Setelah melewati beberapa ruang kelas kemudian berlanjut menaiki tangga ke lantai dua. Sampailah Allana dan Tania di kelas XII IPA 3.
Allana berhenti tepat di pintu kelas. Dia ragu menginjakkan kakinya masuk. Raut wajah tidak bersahabat dari Penghuni kelasnya itu langsung menyorot padanya.
Tania yang sebelumnya sudah berjalan lebih dulu berbalik badan menoleh pada Allana.
"Ayo Al, gak pa-pa ada aku. Kita sebangku," ajak Tania.
Allana lantas mengikuti Tania, dia menaruh tas-nya di kursi. Duduk di bangku nomor empat urutan kedua dari depan.
Allana mulai mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru kelas. Mencari satu sosok laki-laki yang berarti, namun kini membenci. Tidak bisa dipungkiri Allana masih memiliki rasa untuk Elenio
"El belum masuk ya Ta?" tanya Allana menoleh pada Tania.
"Kalau hari-hari kemarin dia belum masuk, Al, tapi kalau hari ini, gak tau sih. Tunggu aja nanti," jawab Tania tersenyum.
Sedikit obrolan yang dibuka Allana. Suara derap langkah kaki yang berbenturan dengan lantai terdengar di telinga Allana. Fokusnya tertuju ke sana memperhatikan seorang laki-laki yang memakai jaket hitam, tinggi, serta rambut yang disisir rapi, datang membawa ransel di sebelah bahu kanannya. Dia Elenio Cakra Wijaya.
Ekspresi wajahnya langsung terlihat tegas dan sangar kala mendapati Allana yang tengah duduk memandangnya. Elenio tidak suka ada Allana. Tatapan tajam dan aura seram sengaja Elenio tunjukan. Untuk memberi peringatan pada Allana agar gadis itu tidak mengusiknya.
Tahu begitu lebih baik dia tidak masuk hari ini. Kalau bukan karena kata-kata yang di lontarkan Devan di danau waktu lalu, mungkin hati Elenio tidak akan tergerak.
Allana segera memutus kontak mata itu, dia menundukan pandangannya. Binar kebencian di mata Elenio masih tertanam jelas. Lewat tatapan tajam yang Elenio berikan sudah mampu menusuk ke dalam hati Allana.
Raut wajah Allana terlihat muram. Sifat Elenio berubah 180 derajat. Dia laki-laki baik yang selalu menolongnya kini malah menjadi satu orang yang paling membenci.
"Persahabatan kita rusak, gara-gara aku, El. Aku penyebabnya," lirih Allana menatap nanar Elenio.
Elenio duduk dibangku paling pojok dan terbelakang. Sengaja mengalihkan pandangan dari Allana.
Allana kembali mengamati Elenio yang sedang membuka halaman buku dan sesekali mencatat materi yang dianggapnya penting. Berhari-hari tidak masuk Sekolah membuat Elenio juga Allana harus mengejar ketertinggalan materi.
"Ta, boleh pinjam buku catatan kamu gak?" tanya Allana.
"Sebentar ya Al."
Tania mengeluarkan beberapa buku tulis dari dalam tasnya. Tania sengaja membawa seluruh buku catatan mata pelajaran yang rencananya akan dia pinjamkan pada Allana sepulang sekolah nanti.
Sekarang menjumpai Allana sudah kembali membuat Tania ikut senang meskipun kondisinya tidak kondusif bagi Allana. Apapun yang terjadi, Tania akan berusaha sebisa mungkin melindungi Allana.
"Kamu bawa buku catatan semuanya Ta?" tanya Allana terkejut melihat tumpukan buku itu di meja.
"Iya, aku rencananya mau ke rumah kamu nanti," pungkas Tania.
"Kamu baik banget Ta," puji Allana membuat Tania tersenyum seraya mengangguk.
"Makasih banyak ya Ta," kata Allana membuka salah satu buku catatan Tania.
"Sama-sama Al," jawab Tania.
Allana beruntung ada Tania di sini. Walau tidak diminta, tapi Tania sangat baik bahkan kelewat sangat baik.
"ALLANA?!" panggil Devan kaget. Membuat Allana dan Tania reflek menoleh.
"Kok gak bilang ke aku, kalau kamu masuk hari ini?" gerutu Devan.
"Memangnya kamu siapanya Allana?" tanya Tania menaikan satu alisnya.
"Pengawal Pribadinya Allana, asal kamu tau," balas Devan percaya diri.
"Cari kesempatan," cibir Tania menohok. "Aku yang bakal lindungi Allana," sambungnya.
"Mana bisa? badan kamu aja kecil Ta!" ledek Devan
"APA?!" Tania melotot.
"Rasain!" Tania mencubit lengan Devan berkali-kali.
"Aw sakit, sakit Ta."
"Berani Ngatain aku?" tantang Tania galak.
"Ampun pendekar." Devan menyatukan kedua telapak tangannya sontak membuat Allana terkekeh kecil menyaksikan interaksi konyol keduanya.
***
Jam pulang sekolah telah berbunyi. Allana berada di depan lapangan Basketball Indoor. Menanti Elenio yang sebentar lagi selesai berlatih. Allana ingin sesegera mungkin berbaikan dengan Elenio.
"Semoga langkah yang aku ambil ini bisa sedikit mengurangi jarak antara aku dan El," kata Allana.
Tania tidak ada di sini gadis itu sudah pulang lebih dulu karena harus mengikuti Bimbel.
Begitu Elenio keluar dengan handuk kecil yang melingkar di lehernya. Allana dengan sigap menghampiri.
"Buat kamu El," Allana tersenyum seraya menyodorkan sebotol minuman.
Elenio mengambilnya, laki-laki itu langsung melemparnya ke tempat sampah. Allana yang berdiri terkejut. Ternyata tak semudah itu meluluhkan hati Elenio.
"El aku minta kita berteman kayak dulu lagi," pinta Allana.
"Gak akan!" seru Elenio bernada dingin. Kendati tajamnya sorot mata Elenio berhasil menguliti keberanian Allana. Dia tidak akah menyerah untuk menuntut kata maaf.
"Aku minta maaf," mohon Allana tulus.
Kata itu lagi? sungguh muak Elenio mendengarnya.
"Jauhin aku atau aku semakin benci sama kamu!" peringat Elenio dengan rona wajah serius.
Allana meremas sisi rok seragamnya. "Aku gak akan jauhin kamu," tolak Allana membuat Elenio mengepalkan kedua tangannya kesal.
Saat Elenio akan pergi. Allana dengan cepat berdiri menghalangi Elenio. Wajah Allana terlihat penuh harap.
"Aku cuma ingin kamu mengerti El, bukan aku di balik semuanya," terang Allana menekan kata-katanya.
Elenio hanya merotasikan bola matanya. Jenuh meladeni tingkah Allana. Elenio bergeser ke kiri lantas berjalan maju. Allana dengan cepat menggeser tubuhnya. "Minggir!" sentak Elenio.
Elenio bergeser ke kanan namun Allana tetap mengikuti. Elenio berdecak malas. Dalam hati dia mengumpat.
"Apa aku harus berlutut di kaki kamu dulu? Supaya kamu mau maafin aku?" lirih Allana parau.
"Sekalipun kamu cium kaki aku, itu gak akan pernah bisa buat aku maafin kamu!" balas Elenio.
"AKU BILANG MINGGIR!" Elenio yang hilang kesabaran lalu mendorong kuat sisi lengan Allana kuat.
"Akhh," rintih Allana tubuhnya ambruk ke samping membentur lantai.
Sebisa mungkin Allana tidak boleh menangis dia harus tetap bersikap kuat di depan Elenio.
"Woy El! Jangan kasar sama cewek!" seru Devan dari dalam lapangan Basket Indoor.
"Salah sendiri bikin orang emosi!" balas Elenio melangkah pergi bersama rasa bencinya
"Maaf El," ucap Allana. Hanya kata itu yang mampu keluar dari bibir Allana.
Aku selalu serba salah di mata kamu, batin Allana rapuh.
Devan berlari menghampiri Allana yang masih dalam keadaan tersungkur di lantai.
"Kamu gak papa Al?" tanya Devan terlihat raut kekhawatiran di wajahnya.
Allana meringis kala melihat lututnya mengeluarkan bercak darah.
"Keterlaluan si El!" geram Devan saat melihat lecet di lutut Allana. Akibat membentur keramik cukup keras.
"Gak papa Van," kata Allana tersenyum, namun rasa kecewa itu sangat kentara dari sorot mata Allana. Mulut mungkin bisa berkata tak apa, tapi mata justru menunjukkan segalanya. Devan sadar akan hal itu. Allana mencoba menutupi semuanya seolah apa yang dilakukan Elenio memang pantas Allana dapatkan.
"Duduk, sini Al," perintah Devan membantu Allana berdiri dan duduk di kursi yang berada di seberang.
Devan berjongkok di depan Allana. Cowok itu merogoh ke dalam tasnya lantas mengeluarkan plester kemudian memasangkan tepat di luka Allana.
"Makasih Van," ucap Allana tersenyum ramah.
"Sama-sama Al," balas Devan.
"Kamu selalu bawa ini kemana-mana?" tanya Allana membuat Devan bingung.
Tatapan Allana terarah pada beberapa plester yang digenggam Devan.
"Oh ini," ujar Devan mengangkat plester itu.
"Iya Al, udah kebiasaan," jawab Devan duduk di samping Allana.
"Kok bisa?" tanya Allana penasaran.
"Jadi, dulu waktu kecil, aku sering banget jatuh karena suka lari-lari. Namanya juga anak kecil pasti kurang hati-hati, terus kalau aku dinasehatin itu malah nekat, dan apesnya kalau jatuh luka aku pasti berdarah," terang Devan tertawa sebentar.
"Kamu pasti nakal banget," ledek Allana bercanda.
"Hahaha, itu dulu, Al," jawab Devan.
Allana kembali tersenyum. Senyum yang membuat Devan terpana. Entah kenapa ada sesuatu yang aneh saat Devan berada di dekat Allana. Jantungnya berdebar-debar.
Devan berdehem. "Aku anter pulang ya Al," ajak Devan.
"Enggak usah, Van, kamu pasti capek habis latihan," tolak Allana tidak ingin merepotkan. Dia
melihat peluh keringat yang turun dari dahi membasahi pelipis kepala Devan. Laki-laki itu pasti lelah.
"Siapa bilang, aku itu kuat Al, liat nih," kata Devan bernada bangga dia mengangkat kedua lengannya. Devan memang memiliki proporsi tubuh yang atletis.
"Iya-iya," kata Allana menahan senyum.
"Pulang bareng aku, ya," ajak Devan lagi.
"Boleh," jawab Allana membuat raut wajah Devan berubah berseri-seri.
"Jadi gimana nih, aku gendong apa jalan kaki?" goda Devan berjongkok di lantai.
"Apaan sih, Van, ya jalan kaki lah. cuma luka kecil kok," jawab Allana terkekeh ringan.
"Ya udah kalau gitu, ayo," ajak Devan. Keduanya lantas berjalan menuju area parkir.
***
Motor Devan berhenti tepat di depan pagar putih rumah Allana. Lantas Allana turun, dia segera melepas helm-nya dan mengulurkannya pada Devan.
"Sekali lagi makasih, Van," ujar Allana.
"Iya santai aja, Al," sahut Devan.
"Aku langsung pulang, ya, Al," pungkas Devan terburu-buru.
"Hati-hati, Van," pesan Allana mengulas senyum
"Siap," sahut Devan. Melajukan motornya menjauh dari pagar depan rumah Allana.
Napas Allana berhembus lega. Dia lantas membuka pintu pagar rumahnya.
***
Elenio yang baru saja membersihkan diri berjalan ke balkon kamarnya. Dia mengenakan kaos longgar hitam berpadu dengan celana boxer senada. Rambutnya tampak acak-acakan dan basah.
Elenio tengah menatap lampu-lampu perumahan yang menyala terang benderang. Matanya terpejam sebentar menikmati semilir angin yang membelai lembut permukaaan kulitnya. Sejenak, Elenio merasa tenang, tapi tak lama kemudian sekelebat bayangan saat dia dengan sengaja mendorong Allana. Terselip rasa bersalah yang hadir di tengah-tengah rasa bencinya kepada Allana
"Apa sikap aku ini udah keterlaluan?" tanya Elenio berdialog sendiri.
Egonya segera menepis rasa itu.
"Gak! Allana memang pantas diperlakukan seperti itu." Atensinya terlalih setelah mendengar bunyi Ponsel miliknya berbunyi. Dilihatnya ada pesan dari Devan.
Devan.
[Kita ketemu di gedung tua sekarang!]
Elenio.
[Mau apa?]
Devan.
[Nanti juga tau! Buruan!]
Elenio hanya membaca pesan tersebut. Elenio segera mengenakan celana jeans tak lupa jaket jeans abu-abu yang membalut tubuhnya. Tanpa basa-basi dia lalu bergegas menuju ke tempat tujuan.
Berjalan menuruni anak tangga dengan tergesa membuat Devinka yang duduk di sofa menatap curiga.
"El mau kemana?" tanya Devinka.
"Ada urusan Ma, penting," jawab Elenio cepat.
"Tapi kamu baru pulang lo El, makan dulu sana," bujuk Devinka.
"Cuma sebentar," sahut Elenio berada di pintu depan.
"Jangan ngebut, El," pesan Devinka berlari menghampiri Elenio, namun terlambat, motor Elenio sudah melaju kencang.
"Kenapa kamu selalu mengabaikan diri kamu sendiri El?" tanya Devinka. Merasa jika Elenio telah banyak berubah setelah kepergian Razella.