Bab 3 Belum Cukup
Tangan Frederik yang memegang gelas anggur mengencang, jantungnya berdetak semakin kencang.
Hari itu, ketika Scarlett mencoba bunuh diri dan dia menemaninya, Joey meneleponnya berkali-kali karena dia kesakitan, dia mengira akibat kram menstruasinya. Awalnya, dia menjawab panggilan itu, tetapi kemudian, karena marah, dia menolak panggilan telepon Joey.
Apakah ini alasan Joey ingin putus?
Frederik mencoba bersabar, mendengarkan hinaan dan kutukan dari Martin dan Jason yang ditujukan pada b******n yang meninggalkan istrinya hampir meninggal. Dia begitu tenggelam dalam pikirannya sampai tidak merasakan luka bakar di punggung tangannya karena rokoknya.
Sepanjang malam, dia jadi gelisah. Sebelum mereka bertengkar, jika sampai jam segini dia belum pulang, Joey pasti sudah menelepon, mengkhawatirkan keberadaannya.
Tetapi sekarang sudah lewat pukul satu pagi, dan sama sekali belum ada satu pun pesan teks, apalagi panggilan.
Tiba-tiba ia mendapat firasat buruk, jadi ia langsung mematikan puntung rokoknya dan pergi. Saat keluar dari bar, ia melihat seorang gadis kecil menghampirinya dengan membawa sekeranjang bunga segar.
Gadis itu bertanya sambil tersenyum, "Tuan, apakah Anda ingin membeli bunga untuk pacar Tuan?"
Mata Frederik lekat menatap sekeranjang bunga mawar merah sampanye yang berwarna cerah. Tiba-tiba, kalimat "bujuk saja dia" dari Martin terlintas di benaknya.
Jadi, ia berkata, "Boleh, berapa? Aku beli semuanya."
Gadis kecil itu sangat gembira dan segera mengemas bunga-bunga itu dengan cantik kemudian menyerahkannya ke Frederik dengan senyum lebar dan mengucapkan doa.
Akhirnya, sedikit kelegaan muncul di wajah Frederik yang muram. Ia mengeluarkan beberapa lembar uang seratus dolar dari dompetnya dan memberikannya kepada gadis penjual bunga itu.
Tapi, ketika ia kembali ke rumah dengan rangkaian bunga mawar di tangannya, bukan sosok mungil yang menyambutnya, melainkan pembantunya.
"Tuan, Anda sudah kembali. Saya sudah membuatkan Anda sup yang menyegarkan. Apakah Anda mau?"
Frederik mengerutkan alisnya, melihat ke atas. "Apakah dia sudah tidur?"
Pembantu itu tertegun sejenak, lalu berkata, "Nona Joey sudah pergi dari tadi. Dia meminta saya untuk memberikan ini kepada Anda."
Frederik mengambil amplop dari tangan pembantu itu. Dia membukanya dan kemarahannya memuncak karena itu sebuah surat putus cinta.
Frederick begitu marah hingga urat-urat di dahinya berdenyut-denyut. Diremasnya kertas surat itu menjadi bola dan dibuangnya ke tempat s****h. Dia lalu menelepon Joey penuh emosi.
Butuh waktu cukup lama sampai Joey mengangkat teleponnya. Terdengar suara Joey yang agak serak.
"Ya?"
Tangan besar Frederik gemetar menahan emosi, dia mencengkeram telepon genggam itu sangat erat. Menggertakkan giginya, Frederik bertanya tegas, "Apakah kamu yakin tentang ini?"
"Sangat yakin!" jawab Joey dengan tenang.
"Jovanka Renfro, jangan sampai kamu menyesal!"
Setelah itu, Frederik mengakhiri panggilan dan naik ke atas dengan ekspresi marah.
Terdengar suara pembantu datang dari belakang. "Tuan, bunga-bunga ini..."
"Buang saja!"
Tanpa menoleh lagi ke belakang, dia pergi.
Tepat saat dia berjalan ke pintu kamar tidur, dia melihat anjing jenis Samoyed putih dengan liontin di lehernya.
Frederik melihatnya di i********: Joey. Joey bilang itu adalah hadiahnya untuk orang yang paling dia cintai. Ternyata bukan dia tapi anjing itu adalah yang paling dia cintai.
Frederik menggertakkan giginya karena marah.
Dia menyambar kalung itu dari leher Buddy, si Samoyed, dan memasukkannya ke dalam sakunya. Buddy menggonggong padanya.
Frederik melotot kesal. "Apa yang kamu gonggong? Dia bahkan tidak menginginkanmu lagi!"
Frederik membanting pintu hingga tertutup dengan keras.
Keesokan pagi, seperti biasa, Frederik mengulurkan tangannya ke samping untuk menarik tubuh seseorang mendekat saat ia terbangun. Tapi ia merasa hampa, dia membuka matanya, dan tersadar Joey tidak ada di sana.
Tiba-tiba dia merasakan sesak tak tertahankan di dadanya.
Biasanya, dia akan memulai hari dengan "sarapan" unik bersama Joey.
Melihat wanita di bawahnya menikmati keintiman mereka, Frederik bisa merasakan sebuah perasaan yang tak terlukiskan di hatinya.
Nyatanya perasaan itu seperti racun, perlahan-lahan meresap ke sumsum tulangnya membuatnya adiksi.
Sekarang, ada keinginan yang tidak dapat dia tahan untuk menemui Joey.
Tapi, pikiran tentang kepergian Joey tanpa sepatah kata pun membuat emosinya kembali naik.
Mencoba membuatnya menemuinya? Jangan harap!
Frederik turun dari lantai atas dan melihat asistennya, Scott Terry, berdiri di ruang tamu, dengan memegang ponsel dan tampaknya sedang mengobrol dengan seseorang.
Dia berjalan mendekat dan melirik. "Sibuk banget?"
Scott menghentikan telponnya dan bertanya penuh kekhawatiran, "Tuan Frederik, apakah Nona Joey sakit parah? Haruskah kita pergi ke rumah sakit untuk memeriksanya?"
Frederik bingung, "Apakah dia memberi tahumu?"
"Ya, dia baru saja mengajukan cuti selama satu minggu. Saya heran mengapa dia mau menjalani prosedur standar dengan saya padahal dia bisa saja memberi tahu Anda secara langsung kan?"
Mata Frederik yang dalam sedikit menyipit. "Apakah kamu menyetujuinya?"
"Baru saja. Lebih baik Nona Joey beristirahat di rumah dan saya yang akan mengurus pekerjaan."
Scott yakin Frederik pasti akan memujinya dalam menangani berbagai urusan. Tanpa diduga, ia mendengar suara dingin berkata, "Jangan lakukan lagi."
*****
Joey mengambil cuti seminggu karena kehilangan banyak darah akibat operasi. Dia harus beristirahat.
Begitu ia kembali ke kantor, rekan-rekannya mengeluh tentang minggu yang menyedihkan. Mereka harus lembur hingga larut malam setiap hari.
Bonus triwulanan Scott bahkan dipotong ratusan ribu oleh Frederik karena menyetujui cuti seminggu untuknya.
Joey tahu bahwa uang itu akan digunakan untuk biaya pernikahan Scott dan uang itu hilang begitu saja karena dirinya.
Ia sempat berdiskusi tentang pekerjaan dengan rekan-rekannya lalu mengetuk pintu kantor CEO untuk membahas hal itu.
Dia melihat Frederik mengenakan setelan jas hitam duduk di mejanya. Ekspresi pria itu nyata dingin dan lelah, dengan raut wajah yang tegas dan tetap terlihat tampan. Matanya yang dalam semakin menambah daya tariknya.
Sikapnya yang arogan, memancarkan temperamen yang dingin dan aristokratis.
Ekspresinya samar, tidak terbaca, dan tatapannya terpaku hanya pada Joey selama beberapa detik sebelum kembali pada pekerjaannya.
Ketika bertemu lagi dengan Frederik, Joey tidak dapat menyangkal sakit hatinya kembali terasa.
Tujuh tahun yang lalu, pria yang dingin dan tampan inilah yang telah menarik perhatiannya, membuatnya mengabaikan segalanya dan dengan suka rela datang ke sisi Frederik.
Tapi, dia tidak pernah menyangka bahwa Frederik akan menganggap kasih sayang tulusnya yang mendalam selama bertahun-tahun, hanya sebagai sebuah transaksi s*****l saja.
Joey berusaha sebisa mungkin menyembunyikan emosinya. Dia berjalan mendekati Frederik, berkata dengan nada bicara yang seperti pebisnis ulung.
"Tuan Frederik, apakah karena saya meminta putus sehingga Anda jadi sangat marah? Jika Anda memiliki masalah dengan saya, sampaikan langsung kepada saya, jangan libatkan orang lain."
Frederik terkekeh meremehkan. "Jika kamu tidak ingin aku melibatkan orang lain, kembalilah ke rumah. Aku bisa melupakan semuanya."
Ekspresi getir muncul di wajah Joey saat menyerahkan surat pengunduran dirinya yang telah dia persiapkan sebelumnya.
"Tuan Frederik yang terhormat, selain tidak akan kembali, saya juga mengundurkan diri. Ini surat pengunduran diri saya. Saya harap Anda segera menemukan seseorang untuk mengambil alih tanggung jawab saya."
Mata Frederik fokus pada surat pengunduran diri yang diserahkan Joey. Ujung jarinya mencengkeram pena dengan sangat erat hingga buku jarinya memucat.
Matanya yang dalam menatap tajam ke arah Joey.
"Bagaimana jika aku tidak setuju?"
Bibir Joey melengkung membentuk seutas senyum manis. "Tuan Frederik, seperti yang Anda pernah katakan saat itu, jika salah satu dari kita lelah bermain, itu artinya sudah waktunya untuk kita berpisah. Jika Anda tidak melepaskan saya, saya kira itu karena Anda tidak dapat mengatasi rasa kehilangan kan?"
Frederik berdiri dan berjalan ke arah Joey. Tangannya memegang dagu Joey dengan ujung jemarinya terus menerus menyentuh pipi Joey yang putih dan halus.
Suaranya terdengar sangat tertekan.
"Joey, aku bukannya tidak bisa mengatasinya! Tapi aku belum merasa cukup bermain denganmu!"