Malam ini ndalem sedang ramai karena malam ini teman teman SMA Raffa datang untuk ikut mengurusi pondok pesantren yang laki laki itu pegang.
“Widih Raffa udah nikah aja nih.” Kata laki laki dengan rambut ikal nya.
“Lo kapan nyusul Abian!” laki laki bernama Abian itu menoleh pada temannya. “Nanti siapa tau ada yang nyantol di sini.”
Raffa menggeleng gini lah jika mereka sudah berkumpul selalu rusuh, awalnya Raffa tidak menyangka jika teman SMA nya akan membantu dirinya mengurusi pesantren yang dia tahu mereka kuliah namun kenapa mereka di sini?.
Zahra datang dari dapur sambil membawa minuman dan cemilan perempuan bercadar itu meletakkan minumannya di meja.
“Di minum dulu Kang,” kata Zahra.
Kedua laki laki itu mengangguk lalu menerima minuman yang di bawakan oleh Zahra.
“Mas Zahra mau ke dapur santri dulu ya mau bantuin Mbak Wina masak,” bisik Zahra pada Raffa.
Raffa mengangguk. “Hati hati Humaira.”
Zahra tersenyum lalu mencium tangan Raffa sebagai tanda pamit. “Zahra tinggal dulu ya Kang. Assalamualaikum”
Mereka mendongak. “Waalaikumsalam”
“Bini lo mau kemana Raf?” tanya Abian.
“Dapur santri.”
Laki laki degan nama Haris bertanya pada Raffa. “Nikah lulus SMA?”
Raffa mengangguk memang mereka menikah setelah lulus itupun Raffa sempat mengajak Zahra ta’aruf satu bulan.
“Iya jalur ta’aruf.”
“Temen gue emang dah sekali suka langsung di bawa ke pelaminan,” kagum Abian,sudah tabiat Raffa jika menyukai perempuan laki laki itu akan membawanya pada jenjang serius.
“Gue gak mau milikin seseorang pake cara yang haram,” balas Raffa karena di dalam keluarganya pacaran atau menjalin hubungan tanpa ada kata sah itu dilarang.
Haris mengangguk. “Besok Silfi sama Ayunda mau kesini, mereka ikut mondok.”
Abian mengeryit heran bukannya dua perempuan bar-bar itu memilih kuliah?
“Kok? Bukannya mereka kuliah ya?”
Haris mengedikkan bahunya. “Insyaf mungkin mau jadi alim makannya mondok.”
Raffa menggelengkan kepalanya. “Mereka udah istiqomah kok”
Abian dan Haris membelalakan matanya. “Demi apa Raffa? Tau darimana lo?”
“Dua hari sebelum gue nikah keluarganya datang ke Abi mau nitipin mereka, kalian tau gak?tuh dua cewek udah pake hijab.”
Memang dua hari sebelum Raffa menikah keluarga dari Silfi dan Ayunda datang menemui Abi nya mengatakan jika anak mereka akan mondok di pesantren.
“Wih! Lengkap lagi nih kita,” kata Haris,dia rindu masa masa SMA ketika mereka menjadi musuh bebuyutan kedua perempuan itu.
Zahra memasuki dapur santri. “Assalamualaikum.”
Para santri yang sedang memasak menoleh kearah pintu ketika seseorang masuk. “Waalaikumsalam Ning.”
Mereka bergerombol menyalimi tangan Zahra, Zahra tersenyum lalu mengamati mereka memasak.
“Kalian selalu gini atau bergiliran?” tanya Zahra.
“Kami punya sif masak Ning,” jawab mereka.
Zahra mengangguk lalu meraih sayuran yang sepertinya belum terpotong. “Zahra bantuin yah.”
“Eh jangan Ning nanti Gus Raffa marah,” kata Mbak Wina.
Zahra menggeleng. “Gak papa mbak saya lagi gak ada kerjaan.”
Zahrah memotong motong sayuran sesuai ukuran sesekali perempuan itu bercengkrama dengan santriwati yang lain, Zahra tersenyum ketika melihat kehangatan yang terjalin di antara mereka.
“Ning ini daging nya mau di apakan,” tanya santriwati sambil menunjukkan daging yang sudah di cuci bersih.
Zahra mendongak di sela sela memotongnya. “Seenaknya saja ya.”
“Baik Ning.”
Ketika Zahra tangen memotong sayuran dua orang dengan kerudung syar’i nya masuk kedalam dapur.
“Assalamualaikum.”
Zahra menoleh lalu tersenyum di balik cadarnya. “Waalaikumsalam Mbak.”
Orang itu menoleh. “Loh kamu masak zah?”
Zahra menatap Mbak Yuyun dan Rena. Ya, yang datang ke dapur adalah Mbak Yuyun dan Rena.
“Iya soalnya di ndalem lagi ada temen Mas Raffa daripada gak ngapa ngapain mending masak.”
Yuyun mengangguk lalu meletakkan belanjaannya di meja samping Zahra, wanita itu duduk di hadapan Zahra sambil membantu Zahra memotong sayuran.
“Gus Raffa itu memang suka kedatangan tamu, jadi gak heran kalo dia sering sibuk,” kata Mbak Yuyun menjelaskan.
Zahra mendongak. “Mbak tau?”
Yuyun mengangguk. “Tau, Mbak udah tau gimana Raffa karena Mbak udah di sini semenjak Raffa SMA.”
Sedangkan Rena hanya diam menyimak pembahasan yang membuatnya mendengus kesal.
“Mbak kasih tau ya Zahra, jadi seorang istri gak mudah apalagi usia kamu masih muda, Mbak berharap kalian saling terbuka jika suatu saat ada ujian yang mengguncang rumah tangga kalian, selalu percaya satu sama lain Zahra.”
Zahra mengangguk merespon ucapan Mbak Yuyun, dia memang terkadang bersifat labil karena belum memahami mengenai rumah tangga, dia akan berusaha untuk mempertahankan rumah tangganya kelak jika sesuatu terjadi pada keluarganya.
“Sayang,” panggil Raffa.
Zahra menunduk menatap wajah suaminya yang sedang rebahan di pahanya, selepas sholat isya tadi mereka memutuskan untuk bersantai hanya di kamar karena belum ada aktivitas yang membuat mereka sibuk.
“Kenapa Mas?”
Raffa menggeleng lalu membalikkan posisinya menjadi menghadap ke arah perut rata Zahra yang tertutupi gamis.
“Gak papa manggil aja si.”
Zahra mengangguk lalu mengelus surai hitam suaminya, bagi Zahra Raffa adalah laki laki yang sempura dia beruntung bisa memilikinya, bahkan di luaran sana banyak sekali yang ingin memiliki seorang Raffa namun Allah berkehendak lain ternyata jodoh laki laki itu adalah Zahra perempuan yang baru Raffa kenal beberapa bulan yang lalu.
“Mas, gak nyangka yah pertemuan gak sengaja kita ternyata menyatukan kita dalam ikatan pernikahan.”
Zahra menunduk, pertemuan yang tak terduga saat itu ternyata membawanya pada Raffa yang sekarang sudah sah menjadi suaminya.
“Beruntung aku punya kamu Mas, padahal banyak perempuan di luaran sana yang mau jadiin kamu suami, dan masih banyak perempuan di luaran sana yang lebih baik dari aku.”
Raffa menegakkan badannya menghadap sang istri di genggamnya tangan Zahra. “Kamu tau?jodoh, kematian dan rezeki itu sudah ada yang mengatur kita tinggal menunggu dan menikmati hasilnya, namun kita juga perlu usaha untuk mendapatkan ketiganya.”
Ini yang Zahra suka dari Raff suami yang berfikir bijak dalam setiap perkataan, Zahra mengangguk ternyata memang benar takdir Allah lebih indah dari cita cita kita.
“Iya Mas Zahra paham.”
“Kamu tau Humaira ku?” tanya Raffa dan mendapatkan gelengan dari Zahra.
Raffa menggenggam tangan Zahra membawanya pada paha laki laki itu. “Dalam Qur’an surat An-Nur ayat 26 di sana di katakan perempuan perempuan yang keji untuk laki laki yang keji,dan laki laki yang keji untuk perempuan perempuan yang keji (pula), sedangkan perempuan perempuan yang baik untuk laki laki yang baik,dan laki laki yang baik untuk perempuan perempuan yang baik (pula),jadi kamu jangan membandingkan diri kamu dengan perempuan perempuan di luaran sana Humairaku, mungkin kebaikan kamu lah yang mendatangkan Mas di hidup kamu.”
Zahra menggangguk, perempuan itu menubruk tubuh Raffa hingga tubuh laki laki itu hampir saja terjungkal ke belakang.
“Astagfirullah kaget Mas.” Raffa terkekeh lalu mengelus punggung istirnya.
“Kita belajar sama sama, kalo ada apa apa cerita sama Mas ya kita saling terbuka.”
Zahra mengangguk di d**a bidang Raffa, perempuan itu mengeratkan pelukannya ketika Raffa mengucapkan sesuatu yang membuat hatinya berdebar.
“Aku mencintaimu karena Allah Humairaku.”
“Ahabbakal ladzi ahbabtani lahu,” kata Zahra dengan suara terpendam namun Raffa masih bisa mendengar.
[Yang artinya: Semoga Allah mencintai kamu yang cinta kepada ku karena-Nya]