Terjebak dalam ruang kenangan yang masih melekat. Berada di antara pergantian waktu hari ini dan esok. Elenio duduk di tepi ranjang, kepalanya menunduk mengingat sesuatu dengan kedua tangan terkepal menopang dahi.
Sore itu, di danau tempat biasa mereka bertemu. Razella dan Elenio tengah memandang Matahari yang perlahan melayang pergi. Menyisakan semburat warna jingga yang mempesona. Pertanda senja mulai menghampiri.
Razella menoleh ke arah Elenio.
"El, aku takut," ungkap Razella gelisah.
Elenio sedikit menurunkan pandangannya, lantas menatap Razella.
"Kamu takut kenapa? Ada yang nyakitin kamu?" tanya Elenio saling menautkan alisnya.
"Bukan itu," ujar Razella menatap lekat Elenio. "Aku takut kamu pergi," lanjut Razella rona wajahnya terlihat gusar.
Elenio tersenyum, dia menatap teduh Razella. Meyakinkan semua akan baik-baik saja lewat sorot matanya.
"Jangan khawatir, aku akan tetap ada di sisi kamu dan selalu jaga kamu Ra," kata Elenio pada Razella seraya mengusap pelan puncak kepala gadis itu.
"Argh! Aku gagal tepatin janji aku Ra!" seru Elenio yang larut dalam lautan emosi.
Elenio lantas berdiri menghadap ke dinding, dia terus melayangkan pukulan bertubi-tubi di sana.
"Ini semua salah aku Ra, aku gak becus jaga kamu!" maki Elenio pada dirinya sendiri. Meski Elenio merasakan nyeri di sekitar buku-buku jarinya. Namun hal itu belum mampu membuatnya berhenti meninju dinding kokoh di depannya.
Dilandasi rasa kecewa atas kegagalan dalam memenuhi janjinya pada Razella membuat emosi Elenio semakin melonjak tak terkendali. Pukulan itu semakin kuat dan cepat.
Selang beberapa menit, kala darah segar mulai mengucur deras membasahi telapak tangannya. Barulah Elenio berhenti, beberapa permukaan kulit di ruas jemarinya mengelupas. Pola napasnya tidak teratur. Tubuh Elenio merosot ke bawah dengan kepala menunduk lemas.
"Apa aku salah bersikap seperti ini Ra? Aku benar-benar belum bisa menerima apa yang terjadi. Aku gak akan pernah siap kehilangan kamu Ra," lirih Elenio dengan sirat mata kesedihan.
Elenio lantas menggerakan ekor matanya pada meja yang berada di sebelahnya. Tangannya terulur meraih foto berbingkai antara dirinya dan Razella.
Elenio memindai setiap ekspresi wajah Razella. Melihat mata Razella yang menyipit saat tersenyum, juga lengkungan garis bibir yang tercetak indah di parasnya membuat sisi egois Elenio memberontak ingin memiliki.
Elenio ingin Razella terus berada di sisinya. Bukan hanya sekedar menjadi seorang sahabat tapi juga sebagai pendamping hidup Elenio kelak. Namun semua harapan itu sirna. Berganti dengan angan-angan semata.
"Kenapa antara keinginan dan takdir itu nggak bisa sejalan? Kenapa? Tuhan memang gak pernah izinin aku buat bahagia," ungkap Elenio termangu dalam-dalam. Dia merasa kebahagiaanya turut terenggut bersama kepergian Razella.
***
Sebuah benda pipih yang terletak di sebelah bantal Allana terus bergetar. Allana yang masih terlelap, segera membuka kedua matanya. Dia melirik ke arah ponsel hitam miliknya. Aneh, ada banyak sekali notifikasi yang muncul di layar. Ada apa gerangan? Allana semakin penasaran, dia lantas memeriksa ponselnya.
Mata Allana membulat tidak percaya. Di postingan akun i********: pribadinya yang berisi foto bertiga Razella, Elenio dan dirinya, ada banyak sekali jejak komentar di dalamnya. Terlebih komentar itu mengacu pada hal negatif.
"Manusia gak punya hati!
"Cewek gila!"
"Buta karena cinta! Sejahat itu sama sahabatnya sendiri? Keterlaluan! Gak waras!"
"Teman kok nusuk teman! Logikanya di pakai dong!"
Begitulah beberapa kata komentar yang terlontar untuk Allana.
"Ini maksudnya apa?" tanya Allana mengernyitkan dahi, tidak tahu menahu kenapa ada banyak sekali kata-kata kasar dan hujatan yang menyerang dirinya.
Detik berlalu, sebuah kiriman video dari nomor yang tidak dikenal muncul. Video itu berisi pernyataan cinta Allana pada Elenio.
"Siapa yang rekam ini?" Allana semakin bertanya-tanya. Perasaanya jadi tidak karuan.
Video yang diedit menampilkan foto Allana dengan keterangan begini 'Diduga karena adanya cinta segitiga yang tercipta. Perempuan ini dengan tega membunuh sahabatnya sendiri,' lalu di akhiri dengan foto Razella pada akhir durasi video itu.
"BUKAN AKU! AKU BUKAN PEMBUNUH!" seru Allana melempar ponselnya ke lantai. Menimbulkan retakan pada layar ponsel itu. Kedua tangan Allana memeggangi kepalanya. Meredam luapan amarah.
Saat kedua manik mata kecokelatan Allana tidak sengaja menatap foto dirinya tengah tersenyum lebar. Seketika membuat emosi Allana kembali bergejolak.
Allana benci melihat dirinya tersenyum, karena nyatanya sampai kini dia tidak pernah merasakan kebahagiaan berpihak padanya. Allana berjalan ke arah dinding tempat dimana fotonya terpajang.
Dia meraihnya lantas mengusap sedikit debu yang menempel di area pinggir pigura, setelah itu Allana mengangkat foto itu tinggi-tinggi kemudian membantingnya kuat.
Bingkai foto itu langsung pecah dan berserakan. Allana tertawa miris. Dia lantas berjongkok. "Senyum ini palsu," geram Allana mengambil foto dirinya yang berada di bawah serpihan kaca.
Allana merobek foto itu kemudian mengepalnya jadi satu lantas membuangnya ke sembarang arah. Lensa matanya tertuju pada satu bagian pecahan kaca bening dan tajam berukuran sedang.
"Mungkin ini waktunya," gumam Allana menelan salivanya kasar. Tangannya meraih pecahan kaca itu. Mengarahkannya pada pergelangan tangan.
Dengan satu gerakan, Allana Menggoreskanya pelan di kulitnya, seketika cairan berwarna merah kental itu mengalir deras ke lantai membentuk beberapa lingkaran merah kecil menetes di keramik. Luka sayatan itu terasa perih namun Allana tetap abai. Allana sangat ingin menekan benda tajam itu lebih dalam supaya mengenai nadinya.
"Nggak! Aku gak boleh lakuin ini. Apapun yang terjadi aku harus bertahan. Ini juga demi Razella," kata Allana mencoba menguatkan diri sendiri. Allana sadar, melakukan hal ini tidak akan mengurangi dampak dari masalah yang menimpanya.
"ALLANA! KELUAR KAMU!" gertak seseorang yang suaranya terdengar tak asing di telinga Allana. Suara itu juga membuat seluruh tubuh Allana gemetar ketakutan.
"ALLANA CEPAT KELUAR! ATAU SAYA SERET KAMU!" peringatnya. Terdengar bergema ke seisi ruangan.
"IYA," sahut Allana segera mengusap darah di lengannya dengan baju yang dia kenakan. Meninggalkan noda merah di kain belakang bajunya.
Allana lantas berjalan menghampiri ke arah sumber suara yang berasal dari ruang tamu. Allana mencoba menetralkan keteggangan yang terjadi dengan berusaha mengulas senyum di bibirnya.
"Papa sama Mama udah pulang?" tanya Allana sekedar basa-basi. Karena, setahu Allana kedua orang tuanya masih memiliki jadwal bisnis di luar kota hingga minggu depan.
"Jam segini baru bangun?! Dasar anak pemalas kamu!" bentak Dimas──ayah kandungnya menatap kantung mata Allana yang menghitam, bibirnya pecah-pecah ditambah penampilan Allana yang kusut dengan rambut terurai acak-acakan. Membat Dimas Benar-benar enggan menatap Allana.
"Maaf, aku sakit Pa," jawab Allana pelan. Namun Allana dapat dengan jelas melihat raut wajah yang ditampilkan Dimas dan Hanna──ibunya menyiratkan amarah besar yang siap diledakkan pada Allana.
Dimas menampar keras sebelah pipi Allana hingga membuat wajah Allana tertoleh ke samping. Allana merasakan panas yang berada di pipinya.
"DASAR KRIMINAL! SIAPA YANG MENGAJARI KAMU SEPERTI ITU?!" kelakar Dimas lantang menatap nyalang Allana.
Kemarahan dari orang tuanya pasti timbul karena video palsu yang beredar luas.
"Itu salah paham Pa, aku gak salah," jawab Allana.
Allana benci dengan sikap ayahnya yang selalu bermain tangan untuk menghakiminya. Apa tidak ada, setitik saja, rasa kasihan di hati Dimas untuknya? Allana hanya meminta sedikit, hanya sedikit saja kepedulian dan kasih sayang dari mereka.
Tapi miris, Allana memang sama sekali tidak pernah merasakannya.
Dimas menujuk Allana, dengan mata berkilat marah. "KAMU MEMANG ANAK PEMBAWA SIAL!" kelakarnya.
Hati Allana mencelus sakit, seolah kata-kata buruk tiada hentinya dikeluarkan Dimas untuknya. Jujur Allana sudah tidak kuat lagi.
"Tapi, Pa, video itu palsu!" tegas Allana lugas.
"Tetap saja Allana! Nama baik Kusuma sudah tercoreng karena skandal kematian itu. Orang-orang jadi berfikir yang tidak-tidak. Asal kamu tahu, mereka menyalahkan kami yang katanya tidak merawat kamu dengan baik," jelas Dimas penuh penekanan.
Allana mengangkat wajahnya. Berani. "Bukannya itu benar, Papa sama Mama dari dulu memang gak pernah merawat Allana dengan baik. Allana selalu di anak tirikan!" papar Allana berani melawan.
"KURANG AJAR KAMU!" bentak Dimas kembali melayangkan tamparan di sebelah pipi Allana.
Saking kuatnya tamparan itu, sampai-sampai sudut bibir Allana terkelupas dan mengeluarkan darah tipis.
Allana tersenyum getir. Allana sudah muak menyimpan semuanya.
"Selama ini Papa sama Mama gak pernah anggap aku ada, Allana ini juga manusia. Allana punya hati. Kalau tentang fasilitas uang dan materi, Allana akui, Allana termasuk orang yang beruntung karena selalu tercukupi. Tapi tentang kasih sayang, Allana bahkan belum pernah merasakan hal itu dari kalian." Allana meluapkan sisi emosinya yang sudah berada di puncak.
Selama ini Allana hanya diam dengan ketidakadilan yang dia terima. Allana selalu mengalah dia juga tidak pernah membantah.
"Kamu mau tahu kenapa kami berlaku seperti itu ke kamu?" tanya Dimas seraya mengangkat dagunya ke atas. Memberi kesan berkuasa dan angkuh.
Allana memandang Dimas dengan mata berkaca-kaca, menunggu kalimat apa yang akan keluar. Allana tidak berharap banyak karena dia yakin, ayahnya ini akan menyakiti hatinya lagi.
"Karena kamu Perempuan! saya tidak mau punya anak perempuan!" seru Dimas seraya memberi tatapan intimidasi.
Napas Allana terhenti, lagi-lagi kalimat pernyataan itu menyayat hatinya habis-habisan. Pernyataan itu kembali menambah deretan luka yang Allana terima.
"Jadi, karena itu, kalian tega sama aku?" tanya Allana pasrah merasakan dadanya yang terimpit sesak.
"Saya menyesal sudah melahirkan kamu Allana. Bisanya bikin malu saja!" Kali ini giliran Hanna yang bicara.
"Ma-ma tega bilang itu ke Allana?" tanya Allana menatap tidak percaya pada Hanna. Allana tidak kuasa lagi membendung air matanya yang mengalir deras.
"Iya. Saya menyesal melahirkan kamu!" seru Hanna menekannkan penuturannya.
Kalimat dari Hanna telah menghancurkan dunia Allana dalam sekejap. Bahkan ibu kandungnya dengan tega berkata terang-terangan tidak mau menerima kehadirannya. Tubuh Allana melemas, kakinya bahkan hampir tak mampu menopangnya untuk tetap berdiri.
"Tapi, aku gak pernah minta jadi perempuan dan Allana gak pernah minta dilahirkan. Memangnya kenapa dengan anak perempuan? Bukannya Mama juga perempuan, kenapa Mama membenci golongan Mama sendiri?" balas Allana menangis tersedu-sedu.
"Itu beda konteks Allana! Seharusnya Mama punya anak Rama saja, dia laki-laki, cerdas, pandai bergaul dan dia lebih segalanya dibandingkan kamu!" ujar Hanna tak ada raut penyesalan setelah kalimatnya benar-benar melukai hati Allana.
"Lihat Rama, saat ini dia mengikuti Olimpiade matematika! Sementara kamu? Buat tembus peringkat 3 besar aja kamu gak mampu!" seru Hanna menjadikan pencapaian sebagai alasan perbandingan.
"Aku juga sudah berusaha Ma, Allana juga terus belajar bahkan sampai larut malam. Kenapa Mama gak mau menghargai perjuangan Allana?" tanya Allana.
"Saya cuma butuh hasil akhirnya Allana, semua usaha kamu itu ya urusan kamu! Setidaknya kalau kamu memang tidak berprestasi jangan buat masalah seperti ini! Saya kecewa sama kamu!" jelas Hanna membuat Allana tertekan.
"Anak seperti kamu ini cuma beban keluarga Allana!" tegas Dimas semakin menyudutkan Allana.
Sorot mata kepedihan milik Allana tercetak nyata. "Dimana hati nurani Papa sama Mama? Kenapa kalian tidak pernah memikirkan perasaan Allana, hati Allana sakit Ma, Pa. Sikap dan perilaku Papa dan Mama sudah keterlaluan. Bagaimanapun juga Allana juga anak kandung kalian!" ujar Allana meninggikan intonasi suaranya.
"Harusnya sebagai orang tua, kalian mau menerima apa adanya. Kalau Allana tahu semua seperti ini. Allana pasti akan memilih dilahirkan jadi seorang laki-laki," lanjut Allana tidak menyangka hanya karena Allana perempuan, kedua orang tuanya tega berlaku seperti ini padanya.
"Sudahlah Allana! Saya muak lama-lama lihat kamu! Bisanya bikin emosi! Hanna ayo kita pergi," ajak Dimas yang bergegas menuju pintu depan.
"Iya, aku juga malas lihatnya, dasar anak gak berguna!" seru Hanna melempar tatapan benci ke Allana sebelum pergi.
Allana tidak tahu harus berbuat apa. Dia benar- benar berada dalam titik terendah dalam hidupnya. Wajahnya kini dibanjiri oleh tangisan lara. Allana memegang pipi kanannya. Dimana sebuah tamparan keras mendarat disini. Sakit namun tidak lebih menyakitkan dari luka yang menggores batinnya.
Allana memukul dadanya, rasa sesak tiada habisnya terus menghujam hatinya.
***
Di sudut kamar bernuansa biru laut. Elenio tidak sengaja tertidur dengan posisi duduk di lantai sementara kepalanya bersender pada kaki meja. Matanya tertuju ke arah jendela dimana sebuah sinar mentari masuk ke kamarnya. Hari sudah pagi rupanya.
Dia menahan rasa perih di sekitar buku jari yang terasa hingga ke telapak tangannya. Bau anyir darah yang mengering pun turut menyeruak ke indra penciuman. Elenio hanya menatap lukanya tidak berniat ingin mengobati.
"Luka ini gak seberapa dibanding dengan rasa kehilangan kamu Ra," lirih Elenio.
***
Terduduk di lantai dengan kedua tangan memeluk lutut sendiri. Allana benar-benar kecewa. Dia
Memandang kosong ke depan tanpa adanya minat untuk berbuat apa-apa. Kehilangan harapan juga semangat hidup, Allana merasa hidupnya tidak berguna. Masa depan seakan diselimuti kabut kelam yang tebal.
"Tuhan, salahkah Allana jika Allana terlahir sebagai perempuan? Kenapa aku dilahirkan di keluarga yang tidak mau menerimaku? Kenapa? Apa Allana memang tidak layak bahagia. Apa Allana ini anak pembawa sial?" ujar Allana menahan pilu dalam kesendirian.
Kekecewaan terus menghantui tentang kesedihan juga kebencian yang mendera dirinya. Allana sadar bukan hanya dia yang menderita, mungkin di luar sana, banyak yang mengalami hal serupa. Tapi kali ini, Allana benar-benar lelah, Allana ingin mengeluh sedikit saja. Allana ingin berbagi duka kepada Sang Pencipta. Allana tahu dia tidak bisa melawan takdir tapi, setidaknya Allana mencoba terus bertahan menghadapi kesengsaraan yang tak juga pergi meninggalkan.
"Aku benci sama diri aku sendiri benci! Aku emang lemah, aku gak berguna!" Allana menangis sejadi-jadinya.
"Allana gak minta lebih. Allana cuma mau orang tua Allana sayang sama Allana ... itu aja. Tapi kenapa rasanya mustahil!" Allana tertawa miris. Dia menjambak kuat rambutnya sendiri. Takdir suka sekali menjatuhkannya dalam jurang kesedihan.