Suara pekikan histeris terdengar tergiang di telinga Allana. 'ALLANA AWAS!'
Tubuh Allana bergetar serta degup jantung yang berdebar. Sebuah gerakan tiba-tiba membuat Allana syok dengan apa yang menimpanya. Tubuh Allana belum mampu merespon, namun kedua matanya sedikit terbuka, Tatapan mata sayu dengan penglihatan yang samar itu mendapati sesorang terbaring tidak jauh dari tempatnya. Allana yakin itu Devinka.
Masih berada diambang kesadaran Allana melihat banyak orang yang mengelilinginya. Sontak pandagannya tertutupi oleh kerumunan orang menghampiri dirinya dan Devinka. Namun Allana masih dapat melihat melalui celah kerumunan. Devinka tergeletak tak berdaya. Padahal tadi, keduanya saling melempar senyum dan membalas lambaian tangan.
"Perut aku sa .. kit, Mas," rintih Devinka merasaka