Sepulang dari makam Razella Allana kembali duduk termenung di dalam kamar. Wajahnya terlihat makin pucat dan suhu tubuhnya meningkat. Allana hanya menatap sepiring bubur lengkap dengan obat penurun demam yang diletakkan di meja dengan pandangan tak berminat.
"Aku gak pernah bayangin, kalau aku akan ada dalam kondisi seperti ini. Kehilangan sahabat sejati sekaligus dibenci oleh orang yang aku sayangi," ujar Allana matanya memejam.
Atas dasar kesalahpahaman, relasi yang terbangun selama 10 tahun bersama Elenio kini lenyap begitu saja. Dalam rentang waktu selama itu, Allana pikir, Elenio sudah saling memahami sifat dan karakter masing-masing. Namun nyatanya tidak begitu, Elenio terus menyimpan praduga akibat ungkapan rasa cinta.
'Apa gara-gara aku tolak cinta kamu dan kamu se'nekat ini?' tanya Elenio pagi tadi. Kembali tergiang di kepala Allana.
Allana menggeleng saat mengingatnya. Hatinya berdesir perih. Sakit dan sesak bersatu padu.
"Aku bukan orang yang gila akan obsesi El! Kalaupun rasa cinta aku gak terbalas itu gak papa karena kita masih remaja," ujar Allana parau meremas kuat guling yang ada di sisinya.
Rangkaian kalimat yang terucap dari bibir Elenio, memutar sebuah momen di benak Allana ketika dia mengekspresikan perasaannya kala itu. Sejatinya, Allana lebih nyaman memendam daripada mengutarakan. Namun,
keberanian itu muncul karena Razella yang memberi dukungan.
"Ra, menurut kamu kalau kita suka sama seseorang itu, baiknya diungkapin apa dipendam?" tanya Allana duduk di ayunan taman──berdua bersama Razella.
"Mending diungkapin Al, emangnya kamu mau terus-terusan mencintai dalam diam?" tanya Razella.
"Hmm, tapi aku takut ditolak Ra." Raut keraguan itu tergambar di wajah Allana.
"Ditolak memang satu hal yang menyakitkan Al, tapi dengan kamu mau mengungkapkan, setidaknya kamu akan tau jawabannya. Siapa tahu, dia juga suka sama kamu," jelas Razella berpendapat.
"Iya kalau dia suka, kalau enggak gimana? Aku malu Ra," Allana menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. Membayangkannya saja mampu membuat Allana mundur sebelum melangkah.
Razella mengusap bahu Allana. Dia terkekeh ringan.
"Kamu 'kan belum coba Al, kita gak akan tau kalau gak mau bertindak," ujar Razella mengingatkan.
"Kamu bener Ra," ucap Allana seraya menghembuskan napasnya kasar.
"Kalau boleh tau, siapa sih yang udah bikin sahabat aku yang paling cantik ini jatuh cinta," goda Razella membuat pipi Allana merona.
"Apaan sih Ra. Ini itu rahasia!" seru Allana tersipu malu.
"Ya udah deh, gak papa kalau gak mau kasih tau," ucap Razella melirik pada Allana.
"Intinya perjuangin cinta kamu, semangat! Allana! Allana! Allana! Allana" ujar Razella menyemangati seraya bertepuk tangan membuat Allana salah tingkah dan terkekeh.
"Ra, udah dong, Ra malu nih," perintah Allana menyenggol lengan Razella. Kedua pipinya semakin bersemu.
Setelah proses panjang untuk mengumpulkan keberaniaannya, Allana sudah siap mengungkapkan isi hatinya. Allana mengintip dari pintu lapangan Basket Indoor, Allana yang berseragam putih abu-abu dengan pita merah di sebelah kanan kepalanya tampak ragu menghampiri Elenio yang telah usai melaksanakan latihan Basket. Pandangan Allana memindai area sekitar untuk memastikan tidak ada orang lain lagi selain dirinya dan Elenio. Barulah Allana mulai datang mendekati.
"El?" panggil Allana.
Elenio yang sedang mengikat tali sepatunya mendongak menatap Allana. Elenio yang mengenakan jersey tanpa lengan itu langsung berdiri. Allana cukup terkesima melihat Elenio, cowok itu selalu menawan dalam setiap kesempatan. Rahang tegas, hidung mancung dan alis tebal. Tidak heran jika Elenio menjadi salah satu most wanted di SMA Cakrawala.
"Allana, kamu belum pulang?" tanya Elenio, pasalnya ini sudah menunjukan pukul 5 sore.
"Kamu ada urusan apa?" tanyanya lagi.
"Aku sengaja tungguin kamu," jawab Allana malu-malu. Wajah Allana bersemu diiringi degup jantung yang berpacu lebih kencang.
Kedua alis Elenio menukik tajam. Tersirat kebingungan dalam benaknya.
'Ada yang aneh sama Allana,' kata Elenio dalam hati.
Allana memperlihatkan kotak kecil warna merah muda yang dia sembunyikan dibalik punggungnya. Allana lantas menyodorkan benda itu pada Elenio. Tangan kanan Elenio menerima kotak kecil itu.
Menyadari adanya perbedaan gestur yang ditunjukan Allana, Elenio tambah bingung.
"Apa ini Al?" tanya Elenio mengangkat sebelah alisnya tinggi.
"Ka-kamu lihat sendiri El," jawab Allana gugup, aliran darahnya kian memanas.
Mendadak suasana jadi canggung saat Elenio membuka tutup kotak itu. Ada dua cokelat batang di dalamnya.
"Ini maksudnya apa?" tanya Elenio mengenggam dan mengangkat kedua cokelat batang di tangannya.
Ini waktunya Allana mengatakan ungkapan kata-kata yang sudah dia susun jauh-jauh hari.
"Sejujurnya, aku punya rasa sama kamu El. Sekiranya kamu mau menerima dan membalas rasa ini, kamu kasih satu cokelat batang itu ke aku tapi kalau memang nggak. Kamu bisa tutup kotak itu dan buang ke tempat sampah," kata Allana menjelaskan cepat. Dia bahkan menahan napas saat mengucapkannya.
"Rasa sebagai sahabat 'kan Al?" tanya Elenio memastikan.
Raut wajah Allana berubah cepat, senyum dibibirnya memudar. Allana bimbang, haruskah dia melanjutkan ungkapan hatinya? Atau mengiyakan apa yang Elenio ucapkan? Laki-laki itu tampaknya belum juga paham maknanya.
Memberanikan untuk melakukan kontak mata dengan Elenio Allana berkata. "Aku harap lebih dari itu El," balas Allana seraya meremas kuat jari-jemarinya. Detak jantung Allana kian berdebar-debar.
Otak Elenio langsung memproses dengan cepat. Apa Elenio tidak salah dengar? Jadi, intinya Allana ingin lebih dari sekedar sahabat, lebih tepatnya Pacar?
Apapun jawabannya, kamu harus terima Al, batin Allana meneguhkan hati.
Dengan berat hati Elenio menjawab. "Sebelumnya, maaf Allana, tapi hati ini sudah bertuan," jawab Elenio menatap Allana dalam-dalam. Elenio tahu Allana terkejut mendengarnya, gadis itu mundur selangkah.
Perlahan, pandangan Allana turun ke bawah. Usai sudah penantian panjang untuk mengatakan hal ini, Allana sekarang sudah tahu jawabannya. Elenio tidak lebih menganggapnya sebagai seorang sahabat. Pupus sudah harapan Allana menjadi tambatan hati bagi Elenio.
Untuk pertama kalinya Allana berani mengutarakan tentang isi hati dan untuk pertama kalinya juga Allana patah hati. Seharusnya Allana tidak perlu mengungkapkan ini, rasanya lebih sakit daripada memendamnya kurang lebih empat tahun. Kalimat penyesalan itu muncul tiba-tiba di pikiran Allana.
Tetapi, sisi positif yang bisa diambil adalah, Allana bisa berhenti menganggumi Elenio dan menghapus jejak rasa ini pelan-pelan.
Jadikan ini sebuah pelajaran tentang urusan cinta Allana, lain kali aku akan lebih memahami kondisi dan mempercayai intuisi. batin Allana, membangun tembok pertahanan yang kokoh. Meski tingkat kepercayaan diri Allana menurun. Untuk kedepannya, Allana akan lebih hati-hati menyuarakan isi hati.
Melihat Allana yang berdiri menunduk tidak merespon kembali kata-katanya. Elenio memegang kedua bahu Allana.
"Aku benar-benar minta maaf, aku gak bisa balas perasaan kamu Al. Aku yakin kamu bisa dapat yang lebih baik dari aku," kata Elenio menghembuskan napasnya kasar.
Allana kini menatap Elenio, memendam rasa kecewa itu jauh di relung hatinya. Kalimat bernada pelan itu semakin memperjelas penolakan Elenio yang menusuk hati Allana semakin dalam lagi.
"Makasih, ya, El atas jawaban kamu. Akhirnya, aku gak lagi menaruh harapan ke kamu. Karena, realitanya kamu memang hanya menganggap aku sebagai sahabat," ungkap Allana sedikit berbagi tentang apa yang dia rasakan sebelum momen ini.
Berlaku layaknya memakai topeng badut. Allana malah mengukir senyum manis di hadapan Elenio. Sontak membuat Elenio kaget, Elenio pikir Allana akan menangis bahkan memarahinya. Tapi semua diluar dugaan, Allana bersikap seolah tidak terjadi apa-apa.
"Kalau boleh tau, kamu suka sama siapa?" tanya Allana menampilkan wajah cerianya.
Elenio tampak menimbang-nimbang, antara ingin menjawab dan tidak. Elenio takut jika Allana semakin terluka.
Tarikan napas panjang dilakukan Elenio. "Razella," jawab Elenio yakin. Allana termangu sebentar.
'Sudah aku duga, kamu punya rasa sama Razella,' kata Allana dalam hati.
Allana tahu karena saat bersama Razella tingkah laku Elenio tampak berbeda. Elenio suka sekali memandang Razella dalam berbagai kesempatan. Yang Allana simpulkan sebagai sinyal bahwa ada rasa ketertarikan.
"Al, aku harap peristiwa hari ini gak berpengaruh dengan tali persahabatan kita," pinta Elenio dibalut cemas.
Sebagai seorang remaja yang jatuh cinta, Allana juga tidak bisa terus menerus memendam gejolak asmaranya. Meski jawaban yang diberi tak sesuai ekspektasi. Allana mencoba untuk tidak sakit hati.
"Kamu tenang aja, aku akan tetap bersahabat dengan kalian. Lagi pula, aku hanya sekedar mengungkapkan. Perihal kamu membalas atau tidak semua keputusan ada di kamu," balas Allana lembut kembali mengulas senyumnya, namun terbesit keraguan dalam benaknya.
Apa Allana sanggup terus berada di sekeliling Elenio yang jelas-jelas tidak membalas rasanya? Sementara di sisi lain──hatinya sangat mendambakan sosok seorang Elenio Cakra Wijaya.
Adanya linangan air mata yang turun membasahi pipi. Menandakan berakhirnya sebuah peristiwa patah hati yang terbayang. Jika ditanya bagaimana perasaannya, Allana jelas kecewa. Luka itu belum sepenuhnya pulih dalam kurun waktu lima hari dan kini ada luka kebencian yang melesat bak anak panah menembus jantungnya.
Walaupun tak berdarah, tapi Allana merasakan luka yang amat dalam ketika Elenio menganggapnya sebagai penyebab di balik kematian Razella.
'Pembunuh' satu kata dari Elenio yang memukul telak batin Allana. Andai ajakan belajar bersama itu Allana tolak, dan dia tidak sembrono memegang pisau itu mungkin dampak yang ditimbulkan tidak sebesar ini. Sebenarnya, Allana perlahan memberi jarak dan ingin mengurangi intensitas pertemuaanya dengan Elenio.
"Harusnya aku berkata jujur ke Razella kalau aku mau menghindar dari El sementara ... sampai luka ini benar-benar sembuh," ujar Allana pilu.
Sekarang yang tersisa hanyalah penyesalan, berandai-andai pun sudah tidak ada gunanya lagi. Langkah yang harus Allana ambil adalah berani menghadapi dan memperbaiki situasi meskipun hal itu tak semudah membalikan telapak tangan.
Allana menoleh ke arah laci berwarna putih, dia bergeser ke samping ranjang. Allana membuka laci itu lalu mengambil kotak kecil berwarna Pink ke atas pangkuannya.
Kotak persegi empat itu berisi gelang pemberian Razella saat Allana berusia 18 tahun tepat dua minggu sebelum kepergian Razella.
Jari-jemari lentik Allana bergerak membuka lipatan kertas dengan tulisan tangan latin dari Razella. Allana membaca surat itu lagi.
"Selamat Ulang Tahun Cantik. Allana, terima kasih ya, kamu selalu jadi teman aku dari kecil hingga sekarang. Aku beruntung bertemu orang sebaik kamu. Apapun yang terjadi kamu harus kuat. Semoga, dengan bertambahnya usia, kamu jadi pribadi yang lebih baik ke depannya. Eitss, jangan lupa traktirannya ya Allana, kamu harus traktir aku siomay 100 bungkus oke?
Bercanda kok Allana jangan dianggap serius. Lagian mana muat perut aku yang kecil ini hehe..."
Sudut bibir Allana sedikit melengkung. Razella memang orang yang ramah, periang juga lucu. Tidak sulit bagi Razella untuk bisa akrab dengan orang lain. Berbeda dengan Allana yang sukar bergaul.
"Aku minta maaf ya Allana aku gak bisa kasih kado yang bagus buat kamu."
Allana reflek menggeleng. "Ini semua udah lebih dari kata cukup Ra, karena adanya kamu aku gak kesepian lagi," kata Allana.
Jika Allana bersedih Razella lah, orang pertama yang selalu ada untuk Allana. Menjadi pendengar dan penasehat yang baik. Juga pemberi motivasi dan solusi bagi Allana.
'Tapi ... semoga kamu suka ya, aku sayang kamu Allana jaga diri baik-baik."
Dari Razella.
"Jaga diri baik-baik?"
Allana mengulangi kata-kata Razella. Terbesit ribuan tanda tanya di pikirannya.
"Apa kamu udah punya firasat, kalau kamu bakal pergi?" tanya Allana sendu.
Semua ungkapan yang ditulis Razella sangat tulus dan apa adanya. Begitulah Razella, keadaan telah mengajarkannya sebagai pribadi yang mandiri. Allana selalu dibuat kagum dengan sikap dan pemikiran Razella yang berfikir layaknya orang dewasa.
"El, gak salah suka sama kamu Ra, kamu orang yang baik," ucap Allana melipat surat itu dan meletakkannya ke tempat semula.
Suara dentingan ponsel mengambil alih atensi Allana sepenuhnya. Dia segera mengeceknya, melihat ada satu notifikasi chat muncul di beranda.
Tante Devinka.
Mengirim Foto.
[Itu surat dari Razella.]
Allana.
[Makasih Tante.]
Tante Devinka.
[Sama-sama, kamu udah makan?]
Allana.
[Udah, Tan.]
Tante Devinka.
[Jangan lupa minum obat.]
Allana.
[Ini Allana udah minum kok, Tan.]
Tante Devinka.
[Bagus, cepat sembuh Allana, selamat malam.]
Allana.
[Malam kembali Tan.]
Allana terpaksa berbohong. Dia tidak ingin merepotkan orang lain. Biar Allana saja yang menahan sakit fisik juga batinnya. Fokus Allana tertuju pada sebuah foto yang dikirim Devinka. Ibu jari beserta jari telunjuk Allana men-zoom foto surat itu.
Dilihat dari struktur dan gaya penulisannya. Allana tahu, memang Razella yang menulisnya. Tapi, jika dipahami lebih dalam lagi, rangkaian kalimat ini sama sekali tidak mencerminkan sosok Razella. Berteman lama dengan Razella membuat Allana paham betul bagaimana cara Razella dalam menghadapi cobaan. Tidak menyerah pada keadaan, melainkan tetap melangkah melawan arus kehidupan.
Allana semakin yakin, ada sebuah hal yang mendasari tragedi kematian Razella. Tapi apa? Sejenak Allana menghentikan segala pemikiran yang muncul hingga membuat kepalanya terasa berat sekali.
"Banyak hal yang belum pasti dan aku akan berusaha ungkap kebenaran ini Ra. Walaupun aku gak yakin ... apa aku mampu. Tapi aku akan tetap berusaha," tekad Allana kuat.