Elenio terlihat melamun. Akhir-akhir ini dia selalu menghabiskan waktunya untuk merenung. Pikirannya selalu tertuju pada Razella.
"El, buat kamu," ujar Razella yang duduk disamping Elenio yang sedang melempar batu-batu kecil ke dalam danau.
Elenio menoleh dengan raut kebingungan. "Buku?" tanya Elenio.
Razella mengangguk. Elenio menerima buku kecil bersampul putih pemberian Razella.
"Kalau kamu lagi sedih atau punya masalah. Tulis aja di buku ini," ungkap Razella lalu mengeluarkan bolpoint dari saku celananya.
"Menulis bisa mengurangi beban pikiran kamu El, setidaknya kamu menyalurkannya lewat tulisan. Jadi perasaan kamu akan lebih lega." terang Razella tersenyum lebar.
"Boleh aku peluk kamu Ra? Aku kangen Bunda."
Respon Elenio membuat Razella terkesiap. Detik berikutnya Razella mengangguk. Elenio lantas memeluk tubuh Razella. Tenang dan nyaman yang Elenio rasakan.
Elenio bisa merasakan ada sosok Amara──ibunya di dalam diri Razella. Dia yang lemah lembut penuh kasih sayang. Elenio mengurai pelukannya
"Makasih Ra," ucap Elenio tersenyum. Perasaannya berangsur-angsur membaik
"Iya El. Gitu dong senyum, 'kan lebih ganteng kalau dilihat," sahut Razella ikut tersenyum.
"Gitu ya? Jadi selama ini aku ganteng di mata kamu?" goda Elenio tersenyum manis seraya memajukkan wajahnya ke arah Razella membuat Razella bersemu malu.
Razella melebarkan telapak tangannya lalu mendorong wajah Elenio menjauh.
"Gak usah gitu juga kali El," balas Razella.
"Bilang aja baper," ejek Elenio
terkekeh melihat Razella yang tampak kurang nyaman dengan perlakuannya.
"Apaan sih, nggak kok," bantah Razella memalingkan wajahnya hal itu membuat Elenio semakin menahan tawa saat melihat pipi Razella memerah.
Ketika mengingatnya, senyum di wajah Elenio terbit. Tapi dalam hitungan detik senyum itu kembali menghilang. Wajahnya nampak murung. Elenio sadar, semua itu hanyalah kenangan. Kenangan yang tak dapat diulang.
Elenio meraih buku putih kecil dari Razella dari nakas. Kemudian jari jemarinya bergerak menulis semua isi pikiran yang bersarang di kepala, menuangkannya dalam bentuk rangkaian kata demi kata.
"Jujur, sampai sekarang aku masih belum rela kamu pergi Ra. Hidup aku hampa, sejak kehilangan kamu. Dunia aku hancur, semua berantakan. Maaf Ra, karena aku masih terus berharap kalau kamu masih hidup padahal kenyataannya kamu udah tenang disana. Aku belum bisa terima semuanya, tapi aku akan berusaha seperti apa yang kamu ajarkan, menerima takdir yang pahit itu sulit. Tapi inilah takdir yang harus aku hadapi. Untuk kamu yang telah pergi. Terima kasih untuk semua hal yang pernah kamu beri. Terima kasih karena telah mengisi ruang hati." Elenio Cakra Wijaya.
***
Terhitung sudah seminggu lebih Allana tidak masuk sekolah. Namun, hari ini ingin kembali mengemban tugasnya sebagai Pelajar. Seburuk apapun peristiwa yang menimpa Allana. Dia harus kembali menata kehidupannya kembali, meski semburat luka masih terasa. Allana tahu semua tidak akan seperti sedia kala. Tapi Allana yakin, dia mampu mengatasinya.
"Aku pasti bisa, aku gak salah dan aku bukan pelakunya. Gak ada alasan buat aku takut sama mereka," kata Allana menatap pantulan dirinya di cermin.
Terlepas dari apa yang akan terjadi nanti, Allana mencoba menguatkan mental. Entah itu hinaan atau cacian yang merundung dirinya di Sekolah.
"Non Allana, mau masuk sekolah?" tanya Bi Ratih kaget tengah menyapu halaman rumah.
"Iya Bi. Allana gak boleh larut dalam kesedihan, Allana harus tetap melanjutkan hidup. Allana punya mimpi dan Allana ingin mewujudkan mimpi itu," jawab Allana tersenyum simpul.
"Bagus Non, Bibi akan selalu dukung Non," ujar Bi Ratih turut senang.
"Allana berangkat Bi," pamit Allana mengulurkan tangannya pada Bi Ratih. Allana membungkuk seraya mencium punggung tangan Bi Ratih. Bagi Allana, Bi Ratih sudah dia anggap sebagai ibu. Mengingat beliau lah yang mengasuh dirinya sejak bayi.
***
Memandang ke luar dari jendela Taksi. Allana terus berpikir tentang bagaimana respon orang-orang nanti padanya. Mengingat, video yang tersebar luas beberapa waktu lalu, mustahil jika mereka tidak berprasangka pada Allana.
"Aku harus tenang, aku gak boleh overthingking," gumam Allana menggelengkan kepala.
Saat taksi yang ditumpangi Allana sampai di depan gerbang SMA Cakrawala. Ada rasa keraguan yang menghampirinya. Apakah dirinya sudah siap kembali?
Menarik napas lalu menghembuskannya perlahan untuk sedikit meredam rasa takutnya. Allana beranjak keluar mobil. Kedua kakinya yang berbalut sepatu hitam melangkah melewati koridor. Semua pusat perhatian langsung tertuju padanya.
"Astaga! Ayo cepet jalannya, ada pembunuh berdarah dingin!" sindir salah satu Siswi bergidik ngeri seraya menggandeng sebelah tangan temannya mengajak menjauh dari jangkauan Allana.
"Lihat, berani banget sih masuk sekolah!" cibir Siswi.
"Eh minggir-minggir ada kriminal!" seru Siswa lainnya.
"Gara-gara ditolak cintanya jadi nekat kaya gitu, ih ngeri tau." ujar Siswi yang berada di dekat pintu masuk kelasnya.
Allana ingin menangis, kata-kata itu membakar hatinya. Ucapan yang mereka katakan hanyalah dusta belaka. Diakibatkan asumsi yang tak berdasar. Allana terus mempercepat langkahnya.
Daripada sibuk untuk membalas satu persatu ucapan yang terlontar. Allana memilih bungkam, dia memang tidak bisa mengendalikan orang lain tapi Allana bisa mengontrol dirinya sendiri. Dianugerahi kedua tangan yang lengkap, sudah cukup untuk menutup kedua telinganya rapat-rapat. Karena sejatinya dia memang tidak bisa mengendalikan orang lain tapi Allana bisa mengontrol dirinya sendiri.
Kamu pasti kuat Allana, batin Allana menekan ego nya dalam-dalam agar tidak termakan oleh amarah yang merugikan.
Meski tidak sekarang, tapi Allana akan terus mencari bukti kebenaran seiring berjalannya waktu.
"Punya mulut tolong dijaga ya!" tegas Tania di belakang Allana.
Allana yang sempat menunduk kembali menegakkan kepalanya. Allana berbalik badan. Tidak jauh dari tempatnya berdiri, Tania sedang berhadapan dengan salah satu Siswi yang mencibirnya.
"Masih aja dibelain!" cemooh siswi itu menarik sebelah sudut bibirnya ke atas. Pertanda meremehkan perkataan Tania.
"Razella itu meninggal karena bunuh diri," pungkas Tania menatap sengit ke arah siswi itu.
Tidak seharusnya Allana mendapat perlakuan buruk atas suatu kejadian yang tidak pernah dia perbuat.
"Itu sih, alibi kamu buat lindungi Allana!" balas Siswi itu tak kalah sengit.
Tatapan Tania menajam, tangan yang menggenggam selembar kertas, lantas Tania buka selebar-lebarnya.
"Kalian lihat ini! Ini surat pernyataan dari kepolisian ada lampirannya di sini dan menyatakan kalau Allana nggak bersalah!" tandas Tania bersuara keras.
Tania Berharap itu akan membantu merubah pandangan dan memperbaiki reputasi Allana di kalangan Siswa-Siswi sekolah. Sejujurnya, Tania geram mereka terus saja menghakimi saat Allana tidak masuk sampai saat ini.
Allana tidak tahu, Tania akan bertindak sejauh itu. Bahkan sampai meminta surat keterangan dari Polisi demi Allana.
"Kayak gitu mah, gampang dibuat!" seru Siswi itu. Lalu terdengar seruan bersamaan.
"IYA BENER ITU!"
Tania dibuat naik pitam. Bagaimana tidak, mereka yang diberi bukti saja masih terus membenci. Lantas dengan cara apa agar Tania bisa mengkhiri?
Satu-satunya yang terlintas di benak Tania adalah emosi.
"Punya mata dibuka yang lebar nih liat ada stempel dan tanda tangan dari kepolisian. Mau ngomong apa lagi kalian?!" Tania masih mempertahankan nada bicaranya yang tinggi seraya telunjuknya mengarah pada hal yang dimaksud.
"Kalian harusnya bisa pakai logika, kalau Allana terbukti bersalah dia pasti udah dipenjara dan dia pasti udah dikeluarin dari sekolah." jelas Tania yang dibalas senyum kecil dari Siswi didepannya.
"Namanya juga orang kaya, bebaslah asalkan punya duit apa sih yang gak bisa dibeli," sahut Siswi itu menolak mentah-mentah segala bukti dan juga opini yang telah Tania jabarkan.
"Keterlaluan kalian ya!" ujar Tania berapi-api. Rasanya Tania ingin mencakar wajah siswi itu. Cara bagaimana siswi itu menanggapi, sama sekali tidak bisa menghargai. Benar-benar menguras energi juga emosi.
"Udah Ta jangan diladenin." Allana melerai perdebatan mereka.
"Orang kaya gitu harus dikasih pelajaran Al," geram Tania.
"Api dibalas api gak baik Ta. Kita harus bisa berfikir jernih mengedepankan logika," saran Allana.
"Kalau dibiarkan terus mereka bisa makin menjadi Al!" balas Tania emosi.
"Iya aku tahu Ta, tapi kita harus paham situasi," jelas Allana.
Tania terdiam beberapa detik. Amarahnya yang semula ingin meledak, berangsur-angsur mereda. Allana memang tahu menyikapi masalah. Tidak ingin gegabah dan sangat berhati-hati dalam mengambil tindakan.
"Ayo Al, kita pergi," ajak Tania menggandeng tangan Allana. Tidak ingin memperpanjang urusan. Percuma berbicara pada orang yang hanya bisa menghakimi.
"Aw," lirih Allana meringis karena tangan Tania menggenggam erat luka di pergelangan tangannya.
"Kamu kenapa Al?" tanya Tania melonggarkan tangannya. Pandangannya mendapati bekas luka sayatan.
"Gak papa kok, Ta," jawab Allana tersenyum lalu menyembunyikan tangannya di belakang punggung.
Kamu gak bisa jujur sama aku Al, jelas-jelas aku lihat itu luka sayatan, batin Tania. Dia sedikit kecewa Allana membohonginya.
"Al, kok gak bilang dulu mau masuk sekolah. Jadi aku bisa lindungi kamu," kata Tania tulus.
"Kamu lupa ya kalau ada aku?" tanya Tania.
"Maaf, Ta," kata Allana. Sejujurnya Allana senang masih ada yang berada disisinya. Allana tidak ingin menjadi beban untuk Tania yang notabene adalah sepupunya. Allana tidak ingin Tania terpaksa seperti ini karena hubungan keluarganya.
"Al, aku sama sekali gak ngerasa direpotin. Aku malah seneng kalau kamu minta bantuan aku. Jangan khawatir," Tania berucap setelah melihat Allana tampak gelisah.
Apa yang diungkapkan Tania adalah jawaban dari pertanyaan yang ada di benak Allana. Apakah Tania punya semacam telepati? Atau mungkin Tania diberi kelebihan untuk menerjemahkan isyarat emosi lawan bicaranya. Entahlah, Allana juga tidak tahu.
"Iya, makasih Ta."
Keduanya Terus menapakkan kaki menuju ruang kelas. Allana dan Tania juga tidak luput dari pandangan Siswa-Siswi yang menyorot sinis penuh intimidasi. Beberapa juga saling berbisik menatapnya penuh lirik-lirik.
Jujur, Allana sangat risih menjadi pusat perhatian. Salah satu hal yang selama ini Allana hindari.
Bersikap tidak peduli hanyalah tampilan luar dari Allana. Jauh dari lubuk hati yang paling dalam. Allana menjerit disana merasakan sakit yang amat besar. Hidup dibeda-bedakan dengan Rama adik laki-lakinya saja sudah membuat Allana mati rasa. Kini saat dia beranjak remaja masalah kian melanda. Belum lagi perihal emosi yang labil, butuh keseimbangan untuk bisa menyelaraskaannya lagi. Allana lelah, tapi dia tidak boleh menyerah.