Tahun 2013 bergulir dengan aroma ketegangan yang kian pekat di udara. Di luar dinding batako Madrasah Aliyah Al-Ikhlas, sebuah revolusi senyap sedang meledak tanpa suara di dalam jaringan kabel fiber optik global. Dunia sedang berubah, berpindah poros ke arah digital. Namun di dalam ruang kelas yang pengap itu, Baskara harus menghadapi realitas yang bertolak belakang. Ia dipaksa membentur dinding intimidasi yang sengaja dibangun batu demi batu oleh kubu pemilik yayasan untuk mendepak dan menghancurkan harga dirinya.
Malam itu, dinginnya udara kamar kontrakan Baskara yang biasanya menusuk tulang mendadak sirna. Ruangan sempit berukuran tiga kali tiga meter itu terasa hangat oleh deru konstan dari kipas laptop Asus barunya yang sedang bekerja keras. Baskara menatap layar LCD berukuran 14 inci itu tanpa berkedip. Jantungnya berdegup dua kali lebih cepat dari biasanya, menciptakan debaran yang menggema di rongga dadanya.
Situs Mt. Gox—bursa pertukaran kripto terbesar di dunia kala itu—menampilkan grafik hijau yang tegak lurus ke atas. Angka-angka yang tertera di sana seolah menolak masuk akal sehat manusia normal.
Bitcoin, aset digital yang ia beli beberapa bulan lalu di harga miring sekitar $11 per koin, malam ini resmi menembus angka psikologis $100 per koin. Tidak berhenti di sana, pergerakannya di minggu kedua bulan April ini menjadi sangat brutal, meroket melewati $260 dalam hitungan hari sebelum mengalami koreksi tajam khas pasar liar.
Baskara mengambil kalkulator jinjing di samping tidurnya. Jemarinya bergetar hebat saat menekan tombol-tombol plastik yang mengeluarkan bunyi klik samar. Ia memasukkan formula angka, mengalikan jumlah koin di dompet digitalnya dengan kurs rupiah yang berada di kisaran Rp9.700 per dolar AS saat itu.
Layar kalkulator menampilkan deretan angka panjang yang membuat napas Baskara tertahan. Nilai investasi sebesar Rp50 juta—seluruh sisa uang warisan ibunya yang ia konversikan menjadi ribuan koin Bitcoin pada akhir tahun 2012 lalu—kini telah membengkak secara fantastis menjadi hampir Rp2,5 miliar. Angka itu belum termasuk aset saham domestiknya di akun sekuritas yang tumbuh stabil di angka Rp650 juta berkat akumulasi dividen dan capital gain di awal tahun.
Dalam waktu kurang dari enam bulan, seorang guru honorer miskin yang setiap bulan mengantre demi upah Rp400 ribu, telah bertransformasi menjadi seorang miliarder muda secara rahasia.
Baskara menyandarkan punggungnya ke dinding tripleks kontrakan yang mulai lapuk. Ia memejamkan mata, menarik napas dalam-dalam, mencoba meredakan badai adrenalin yang menguasai kepalanya.
"Tenang, Baskara. Tenang," bisiknya pada diri sendiri di tengah kegelapan malam. "Ini baru permulaan. Ini baru ombak kecil dari tsunami besar yang akan datang. Jangan terbuai oleh angka di layar. Ingat tujuan utamamu. Musuh yang sesungguhnya bukan di sini. Mereka ada di dunia nyata, sedang menunggumu dengan taring yang terhunus."
Ia melepaskan jarinya dari mouse. Malam itu, ia mengambil keputusan penting: tidak menyentuh atau mencairkan satu koin pun ke rekening banknya. Amunisi emas digitalnya biarlah tetap tersimpan, terisolasi dari internet di dalam offline wallet berupa USB yang kuncinya ia hapal di luar kepala. Uang tunai dalam jumlah besar di rekening bank seorang guru honorer hanya akan memicu kecurigaan sistem fiskal dan mata-mata yayasan yang sedang mencarinya celah.
Keesokan paginya di Madrasah Aliyah Al-Ikhlas, atmosfer di dalam ruang guru terasa sangat menekan, pekat oleh aura permusuhan yang peyoratif. Begitu Baskara melangkah masuk dan menaruh tas ransel kanvasnya di meja sudut—satu-satunya meja yang sengaja ditempatkan paling dekat dengan tempat pembuangan sampah—sebuah map cokelat tebal dilemparkan dengan kasar ke hadapannya.
Plak!
Suara hantaman map dengan permukaan meja kayu tripleks itu bergema, seketika membungkam bisik-bisik guru lain.
Bu Linda sudah berdiri tegak di depan meja Baskara dengan kedua tangan bertolak pinggang. Tatapan matanya menghunus, penuh dengan kebencian yang tidak lagi disembunyikan. Di belakang perempuan itu, Pak Kepala Sekolah—yang juga merupakan suaminya sekaligus adik kandung dari pemilik utama yayasan—menyaksikan adegan tersebut dengan senyum sinis yang tertahan di sudut bibir.
"Tanda tangani itu sekarang, Baskara!" perintah Bu Linda. Suaranya melengking tajam, sengaja dinaikkan beberapa oktav agar menarik perhatian seluruh guru dan staf tata usaha di ruangan tersebut.
Baskara tidak langsung menjawab. Dengan gerakan yang sangat tenang, ia menarik kursi kayunya, duduk, lalu membuka map cokelat tersebut. Di lembar pertama, tertera judul dengan huruf kapital yang dicetak tebal: SURAT PERINGATAN PERTAMA (SP1).
Ia membaca poin demi poin yang tertulis di sana. Kerutan di dahinya dalam, bukan karena takut, melainkan karena takjub melihat betapa kreatifnya manusia dalam menyusun kebohongan. Poin-poin pelanggaran di sana benar-benar dibuat-buat: bertindak tidak disiplin, memberikan pengaruh buruk yang merusak moral murid, dan melakukan aktivitas komersial mencurigakan yang melanggar etika profesi di lingkungan sekolah.
Baskara mendongak, menatap Bu Linda dengan ekspresi datar tanpa riak. "Apa maksud dari surat ini, Bu? Di poin pertama tertulis saya tidak disiplin, padahal saya tidak pernah terlambat satu menit pun selama semester ini. Di poin kedua tertulis pengaruh buruk, padahal nilai rata-rata ujian sejarah murid kelas sebelas justru naik signifikan."
"Jangan banyak membantah dan mencari alasan, Baskara!" potong Pak Kepala Sekolah sambil melangkah maju, menggebrak sudut meja dengan ujung jarinya. "Kami ini pengelola, kami yang tahu apa yang terjadi di sini! Kamu pikir kami buta?"
"Saya hanya meminta hak saya untuk bertanya, Pak Kepala. Di mana letak kesalahan objektif saya?" tanya Baskara, suaranya tetap rendah, menciptakan kontras yang kontradiktif dengan nada tinggi kedua atasannya.
Bu Linda tertawa remeh, sebuah tawa yang dipaksakan untuk mengejek. "Objektif kamu bilang? Kami ini mendapat laporan langsung dari wali murid! Kamu dinilai menyebarkan ajaran materialisme yang merusak mental anak-anak di sini. Apa hak kamu membagi-bagikan uang tunai dalam jumlah besar kepada si Sari? Kamu mau mengajari anak-anak di sini untuk menyembah uang?"
"Sari adalah murid berprestasi yang hampir putus sekolah karena tidak mampu membayar biaya ujian bulanan, Bu," jawab Baskara, menatap lurus ke mata Bu Linda. "Uang yang saya berikan adalah beasiswa pribadi untuk menyelamatkan masa depannya. Apakah membantu murid miskin agar tetap bisa belajar sekarang dikategorikan sebagai pelanggaran moral di sekolah ini?"
"Halah! Nggak usah sok jadi pahlawan finansial di sini!" bentak Pak Kepala Sekolah, wajahnya mulai memerah karena merasa otoritasnya dipertanyakan. "Yayasan keluarga kami tidak suka ada guru honorer bertingkah melampaui batas dan merusak tatanan sosial yang sudah ada. Kalau semua guru bertindak seenak jidatnya sendiri seperti kamu, mau ditaruh di mana muka pengurus yayasan?"
Bu Linda kemudian mencondongkan tubuhnya ke depan, menumpu kedua tangannya di atas meja Baskara. Ia memperkecil jarak wajah mereka, lalu berbisik dengan nada yang sarat akan intimidasi dan racun.
"Kamu itu cuma guru honorer mutasi dari pinggiran, Baskara. Nggak usah belagu dan sok kaya di depan kami. Sepeda motor baru, laptop baru, sepatu baru... kami semua tahu isi dompet guru honorer itu seberapa. Kami tahu kamu pasti punya kerjaan sampingan yang nggak bener di luar sana. Entah kamu melihara pesugihan, main judi, atau melakukan penipuan. Jangan bawa-bawa uang harammu itu untuk mencuci otak murid di madrasah ini!"
Kalimat kasar Bu Linda membuat beberapa guru honorer lain yang duduk di barisan meja tengah langsung tertunduk lesu. Mereka meremas jemari mereka sendiri, merasa ketakutan sekaligus iba. Mereka tahu betul, di lingkungan Madrasah Al-Ikhlas, hukum tertinggi bukanlah undang-undang pendidikan, melainkan ego dan kemauan mutlak dari keluarga pemilik yayasan. Siapa pun yang berani vokal, terlihat menonjol, atau mencoba membawa perubahan positif tanpa restu mereka, akan langsung dihancurkan kariernya tanpa sisa.
Bu Linda tersenyum puas melihat keheningan ruangan itu, mengira ia telah berhasil mengunci mati langkah Baskara. "Jadi, pilihannya simpel, Baskara. Kalau kamu tidak suka dengan aturan dan teguran dari yayasan kakak saya, silakan angkat kaki hari ini juga. Tidak usah menunggu dipecat. Masih ada ribuan sarjana pendidikan miskin di luar sana yang mengantre, memohon-mohon untuk menggantikan posisi kamu meskipun hanya digaji Rp400 ribu sebulan!"
Ruangan itu menjadi sangat sunyi. Semua mata tertuju pada Baskara, menunggu ledakan amarah, tangisan frustrasi, atau kepasrahan yang menyedihkan dari seorang guru miskin yang terpojok.
Namun, apa yang terjadi selanjutnya justru membuat Bu Linda dan Pak Kepala Sekolah membeku.
Baskara menatap lembar kertas SP1 itu untuk terakhir kalinya, lalu beralih menatap tajam ke mata Bu Linda dan suaminya secara bergantian. Tidak ada lagi sisa-sisa ketakutan, kecemasan, atau kepasrahan di dalam manik mata pemuda itu. Kosong. Yang ada hanyalah tatapan dingin, sedalam samudera yang tak terukur.
Intimidasi, makian, dan ancaman pemecatan yang dilontarkan oleh pasangan di hadapannya ini mendadak terasa begitu kerdil, begitu remeh, dan sangat menggelikan. Logika kekuasaan yayasan yang selama ini menindas ratusan guru di sini terasa runtuh seketika saat dibenturkan dengan angka miliaran rupiah yang tersimpan aman di kantong digitalnya. Di atas kertas, Baskara tahu ia sudah memiliki kekuatan finansial yang cukup untuk membeli seluruh tanah dan bangunan sekolah ini jika ia mau.
Baskara tersenyum tipis—sebuah senyuman yang membuat bulu kuduk Bu Linda meremang tanpa alasan yang jelas.
Ia meraih pulpen bodi hitam miliknya dari dalam saku kemeja. Dengan gerakan tangan yang mantap, tanpa ada sedikit pun getaran keraguan, ia menorehkan tanda tangannya di atas materai kertas SP1 tersebut. Goresan tintanya tajam dan tegas, merobek sedikit ujung kertas.
"Saya terima surat peringatan ini, Pak, Bu," ucap Baskara dengan nada suara yang sangat datar, namun gaungnya terdengar jelas ke setiap sudut ruangan.
Ia berdiri dari kursinya. Postur tubuhnya yang tegap membuat Bu Linda terpaksa mundur satu langkah ke belakang karena merasa terintimidasi oleh tinggi badan Baskara. Baskara merapikan buku teks sejarah tebal miliknya, memasukkannya ke dalam ransel, lalu mengancingkannya dengan tenang.
Sebelum membalikkan badan, Baskara menatap lurus, mengunci pandangan mata pasangan penguasa sekolah tersebut.
"Namun perlu diingat dan dicamkan baik-baik," kata Baskara, setiap kata yang keluar dari mulutnya terdengar seperti ketukan palu hakim di ruang sidang. "Sejarah peradaban manusia selalu mencatat satu hal yang pasti: kekuasaan yang dibangun di atas fondasi kesombongan, kebohongan, dan penindasan terhadap sesama, tidak akan pernah bertahan lama. Waktu akan meruntuhkannya, dan saat hari itu tiba, penyesalan tidak akan ada gunanya."
Tanpa menunggu tanggapan atau memberi kesempatan bagi mereka untuk membalas, Baskara menyampirkan tas ranselnya di bahu kanan. Ia melangkah keluar dari ruang guru dengan kepala tegak, membelah keheningan yang mencekam.
Di belakangnya, Bu Linda mendengus geram dengan napas yang memburu. Wajahnya merah padam akibat menahan amarah yang meledak-ledak. Ia merasa harga diri dan otoritas absolutnya baru saja diinjak-injak, bukan dengan makian, melainkan dengan ketenangan luar biasa dari seorang guru honorer yang seharusnya berlutut mengemis belas kasihan demi sesuap nasi.
"Kurang ajar! Lihat saja nanti! Kita lihat berapa lama lagi kamu bisa bertahan di sini!" teriak Bu Linda histeris ke arah koridor yang kosong, namun Baskara sudah berada terlalu jauh untuk peduli.
Baskara berjalan menyusuri koridor sekolah yang semennya mulai retak-retak di beberapa sudut, mencerminkan kerapuhan sistem di dalamnya. Di dalam hatinya, sebuah rencana besar yang selama ini berupa potongan-potongan ide telah mengkristal dan matang sempurna.
Ia tidak akan mundur dari tempat ini. Mundur berarti membiarkan ketidakadilan menang. Mundur berarti membiarkan anak-anak seperti Sari kehilangan masa depan mereka. Dengan amunisi finansial yang hampir tak terbatas di tangannya, Baskara tahu bahwa babak baru pertempuran ini baru saja dimulai. Ia tidak lagi bermain di level mereka; ia sedang menyusun strategi untuk merombak total seluruh permainan.