Raffa duduk di kasur dengan ponsel di tangannya entah apa yang laki laki itu lakukan, setalah acara rapat warga yang di langsungkan secara mendadak, tadi Raffa memutuskan langsung pulang karena dia mempunyai kewajiban sebagai suami, sekarang kegiatannya sudah tidak sebebas dulu.
“Mas Raffa mau makan apa?” tanya Zahra dari balik pintu, perempuan itu baru pulang dari pasar bersama santri.
Raffa yang mendengar suara istrinya pun menoleh ke arah pintu di sana sudah ada Zahra yang sedang menyembulkan kepalanya.
“Salam dulu Humairaku,” geram Raffa, Zahra terkekeh di balik cadarnya perempuan itu keluar dari balik pintu lalu duduk di depan Raffa.
“Assalamualaikum Abi.” Zahra meraih tangan Raffa lalu mengecupnya.
“Waalaikumsalam Umi.”
“Darimana hm? Kok gak bilang kalo pergi?” tanya Raffa karena sepulang dari acara warga tadi Raffa tidak melihat Zahra di ndalem.
“Habis ke pasar sama Mbak Wina, sama santri juga beli bahan bahan.”
Raffa mengangguk laki laki itu bangun dari sandarannya lalu menjatuhkan kepalanya di paha Zahra dengan wajah yang menghadap ke arah perut rata Zahra.
“Kok manja.” Zahra mengusap surai hitam suaminya,wangi minyak rambut Raffa menyeruak ke Indra penciumannya, dia selalu heran kenapa Raffa sangat menyukai wangi wangian, dan kalian tau apa jawabannya?.
“Karena Rasulullah Shalallahu Alaihi Wa Salam, menyukai wangi wangian bahkan wangi dari Rasullullah dapat tercium dari jarak yang cukup jauh jika beliau datang.”
“Gak papa manja sama istri sendiri kok.” Zahra mengangguk.
“Mas gak mau makan? Kamu kan habis rapat gak sempet sarapan tadi.”
Raffa menggeleng. “Pending makan ya Humaira?”
“Kenapa si? Tumben gak bisanya ada masalah?” karena tidak biasanya Raffa seperti ini karena laki laki itu super aktif.
Raffa menggeleng lagi. “Oiyah, nanti sore mau ada temen SMA mas perempuan yang mau mondok di sini, kamu bimbing ya Umi”
“Siapa?”
“Ayunda sama Silfi”
Zahra mengangguk lalu mengusap rambut Raffa, sedangkan laki laki itu sudah merem melek menahan kantuk apalagi usapan istrinya yang memabukkan.
Tak lama kemudian suara dengkuran halus Zahra dengar, Zahra menunduk menatap wajah suaminya lalu terkekeh.
“Kok tidur si.” Zahra meletakkan kepala Raffa di bantal, karena dia akan memasak jika nanti Raffa bangun.
Cup
Zahra mencium pipi Raffa lalu berlalu meninggalkan kamar, tidak lupa menutup pintu dan menyelimuti tubuh Raffa.
Zahra mengeluarkan belanjaannya dari kantong belanja, karena perempuan itu di ajarkan oleh Umi Raffa jika belanja jangan menggunakan plastik, sayuran sayuran yang Zahra beli perempuan itu letakkan di kulkas begitupun dengan bahan bahan lain.
Saat ingin mengiris bawang tiba tiba suara salam seseorang menghentikan aktivitas Zahra.
“Assalamualaikum.”
Zahra keluar dari dapur menuju pintu. “Waalaikumsalam, eh Kang Yusuf Mbak Rena ada apa?”
Yusuf tersenyum. “Gus Raffa nya ada Ning?”
“Gus Raffa tidur kang, mau saya bangunkan?”
Yusuf menggeleng. “Tidak usah,saya Cuma mau menyampaikan nanti malam kita akan ada acara khutbah santri.”
Zahra mengangguk. “Iya Kang, nanti saya sampaikan pada mas Raffa, eh mau masuk dulu?”
“Gak usah kami pamit, assalamualaikum.” Salam Mbak Rena dengan ketus.
Yusuf menggeleng melihat Rena yang begitu tidak menyukai Zahra. “Saya pamit dulu Ning assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam.” Zahra menatap kepergian dua orang itu lalu mengelus dadanya sabar, entah kenapa perempuan itu selalu tidak suka jika berada di dekat ustadzah Rena apalagi ucapannya yang menunjukkan jika dia membenci Zahra.
Zahra masuk ke dalam ndalem lalu melanjutkan acara masak-memasaknya untuk Raffa makan.
Sedangkan di lain tempat lebih tepatnya di kamar, Raffa mengerjapkan matanya ketika tidurnya terusik laki laki itu bangun dari rebahan nya menatap sekeliling sepi, kemana istrinya pergi?
Raffa turun dari kasur menuju lantai bawah karena bangunan ndalem bertingkat, laki laki itu tersenyum ketika melihat istrinya yang sedang memasak, Raffa mendekat dengan langkah pelan lalu memeluk tubuh Zara dari belakang.
Sedangkan Zahra sudah beristighfar di dalam hati karena terkejut, Zahra menggeplak tangan Raffa yang berada di perutnya.
“Mas kebiasaan suka ngagetin!”
Raffa terkekeh lalu mencuri kecupan di pipi Zahra. “Masak apa?”
“Masak batu, Mas gak liat Zahra masak apa!”
Raffa menggelengkan kepalanya. “Gak baik jawab gitu sama suami Humaira.”
Zahra khilaf perempuan itu mengelus dadanya beristigfar. “Astagfirullah.”
“Tadi ada tamu?” Zahra mengangguk.
“Siapa?” tanya Raffa.
“Kang Yusuf sama Mbak Rena, mereka bilang nanti selepas sholat magrib Mas harus khutbah santri”
Raffa mengangguk memang khutbah atau pidato di depan santri sudah lumrah di lakukan di pesantren ini, biasanya di lakukan setiap seminggu satu kali.
“Kok gak ngajar?” tanya Raffa, laki laki itu menatap arloji di tangannya sudah pukul sembilan pagi sudah lewat dari jam ngajar.
“Gak ada jadwal Mas, terus mas kenapa gak ke kantor?”
Raffa menggeleng di ceruk leher Zahra. “Gak ada yang harus di periksa kok.”
Zahra mengangguk. “Lepas dulu pelukannya, Zahra mau masak Mas!”
Raffa melepaskan pelukannya lalu duduk di meja makan menunggu Zahra selesai, tak butuh waktu lama Zahra selesai memasak lalu menghidangkannya di meja.
Dengan telaten Zahra menyiapkan nasi dengan lauknya untuk Raffa.
“Habis ini mau ngapain Mas?”
Raffa mendongak. “Santai aja, Mas mau manja manja.”
Zahra mendengus sedangkan Raffa sudah mesem mesem, butuh waktu lima menit untuk menyelesaikan makannya kedua pasutri itu memutuskan untuk bersantai di kamar.
Raffa menjatuhkan kepalanya di paha Zahra, dengan tangan Zahra yang mengelus rambutnya.
“Mas cukur kumis ya?udah panjang tuh.” Kata Zahra sambil mengelus rahang Raffa yang di tumbuhi bulu bulu, walaupun begitu namun tidak mengurangi ketampanan seorang Raffa.
Raffa mengangguk. “Kamu cukurin ya?”
“Iya, Mas tumben manja banget sama Zahra kenapa?”
“Gak papa, emang salah?”
Zahra menggeleng. “gak salah Cuma tumben,” kekehnya.
“Humaira,” panggil Raffa.
“Iya?”
“Kamu tau perempuan yang baik itu gimana?” tanya Raffa.
Zahra mengetuk ngetuk dagunya. “Berhijab? Berakhlak?”
Raffa mengangguk. “Itu salah satunya.”
“Terus gimana?”
Raffa menatap wajah Zahra dari bawah laki laki itu menggenggam tangan Zahra membawanya pada perut sixpack laki laki itu.
“Perempuan yang baik itu ketika menjaga pandangannya, lisannya, auratnya, akhlaknya, dan prilakunya, jaman sekarang banyak yang salah menggunakan hijab hanya untuk pansos supaya di katakan muslimah, banyak jaman sekarang perempuan dengan akhlak yang baik namun tidak menjaga lisannya, banyak jaman sekarang yang menutupi auratnya namun pandangannya tidak di jaga pada lawan jenis.”
“Seperti yang di cantumkan dalam Qur’an surat An-Nur ayat 30-31 yang artinya “katakanlah kepada orang laki laki yang beriman, hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara k*********a yang demikian itu lebih suci dari mereka sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang mereka perbuat”, kamu tau apa maksudnya?” Zahra menggeleng.
“Maksud dari ayat itu adalah, mencegah mereka untuk terjerumus kedalam perbuatan yang m*****i keimanan mereka, contoh nya zina, sudah ada surat yang mencantumkan mengamati zina, zina di mulai dari rasa ketertarikan bukan? Dan itu di pincu oleh pandangan seseorang pada lawan jenis,” jelas Raffa dengan masih menggenggam tangan Zahra.
Zahra tersenyum Raffa banyak sekali mengajarinya mengani ilmu agama laki laki itu selalu mengingatkan Zahra pada sesuatu dosa yang Allah tidak suka dengan lembut.
“Mas Zahra beruntung punya Mas di hidup Zahra, Zahra adalah perempuan paling beruntung yang mendapatkan sosok suami beriman seperti Mas.”
Raffa terkekeh lalu bangun dari duduknya menghadap ke arah Zahra.
Cup
Raffa mengecup pipi Zahra lalu mengelusnya dengan lembut membuat jantung Zahra berdisko. “Mas juga beruntung milikin kamu di hidup Mas perempuan sholehah yang Allah turunkan untuk Mas.”
Raffa mengecup kening Zahra sambil berbisik membuat Zahra refleks menutup matanya. “Robbanna hab lanaa min azwaajinaa wadzurriyyaatinaa qurrota a’yun, waajalnaa lilmuttaqiina imaama.”
[Yang artinya: Ya Tuhan kami anugrahkanlah pada kami, pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami),dan jadikanlah kami sebagai imam bagi orang orang yang bertaqwa Qur’an surat Al-Furqon ayat 74]