"Gimana, kamu suka gak, Al?" tanya Devan, tapi tampaknya Allana tidak mendengar pertanyaan Devan karena tersamarkan oleh suara deburan ombak laut ditambah Allana menatap lampion yang terbang membumbung tinggi di angkasa membuat Allana hanyut terbawa suasana.
Cahaya pada lampion itu Allana ibaratkan sebagai dirinya sendiri sementara angin yang meniupnya bisa dia gambarkan sebagai sebuah cobaan, angin itu bisa saja membawa lampion terbang tinggi tapi juga bisa mematikan api yang ada di dalamnya. Jika Allana mampu bertahan dan melewatinya maka sebuah kedewasaan lah yang dia dapatkan tapi jika Allana menyerah maka hanya ada rasa putus asa di dalam dirinya.
Mungkin Tuhan ingin mengujinya, untuk mengukur sejauh mana Allana bisa mengambil makna yang tersirat dari sebuah peristiwa.
Gemas melihat Allana yang terus-menerus tersenyum sendiri Devan lantas mencubit pipi Allana.
"Aw, Van," ringis Allana merasa pipinya tertarik ke atas.
"Devan," panggil Allana memanjangkan intonasi sebab Devan tidak segera melepas jepitan jari dari pipinya.
Devan tersenyum. "Lagian ditanyain malah diam aja," balas Devan.
"Maaf, tadi gak dengar, emang tanya apa'an?" ujar Allana mengusap pipinya, sedikit terasa panas.
"Kamu suka gak di sini?" tanya Devan menatap Allana.
"Suka, suka banget malahan," jawab Allana dengan nada ceria diiringi senyum manis yang membuat aliran darah Devan berdesir. Lagi-lagi senyum itu, senyum yang membuat jantung Devan berdegup tak karuan. Devan mengacak puncak kepala Allana gemas.
Sedangkan Allana sedikit cemberut. Rambut yang sudah berhamburan akibat tiupan angin kini makin terlihat acak-acak'an akibat ulah Devan.
"Ternyata seru juga, ya, ke pantai malam-malam," ungkap Allana.
"Kamu baru pertama kali?" tanya Devan diangguki Allana sebagai konfirmasi.
"Kapan-kapan ajak aku kesini lagi, ya, Van," pinta Allana tak henti-hentinya mengulas segaris lengkung di bibirnya.
"Tiap hari juga boleh," sahut Devan santai bersidekap di dadanya.
"Gak gitu juga," balas Allana.
"Terus?" tanya Devan sebelah alisnya berjengit ke atas.
"Ya, kapan-kapan," balas Allana dengan ekspresi datar.
"Doa'in aja aku panjang umur biar bisa ajak kamu kesini lagi," kata Devan langsung membuat Allana menatap Devan marah.
"Jangan ngomong gitu, Van," peringat Allana tidak suka, gadis itu memalingkan wajahnya.
"Umur gak ada yang tau, Al," ujar Devan menanggapi.
"Iya, tapi jangan bicara gitu lagi," pinta Allana dengan rona wajah serius.
Devan tertawa kecil.
"Cuma bercanda serius banget," balas Devan menyenggol lengan Allana.
"Kamu harus janji, gak akan bilang gitu lagi, ucapan itu doa, Van," peringat Allana.
Devan hanya mengangguk dua kali sebagai respon.
***
Duduk di kursi yang berada di balkon kamarnya Elenio tengah memangku gitar berukuran 3/4. Laki-laki itu memainkan nada dari kunci C sementara tangan kanannya mulai memetik senar gitar.
Dalam kesendirian yang melingkupi diri. Elenio mulai menikmati setiap kombinasi nada yang menghasilkan sebuah harmoni yang terdengar merdu dan menenangkan.
Elenio larut dalam alunan musik, sesaat, dia dapat melupakan beban pikirannya. Seolah setiap deru napas yang keluar membuat semuanya terasa ringan.
Bunyi notifikasi berhasil mengambil alih atensi Elenoi. Laki-laki itu lantas membuka pesan
Devan
[Keluar, ada yang mau gue omongin sebentar]
Elenio menatap ke area luar gerbang dan benar saja Devan sedang duduk di atas motor.
Kadua kaki jenjang Elenio menapak malas menuruni anak tangga.
Elenio telah sampai di depan gerbang dia lalu membuka pintu gerbang.
"Mau ngomong apa?" tanya Elenio tidak berminat.
"Gak di sini," kata Devan lantas berjalan diikuti Elenio dari belakang.
Elenio mendengus kecil, baru saja dia merasa lebih baik tapi Devan malah datang mengganggunya. Sesekali Elenio menendang batu kerikil di jalan mengusir rasa jenuhnya.
Keduanya sampai di taman.
"Cewek lo keterlaluan! Asal lo tau Sasha culik Allana dan mau lukain dia, karena lo udah putusin dia! Bisa-bisanya Sasha lampiasin itu semua ke Allana dasar cewek gila!" geram Devan penuh amarah. Devan memperlihatkan video rekaman tadi.
Elenio terkejut, namun laki-laki itu sangat pandai menutupi gestur dan mimik wajahnya sehingga hanya tampak raut wajah yang tergambar datar.
"Kalau lo putus sama dia, ya, jangan bawa-bawa Allana segala, kasihan Allana harus nanggung akibat perbuatan lo, padahal dia gak tau apa-apa," papar Devan.
Elenio bergeming tak tahu harus menjawab apa. Elenio tidak mengira jika hal yang menurutnya terkesan sepele ini malah menimbulkan masalah yang tak terduga. Semua Itu terjadi karena Elenio dalam pikiran yang berselimut benci sehingga dia terpaksa menjadikan Sasha sebagai tameng untuk perlindungan diri.
Devan menghela napas gusar.
"Setiap pilihan itu menghadirkan konsekuensi yang harus dibayar. Begitu juga dengan perbuatan ada hukum tabur tuai yang mengikatnya," jelas Devan.
"Sebagai cowok yang gentle, lo harus minta maaf sama Sasha terutama Allana, ujar Devan.
"Gue harap dengan kejadian ini, lo gak akan pernah mempermainkan perasaan orang lain, titik terlemah dari manusia itu ada di hatinya, " kata Devan terus menatap Elenio yang tidak menjawab sepatah kata pun.
***
Allana menatap dirinya di cermin, dia mengamati seluruh anggota tubuhnya. Tangannya terangkat mengusap pipi, nyaris saja benda yang terbuat dari besi itu menggores kulitnya. Sebenarnya apa yang ada di isi kepala Sasha, gadis itu dibutakan obsesi dan terlalu berambisi ingin memiliki. Tidak sadarkah dengan emosi yang bisa dikatakan masih labil perihal percintaan?
Parahnya lagi, Sasha adalah tipe orang yang tidak segan melakukan tindakan apapun. Allana telah memaafkan namun tidak membenarkan apa yang dilakukan Sasha. Wataknya yang terlihat kekanak-kanakan itu tampak kontras.
Menyinggung tentang sebuah rasa cinta, entah kenapa Allana jadi sensitif. "Kalau emang gak sanggup patah hati, lebih baik jaga hati," kata Allana bermonolg.
Allana berjalan sekitar lima langkah lalu duduk di bangku meja belajarnya. Barangkali Allana terlalu cepat menyimpulkan jika Devan dan Tania adalah orang yang dimaksud. Tapi antara hati dan pikirannya tak sejalan. Pikirannya penuh dengan prasangka jika Devan adalah orang yang bersembunyi di balik topeng kebaikan.
Devan selalu membantu Allana, dia bersikap manis dan juga ramah pada Allana bukankah ini patut Allana curigai? Tapi, tetap saja tak menutup kemungkinan kalau Devan memang tulus membantu Allana. Dan segala tuduhan berupa pemikiran itu bisa salah kaprah.
"Aku bener-benar gak tau, hati aku bilang Devan itu orang baik! Dia gak mungkin nusuk aku dari belakang." pikiran Allana berkecamuk. Sejenak ingin meredam segala kegelisahaannya. Allana kemudian menuangkannya ke dalam sebuah buku catatan.
'Semua kebohongan itu pasti terungkap, tidak peduli seberapa lama dan siapa pelakunya pada akhirnya yang ada hanyalah sebuah kebenaran. Teruntuk saat ini aku hanya bisa menerka. Aku percaya semua akan berjalan dengan semestinya.' Allana.
Allana segera menutup bukunya kala mendengar bunyi gemercik hujan. Dia tertarik, lalu melangkah ke jendela memandangi ribuan tetesan air hujan yang mengguyur deras. Jiwanya terasa damai mendengar percikan air hujan yang menghasilkan bunyi yang unik.
***
Elenio baru saja turun dari motor hitam miliknya. Mengambil kunci yang masih ada di motor lalu melangkah masuk ke area gedung sekolah bersamaan dengan itu Allana juga baru datang.
Elenio menatap Allana seolah ingin melihat bagaimana kondisi Allana. Apa gadis itu baik-baik saja. Semalam Elenio sulit tidur akibat merasa bersalah pada Allana yang menjadi korban pelampiasan kekesalan dari Sasha. Elenio akui dia salah karena tidak memikirkan resiko sebelum dia menetapkan pilihan.
Allana yang merasa ditatap terus menerus mimilih menunduk dan diam di tempat. Kedua alis tebal Elenio saling bertaut. Tidak ingin membuat Allana risih Elenio lantas berjalan lebih dulu. Harusnya Elenio senang Allana tidak mengganggunya lagi, padahal kemarin Allana berkata penuh tekad akan terus menuntut maaf dari Elenio. Tapi yang terjadi justru sebaliknya Allana belum melakukan reaksi apa-apa.
Baru selangkah Elenio berjalan, langkahnya terhenti mendengar suara kesakitan di belakang.
"Aduh," ringis Allana jatuh tersungkur ke depan akibat seorang Siswa menabrak sisi tubuhnya sangat kuat. Siswa itu tidak membantu Allana berdiri apalagi meminta maaf.
Elenio datang menghampiri, laki-laki itu berjongkok di depan Allana. "Ada yang luka?" tanya Elenio tiba-tiba membuat Allana tercenung. Pertanyaan itu terdengar lembut tidak galak seperti biasanya.
'Apa aku gak salah dengar sama ucapan, El?' tanya Allana membatin.
Elenio melambaikan tangannya di depan wajah Allana karena gadis itu malah melamun.
"Gak ada," sahut Allana berdiri cepat lalu membersihkan debu yang ada di rok-nya. "Aku masuk duluan," kata Allana berjalan melewati Elenio.
Elenio hanya ingin menebus kesalahannya. Laki-laki itu memperhatikan punggung Allana yang menjauh.
***
Di jam istirahat Elenio tengah menunggu kedatangan Sasha di area belakang sekolah. Dengan niat ingin memperbaiki keadaan dan hubungannya denga Sasha.
"El," panggil Sasha tenang. Gadis itu tampak kalem dan tidak agresif seperti sebelumnya.
Elenio menoleh pada Sasha.
"Ada apa, El?" tanya Sasha pelan dan tenang seolah telah melupakan rasa sakit hatinya.
"Aku mau lurusin semua kesalahpahaman kamu sama Allana, Sa, hubungan kita berakhir bukan karena Allana. Itu keinginan aku sendiri," jelas Elenio dengan raut wajah tegasnya.
"Aku gak nyangka kamu sejahat itu," lanjut Elenio menipiskan bibirnya menahan amarah.
"Kamu tau?" tanya Sasha takut.
"Iya, aku tau semuanya," jawab Elenio lugas.
Sasha gelagapan, 'ini pasti ulah Devan!' Laki-laki itu pasti telah menunjukan rekaman video pada Elenio. Dalam sekejap, wajah Sasha berubah sedih agar mampu meluluhkan hati Elenio.
"Aku khilaf El, karena kecewa sama kamu, jadi aku gak pikir panjang dan langsung nuduh Allana sebagai penyebab kamu putusin aku. Hati aku sakit, El saat kamu terang-terangan bilang kalau kamu sama sekali gak ada rasa ke aku," ungkap Sasha sorot matanya sayu.
"Aku minta maaf, Sa, aku egois," aku Elenio kesal pada dirinya sendiri.
"Lupain soal ini, aku masih boleh kan temenan sama kamu?" tanya Sasha.
Ragu-ragu, tapi Elenio mengangguk setuju, setidaknya Sasha tidak akan terlalu bersikap dominan. Mendapat persetujuan itu membuat Sasha tersenyum penuh arti.
'Lihat aja, El, aku bakal balas perbuatan kamu ke aku!' batin Sasha penuh dendam.