Kami pamit ya, Zahra Raffa assalamualaikum,” kata dua perempuan yang menggeret koper.
“Waalaikumsalam, Mbak Wina jagain ya kalo ada apa apa bilang saya,” kata Zahra pada mbak Wina pengurus pondok.
“Baik Ning, saya permisi assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam.” Zahra tersenyum melihat kepergian dua teman perempuan Raffa, seperti yang Raffa ucapkan pagi tadi sore ini teman Raffa bernama Silfi dan Ayunda datang untuk mondok di sini, dan Zahra menyukainya karena mereka orang yang asik menurut Zahra.
“Udah ngobrolnya?” Zahra menoleh kearah Raffa, lalu mengangguk.
Raffa tersenyum walaupun dia sedikit kesal kepada istrinya karena menyueki dirinya ketika mengobrol dengan kedua temannya.
“Eh! Mas mau ngapain?” panik Zahra ketika Raffa mendekatinya.
Raffa menaikkan alisnya bingung. “Cium emang kenapa?”
“Aku udah wudhu mas! Ih awas,” bukannya menyingkir Raffa malah gencar menggoda istirnya sesekali tangan Raffa menoel noel pundak Zahra.
“Mas Raffa ih!! Awas nanti batal!!” pekik Zahra lalu kabur dari hadapan Raffa, namun kalah telat tangannya sudah di tarik duluan hingga tubuhnya ambruk di d**a bidang suaminya.
Raffa menutup pintu,lalu membawa istirnya untuk duduk di kursi, laki laki itu mengecup kening Zahra membuat perempuan itu memekik.
Raffa terkekeh ketika melihat wajah cemberut istirnya. “Dari Aisyah RA berkata, bahwa Rasulullah Saw mencium sebagian istirnya, kemudian keluar untuk sholat tanpa berwudhu lagi,[HR. Tirmidzi]”
Zahra mengerjap menatap polos wajah suaminya. “Mas udah wudhu?” Raffa mengangguk. “Udah”
Raffa memang mengajarkan kepada Zahra jangan pernah meninggalkan wudhu, agar melakukan sesuatu apapun itu dalam keadaan suci.
“Jadi gak batal?” Raffa menggeleng lalu memeluk istrinya.
“Enggak Humairaku, kecuali kalo kamu pelukan sama yang belum mahrom.” Gemasnya sambil mencubit pipi Zahra.
Zahra memekik. “Sakit!!”
Raffa terkekeh melepaskan pelukannya. “Mas mau kemana?” tanya Zahra ketika Raffa melepaskan pelukannya.
“Mau kumpul sama Abian sama Haris sayang, janji gak pulang lama sekalian ngebahas pesantren.”
Zahra mengangguk, lalu meraih tangan Raffa di kecupnya tangan suaminya. “Hati hati Mas, jangan lama lama.”
“Iya, emang kenapa si? Kaya gak mau jauh banget.”
Zahra menggeleng. “Gak papa, takut Mas Raffa di ambil janda”
Raffa terkekeh lalu menyentil bibir istrinya yang tertutupi cadar. “Mulutnya jaga Humairaku!”
“Iya iya Abi.”
“Mas berangkat dulu, assalamualaikum,” pamitnya lalu keluar dari ndalem.
“Waalaikumsalam.”
Zahra duduk di samping silfi dan Ayunda yang sedang baca buku mengenai agama di salah satu gubuk untuk bersantai.
“Assalamualaikum,” salam Zahra, perempuan itu terkekeh kala melihat Ayunda dan Silfi terkejut.
“Waalaikumsalam, aduh Zahra ngagetin!” pekik Ayunda, Zahra tersenyum di balik cadarnya.
“Lagi baca tentang apa?” tanya Zahra.
Silfi menunjukkan buku dengan judul menjadi perempuan yang Sholehah, Zahra mengangguk lalu meraih buku yang di pegang oleh Silfi.
“Boleh aku kasih tau sedikit tentang perempuan sholehah?” Ayunda dan Silfi mengangguk. “Boleh tuh.”
Zahra membetulkan posisi duduknya menghadap ke arah mereka. “Perempuan yang baik itu ketika seorang perempuan menjaga kehormatannya untuk suami, menjaga auratnya dari lawan jenis dan yang terpenting menjaga pandangannya.”
Silfi mengangguk. “Maksud dari menjaga pandangan gimana Zah?”
“Maksud dari menjaga pandangan adalah ketika mata kita yang selalu berpusat pada kaum Adam, memandang boleh namun tidak baik jika memandangi kaum laki laki lama lama karena itu termasuk kedalam zina mata.”
Seperti yang sudah tercantum dalam Al Qur’an surat An-Nur ayat 31 yang artinya,”Katakanlah kepada wanita yang beriman.Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan k*********a, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau b***k-b***k yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinyua agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.”
“Sekaran sudah faham?” jelas Zahra.
Silfi dan Ayunda mengangguk mereka kagum pada sosok Zahra di mata mereka Zahra adalah perempuan sempurna pantas bersanding dengan Raffa yang juga seorang Gus.
“Alhamdulillah faham Zahra, makasih ya kamu udah ngajarin kita,” kata Silfi, Zahra mengangguk.
“Kalo kalian mau tanya tentang agama bisa tanya sama Zahra aja insyaAllah Zahra bantuin.”
Ayunda mengangguk. “Pantes Raffa sayang sama kamu, orang istirnya aja spek bidadari plus penghuni surga gini yagak Sil”
Sila mengangguk. “Eh btw samawa ya Zahra, sory gak datang.”
Zahra terkekeh mendengar penuturan kedua teman Raffa. “Kalian lucu ya, asik juga di ajak ngobrol.”
Silfi menepuk dadanya bangga. “Oh jelas dong walaupun mantan badgril tapi soal curhat menyurhat mah nomer satu.”
Ayunda mendengus lalu mendorong pundak Silfi membuat perempuan itu memekik kesal. “Heh! Ngajak ribut nih anak!”
Zahra menggelengkan kepalanya. “Udah jangan ribut gak enak diliatin santri lain.”
Mereka terkekeh malu ketika para santri menatanya dengan tatapan berbeda beda. “Jadi temen kita ya Zahra, sekalian bimbing kita.”
Zahra tersenyum. “Iya aku mau pokoknya kalo kalian ada apa apa bilang aja sama Zahra.”
“SIAP UMI!” kompak mereka membuat Zahra terkekeh.
“Raffa istri lo pinter juga ternyata, kalo dia janda sama gue sabi kali ya,” kata Abian ngawur, sedangkan Raffa sudah melotot tajam.
“Biasa aja kali tuh mata, gak bisa di ajak bercanda nih Raffa.” Abian terkekeh ketika melihat wajah datar Raffa.
Haris menggelengkan kepalanya. “Yang lo becandain istrinya! Wajar aja pawangnya marah.”
Raffa mendengus laki laki itu menatap istirnya yang tengah duduk di salah satu gubuk dengan silfi dan Ayunda di sana, ketika sedang melamun sambil menatap istirnya tiba tiba suara salam seseorang mengejutkan ketiga laki laki itu.
“Assalamualaikum Gus,” salam ustadzah Rena.
Raffa, Haris dan Abian mendongak melihat siapa yang mengucapkan salam. “Waalaikumsalam.”
“Ada apa nih ustadzah kesini? Bukannya ini kawasan santriwan?” tanya Abian membuat Rena mendengus namun dia tutupi dengan senyuman.
“Saya ada perlu dengan Gus Raffa, Gus Raffa bisa bicara berdua?” tanya ustadzah Rena.
Raffa menggeleng membuat Rena tersenyum paksa. “Maaf Mbak Rena, gak baik laki laki dan perempuan berduaan apalagi di kawasan pesantren lagian saya sudah punya istri,” jelas Raffa membuat Abian dan Haris mengangguk setuju.
“Mbak Rena lagian ya udah tau Raffa punya istri masih aja di deketin haduh.” Abian berbicara sambil menepuk jidatnya.
Rena hanya menampakkan senyum paksanya niatnya ingin berduaan dengan Raffa malah gagal gara gara dua orang ini.
“Yasudah kalo begitu saya pamit dulu, assalamualaikum,” pamitnya lalu pergi meninggalkan mereka dengan wajah dongkol.
Abian terkekeh. “Waalaikumsalam, udah tau ini pesantren masih aja berbuat zina astagfirullah.”
Harus menggelengkan kepalanya mendengar ucapan Abian yang terkesan ceplak ceplok. “Kalo ngomong jaga dong Bian! Mau gimanapun dia tetep lebih tua dari kita.”
Abian menoleh kearah Haris. “Lah gue mang ngomong apa adanya alias fakta!”
Raffa menghela nafas ketika temannya mulai adu mulut, laki laki itu bangun dari duduknya meninggalkan kedua makhluk ciptaan Allah.
“Mau kemana Raffa!” teriak Abian.
“Ndalem!”
“Assalamualaikum,” salam Raffa saat memasuki ndalem.
“Waalaikumsalam.” Zahra membukakan pintu untuk suaminya, lalu meraih tangan Raffa dan menciumnya.
“Udah pulang Mas.” Raffa mengangguk lalu duduk di sofa dengan kaki yang di selonjoran karena pegal.
Zahra tersenyum lalu duduk di samping Raffa. “Mau di pijitin?”
Raffa menoleh lalu menggeleng. “Gak usah gak papa, Mas Cuma pegel gara gara duduk aja.”
Zahra mengangguk anggukan kepalanya, Raffa meraih kepala Zahra menyandarkan kepala istrinya di d**a bidang milik laki laki itu.
“Tadi ngobrol apa aja sama mereka hm?”
Zahra mendongak dia tau siapa mereka. “Tentang perempuan yang baik dan sholehah, mereka lagi belajar itu.”
Raffa menunduk tangan laki laki itu menerobos masuk ke sela sela jari Zahra di genggamnya tangan sang istri sesekali dia kecupi karena gemas.
“Awss!!” pekik Zahra ketika Raffa mengigit tangannya, Zahra menatap suaminya sedangkan sang pelaku hanya terkekeh.
“Gemeuss!”
“Gemes si gemes tapi sakit, liat tuh ada bekas gigitan kamu!” tunjuk Zahra pada luka gigitan yang tercetak akibat Raffa.
Raffa mengangguk seperti anak kecil lalu memeluk istrinya mendusel dusel di ceruk leher Zahra, wangi khas Zahra memasuki indra penciuman nya wangi yang membuatnya candu dan betah berlama lama di dekat seorang Azahra.
“Sayang!” panggil Raffa dengan suara terendam.
“Kenapa?”
Raffa menyentuh perut rata Zahra mengusapnya penuh kasih sayang membuat Raffa was was.
“Mau baby di sini,” ucapnya dengan nada merengek.
Zahra menghela nafas. “Sudah kuduga.”