahu tidak baik terus berkutat pada masa lalu namun menatap masa depan pun rasanya kelabu. Jadi, pilihan terbaik untuk Allana adalah menjalani apa yang terjadi hari ini dan benar-benar hadir dalam hidupnya di setiap hembusan napasnya.