Elenio yang merebahkan tubuhnya di atas kasur itu terus menatap kalung liontin bunga milik Amara. Suara detak jarum jam mampu mengisi kekosongan kamar Elenio. Air mukanya tampak sendu dengan kedua mata menatap setiap detail di kalung itu.
"Kalung ini, kalung kesayangan Bunda," kata Elenio.
"Aku bersyukur bisa temuin kalung ini walaupun lewat Allana."
Pandangannya masih belum terlepas dari kalung dengan liontin bunga yang ditengahnya berhias berlian putih berkilau.
"Bunda, El, rindu kenapa Bunda pergi secepat ini?" sesal Elenio menghembuskan napas beratnya. Dia lantas menyimpannya di dalam laci.
Entah datangnya darimana Elenio tiba-tiba teringat semua perlakuan dan penolakan kasar yang dia tunjukkan pada Allana. Terlebih insiden yang dilakukan Sasha hingga membuat tangan Allana terluka.
"Apa aku benar-benar keterlaluan sama Allana," gumam Elenio.
Sedetik kemudian, Elenio tampak mengeraskan rahangnya. "Aku gak boleh ketipu sama drama dia, bisa aja Allana cuma pura-pura baik di depan aku!" seru Elenio menumbuhkan benih kebencian itu.
***
Allana berlari dari rumahnya, dia bergegas mencari taksi di tepi jalan.
"Aduh, aku bisa telat nih," keluh Allana melihat jam tangannya panik.
Lantaran belajar terlalu larut membuat Allana bangun kesiangan ditambah dia juga lupa menyetel alarm-nya. Bi Ratih sebenarnya sudah mencoba membangunkan Allana. Namun apa daya, karena pintu di kunci Bi Ratih hanya mencoba bersuara di balik pintu.
Allana melambaikan tangan membua taksi itu berhenti, gegas Allana masuk ke dalam.
"Ke SMA Cakrawala, ya, Pak," ujar Allana.
"Iya, Dek."
Allana terus memandang ke arah jam tangannya sebelah tanganya terus mengetuk pelan pahanya. Khawatir jika dia terlambat sampai di sekolah. Baru setengah jalan tiba-tiba mobilnya berhenti
"Kok berhenti Pak?" tanya Allana pada sopir Taksi.
"Sepertinya mobilnya mogok Dek," kata Sopir itu menoleh pada Allana.
"Yah, saya bisa telat kalau begini," keluh Allana gelisah.
"Duh, maaf, ya Dek,"
"Ini ongkosnya Pak," Allana lantas membuka pintu taksi dia berjalan mencari angkutan lain tapi Allana tidak menemukan, alhasil Allana berlari agar bisa sampai tepat waktu di sekolah.
"Tinggal lima menit lagi," kata Allana di sela-sela larinya, gadis itu semakin menambah kecepatan larinya. "Aku harus cepat sampai!"
Allana membungkukan tubuhnya dengan kedua tangan bertumpu di atas lutut saat dia tiba di depan gerbang yang sudah terkunci dan tertutup rapat.
Allana memegang gerbang besi itu menatap ke area gedung sekolah. Kulit wajah Allana yang putih bersih dipenuhi buliran keringat wajahnya memerah akibat kelelahan.
Allana menoleh saat merasa seseorang berjalan di sebelahnya.
"El, kamu baru datang?" tanya Allana terkejut melihat Elenio mendorong motornya. Belum sempat Elenio menjawab, terdengar suara lantang mendekat ke arah mereka.
"Kalian kenapa berdiri di situ?!" sentak Pak Danu.
"Terlambat Pak," sahut Elenio menatap Pak Danu yang membuka kunci gerbang.
"Ayo masuk!" titah Pak Danu lugas.
Allana dan Elenio berdiri saling bersebelahan masing-masing menautkan kedua tangan di belakang pinggang. Sedangkan Pak Danu menatap mereka lekat berniat mengintrogasi.
"Kenapa kamu terlambat El?" tanya Pak Danu galak. Guru paruh baya dengan warna rambut yang memutih itu terkenal karena kedisiplinannya. Beliau lah yang sering menghukum murid-murid jika menyalahi aturan.
"Ban saya kempes di jalan Pak," jawab Elenio sedikit emosi.
"Jangan bohong kamu El!" seru Pak Danu meragu.
"Kalau Bapak gak percaya, Bapak bisa cek sendiri," kata Elenio jengah. Dia berkata jujur. Pak Danu menilik raut wajah Elenio tampaknya lelaki itu sungguh-sungguh.
Atensinya beralih pada Allana.
"Kalau kamu Allana?" tanya Pak Danu pelan.
"Taksi yang saya tumpangi mogok Pak, jadi saya jalan kaki untuk sampai di sekolah. Saya udah coba lari, tapi tetap saja waktu lebih cepat berjalan daripada langkah kaki saya," papar Allana.
Pak Danu mengangguk percaya setelah melihat wajah Allana dibasahi peluh keringat ditambah Allana yang berusaha keras mengontrol ritme pernapasanya.
"Alasan apapun tidak berlaku, jika kalian terlambat, hukuman harus tetap berjalan karena Bapak mau murid di sekolah ini disiplin dan bertanggung jawab atas kesalahannya," tekan Pak Danu menjunjung tinggi nilai kedisiplinan.
"Tapi karena alasan kalian logis dan jujur, Bapak kurangi hukuman kalian. Berdiri dan hormat bendera selama 30 menit," hardik Pak Danu mutlak.
"Baik Pak," sahut keduanya bersamaan.
Allana dan Elenio berjalan ke arah tiang bendera lantas mengangkat tangan kanannya posisi hormat.
"Jangan deket-deket!" peringat Elenio dengan intonasi berat saat merasa jarak Allana hanya selangkah di sampingnya.
Allana segera menurut, dia mengambil beberapa langkah ke samping guna memberi jarak.
Terik matahari terlihat silau di mata Allana. Waktu pun seolah berjalan melambat. Entah kenapa saat Allana menatap tiang bendera itu, rasanya tiang itu bergerak. Dia mencoba menggelengkan kepala dengan maksud agar penglihatannya normal, namun rasa pusing itu kian menderanya.
'Aku harus kuat!' Allana berujar dalam hati.
Perlahan tangan yang terangkat di sisi alisnya itu terlihat melemah dengan turun ke bawah. Allana masih berusaha menguatkan dirinya. Tapi pada akhirnya tubuh Allana lemas tak berdaya dan ambruk ke tanah.
Elenio yang tetap berdiri menoleh pada Allana. Ekspresi wajah Elenio tampak biasa-biasa saja, sama sekali tidak menganggapnya serius.
"Gak usah drama! Bangun, dasar lemah!" seru Elenio tanpa rasa kasihan.
Elenio masih mengabaikan Allana, dia mengira gadis itu hanya berpura-pura saja. Tapi Allana tak kunjung bangkit lagi.
"Jangan harap, aku bakal ikutin drama kamu, aku gak akan nolong kamu!" ancam Elenio melirik Allana lewat sudut matanya.
Lagi-lagi tak ada sahutan apalagi pergerakan Elenio segera berjongkok di sebelah Allana.
"Bangun atau aku seret kamu sekarang juga!" seru Elenio dengan nada penuh ancaman.
Elenio sedikit menyisihkan helai rambut tipis yang ada di kening Allana, Elenio lantas menempelkan punggung tangannya di sana.
"Panas," gumam Elenio tersadar jika Allana benar-benar pingsan. Dengan sigap Elenio segera mengangkat tubuh Allana.
"Allana kenapa?" tanya Pak Danu pada Elenio.
"Pingsan Pak," jawab Elenio.
"Cepat kamu bawa ke UKS!" perintah Pak Danu.
Elenio lantas mempercepat langkahnya. "Dasar nyusahin!" gerutu Elenio dalam perjalanan menuju UKS.
Elenio membaringkan tubuh Allana di atas ranjang UKS.
"Pak, Bu Rani kemana ya?" tanya Elenio pada Pak Danu yang berdiri di ujung pintu UKS.
"Beliau masih ada keperluan di luar kemungkinan datangnya terlambat," jelas Pak Danu.
"Terus, Allana gimana?" tanya Elenio kebingungan.
"Kamu tolong temani dia dulu ya, saya akan hubungi Bu Rani. Nanti kalau ada apa-apa, panggil saya," ucap Pak Danu lalu bergegas pergi.
Elenio mendengus kesal, kenapa harus dia yang ada di saat Allana kenapa-napa. Elenio segera mengambil handuk kecil dari tasnya lalu membasahinya dengan air. Kemudian menempelkan kain lembab itu di dahi Allana.
Keringat dari kening Allana terus mengalir. Elenio hendak menyalakan AC tapi dia kemudian berfikir dua kali. Jika nanti Allana kedinginan dan tambah sakit dia juga yang repot. Akhirnya Elenio mengambil buku di tas-nya lalu mengipasi Allana pelan-pelan meski diselimuti rasa jengkel dalam benaknya.
"Bikin repot aja!" keluh Elenio.
Allana perlahan membuka kelopak matanya. Tatapannya tertuju pada buku yang bergerak di atas wajahnya.
Dia menoleh pada pemilik buku itu. "El?" panggil Allana karena Elenio memalingkan wajahnya.
"Bagus, kalau kamu udah sadar, aku mau pergi," ujar Elenio ketus.
"Makasih," kata Allana lembut.
"Maaf karena udah bikin kamu repot," lanjut Allana.
'Jadi dia denger apa yang aku omongin tadi.' Elenio membatin.
Elenio berbalik badan. "Kamu cuma pura-pura kan?!" tuduh Elenio, padahal jelas-jelas bibir Allana terlihat pucat pasi.
"Nggak, pura-pura sakit itu gak lucu El," sanggah Allana suaranya serak. Untuk apa juga Allana membohongi Elenio itu semua terjadi di luar kendalinya.
"Lagian kenapa kamu pingsan segala?!" pertanyaanya itu Elenio ajukan bukan karena perhatian atau peduli dia hanya ingin tahu saja.
"Aku belum sarapan, karena bangun kesiangan," jelas Allana mengambil handuk di keningnya kemudian perlahan mengangkat tubuhnya untuk duduk
"Cuma karena itu?" Elenio menggeleng-gelengkan kepala.
"Ternyata, benar kamu emang lemah!" ejek Elenio tersenyum remeh.
Allana menunduk. "Iya aku emang lemah," lirih Allana.
Niat Elenio ingin memancing reaksi Allana agar melawan kalimatnya barusan justru membuat Elenio kesal lantaran Allana memilih mengakuinya.
"Bisa gak, kamu jangan bersikap kayak gini di depan aku?!" geram Elenio, tangan yang tergantung bebas di sisi tubuhnya mulai mengepal erat.
"Maksud kamu?" tanya Allana seraya menautkan alisnya.
"Kelemahan itu bukan buat dipamerin Allana, harusnya kamu gak pernah nunjukin kelemahan kamu sama orang lain! Aku udah bilang waktu itu, apa kamu lupa?!" gertak Elenio.
"Sama aja kita bohongin diri kita sendiri," balas Allana.
"Sifat manusia itu gak ada yang asli, kebanyakan punya banyak topeng ekspresi buat nutupin masalah atau kelemahan mereka," jelas Elenio, dia bisa berkata begitu karena dirinya sedang berada dalam fase dimana dia harus selalu tampak baik-baik saja di depan banyak orang.
"Iya, aku paham, aku seperti ini cuma di depan kamu El. Aku berusaha jujur sama kamu, sahabat aku. Dulu kita punya janji untuk selalu terbuka satu sama lain untuk menghindari kebohongan," ungkap Allana mengungkit perjanjian lama.
"Itu dulu, sekarang beda! Setiap orang punya ruang privasi!
Jangan anggap aku sahabat kamu lagi! Harus berapa kali aku ingetin kamu? Aku benci sama kamu! Benci Allana," kata Elenio penuh penekanan.
"Aku terima kebencian kamu El, tapi jangan salahin aku kalau aku akan tetap berusaha menuntut maaf dari kamu," tekad Allana.
"Terserah, kamu mau lakuin apa aja itu gak akan berpengaruh ke aku! Kita lihat aja, apa kamu akan mampu bertahan!" balas Elenio tak kalah tajam.
"Sekuat apapun kamu mencoba lari dari permasalahan yang belum selesai, itu akan terus mengejar kamu, kemana pun kamu pergi, El. Memang, kita harus melupakan dan melepas masa lalu, tapi sebelum itu kita harus benar-benar telah selesai dengannya," jelas Allana meninggikan nada suaranya.
"Kata-kata kamu gak akan buat aku berubah pikiran Allana! Lebih baik kamu menyerah dan jauhin aku! Sebelum kamu sakit hati lebih dalam lagi," peringat Elenio mengetatkan rahangnya. Menghadapi Allana memang sangat menguras kesabarannya.
"Aku yakin, aku pasti bisa mengatasinya, aku sanggup melewati itu semua," ujar Allana saat Elenio keluar dari ruangan.
Elenio tidak lagi menggubris Allana. Dia pergi sebelum darahnya yang mendidih naik ke atas kepala.
***
Setelah sedikit memakan roti dan meminum obat demam. Pelan-pelan Allana berjalan lemas ke ruang kelas.
"Al," panggil Tania memegang bahu Allana. Tania mengetahui jika Allana pingsan karena Elenio yang masuk ke kelas dicecar dengan beberapa pertanyaan oleh Bu Ratna.
Tania sudah meminta izin untuk menemani Allana di UKS namun itu tidak diperbolehkan oleh Bu Ratna. Tentu, Tania tidak bisa berbuat banyak menimbang jika Bu Ratna adalah guru Fisika sekaligus guru paling galak di SMA Cakrawala.
"Maaf, tadi aku mau lihat kondisi kamu cuma gak dibolehin," adu Tania.
"Iya, aku ngerti. Kamu beneran udah sembuh, masih pusing gak?" tanya Tania penuh perhatian.
"Udah baikan kok Ta, tadi aku juga udah minum obat," jawab Allana menyunggingkan senyum.
"Kenapa kamu bisa pingsan, Al?"
"Aku buru- buru, jadi gak sempat sarapan dulu," papar Allana.
Tania mengusap punggung Allana. "Lain kali jangan gitu lagi, ya Al, kamu sendiri kan yang rugi," peringat Tania.
***
Sebelum pulang, Allana ingin memastikan, barangkali ada buku yang tertinggal di lokernya. Allana memegang kunci loker memutarnya lalu membuka loker itu. Matanya menyipit saat melihat ada selembar foto diatas tumpukan dua buku miliknya.
"Perasaan, aku gak pernah taruh foto ini di sini tapi kok," kata Allana mengambil foto itu lalu membalikkannya.
'Pelakunya memiliki dua sisi yang bertolak belakang, dia bersembunyi di balik topeng kebaikan.' Mata Allana terbelalak lebar, seketika jantungnya berpacu sangat kencang. Respon tubuhnya melemas.