Pagi telah berganti petang, begitu juga Matahari telah digantikan Bulan. Niat hati hendak melihat gemerlap bintang dan indahnya sinar rembulan. Semua itu sirna saat Allana menatap ke langit. Pekatnya warna langit malam diliputi mendung seolah mewakili bagaimana keadaan Allana saat ini.
Allana duduk di lantai teras rumahnya. Pandanganya lurus ke depan. Sorot mata itu kosong, hampa, tidak ada lagi secercah harapan di sana. Hadirnya tidak pernah diinginkan, hadirnya hanya merusak kebahagiaan orang tuanya. Semua orang membencinya.
Lantas, untuk apa dia dilahirkan? Untuk apa Allana tetap bertahan hidup. Bukankah mati adalah pilihan terbaik? Pikir Allana tersenyum miring. Sebuah ide gila terlintas di kepala Allana.
***
Sudah seharian penuh ini Elenio tidak beranjak keluar dari kamarnya. Devinka telah berulang kali membujuk Elenio agar mau makan walau hanya seujung sendok saja, namun tak kunjung membuahkan hasil. Elenio tetap diam dan tidak keluar.
Raut wajah Devinka tampak cemas.
"El, keluar El. Kamu belum makan dari pagi. Mama bawain makanan ke kamar kamu ya El, kamu buka pintunya," bujuk Devinka.
Tidak ada sahutan namun suara
derap langkah terdengar. Bagas datang memegang bahu Devinka dari belakang membuat Devinka langsung menoleh.
"El butuh waktu," jelas Bagas pelan.
"Tapi, Mas, ini gak baik buat kesehatan El! Sama aja dia nyakitin dirinya sendiri," balas Devinka sewot.
Bagas tersenyum. Menjadikan Devinka sebagai Istri sekaligus Ibu sambung bagi Elenio adalah pilihan yang tepat. Wanita di depannya ini benar-benar peduli dengan Putra semata wayangnya.
"Kamu tenang aja, El gak papa. Kita tinggalin dia dulu," terang Bagas meyakinkan.
Ekspresi wajah Devinka berubah sedih. "Maaf Mas, aku belum bisa jadi Ibu yang baik buat El," ujar Devinka lesu.
Bagas meraih kedua tangan Devinka lantas membuat mereka saling berhadapan.
"Kamu adalah Istri dan Ibu yang baik untuk saya dan anak saya. Saya beruntung bisa bersama kamu," kata Bagas jujur.
Kedua mata Devinka berkaca-kaca, hatinya tersentuh mendengarnya. "Makasih Mas."
Bagas lantas memeluk Devinka erat penuh dengan kehangatan.
"Sudah, mari kita tidur, sudah malam," ajak Bagas namun sebelum melangkah Devinka menyempatkan untuk menoleh ke arah pintu kamar Elenio yang tertutup rapat.
Devinka berharap, Elenio akan membuka pintu. Namun Bagas segera menggandeng tangan Devinka untuk mengajak pergi dari sana. Elenio dengar panggilan dari Devinka. Namun Elenio memilih tetap bungkam.
Dia hanya terus duduk mendengar musik penenang seraya menatap ke luar dari jendela. Hingga rasa kantuk mulai menghampiri. Mungkin ini efek dari jenis musik yang dia dengarkan.
Elenio terbaring di single bed-nya. Elenio kira dia akan segera terlelap, namun dugaannya salah. Selama dua jam lebih Elenio bergerak tak nyaman dengan posisi tidurnya. Dia bergerak gelisah, dari mulai berbaring ke kanan lalu ke kiri begitu seterusnya. Kedua netra yang dipaksa agar terpejam itu sama sekali tak mau menuruti.
Pikiranya kalut diselimuti kabut emosi. Penyesalan, rasa bersalah dan kecewa saling membaur jadi satu.
Elenio menyingkap selimut yang semula menutupi kepalanya, Dia menengok ke arah jam. Waktu menunjukan pukul 01:00 dini hari. Benar-benar melelahkan terus bergelut dengan pikiran juga hati yang masih belum mampu menerima kenyataan.
Sekeras apapun Elenio mencoba mengalihkan perasaanya dengan hal lain. Efek-nya hanya bertahan sekian menit. Setelahnya, rasa penyesalan itu akan kembali menyelimuti diri.
"Aku bener-bener gak bisa tenang! Harus dengan cara apa lagi aku melampiaskannya?!" Elenio mengacak rambutnya.
Dia berdiri, lantas mengambil jaket hitam yang tersampir di kursi, memakainya seraya berjalan keluar kamar.
Elenio memutuskan pergi dari rumah mengendarai mobilnya. Kondisi jalan yang lenggang membuat Elenio leluasa menyetir mobilnya dalam kecepatan tinggi memudahkan untuk menyalurkan gejolak emosinya.
Saat mobil Elenio sampai pada pertigaan jalan seseorang tiba-tiba berlari dan berdiri menghadang mobilnya.
Elenio segera menginjak pedal rem nya kuat hingga menimbulkan bunyi decitan yang amat keras. Elenio mengumpat dalam hati, dia lantas keluar dari mobilnya diiringi amarah yang membara.
Siapa gadis yang nyaris menabrakkan diri pada mobilnya? Elenio menatap nyalang pada gadis yang sekarang berdiri menutup mata dengan kedua telapak tangannya.
"ALLANA KAMU MAU MATI?!" gertak Elenio mengepalkan tangannya kuat. Elenio mengetatkan rahangnya.
Perlahan Allana membuka matanya menatap lelaki jangkung yang berdiri di depannya. Suatu kebetulan atau memang sudah jalannya Allana tidak menyangka akan bertemu Elenio.
"Ma-maaf El," ujar Allana jantungnya berpacu dua kali lipat saat mengatakan itu.
"Kamu pikir dengan kamu mati, semua masalah akan selesai?!" tanya Elenio berseru keras.
"Aku capek El, aku udah gak kuat," lirih Allana. Sorot mata kesedihan terpancar di kedua netra cokelat milik Allana.
Elenio tersenyum remeh membuat Allana yang melihatnya terkejut. Itu bukan Elenio yang Allana kenal selama ini.
"Jangan drama terus Allana! Aku muak liat tampak menyedihkan kamu itu! Mungkin orang lain bisa ketipu, tapi aku nggak!" seru Elenio kejam dan tajam.
Hati Allana kembali berdesir perih. Allana bergeming kedua tangannya mengepal sekuat tenaga, menahan derasnya air mata yang akan mengalir membasahi pipi.
'Gak Allana kamu gak boleh nangis!' batin Allana.
Jika saja Elenio tahu bagaimana keadaan Allana saat ini. Maka Elenio akan menemukan Allana yang tengah memeluk lututnya sendiri, menangis dalam sunyi di sudut ruangan tanpa ada cahaya yang menerangi.
"Beruntung mobil ini bisa berhenti tepat waktu! Kalau enggak, mungkin nyawa kamu udah melayang Allana!" kata Elenio sadis.
"Emang itu yang aku mau!" jawab Allana berani menatap Elenio.
Elenio menggertakan giginya.
"Harusnya aku tabrak kamu tadi, nyesel aku gak lakuin itu!"
"TABRAK AKU EL! TABRAK! KAMU BISA LAKUIN ITU SEKARANG!" seru Allana mengguncang lengan Elenio.
Sementara Elenio segera melepaskan tangannya dia memandang Allana dengan sorot mata yang sulit diartikan. Elenio kembali menaiki mobilnya.
Kini Allana menutup matanya. Pasrah dengan apa yang akan Elenio lakukan. Beberapa detik Allana merasakan mobil Elenio melewati samping tubuhnya. Cowok itu mengendarainya cukup kencang terbukti dari kuatnya angin yang menerpa Allana.
"Aku tau, kamu gak akan lakuin itu El," lirih Allana berjalan menepi. Dia melangkah lunglai kembali ke rumahnya.
***
Suara ketukan pintu terdengar keras. Devinka yang baru saja terbangun masih mengenakan piyama langsung bergegas menuju pintu depan.
"Siapa yang bertamu pagi-pagi begini?" gumam Devinka di sela-sela langkahnya.
Devinka membuka pintu. Dia kaget mendapati Elenio yang berdiri sempoyongan tersenyum padanya.
"Razella, kamu masih hidup? Aku rindu kamu," ucap Elenio memegang pipi Devinka.
"Napas kamu bau alkohol! Kamu mabuk ya El?" tanya Devinka memegangi tubuh Elenio.
"Ra, jangan pergi lagi Ra, aku mau kamu tetap di sini," racau Elenio dalam keadaan setengah sadar.
"Tuh kan bener, kamu mabuk! Ini mama El bukan Razella!" balas Devinka menepuk sebelah wajah Elenio.
"Kamu bercanda Ra!" bantah Elenio dengan kedua mata yang terbuka setengah.
"Mas Bagas, cepat sini Mas, El mabuk!" seru Devinka memanggil Bagas. Tenaganya tidak cukup kuat untuk menahan berat badan Elenio.
"Astaga! Ini El kenapa?" tanya Bagas seraya membopong tubuh Elenio. Keduanya membawa Elenio ke kamar.
Bagas dan Devinka saling menatap, ada banyak pertanyaan yang berada di kepala Bagas.
"Ini El beneran mabuk?" tanya Bagas dengan nada ragu.
"Iya Mas, dia tadi panggil aku Ra. Mungkin, El pikir aku ini Razella," jawab Devinka.
"Sebelumnya, El tidak pernah sampai begini," ucap Bagas. Menyadari perilaku putranya yang berubah drastis.
"El, masih shock Mas, dia bahkan gak bisa mengendalikan dirinya sendiri. Ini juga karena kita lalai dalam mengawasi El," jelas Devinka.
"Iya, jika saja semalam aku tidak mendengarkan ucapan kamu mungkin kejadiannya tidak akan begini," sesal Bagas.
"Ini buku jari El, kenapa ya, Mas, kok berdarah?" tanya Devinka heran.
"Pasti dia pukul dinding lagi seperti waktu itu. El gak akan berhenti sebelum tangannya benar-benar terluka," terang Bagas.
"Yaudah aku ambil kotak obat dulu ya, Mas, pasti ini perih banget," ujar Devinka dibalas anggukan oleh Bagas.
***
Samar-samar cahaya mentari mengenai wajah Allana yang masuk melalui celah tirai jendela yang terbuka. Rasa hangat di wajahnya membuat Allana terbangun.
Allana mengucek kedua matanya lalu duduk di tepi ranjang. Pandangannya tertuju pada satu kresek putih yang terletak di meja belajarnya. Dia lantas beranjak dari sana. Allana membuka kantong plastik itu, ada kertas kecil berwarna kuning.
Allana membacanya dalam hati.
'Pagi Cantik. Sedih boleh, tapi jangan lama-lama ya. Seberat apapun beban yang kamu alami saat ini. Kamu harus bersyukur dan berfikir positif. Kamu pasti bisa melaluinya. Siap ya Cantik, kalau siap, senyum dulu dong.'
Allana tersenyum.
'Nah gitu dong. Sampai ketemu lagi Cantik lewat tulisan lainnya nanti.'
Allana kembali berfikir. "Dari siapa?" tanya Allana membalikkan kertas itu namun tidak ada nama pengirim yang tercantum di sana.
Allana mengeluarkan bubur itu.
"Masih hangat, berarti belum lama," gumam Allana.
Allana berlari keluar kamar. "Bi, yang kasih ini siapa?"
"Waduh, Bibi gak tau Non," jawab Bi Ratih yang berada di dapur.
"Kalau Bibi gak tau, terus dia lewat mana? Apa mungkin lewat jendela?" Allana segera kembali ke kamar melingak di jendela.
Tidak ada siapa-siapa.
"Apa mungkin ini dari El?" tanya Allana lalu menggeleng cepat.
"Gak mungkin dari El, dia masih benci banget sama aku," lirih Allana. Ekspresinya berubah cepat.
***
Di ruang makan, antara Bagas Devinka dan Elenio sama-sama masih membisu. Hanya ada adu saling pandang antara Bagas dan Elenio.
"Benar, kamu minum semalam El?" tanya Bagas menelisik lebih dalam.
Elenio menunduk. Tidak menjawab.
"Mas bukannya tadi udah jelas, kita kan sudah lihat kondisi El tadi pagi." Devinka berkomentar.
Bagas melirik ke arah Devinka membuat Devinka langsung menelan ludahnya kasar.
"Jawab El! Papa mau dengar dari mulut kamu langsung!" perintah Bagas.
"Iya," jawab Elenio.
Bagas yang tersulut emosi langsung berdiri dan menggebrak meja dengan kuat, membuat Devinka juga Elenio memejamkam mata sebentar. Kaget dengan suara yang tiba-tiba diiringi dentingan peralatan makan yang berbenturan.
"SAYA TIDAK SUKA KAMU BEGITU LAGI EL! KALAU KAMU KECELAKAAN GIMANA?! KAMU BAWA MOBIL DALAM KEADAAN MABUK! RESIKONYA SANGAT TINGGI!" gertak Bagas kepalang marah. Bagas sadar dia lalai mengawasi Elenio tapi dia harus tetap menegur Elenio agar kejadian ini tidak terulang.
"Buktinya El baik-baik aja," jawab Elenio mengendikkan bahunya tak peduli.
Bagas merasa geram. "Jangan jadi anak pembangkang kamu!" Bagas hendak menampar wajah Elenio namun Devinka langsung memeggang tangan Bagas.
"Menyelesaikan masalah dengan amarah, bukanlah solusi yang tepat," ujar Devinka.
Elenio kini berdiri. "Papa gak pernah mengerti El! Papa egois! Dari dulu Papa selalu mau menang sendiri!" balas Elenio berlalu pergi.
"El?! MAU KEMANA KAMU?!"
Elenio tidak menggubris pertanyaan itu. Yang dia butuhkan adalah ketenangan bukan pertengkaran.
***
Seorang lelaki berpostur tubuh tinggi memakai jaket jeans abu-abu, melangkah mendekati Elenio yang duduk di pinggir danau. Elenio memang biasa berada disini sekedar duduk atau melampiaskan emosi dengan cara melempar kerikil ke dalam danau. Tempatnya yang hanya dipenuhi tumbuhan hijau dan jarang sekali didatangi banyak orang. Benar-benar menjadi tempat ternyaman bagi Elenio.
"El." Merasa dipanggil Elenio menoleh.
"Mau sampai kapan lo kaya gini terus?" tanya laki-laki itu sedikit meninggikan intonasi suara beratnya.
"Gue butuh waktu Van," jawab Elenio pada Devan.
"Hidup itu terus berjalan El. Seberat apapun cobaan yang kita hadapi kita harus bangkit," kata Devan memotivasi.
"Lo ngomong gitu karena lo gak ada di posisi gue Van!" sanggah Elenio penuh titah emosi.
"Gue tau, tapi tiap manusia diberi ujian yang beda-beda dan semua udah diukur sesuai kemampuan kita. Gue yakin, lo pasti bisa lewatin ini semua."
"Tapi gue gagal Van! Harusnya gue bisa lindungi dia tapi ...."
"Semua diluar batas kemampuan lo El," potong Devan menepuk pelan bahu Elenio.
"Intropeksi diri emang penting tapi kalau sampai lo salahin diri sendiri itu yang gak baik," lanjut Devan menasehati Elenio.
"Waktu gue dengar kalau Razella meninggal karena bunuh diri. Gue bener-bener gak nyangka dia lakuin itu," ujar Devan menggelengkan kepala.
"Gue yakin, pasti Allana dibalik semuanya!" seru Elenio lalu mengetatkan rahangnya rapat-rapat.
Devan mendelik. "Berhenti nyalahin Allana! Dia cuma korban!" balas Devan tidak terima, sebelah tangan Devan mengepal erat.
"Lo, bela Allana?" tuding Elenio pada Devan.
"Gue lebih percaya Allana, walaupun gue cuma kenal Allana selama tiga tahun. Tapi gue tau gimana sikap dia, Allana orang yang tulus gak mungkin dia lakuin hal se'keji itu," balas Devan.
Ucapan Devan terkesan menyindir Elenio. Kalimat itu juga berhasil menyentil hatinya. Dengan menyebut bilangan angka itu, jelas Elenio mengenal Allana lebih lama. Namun karena kepergian Razella, semua sulit diterima. Rasa sayang Elenio terlampau besar untuk Razella.
"Allana itu cuma tameng buat nutupin siapa sebenarnya pelaku aslinya," duga Devan melipat tangan.
Elenio hanya terdiam. Berfikir dan merenung.
Benar kata Devan dia harus segera bangkit dari semua keterpurukan ini, Elenio setuju dengan wejangan yang diberikan Devan. Tapi, untuk berhenti menyalahkan Allana tampaknya Elenio masih belum mau. Hatinya masih enggan membuka pintu maaf.
"Semisal butuh bantuan, cari gue, El. Apapun itu, gue bakal bantu lo," kata Devan lalu berdiri meninggalkan Elenio yang belum mau beranjak dari posisi duduknya.