Bab 4 Pengganti
Ciuman Frederik pada Joey selalu dominan dan kuat, hingga tidak memberi Joey kesempatan untuk menolak.
Frederik menindih Joey ke meja kantor, satu tangan memegang dagu mungil Joey, tangan lainnya menggenggam pinggangnya erat-erat agar tidak menghindar.
Sebuah sensasi lembut dan manis membelai setiap saraf di tubuh Frederik. Hingga mampu menyalakan hasrat lelaki yang tak tertahankan, yang melewati batas-batas, mendambakan untuk dibebaskan.
Selama bersama Joey, hari-hari mereka dipenuhi dengan keharmonisan dan keintiman. Tidak peduli apa yang dia inginkan, Joey pasti akan menurutinya tanpa mengeluh, bahkan saat dia kelelahan sekalipun akan tetap melayaninya.
Tapi sekarang, wanita yang ada di bawahnya sangat berbeda, dia keras kepala, berjuang mati-matian menolak seolah-olah berjuang untuk tetap hidup.
Air mata mengalir deras di pipi Joey.
Frederik terdiam melihat itu. Dengan lembut jemarinya menyeka air mata yang tertinggal di sudut mata Joey.
"Joey dengar! Permainan di antara kita hanya akan berakhir saat aku yang mengakhirinya. Kamu mengerti?"
Joey merasa sangat terhina dengan perlakuan itu.
Ia segera merapikan pakaiannya dan berjalan menuju pintu.
Saat membuka pintu, ia melihat Scarlett berdiri di sana dengan gaun putih, dengan senyum polos di wajahnya.
"Frederik, aku membawakanmu sarapan."
Ini pertama kalinya Joey melihat Scarlett dari dekat.
Dia mengamati bahwa wajah mereka ternyata sangat mirip, terutama mata dan hidung. Dugaan Joey terbukti. Ia akhirnya mengerti mengapa Frederik tetap mempertahankannya meskipun dia dituduh punya motif lain.
Ternyata, selama ini, dia hanyalah pengganti Scarlett. Selama tiga tahun kebersamaan mereka, ia hanyalah seorang pengganti. Meresapi kenyataan itu, membuat Joey merasa hatinya seperti diiris-iris sembilu.
Ia mencoba menenangkan diri, sedikit mengangguk pada Scarlett, lalu pergi.
Saat pintu kantor tertutup, Frederik menatap Scarlett dengan tatapan acuh.
"Kenapa kau ke sini?"
Mata Scarlett langsung memerah. Kepalanya tertunduk seperti anak anjing yang menyedihkan.
Dengan suara seperti hendak menangis, dia berkata lirih, "Maaf, Frederik, kudengar kamu melewatkan sarapan akhir-akhir ini dan perutmu sedang tidak enak. Jadi, aku berinisiatif datang dan membawakanmu sarapan."
Frederik mengerutkan alisnya, suaranya terdengar tidak hangat.
"Taruh saja di situ."
Wajah Scarlett langsung berseri-seri dan bergegas ke arahnya, meletakkan kotak makan siang berwarna merah muda itu di atas meja.
"Frederik, aku ingat kamu suka sandwich tuna dan ham. Cobalah. Enak sekali," katanya dengan suara lembut, manis, dan menawan.
Sayangnya Frederic tidak berselera sama sekali.
Dia menyingkirkan kotak makan siang itu dan berkata dengan suara berat, "Aku ada rapat. Aku akan makan setelah itu."
Scarlett terlihat kecewa, tetapi dia tetap mengangguk patuh. "Baiklah, kalau begitu kamu bisa lanjutkan pekerjaanmu. Aku akan menunggumu di sini dan tidak akan mengganggumu." Katanya ceria.
"Ada ruangan untuk tamu. Kamu tunggu di situ saja." Frederik menelepon Scott melalui interkom.
"Bawa Nona Scarlett ke ruang untuk tamu dan minta seseorang menemaninya."
Scott bertindak cepat dan muncul di pintu dalam waktu kurang dari satu menit. Dia memberi isyarat sopan kepada Scarlett untuk mengikutinya.
"Nona Scarlett, ruangan ini sudah siap dengan minuman. Saya akan meminta Lesly menemani Anda."
Scarlett menatap Scott dengan mata tulus. "Saya dengar Nona Jovanka orang yang sangat sabar. Saya ingin dia yang menemani saya."
"Maaf, Nona Jovanka adalah sekretaris utama presiden dan dia harus menghadiri rapat juga."
Scott bukan orang bodoh. Frederik sedang bertengkar dengan Joey akhir-akhir ini. Jika dia membiarkan Scarlett menimbulkan lebih banyak masalah, Frederik dan Joey mungkin tidak akan pernah bisa berbaikan.
Scarlett tersenyum tipis. "Begitu ya. Saya dengar kopi buatannya enak. Minta dia menyeduhkan secangkir untuk saya."
Alis Frederik berkerut, tatapannya berubah dingin. Joey adalah miliknya. Tidak sembarang orang bisa memanfaatkannya sesuka hati. Tapi, pikiran tentang Joey yang bersikeras pergi membuat pikirannya tertutup.
Sepertinya dia tidak seharusnya terlalu memanjakannya.
Dia berkata dengan dingin pada Scott, "Lakukan apa yang dia minta."
Scott melihat Frederik dengan tatapan tidak percaya selama beberapa saat, lalu mendesah tak berdaya dalam hatinya.
Tuan Frederik, apakah Anda menyadari bahwa Anda bisa kehilangan Nona Joey karena hal ini?
Tidak mampu untuk berkata apa pun, akhirnya Scott tidak punya pilihan selain pergi bersama Scarlett.
Joey sedang mengatur berkas-berkas yang dibutuhkan untuk rapat, ketika Scott mengetuk meja kantornya.
"Joey, Tuan Frederik ingin kamu membawakan Nona Scarlett secangkir kopi ke Ruang Tamu 02."
Joey mendongak dan menjawab dengan acuh, "Baiklah, kopi akan segera datang."
Setelah membereskan berkas-berkas, Joey segera pergi ke pantri membuat kopi yang diminta. Joey mengeluarkan biji kopi dan menggilingnya di mesin kopi.
Saat dia bersiap untuk menyeduh, sosok mungil muncul di sampingnya.
Ekspresi Joey tetap acuh. "Nona Scarlett, kopinya akan siap dalam lima menit."
Scarlett kesal pada Joey, tatapan inginnya nampak di wajahnya yang cantik.
"Nona Jovanka, tidakkah Anda merasa aneh melihat saya?"
Joey abaikan itu dan tetap melanjutkan menyeduh kopi. Dia fokus pada pekerjaannya, matanya sangat serius.
Joey menjawab acuh, "Banyak wanita yang mendatangi Tuan Frederik setiap harinya. Tidak ada yang aneh tentang itu."
"Tidakkah kamu mengerti? Satu-satunya alasan kenapa Frederik memilih untuk bersamamu, itu karena kita sangat mirip. Dia tidak pernah menyukaimu. Dia selalu menganggapmu sebagai penggantiku. Sekarang, karena aku telah kembali, sudah waktunya kamu pergi."
Joey menuangkan air mendidih ke dalam cangkir kopi, dan aroma kopi memenuhi seluruh dapur.
Dia menghirupnya dengan nikmat dan berkata dengan senyum terkembang, "Biji kopi ini diimpor dari Italia, rasanya sangat enak. Nona Scarlett, seberapa manis yang Anda inginkan?" tanyanya.
Scarlett sangat kesal. Dia merasa seperti sedang meninju kapas. Tangannya terkepal karena marah.
"Joey, berhentilah berpura-pura. Bukankah kamu mau bersama Frederik hanya karena uang saja kan? Ini cek senilai sepuluh juta dolar. Segeralah menjauh dari Frederik!"
Dengan cekatan Joey mampu menyembunyikan emosinya saat dia dengan acuh memasukkan gula batu ke dalam cangkir kopi. Dengan gerakan yang terlatih, dia mengaduknya, bagai tidak terpengaruh oleh hal di sekitarnya.
"Kudengar kesehatanmu tidak baik. Simpan saja uang itu untuk biaya pengobatanmu. Jika tidak, kamu mungkin tidak akan hidup lebih lama untuk menikah dengan Frederik, sayang sekali kan?"Jawab Joey, dingin dan acuh.
"Jovanka Renfro, kamu..."
Scarlett menggertakkan giginya dengan sangat marah saat menyadari jika Joey ternyata lebih keras kepala dari yang dia duga. Dia melihat Joey dengan tatapan tajam dan tanpa ragu mengambil cangkir kopi dari meja, kemudian melemparkannya ke arah Joey.
Kopi panas yang dilempar itu membentuk lengkungan indah di udara, melesat tepat ke arah wajah cantik Joey.