Bab 5 Tidak Dipercaya
Refleks, Joey menghindar ke samping agar tidak terkena air kopi panas itu, tetapi tetap saja sebagian kopi panas masih terciprat ke kakinya.
Joey meringis kesakitan, dia menarik napas dalam melihat ke kakinya.
Joey mendongak, hendak mengomeli Scarlett, tapi tepat dalam kedipan mata, dia melihat Scarlett sengaja melemparkan dirinya ke arah lemari kaca di belakangnya.
Secara naluriah, dia mengulurkan tangan untuk menarik tubuh Scarlett, tapi ditepis. Scarlett bisa melepaskan diri.
Suara pecahan kaca bergema.
Lengan Scarlett memecahkan kaca. Pecahan-pecahan kaca itu membuat beberapa goresan di lengan mulus Scarlett hingga darahnya menetes.
Joey tercengang melihat kenekatan Scarlett bahkan rela melukai dirinya. Darah terciprat di lantai.
"Joey Renfro, apa yang kamu lakukan?!"
Frederik, dengan tubuh menjulang tinggi dan sangat mengintimidasi, bergerak cepat ke arah Scarlett. Tatapannya yang tajam menjadi lebih mengancam. Frederik sangat murka.
"Kamu baik-baik saja?" tanyanya.
Dimulailah drama. Wajah pucat Scarlett bersimbah air mata dan mulutnya bergetar menjawab pertanyaan Frederik.
"Frederik, ini semua salahku. Tadi aku tidak sengaja menumpahkan kopi ke Nona Renfro, tapi dia malah berpikir itu disengaja. Itu sebabnya dia mendorongku ke arah lemari kaca. Kamu jangan salahkan dia, ya?"
Mendengar kata-kata ini, mata Joey langsung membelalak, tidak percaya dengan apa yang dia dengar.
Dia tidak menyangka Scarlett akan menggunakan taktik kotor seperti ini untuk menjebaknya.
"Aku tidak mendorongnya! Dia sengaja menjatuhkan dirinya," jelas Joey.
Tatapan dingin dan tegas Frederik dengan cepat menyapu Joey, sejenak menatap luka bakar akibat tersiram kopi panas di kakinya.
"Maksudmu dia sengaja menjatuhkan diri sekeras itu ke lemari kaca? Joey, aku jelas melihatmu mengulurkan tangan ke arah Scarlett!"
Joey menggeleng, menyangkal apa yang dituduhkan Frederik. "Terserah mau percaya atau tidak, justru aku mencoba membantunya!"
Isak tangis Scarlett membuat Frederik bergegas menggendongnya dan keluar ruangan itu.
Dia berkata dengan dingin, "Tunggu aku di sini!"
Joey memperhatikan sosok mereka yang semakin menjauh, rasa sakit yang tak terlukiskan nampak di wajah cantiknya.
Frederik adalah pria yang dicintainya selama tujuh tahun. Dia bahkan mengabdikan hidupnya.
Tapi antara dia dan Scarlett, Frederik tidak pernah memilih dirinya untuk dipercaya.
Tapi bukan Joey namanya jika dia tidak cepat menenangkan diri. Dia tidak akan membiarkan rencana Scarlett berhasil.
Meskipun dia sudah putus dengan Frederik dan dia tidak peduli lagi dengan sikap dingin pria itu kepadanya, Joey tidak akan pernah bisa menoleransi tuduhan dan manipulasi semacam ini.
Joey segera menemui rekannya, Lesly, yang meminta pacarnya di departemen teknis untuk membuat salinan rekaman kamera keamanan dari insiden tersebut.
Dia akan membuktikan bahwa dia benar-benar tidak bersalah. Setelah itu Joey kembali pada kesibukannya yang segunung.
Karena Frederik dan Scott sama-sama tidak hadir dan para eksekutif senior sudah menunggu di ruang konferensi, membuat Joey yang harus memimpin rapat pagi itu.
Joey mencatat laporan dari berbagai departemen secara detail dan skematis. Dia juga berdiskusi tentang beberapa proyek yang menantang untuk dikerjakan. Suasana di ruang rapat menjadi jauh lebih santai tanpa kehadiran Frederik.
Semua orang memuji kompetensi Joey, menggodanya karena dia kecakapannya bekerja dengan Frederik. Bahkan mereka bercanda, apakah dia akan menjadi istri bos mereka.
Joey menanggapi semua pujian itu dengan seluas senyum tipis.
"Hei hei... kami hanya rekan kerja. Tolong jangan membuat gosip deh. Lagipula, aku akan..."
Sebelum Joey menyelesaikan kata-katanya, seseorang menendang pintu ruang konferensi hingga terbuka lebar. Nampak sosok Frederik berdiri di ambang pintu dengan setelan jas hitam, memancarkan aura dingin dan menyeramkan, bagai iblis yang baru saja keluar dari neraka.
Mata yang tajam dan dalam itu menatap dingin ke arah Joey. Ruang rapat, yang beberapa saat lalu terasa damai dan santai, sekarang mendadak terasa sempit dan menyesakkan. Membuat tidak nyaman.
Semua orang berdiri dan menyapanya serempak. "Tuan Frederik."
Tapi Frederik tidak mau repot menanggapi, dia malah melangkah ke arah Joey. Tangannya yang besar dan kekar mencengkeram pergelangan tangan Joey. Suaranya bahkan terdengar lebih dingin dan menakutkan bagi siapapun yang mendengarnya.
"Ikut aku!"
Frederik menyeret paksa Joey keluar dari ruang konferensi.
Dia menunduk dan melihat ada pembengkakan, ada ruam merah yang terlihat jelas di bagian belakang kaki Joey yang putih dan mulus.
Dengan nada tidak senang, ia bergumam, "Kamu benar-benar bodoh."
Frederik membungkuk dan mengangkat Joey ke dalam pelukannya.
Di mobilnya, dia segera mendudukkan Joey di kursi penumpang, lalu mengambil salep luka bakar yang belum dibuka dari laci dasbor.
Frederik menunduk, bibirnya yang tipis terkatup rapat. Terlihat jelas di matanya yang dalam, emosi yang bergejolak. Frederik menekan tabung salep luka bakar itu kemudian mengoleskannya ke kaki Joey.
Ada ekspresi yang sulit dipahami pada wajah tampannya.
Wajah cantik Joey berkerut, dia meringis menahan sakit. Bibirnya menjadi pucat. Buku jarinya memutih karena jari-jarinya mengepal erat.
Melihat itu, Frederik menjadi lebih lembut, dan ia segera mengolesi semua bagian yang bengkak menggunakan salep itu.
Usai mengolesi, Frederik menatap Joey dengan tatapan kesal. Dengan senyum yang hampir tak terlihat, ia berkata, "Dengan kecerobohanmu seperti ini, apakah kamu yakin bisa bertahan hidup tanpaku?"
Frederik memberikan salep tersebut kepada Joey. "Oleskan sekali di pagi hari dan sekali di malam hari. Hindari membasahinya selama beberapa hari ke depan, atau itu akan meninggalkan bekas luka."
Joey menundukkan pandangan, suaranya yang tanpa emosi apa pun terdengar menjawab, "Untuk tahu apakah aku bisa bertahan hidup atau tidak, kita tidak akan tahu sampai kita mencobanya kan?"
Frederik menatap wajah keras kepala Joey. Dia sangat emosi, dia mendengus frustrasi.
"Joey, jika kamu ingin marah, silakan saja, tetapi jangan libatkan Scarlett. Kamu kan tahu kalau dia mengalami depresi? Aku sudah bilang kalau dia tidak mengancammu. Kenapa sih kamu tidak percaya padaku?"
Sebenarnya Joey ingin berucap terima kasih. Tapi keinginan itu langsung sirna, tatapannya sedingin es saat melihat Frederik.
Senyum sinis muncul di wajahnya.
"Frederik, biar kukatakan lagi, terserah kamu mau percaya atau tidak. Aku tidak menyentuhnya! Dia sengaja menjatuhkan diri ke lemari kaca hanya untuk menjebakku. Kalau kamu tidak percaya, kamu bisa memeriksa rekaman kamera pengawas dan lihat siapa yang berbohong."
Frederik mendongak menatapnya. "Aku tidaklah sebodoh itu, tapi Scarlett punya kelainan pembekuan darah. Golongan darahnya langka dan tidak ada stok di bank darah. Kalau kamu mendonorkan darah untuknya, aku jamin keluarga Parlance tidak akan menuntutmu. Masalah ini akan berakhir di sini."
Sebelumnya, rasa sakit di hati Joey hanya tusukan tajam belati, tapi sekarangberubah menjadi penderitaan yang sangat menyayat hati. Sebuah rasa sakit yang tak tertahankan, hingga membuatnya lupa bernapas.
Frederik akan membawanya untuk mendonorkan darah bagi Scarlett.
Padahal dia baru saja menjalani operasi minggu lalu karena keguguran. Terlebih lagi, selama operasi, dia banyak kehilangan darah dan dia masih minum obat untuk pemulihan.
Mata Joey menatap dingin ke arah Frederik. Nadanya sangat tidak ramah.
"Frederik Alexander, bagaimana jika aku memberitahumu bahwa aku tidak mampu mendonorkan darah saat ini? Apa yang akan kamu lakukan, kamu tetap memaksaku?"
Frederik menatapnya dengan tatapan dingin, "Aku sudah baca laporan pemeriksaan medismu dan tidak menunjukkan ada masalah. Mendonorkan darah sebanyak 400cc tidak akan berdampak signifikan pada tubuhmu. Lagipula, Scarlett adalah kesayangan ayahnya, Edward Parlance. Terlepas dari apakah kamu salah atau tidak, jika dia memutuskan untuk mengambil tindakan terhadap keluarga Renfro karena masalah ini, bahkan aku sekalipun tidak akan bisa campur tangan."
Joey tertawa sinis.
Yang Frederik tahu hanyalah Scarlett adalah kesayangan ayahnya, tetapi bagaimana dengan dirinya?
Ketika dia keguguran dan kehilangan begitu banyak darah, Frederik bahkan tidak mau menjawab teleponnya.
Sedangkan jika itu Scarlett, walau hanya menggaruk kulitnya yang gatal, Frederic menjadi sangat cemas, bahkan menggunakan keluarganya untuk mengancamnya.
Sangat jauh perbedaan perlakuan yang diberikan Frederik pada mereka.
Joey menatap Frederik dengan tatapan penuh kesedihan.
"Frederik, 400cc tidak akan menyebabkan kerusakan besar pada tubuhku. Tapi bagaimana dengan 2000cc?"