Bab 2 Pertengkaran
Joey berbicara dengan tegas tanpa ada keraguan sedikitpun. Tapi, tidak ada yang tahu bahwa hatinya saat ini sedang sangat terluka.
Urat-urat di punggung tangan Frederik menonjol, dia menahan emosi, tatapannya tajam saat melihat Joey.
"Apakah kamu sadar akan konsekuensi dengan berkata itu?"
"Kenapa? Apakah karena yang kukatakan tidak menyenangkanmu? Frederik, aku lelah. Aku tidak inginkan cinta segitiga lagi."
"Tarik kembali kata-katamu dan aku bisa berpura-pura kita masih baik-baik saja."
Joey melihat ke Frederik penuh kekecewaan, "Sudah kubilang tadi, aku tidak akan menariknya kembali. Aku akan keluar hari ini!"
Usai berkata itu, Joey mencoba berdiri dari tempat tidur, tetapi Frederik menarik paksa tubuhnya yang masih lemas ke dalam pelukannya.
Bibirnya yang hangat dan lembap dengan lembut mencium bibir Joey.
Dengan suara rendah dan terasa dingin, Frederik berkata lagi, "Apakah kamu tidak takut keluarga Renfro akan kembali ke kondisi semula setelah kamu meninggalkanku? Bukankah ini yang kamu tukar dengan tiga tahun masa mudamu?"
Emosi Joey tiba-tiba meledak, matanya membelalak tak percaya dengan apa yang dia dengar.
"Jelaskan, apa maksudmu?"
Ujung jari Frederik yang dingin mengusap bekas gigitannya di bibir Joey, sebuah seringai muncul di sudut bibirnya.
"Kalian menjebakku, membuatku menyelamatkanmu, dan tetap bersamaku meskipun kita tidak akan pernah menikah. Bukankah itu semua untuk membantu ayahmu menyelamatkan bisnis keluarga Renfro? Apakah ada alasan lain?"
Tiga tahun lalu, keluarga Renfro terkena krisis ekonomi parah yang belum pernah mereka alami sebelumnya. Setelah mereka berpacaran, Frederik memberikan banyak peluang bisnis ke keluarga Renfro,sehingga hal itu membantu mereka keluar dari krisis.
Saat itu, Joey mengira Frederik menyukainya sehingga dia mau menjadi kekasih Frederik.
Dengan bibir gemetar, Joey bertanya, "Jadi, selama tiga tahun terakhir, semua kebaikan yang kamu berikan padaku hanyalah kepalsuan belaka? Tanpa sedikit pun perasaan yang tulus?"
Kening Frederic berdenyut karena marah mendengar kata-kata Joey.
Dia memperlakukan Joey penuh cinta dan perhatian. Bagaimana bisa, tiba-tiba Joey menuduhnya dengan kata-k********r seperti itu?
Menahan marah, dengan gigi terkatup, Frederik menjawab, "Ini kan hanya permainan untuk bersenang-senang, tanpa cinta. Apa kamu benar-benar berpikir aku akan menganggapnya serius?"
Sebuah jawaban yang singkat namun jelas menusuk hati Joey dengan belati tajam.
"Frederik, dasar kamu b******n!"
Joey memberikan tiga tahunnya untuk Frederik. Dia berikan kasih sayang yang tulus, tapi nyatanya dibalas dengan perlakukan Frederik bahwa hubungan mereka hanyalah sebagai transaksi uang dan s**s.
Dengan bodohnya Joey mengira bahwa pria itu mencintainya.
Memikirkan hal itu, membuat hatinya terasa seperti terkoyak.
Kesedihan di mata Joey juga berangsur-angsur berubah menjadi dingin.
"Tuan Frederik yang terhormat, jika kamu pikir itu semua tipuanku untuk menjebakmu, tiga tahun masa mudaku seharusnya cukup untuk membalas budimu. Mulai sekarang, kita impas. Mari kita berpisah!"
Kemarahan Frederik memuncak. Dia menatap wajah kecil Joey yang memang keras kepala.
"Joey, pikirkan bagaimana kamu bisa hidup tanpa aku! Aku akan memberimu waktu satu malam untuk memikirkan ini lagi! Setelah itu, tidak ada jalan kembali."
"Aku sudah memikirkannya matang-matang!"
Pria itu berbalik kemudian pergi dengan aura dingin dan marah, meninggalkan Joey yang meringkuk sendirian di tempat tidur.
Sejak tadi dia menahan air mata yang sekarang tanpa sadar mengalir di pipi.
Tujuh tahun memberikan cinta dan kasih sayang, termasuk tiga tahun perhatian yang tulus, ternyata hanya dianggap sebagai transaksi pemuas nafsu ranjang di mata Frederik.
Dalam menjalin sebuah hubungan romantis antara dua individu, orang yang jatuh cinta pertama kali biasanya akan sering mengalami patah hati. Terlebih lagi, dia telah mencintai Frederik selama empat tahun bahkan sebelum Frederik mengenalnya.
Joey kalah telak, harga dirinya hancur. Saat Joey mengemasi barang-barangnya, dia tak kuasa menahan tangis melihat hiasan couple yang pernah dipilihnya satu per satu dengan hati-hati. Dia bahkan masih ingat rasa bahagianya saat membeli setiap barang.
Joey menurunkan semua barang miliknya, mengemasnya ke dalam koper, membuang barang yang tidak muat.
Setelah merasa kesedihannya berkurang, Joey menyeret kopernya dan pergi dari rumah itu tanpa menoleh lagi ke belakang.
Frederik bilang bahwa dia tidak akan bisa hidup tanpa dirinya.
Tapi yang tidak diketahui pria itu adalah, dia adalah seorang mahasiswa hukum papan atas, bukan hanya seorang sekretaris. Dia memiliki masa depan yang cerah menunggunya.
*****
Di sisi lain.
Mobil Cullinan hitam itu melesat menembus jalanan yang sepi seperti sambaran petir.
Pikiran Frederik dipenuhi dengan nada tegas Joey yang berkata, "Mari kita putus."
Hanya karena dia tidak menemaninya di hari jadi mereka, Joey semata-mata cemburu buta dan dia memutuskan untuk mengakhiri hubungan mereka.
Sepertinya dia harus bisa mengendalikan emosi Joey dengan baik.
Frederik sangat marah hingga dia merobek dasinya dan melemparkannya ke samping.
Ponselnya berdering. Butuh beberapa dering sebelum dia menekan untuk menjawab telepon.
"Apa?" jawabnya ketus.
Suara yang samar terdengar dari seberang.
"Kamu lagi ngapain sih? Kenapa lama sekali menjawab telepon?"
"Nyetir!"
Jason Sandell menyeringai nakal. "Oh? Yang mana? Gadis Renfro itu? Apakah aku mengganggumu?"
"Kamu tidak punya kegiatan lain?"
"Galak amat. Aku cuma mau tanya, mau ikut ke Nightshade? Martin yang traktir."
Sepuluh menit kemudian, di Nightshade Bar.
Jason menyerahkan segelas anggur kepada Frederik, sambil melihatnya dengan senyum nakal.
"Wajahmu kenapa ditekuk gitu? Seperti terseret di lantai. Apa yang terjadi? Apa kau bertengkar dengan Joey?"
Frederik menatapnya dengan mata dingin. "Pasangan kan juga punya pasang surut. Memangnya kamu tidak pernah melihat pasangan bertengkar sebelumnya?"
"Oh! Setelah 'bersama dengannya' cukup lama, kamu jadi punya perasaan dan jatuh cinta padanya ya?" Jason sengaja menekankan kata 'bersama dengannya', wajahnya menampilkan senyum iseng dan nakal.
Frederik tidak menunjukkan belas kasihan saat menendangnya. "Pergi sana!"
"Baiklah. Tapi aku beri saran ya bro. Kalau kamu benar-benar menyukai Joey, sebaiknya jaga jarak dari Scarlett. Jangan asal angkat telepon dan lari kepadanya kapan pun dia memintamu. Jangan menyesal jika kamu kelak kehilangan Joey dan menyadari itu saat semua sudah sangat terlambat."
Frederik mengernyitkan alisnya. "Aku bilang padanya kalau Scarlett tidak akan mengganggu hubungan kami. Tapi dia tidak percaya padaku."
"Hah, yang benar saja?! Tidak ada wanita yang akan percaya itu. Scarlett adalah kekasih masa kecilmu bahkan kalian terikat kontrak pernikahan sejak kecil. Apa kau pernah melihat seorang wanita yang akan menoleransi kekasihnya yang selalu mengejar kekasih masa kecilnya? Mana ada?"
Frederik menyalakan sebatang rokok dan mengisapnya dalam-dalam, matanya berubah muram.
"Dia dan aku..." Sebelum dia selesai berbicara, pintu ruang pribadi itu terbuka. Masuklah Martin Palance bergandengan tangan dengan Scarlett.
"Maaf, suasana hati Scarlett sedang tidak baik hari ini jadi aku mengajaknya siapa tahu dia bisa terhibur. Kalian tidak keberatan, kan?"
Jason melirik Frederik, yang wajahnya muram, kemudian dia terkekeh.
"Sama sekali tidak. Adikmu juga adikku kan? Scarlett, kemarilah duduk di sini bersamaku." Ajak Jason.
Seulas senyum lembut muncul di wajah Scarlett, sepertinya tidak menunjukkan adanya niatan terselubung. "Kamu duduk tepat di depan AC. Terlalu dingin. Aku duduk di sini saja." Setelah berkata itu, dia duduk di samping Frederik.
Scarlett mengeluarkan sebuah kotak kecil yang cantik dari tas dan meletakkannya di depan Frederik.
"Frederik, terakhir kali kau melewatkan ulang tahun pacarmu karena menyelamatkanku. Dia tidak marah padamu, kan?"
Frederik menjawab acuh, "Tidak."
"Aah aku senang mendengarnya. Ini lipstik yang kubeli untuknya sebagai permintaan maaf. Jika dia salah paham, aku bisa menjelaskan langsung padanya."
Frederik menolak tanpa menoleh sedikit pun ke arah Scarlett. "Tidak perlu."
Mendengar penolakan ketus itu, mata Scarlett langsung memerah.
"Frederik, apakah kamu menyalahkanku karena selalu mengganggumu? Aku juga tidak mau, tetapi saat aku sakit, aku selalu ingin meneleponmu." Air mata sebesar kacang mengalir di pipinya.
Frederik melirik Scarlett malas, alisnya bertaut. Dia memasukkan lipstik ke dalam sakunya dan bergumam, "Aku akan menerima ini atas namanya."
Ekspresi Scarlett langsung jadi cerah, dia tersenyum dan menuangkan segelas anggur untuk Frederik.
"Frederic, cobalah anggur ini. Ini anggur tahun 1982. Saudaraku yang membelinya dari pelelangan di luar negeri."
Saat Scarlett memberikan gelas anggur kepada Frederik, jari-jarinya tanpa sengaja menyentuh pergelangan tangan Frederick. Tapi Frederik dengan cepat menepisnya dan mematikan rokoknya ke asbak.
Dia berkata dengan acuh, "Biarkan saja di sana."
Melihat penolakan Frederick yang terus menerus, ada rasa dingin melintas di mata Scarlett. Tapi, dengan cepat, dia kembali ke sikapnya yang polos dan dibuat-buat.
Martin, memegang segelas anggur, mengetukkannya ke gelas Frederic dan berkata, "Aku belum pernah bertemu pacarmu. Sesekali bawalah dia ke sini untuk makan malam."
Jason menyeringai. "Sepertinya tidak akan bisa saat ini. Mereka sedang bertengkar."
Martin menatap wajah Frederik yang muram dan berkata lembut sambil tersenyum, "Pada sebuah hubungan, wajar terjadi pertengkaran. Kamu bisa merayu dia, beri bunga kek, kado kek. Asal, jangan berakhir seperti pria yang istrinya kuselamatkan. Istrinya hampir meninggal karena perdarahan hebat setelah keguguran, tetapi suaminya bahkan tidak menjawab teleponnya dan malah bersama wanita lain!"