Perlahan Allana sadar, gadis itu terbangun akibat merasakan ada guncangan di tubuhnya. Allana merasa tubuhnya sulit digerakkan, seperti ada sesuatu yang melilit tubuhnya. Kepalanya menunduk dengan kedua mata yang terbuka sedikit, Allana melihat ke bawah. Rupanya seseorang dengan sengaja menendang kaki kursi yang Allana duduki.
Saat kesadarannya kembali normal Allana melihat tali putih yang mengikat kuat tubuh bagian depannya, kedua kaki serta tangannya terikat di belakang kursi. Sangat erat sampai-sampai Allana dibuat diam tak mampu berkutik.
Allana mengangkat wajahnya menatap lelaki yang kini tersenyum smirk ke arahnya. "Kamu?" tanya Allana tidak asing dengan wajah laki-laki di hadapannya. Dia lelaki yang waktu itu menantang Elenio berduel.
"Iya, ternyata lo masih ingat gue," sahut lelaki itu tertawa membuat Allana merinding.
"Kenapa kamu bawa aku kesini?" tanya Allana raut wajahnya cemas. Tatapan Allana terus mengamati ke sekeliling, ruangan yang berdebu serta satu lampu yang temaram.
"Gue cuma nurutin perintah," tekan Alex tersenyum miring.
"Perintah? Perintah apa?" tanya Allana sorot matanya menyiratkan kekhawatiran dan tanda tanya.
"Buat nyakitin lo!" seru Alex santai menyulut rokoknya dengan korek api. Laki-laki itu membuat gumpalan asap putih mengepul bebas di udara.
Allana terbatuk saat asap itu menerpa wajah dan masuk ke indra penciumannya. Allana tidak suka bau rokok yang menyengat ini. Rasanya Allana ingin segera pergi dari tempat ini dan itulah yang ingin Allana lakukan sejak tadi. Diam-diam Allana terus mencoba melepaskan kedua tangannya yang terikat.
"Aku gak punya urusan sama kamu! Tolong lepasin aku!" perintah Allana menggerakan badanya ke samping
"Gue mau balas dendam ke lo, gue masih gak terima, cowok sombong itu udah bikin malu gue!" gertak Alex suaranya meninggi membuat Allana terkejut.
"Itu salah kamu, kamu yang nantangin, El duluan!" balas Allana berani mengeluarkan opini.
"Berani lo bilang gitu?!" seru Alex merasa tertantang, dia lantas merendahkan tubuhnya agar sejajar dengan wajah Allana kemudian memberikan tatapan tajam, setajam ujung mata pisau pada Allana. Berharap jika nyali Allana akan menciut detik ini juga.
"Siapa yang nyuruh kamu?!" tanya Allana tegas, gadis itu sama sekali tidak terpengaruh dengan aura intimidasi yang Alex tujukan padanya.
"Gue!" jawab seseorang yang memakai rok selutut serta rambut yang digerai datang dari balik pintu berjalan gontai seraya memainkan ujung rambutnya.
"Sa-sha," gumam Allana setengah tidak percaya. Untuk apa Sasha melakukan ini semua?
"Gue yang nyuruh mereka buat nyulik lo!" seru Sasha melipat kedua tangan di depan dadanya.
"Alasannya apa? Kenapa kamu lakuin ini?" tanya Allana.
Sasha menunjuk Allana.
"Lo kan yang nyuruh, El, buat putusin gue? Ngaku lo!" tuduh Sasha.
"Nggak. Aku gak pernah ikut campur soal itu," jawab Allana cepat, itu sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan dirinya.
'Tapi aku lega, akhirnya El mengikuti kata hatinya,' batin Allana.
"Gak ikut campur lo bilang? Lo lupa? Lo yang halangin gue buat jadian sama, El," ucap Sasha emosi.
"Tapi cuma itu aja, selebihnya aku gak pernah suruh El buat putusin kamu," jelas Allana.
"Bohong! Kalian dekat kan? Buktinya, El, bela lo waktu balapan itu. El juga gendong lo waktu lo pingsan," papar Sasha.
"Dia cuma nolong aku, Sa, gak lebih," balas Allana pelan.
Sasha mengira jika Elenio bersikap manis pada Allana padahal aslinya setelah kejadian itu Elenio terus menyalahkan Allana. "Omong kosong! Dasar perusak hubungan orang!" seru Sasha benci pada Allana.
"Sa, aku gak pernah rebut, El, dari kamu. Mungkin itu harus terjadi dan itu sudah jalannya. Kamu harus bisa menerima, Sa. Kamu harus bisa menghargai keputusan, El, Sa!" terang Allana memberi pengertian.
"Gak semudah itu! Gue sayang sama, El, gue mau dia jadi milik gue!" gertak Sasha menampilkan sisi egoisnya.
"Itu namanya bukan cinta! itu jatuhnya obsesi, Sa! Ingat, Sa, kita ini masih sekolah! Kita harus ngejar cita-cita kita!" balas Allana.
"Tapi gue gak terima, El, putusin gue!" kata Sasha geram menghentakan kakinya ke lantai.
Tatapan Sasha berpusat pada Allana. "Sekarang, lo harus terima akibatnya!" Sasha mengambil sesuatu dari tasnya. Dia memegang pisau lipat di tangan kiri dan sebuah garpu di tangan kanannya.
Tubuh Allana terasa tegang.
"Sa, tolong jangan aneh-aneh," cegah Allana panik.
"Lo pikir, gue bakal nurutin ucapan lo?" tanya Sasha tersenyum remeh.
"Wajah lo mulus banget sih, Al, sayang banget, kalau gue lukain nanti. Pasti berbekas," ujar Sasha membuat Allana menelan ludahnya kasar.
"Aku mohon, jangan macam-macam, Sa. Kita sama-sama perempuan, Sa," peringat Allana.
Sasha tidak menanggapi ucapan Allana. Gadis itu melanjutkan kalimatnya. "Pasti nanti rasanya perih dan sakit, kalau aku goresin ini di muka kamu," ancam Sasha menatap kedua benda itu kemudian beralih pada Allana.
"Karena gue baik, gue mau kasih kesempatan buat lo Allana, lo pilih yang kanan atau yang kiri," ujar Sasha dibalas dengan gelengan kepala oleh Allana.
"Gue butuh pilihan, bukan bahasa tubuh lo!" seru Sasha air mukanya tampak seram.
"Kalau gue pakai pisau ini kayaknya terlalu tajam dan gampang banget dong bikin wajah lo berdarah, jadi, gue pilih garpu ini biar lo bisa rasain yang lebih sakit," kata Sasha tersenyum puas sementara Allana bergidik ngeri menatapnya.
"Lo udah siap?" tanya Sasha mencengkram rahang wajah Allana. Sekuat tenaga Allana mengelak menggerakan wajahnya ke kanan lalu ke kiri.
"Diam!" bentak Sasha.
"Alex, lo pegang wajah dia!"
Ujung garpu itu telah menyentuh wajah Allana namun Sasha masih mendiamkannya. Sasha ingin melihat wajah ketakutan Allana lebih lama lagi.
"ALLANA!" suara teriakan yang mengelegar di ruangan ini, sontak membuat Sasha dan Alex kompak menoleh pada sumber suara.
"Devan," lirih Allana.
Dengan napas memburu akibat memendam kemarahannya. Devan melangkah cepat ke arah mereka.
"Lo manusia apa bukan?!" sentak Devan jika saja Sasha ini bukan perempuan mungkin Devan akan langsung menghujaninya dengan banyak pukulan.
"Dia perempuan dan lo perempuan apa gak ada rasa kasihan di hati lo? Gimana kalau seandainya posisi lo jadi Allana, apa yang bakal lo lakuin?" tantang Devan.
"Kenapa sih, lo sama Tania itu selalu bela Allana, buat apa? Cewek kayak dia itu pantas buat menderita!" balas Sasha.
"Cukup! Tutup mulut kamu Sa!"
"Gue tegasin, Allana gak ada sangkut pautnga sama hubungannya lo dan El! Wajar aja El gak betah sama lo, ngaca kelakuan lo aja kayak gini!" seru Devan menohok.
Devan berjalan ke belakang kursi Allana, hendak melepaskan ikatan yang membelit tubuh Allana dengan kencang.
"Gak bisa, gue gak akan biarin dia lepas gitu aja!" cegah Sasha menepis tangan Devan.
Devan tersenyum kecil menatap Sasha. Seolah ada maksud terselubung dari arti senyuman itu.
"Lo yakin gak mau lepasin dia?" tanya Devan.
Sasha bergeming.
"Gue bakal sebarin video waktu lo ancam Allana tadi, seluruh percakapan lo sama Allana terekam jelas di ponsel gue. Apa lo siap kehilangan kepopuleran lo dan siap mental buat di caci maki sama seluruh siswa-siswi. Kalau lo itu manusia kejam!" kata Devan membuat Sasha mengetatkan rahangnya.
Sasha mengumpat dalam hati.
"Van, kita bisa bicarain ini baik-baik. Gue khilaf," ujar Sasha bersandiwara.
"Gampang dengan satu syarat, lo jangan pernah ganggu Allana lagi. Kalau lo ingkar janji, gue bakal sebarin video ini," jelas Devan semudah mungkin.
Sasha menahan amarahnya.
"Oke, gue setuju!"
"Setujul!" Devan mengulurkan tangan sebagai bukti persetujuan.
"Gue setujul!" balas Sasha.
Devan lantas melepaskan ikatan tangan Allana, kemudian beralih pada ikatan yang menjerat kedua kaki Allana.
"Kamu gak papa kan?" tanya Devan menatap penuh perhatian pada Allana. Devan melihat kulit Allana memerah akibat ikatan tali itu.
Allana mengangguk pelan. "Aku baik-baik aja."
Devan kemudian meraih sebelah tangan Allana, menautkan jari jemarinya dengan Allana.
Allana sedikit terkejut namun gadis itu diam saja saat Devan mengajaknya berjalan keluar.
"Rencana gue gagal!" seru Sasha melempar pisau dan garpunya ke lantai.
"Semua ini salah lo Lex!" tuduh Sasha marah, dia melenggang pergi.
"Udah dibantuin malah nyalahin! Dasar cewek maha benar!" gerutu Alex mendegus sebal.
***
Ketika Allana dan Devan sudah menjauh dari tempat tadi. Allana segera melepas tautan tangannya dengan Devan, hal itu membuat Devan menoleh padanya.
"Maaf, aku reflek Al," ujar Devan canggung.
"Iya, makasih banyak kamu udah banyak bantu aku, Van. Aku gak tau gimana caranya buat balas semua kebaikan kamu," papar Allana terdengar lembut di telinga Devan.
"Sama-sama. Aku boleh minta satu permintaan gak, sama kamu?" tanya Devan membuat debaran jantung Allana tidak terkontrol.
"Apa?" tanya Allana, ada nada ketakutan yang Devan dengar.
Devan mengukir senyum manis.
"Sederhana, aku mau ajak kamu ke suatu tempat. Gimana kamu setuju?"
Raut wajah Allana terlihat bimbang. Devan kembali terkekeh. "Tenang aja, aku gak akan lakuin itu," jelas Devan.
"Eh, gak gitu, aku gak bermaksud," sanggah Allana.
"Tapi aku tau apa yang kamu pikirin, kamu pasti mikir yang aneh-aneh kan tentang aku?" tebak Devan.
"Perasaan kamu doang, aku mau," jawab Allana terasa ambigu bagi Devan.
"Mau apa? Mau makan, mau pulang apa mau yang lain?" tanya Devan menaik turunkan sebelah alisnya berniat menggoda Allana.
"Ih, Devan! Aku mau kamu ajak ke tempat yang kamu sebutin tadi," kesal Allana.
"Emang aku sebut tempat?"
"Devan, jangan bercanda terus!"
"Iya-iya Al. Gitu aja keselnya setengah mati," ujar Devan senang melihat ekspresi menggemaskan dari Allana. Devan lantas menyodorkan helm pada Allana.
Motor Devan melaju, membelah keramaian kendaraan yang berlalu lalang.
***
"Pantai?" tanya Allana.
Allana menatap hamparan pasir putih di depan matanya. Angin laut berhembus mengenai Allana, gadis itu memejamkan mata guna merasakan sensasi dingin yang menyapa.
Devan terus menatap Allana.
"Iya, di sini kita bisa merasa tenang," ungkap Devan.
"Sedikit," sahut Allana berjalan ke arah bibir pantai menunggu ombak kecil datang menyapu lembut kedua telapak kakinya.
"Dingin," kata Allana sedikit menggigil.
"Oh, ya?" Devan sedikit memercikan air laut ke arah Allana dengan tangannya.
"Devan, jangan gitu, baju aku basah," keluh Allana menatap percikan air di bajunya.
Tawa terus keluar dari bibir mungil Allana membuat Devan turut bahagia melihat Allana yang tertawa lepas. Iya, Devan mengajak Allana kesini agar gadis itu bisa lebih menikmati hidup, Devan ingin beban dan masalah yang merundung Allana bisa terlupakan dengan rasa bahagia. Setidaknya hanya untuk malam ini saja.
Keduanya lantas duduk di atas pasir sama meluruskan kakinya ke depan. Allana menatap ke langit yang menyuguhkan gemerlap cahaya bintang.
"Bintangnya cantik, Van," puji Allana, matanya di penuhi dengan binar lampu yang menyala di sekitar.
"Tapi, masih kalah cantik sama kamu, Al," sahut Devan tanpa sadar. Allana menoleh bingung, apa barusan Devan memujinya atau hanya sekedar guraun semata?
"Bentar, ya, Al," kata Devan berdiri tangannya mengibaskan pasir yang menempel di belakang celananya.
"Mau kemana? Aku ikut," ujar Allana.
Segaris senyum tercetak di wajah Devan, selain tampan Devan itu juga manis apalagi saat tersenyum begini. Aura dari dalam dirinya seakan menguar membuat siapapun langsung terpana.
"Aku cuma ke sana, Al, kelihatan kan dari sini," tunjuk Devan ke arah yang dimaksud.
"Kamu takut aku ninggalin kamu sendiri di sini?" tanya Devan.
"Nggak gitu, yaudah sana," kata Allana.
Beberapa detik kemudian, Devan kembali menghampiri Allana dengan membawa sebuah benda dan korek api di tangannya.
"Lampion?" tanya Allana lantas membuka plastik yang membungkus lampion berwarna kuning itu.
"Kenapa kamu beli ini, Van?"
"Pengen aja," balas Devan membuat Allana kecewa. Allana kira Devan punya alasan kenapa membeli lampion ini.
"Kamu pegang, ya, biar aku nyalain apinya," perintah Devan.
Allana mengangguk, sepersekian detik sumbu itu tersulut sempurna dengan api yang menyala terang.
"Hitungan ketiga kita terbangin sama-sama, ya, Al," ujar Devan.
Keduanya menghitung dengan betsemangat. "Satu, dua tiga!"
"Lampionnya terbang, Van," ujar Allana girang bertepuk tangan kecil menatap lampionnha berhasil terbang tinggi. Allana tersenyum, bibirnya melengkung indah bak bulan sabit.
'Kamu cantik, kamu baik, tapi kenapa kamu selalu terluka Al? Aku berharap semesta menyiapkan hadiah terindah buat kamu nanti.' batin Devan penuh harap.