Sesaat, Allana sempat terpaku setelah membaca kalimat itu, seketika telapak tangannya terasa dingin.
"Jadi orang ini tau, aku sekolah di sini? Dia juga tau persis letak loker aku, sebenarnya siapa dia?" tanya Allana menelan ludahnya susah payah.
"Terus siapa yang orang ini maksud? Siapa yang sembunyi di balik topeng kebaikan?" gumam Allana bola matanya bergerak cemas.
Allana mulai memetakan pikiran, mengurai satu per satu benang merah. Tania dan Devan adalah orang terdekatnya, mereka baik padanya bahkan di saat semua orang membenci dan memaki Allana, kedua orang itu selalu membantu Allana. Tapi Allana jadi ragu, mengingat sebelum tragedi itu terjadi, dia tidak begitu akrab dengan Devan dan Tania, apa iya kalimat itu merujuk pada mereka berdua?
"Al," panggil Tania sontak membuat Allana terlonjak kaget. Allana reflek menyembunyikan foto itu di balik punggungnya.
"Kok kaget gitu sih," tanya Tania mengerut bingung.
Kini Allana malah tampak gugup di depan Tania. "A-aku cuma kaget aja kok, aku orangnya emang suka kaget."
'Gawat, semoga Tania gak dengar apa yang aku ucapin tadi,' ujar Allana dalam hati.
"Kamu udah dari tadi di belakang aku?" tanya Allana panik.
"Belum sih, baru aja," jawab Tania pelan
Allana menghembuskan napas lega.
"Kita jadi kan, jenguk Devan?" tanya Tania
"Jadi, tapi aku pulang dulu ya Ta, ganti baju," ujar Allana.
"Oke, nanti ke sananya biar aku yang jemput kamu di rumah," balas Tania.
Syukurlah jika Tania tidak curiga
Allana lantas memasukan foto itu di sela-sela halaman bukunya.
***
Sedari tadi Sasha tidak berhenti mengikuti Elenio bahkan di jam pulang begini, gadis itu masih bersikukuh meminta penjelasan yang detail keluar dari mulut Elenio.
"El! Kamu dengar aku gak sih? Jelasin yang tadi!" perintah Sasha terus mencoba menyamai langkah Elenio.
"Apa?" tanya Elenio menoleh sekilas terus melangkah.
Jenuh sekali dengan pertanyaan yang dilontarkan Sasha. Berulang kali Elenio telah menjelaskan, namun Sasha belum juga puas, gadis itu malah merundung Elenio dengan pertanyaan lagi. Muak, Elenio muak dengan tingkah Sasha yang berlebihan.
"Kenapa kamu mau gendong Allana? Kamu gak pikirin perasaan aku? Aku cemburu tau!" seru Sasha menghentakan kakinya geram.
"El, kok diam aja sih? Jawab dong! Aku gak suka kamu cuekin! El," Sasha menahan lengan Elenio. Laki-laki itu sangat muak mendengarnya Elenio menyentak kuat tangan Sasha hingga terhempas.
"Cukup! Aku gak tahan lagi sama sikap kamu, kita putus!" seru Elenio membuat Sasha tercengang.
Pupil mata Sasha membesar.
"Gak! Gak bisa, kita baru jadian dua hari dan kamu minta putus?!" tolak Sasha menggelengkan kepala tidak terima. Apa-apa'an ini Sasha merasa tidak ada harganya di mata Elenio. Segampang itu Elenio berkata putus? Jika itu benar-benar terjadi mau ditaruh dimana mukanya. Terlebih Sasha ini adalah Siswi terpopuler, bagaimana bisa, kisah romansanya berakhir hanya dalam dua hari. Sasha tidak pernah membayangkan hal ini terjadi.
"Ini keputusan aku! Aku mau akhirin hubungan ini, buat aku hubungan ini itu toxic, Sa. Kamu bahkan gak percaya sama aku, sifat kamu yang seperti ini buat aku risih! Terus buat apa lagi hubungan ini dilanjut," papar Elenio.
Baiklah, Sasha akan sedikit menurunkan egonya. "El, tolong, kasih satu kesempatan buat aku, aku janji gak akan kayak gitu lagi," mohon Sasha.
Elenio tidak bisa bertahan barang sedetik pun. Energinya benar-benar terkuras habis jika bersama Sasha.
"Tolong Sa, hargai keputusan aku," jelas Elenio.
"Jadi, apa yang diomongin Allana benar? Kamu cuma manfaatin aku, iya? Aku harap kamu jawab enggak, El," kata Sasha menatap dalam-dalam kedua netra Elenio.
Elenio mengerjapkan matanya pelan. "Maaf soal itu, aku sadar aku salah, karena deketin kamu dengan maksud supaya Allana jauhin aku." Elenio menyesal sekarang, hanya untuk kepentingan dirinya sendiri dia sampai tega mempermainkan hati Sasha.
"Jahat kamu!" seru Sasha menangis memukul lengan Elenio.
"Jujur aku gak punya rasa apapun sama kamu, Sa," ungkap Elenio membuat Sasha menghentikan pukulannya.
Gadis itu lantas berlari menjauh seraya menyeka air matanya. Elenio keterlaluan! Sasha tidak bisa dipermainkan seperti ini.
'Allana pasti dalang dari semua ini! Awas aja! Gue gak tinggal diam!' kata Sasha.
***
"Allana," panggil seseorang wanita dari dalam rumah.
Senyum Allana mengembang cerah. "Tante," ujar Allana mendapati Devinka duduk di sofa ruang tamu. Allana lantas berjalan menghampiri Devinka.
Allana memeluk Devinka erat.
"Allana, gimana kabar kamu?" tanya Devinka mengusap pelan rambut panjang Allana.
"Baik," jawab Allana melepas pelukannya.
Raut wajah Devinka berubah cepat, senyumnya memudar.
"Kamu sekarang jarang main ke rumah Tante, kenapa? tanya Devinka.
Allana terdiam sejenak, bukannya Allana tidak mau lagi ke sana tapi Allana takut kehadirannya akan mengusik ketenangan Elenio.
"Tugas sekolah aku banyak Tante, jadi aku sering di rumah belajar," jelas Allana mengulas senyum.
"Benar begitu, bukan karena kamu takut sama El?" tanya Devinka memastikan.
"Nggak takut kok, Tan, cuma kondisinya sekarang udah beda," balas Allana.
Devinka bisa merasakan kesedihan yang terpancar dari kedua sorot mata Allana. Devinka lantas menggandeng tangan Allana menuju ruang makan.
"Al, Tante, bawain makanan buat kamu. Makanan favorit kamu, opor ayam," kata Devinka bersemangat.
"Oh iya?" tanya Allana diangguki oleh Devinka.
"Makasih, Tante," kata Allana kembali tersenyum membuat Devinka turut senang.
Allana bergeming menatap makanan itu di meja.
"Allana, kok melamun?" tanya Devinka mengambilkan nasi ke piring Allana.
"Mama, aja gak pernah masakin aku," lirih Allana sendu.
"Sabar, ya, sayang, kamu anak yang kuat kok," kata Devinka tulus. Pasti berat menjalani hidup seperti Allana, gadis ini sudah menderita dari kecil karena ulah keluarganya.
"Gimana kalau Tante suapin kamu mau?" tawar Devinka
Allana mengangguk, Devinka lantas menyuapkan satu sendok nasi dan lauk ke mulut Allana. Tidak disadari Allana sedikit meneteskan air mata.
Devinka lantas mengusap air mata itu. "Lha kok nangis," ucap Devinka heran.
"Aku terharu, Tante. Makasih udah berbagi rasa sayang Tante ke aku. Tante udah seperti Ibu aku sendiri," papar Allana, hati kecilnya menghangat mendapat perlakuan sayang dari Devinka.
Kata-kata Allana membuat Devinka tersentuh. Dia kembali memeluk tubuh Allana.
"Sama-sama, Al," kata Devinka.
***
Allana kini sudah berada dalam mobil bersama Tania. Allana dilanda kecemasan, pikirannya masih terus berkutat pada tulisan tadi.
Tania menyadari, ada yang Allana sembunyikan. Buktinya gadis itu tidak berhenti bergerak. Allana tampak tidak nyaman duduk di sebelahnya.
'Apa yang kamu sembunyiin Al.'
Tepat di sebelah warung, Tania memberhentikan mobilnya. Allana dan Tania keluar dari mobil lantas berjalan kaki untuk sampai di kontrakan Devan. Mereka melewati beberapa gang kecil untuk menuju ke rumah Devan.
Kurang lebih sepuluh menit, Sampailah mereka pada rumah berukuran sedang ber-cat putih, yang tak lain adalah rumah Devan.
Tania mengetuk pintu yang terbuat dari papan triplek kayu, sangat sederhana. Pintu itu terbuka pelan menampakan wajah Devan yang sedikit terkejut melihat kedatangan Allana dan Tania.
"Kalian ngapain kesini?" tanya Devan mengangkat sebelah alisnya tinggi.
"Kalau ada tamu itu disuruh masuk bukan ditanyain," sindir Tania menyilangkan tangan di depan dadanya.
Devan menggaruk pelan rambut kepalanya. Dia lantas membuka pintu lebar. "Silahkan masuk," kata Devan mempersilahkan Allana dan Tania.
"Devan kamu udah sembuh?" tanya Allana lembut.
"Udah, lagian kemarin itu cuma luka kecil," balas Devan sombong.
Tania yang berjalan melewati Devan sengaja menyikut perut Devan lantaran kesal akibat gelagat Devan yang sok kuat itu.
"Sakit, Ta," ringis Devan melotot.
"Lagian siapa suruh sok kuat," balas Tania tajam
"Hm."
"Kamu tinggal sendirian, Van?" tanya Allana mengedarkan pandangan ke sekeliling. Sepi.
"Iya, Al, Ta maaf banget rumah aku sederhana," ungkap Devan malu.
"Apa'an sih, Van. Kenapa bilang gitu?!" protes Tania.
Tania dan Devan terus berbincang, sementara pikiran Allana berkelana. Allana takut, dia jadi merasa was-was pada Tania dan Devan. Bisa saja kan mereka pelakunya.
'Astaga! Apa yang aku pikirin, kenapa aku setega ini punya pemikiran seperti itu.' Allana menepis segala asumsi yang melingkupi diri.
Perasaan dan pikiran Allana saling berkecamuk, intinya Allana akan menekankan pada dirinya sendiri untuk berhati-hati pada siapa pun tak terkecuali kepada mereka.
Devan memandang heran Allana. Gadis itu tampak gelisah dengan terus meremas jari-jemarinya.
"Al, kamu baik aja-aja?"
"Aku?" tanya Allana sepertinya, Devan terus mengamati gestur tubuhnya. "Baik," jawab Allana berdehem, mencairkan ketegangan.
'Ada yang beda dari Allana,' batin Tania lalu menatap Devan seolah memberi isyarat.
"Oh iya, Van, Ta, aku balik duluan kayaknya aku gak enak badan deh," ujar Allana memijat leher belakangnya.
"Aku anter pulang, ya," tawar Tania.
"Jangan. Gak usah," tolak Allana spontan membuat Tania dan Devan saling menautkan kedua alisnya masing-masing. Sontak, Allana jadi merasa tidak enak hati.
Allana menetralkan nada bicaranya. "Rumah kamu sama rumah aku kan jauh, Ta, aku gak mau repotin kamu."
"Gak masalah," kata Tania sedikit mengibaskan tangannya.
"Ta, aku pulang sendiri aja," ujar Allana memegang punggung tangan Tania.
"Yakin?"
Allana mengangguk mantap.
"Hati-hati, Al," ucap Devan dan Tania bersamaan
"Kok aku ngerasa ada yang aneh, ya, sama Allana," kata Tania memandang kepergian Allana lewat jendela.
"Iya, aku sependapat," timpal Devan
"Dia itu kelihatan gak tenang dan cemas, bukan cuma waktu di sini di mobil tadi Allana kayak waspada," jelas Tania pada Devan.
"Mungkin banyak pikiran aja kali, Ta," jawab Devan.
***
Allana kini sampai di tepi jalan, saat ini dia mendengar ponselnya berdenting. Buru-buru Allana mengambilnya.
Tidak Dikenal
[Tetap waspada! Siapapun itu, bisa berbahaya!]
Allana dengan cepat mematikan layar ponselnya pandangannya memindai ke sekeliling. Namun Allana tidak menemukan tanda-tanda orang mencurigakan.
"Apa orang ini ngikutin aku? Apa dia mata-mata'in aku?" tanya Allana resah.
Sebuah mobil sedan berwarna hitam berhenti di depan Allana membuat Allana mendelik terus memperhatikannya. Tiba-tiba dua orang yang memakai penutup wajah keluar dari mobil, mereka lantas memegang lengan Allana.
"Kalian siapa? Lepasin!" seru Allana terus memberontak, belum sempat Allana berteriak, mulutnya telah dibekap dengan kain yang diberi obat bius. Allana langsung lemas dan tak sadarkan diri.
"Cepat, bawa masuk!" perintah satu Pria yang duduk di kursi pengemudi suara beratnya bergaung dari dalam mobil.