Bab 6 Apakah Kamu Pantas?
Mata Frederik membeku. Matanya berkedip beberapa kali karena merasa khawatir.
"Hah? Joey, kamu ngomong apa sih?"
Ejekan samar muncul di wajah Joey yang cantik. "Kamu kira aku belum mencobanya? Bagaimana jika aku bilang kalau aku baru saja kehilangan 2000cc darah? Apakah kamu masih akan memaksaku untuk mendonorkannya?"
"Joey, berhentilah bersikap tidak masuk akal. Selama menstruasi kamu hanya akan kehilangan darah maksimum sekitar 60cc. Jika kamu ingin membuat alasan menolak ini, setidaknya buatlah alasan yang lebih meyakinkan."
Joey tersenyum pahit. Padahal dia berusaha menjelaskan semuanya kepada Frederik, tetapi tetap saja pria itu tidak memercayainya.
Andai saja Frederik sedikit peduli padanya, pasti akan bertanya bertanya karena khawatir, bukan malah menuduhnya.
Andai saja Frederik lebih memahaminya, Frederik pasti akan tahu bahwa dia bukanlah tipe orang yang akan diam saja melihat seseorang meninggal sedangkan dia bisa membantu.
Itulah perbedaan seseorang memerlakukan orang yang dia cintai dan yang tidak dia cintai.
Padahal luka Scarlett sangat kecil tapi bisa membuatnya sangat gelisah, sementara mengalami keguguran dan kehilangan banyak darah. Frederik bahkan tidak menyadari bahaya yang dialami Joey selama operasi kegugurannya yang penuh risiko.
Joey merasa kesakitan dan tepat saat itu, dia melihat sosok seorang pria di pintu kamar rumah sakit. Joey langsung berdiri dan terpaku karena terkejut.
Hari itu, ketika dia kehilangan kesadarannya, dia melihat sebuah sosok seorang pria penyelamatnya.
Antara sadar dan tidak, dia mendengar suara lembut seorang pria memanggilnya. Dengan susah payah, Joey memaksakan matanya untuk terbuka dan melihat langsung pria yang menyelamatkannya. Ingatannya tentang pria itu sangat jelas. Saat itu, Joey menggenggam erat lengan pria itu dan memohon dengan suara bisikan serak, "Tolong, tolong aku."
Saat dia tersadar, Pamela bilang bahwa dia dibawa ke rumah sakit oleh seorang pria tampan berkacamata.
Joey tertawa mengutuk diri sendiri kemudian mendekati Martin dan berbisik, "Apakah Anda saudara laki-laki Scarlett Parlance?"
Martin mengangguk samar, suaranya terdengar sangat lembut dan menenangkan. "Nona Renfro, jika Anda memiliki masalah dengan kesehatan Anda, saya bisa..."
Joey menutup matanya dan tertawa lirih. Semesta sepertinya sedang bercanda dengannya. Orang yang selalu ingin dia balas budinya karena telah menyelamatkan hidupnya, ternyata adalah saudara laki-laki Scarlett!
"Tuan Palance, bisakah kita bicara berdua saja? Penting?" Joey tersenyum pahit saat berkata itu.
Joey menarik lengan Martin untuk berbicara berdua dengannya ke tangga terdekat ketika Frederik mencengkeram pergelangan tangannya dengan sangat erat.
"Mengapa kamu ingin berbicara berdua saja dengannya? Ada apa? Apakah ada sesuatu yang tidak bisa kamu katakan di depanku?" tanyanya.
Joey mencibir. "Mengatakannya di depanmu? Untuk apa? Apakah bahkan kamu pantas untuk tahu?"
Tanpa menunggu reaksi Frederik, Joey menepis cengkeraman tangan itu. Frederik melihat mereka menjauh darinya.
Wajah cantik Joey terlihat pucat. Dia memiringkan kepalanya dan menatap wajah tampan Martin, lalu berkata, "Tuan Martin, Anda menyelamatkan hidup saya pada hari itu. Sayangnya saya belum sempat mengucapkan terima kasih. Saya tidak menyangka akan menemukan kesempatan untuk membalas budi baik Anda secepat ini. Yakinlah, saya akan mendonorkan darah untuk saudara perempuan Anda, tetapi dengan satu syarat. Saya punya satu permintaan. Saya harap Tuan Martin akan merahasiakan kejadian penyelamatan saya hari itu."
Alis Martin berkerut, suaranya terdengar lembut saat berkata, "Bayi itu benih Frederik, kan?" Dia tidak mau menjawab permintaan Joey.
Joey tersenyum tipis. "Itu tidak penting sekarang. Bayiku sudah pergi. Aku hanya tidak ingin masalah ini memengaruhi keputusanku."
Dia tidak tahu bagaimana Frederik akan bereaksi andai dia mengetahui hal ini. Sepertinya masalah akan menjadi lebih rumit. Dia hanya ingin meninggalkan Frederik secepat mungkin.
Tatapan Martin menjadi gelap sejenak. Untuk sesaat, dia seperti melihat ibunya dalam diri Joey.
Jantung Martin bagai berhenti berdetak untuk sesaat. Tapi dia mampu menguasai diri dan bertanya dengan khawatir, "Kamu mengalami pendarahan hebat saat itu, dan ini belum lama berselang dari hari itu. Apa kamu yakin tubuhmu bisa mengatasinya?"
Joey mencibir. "Biarkan itu jadi urusanku. Aku hanya ingin membalas kebaikanmu. Setelah ini, kita tidak akan berutang apa pun."
"Kamu tidak harus melakukan ini. Aku bukanlah tipe orang seperti itu. Jika tubuhmu tidak mengizinkannya, aku tidak akan memaksamu."
"Dengar, aku tidak suka berhutang budi kepada orang lain, terutama orang yang berhubungan dengan Scarlett, Tuan Martin. Oiya, kuharap Anda tidak melupakan perjanjian kita."
Setelah Joey selesai berbicara, dia mengangguk sedikit ke arah Martin lalu berjalan ke perawat yang telah menunggu sedari tadi.
"Bawa aku untuk mengambil darah."
"Joey Renfro!"
Frederik menariknya dengan kasar, tatapan matanya sangat tajam.
"Mengapa kau ingin berbicara dengan Martin hanya berdua saja? Apakah kamu menyembunyikan sesuatu dariku?"
Joey menatapnya dingin, seutas senyum tipis tersungging di bibirnya.
"Kenapa? Kamu takut aku akan menjadikannya sebagai sugar daddy berikutnya? Tenang saja, bahkan jika aku sangat putus asa, aku tidak akan pernah mengejar temanmu." Joey melepaskan diri dari cengkeraman Frederic dan berjalan bersama perawat itu.
Entah kenapa, sesaat tadi Frederik merasa seolah-olah jantungnya terpukul keras tanpa alasan. Dia menatap punggung Joey yang menjauh.
Dua puluh menit kemudian, Joey keluar dari bangsal.
Wajahnya yang kecil, yang hanya seukuran telapak tangan Frederik, sepucat kain. Bibirnya juga pucat. Matanya kuyu dan kusam. Tubuhnya bergoyang saat dia berusaha berjalan.
Joey bersandar di dinding, dia berusaha untuk tetap berjalan dengan berpegangan di sepanjang dinding koridor.
Frederik mempercepat langkahnya dan menyusul Joey. Dia membungkuk untuk mengangkat tubuh lemah Joey ke dalam pelukannya. Ada emosi entah apa, yang tak terlukiskan di matanya.
"Aku akan membawamu beristirahat." Namun, sebelum Frederik bisa bergerak, sebuah suara terdengar dari belakang mereka.
"Tuan Frederik, emosi Nona Palance sedang tidak stabil saat ini. Dia menangis dan ingin menemuimu. Tolong temui dia."
Joey tetap tenang saat dia menatap Frederic. Sebuah senyum sarkastis tersungging di bibirnya yang pucat.
Selama pengambilan darah tadi, dia merasakan penglihatannya menjadi gelap. Dia ingin pingsan, tetapi dia bertahan dan keluar dari bangsal.
Ketika tadi dia melihat Frederik mendekat, ada secercah harapan muncul. Dia ingin memberi tahu Frederik bahwa tubuhnya tidak dapat bertahan lebih lama lagi dan memintanya untuk segera membawanya pergi.
Tapi harapan itu hilang setelah mendengar kata-kata perawat itu, dia tersenyum untuk mengejek diri sendiri.
Antara Scarlett dan dirinya, Frederik tidak pernah memilihnya.
Benar saja, keraguan Frederik hanya sejenak sebelum menurunkannya dari gendongannya dan dengan tegas berkata, "Tunggu di sini. Jangan ke mana-mana."
Joey diam, tidak berkata apapun. Dia tampak tenang memerhatikan Frederik menurunkannya dan bergegas ke bangsal Scarlett.
Tapi hanya sedetik kemudian, dia menunduk untuk menyembunyikan matanya yang sudah basah.
"Nona Joey, biarkan saya yang mengantar Anda pulang."
Martin datang untuk membantu Joey, tetapi dia mendorongnya menjauh.
Joey menatap pria tampan itu dengan dingin dan berkata ketus, "Tuan Martin, semua hutang piutang di antara kita telah selesai. Saya tidak ingin berutang apa pun kepada Anda lagi!"
Dia berusaha menopang dirinya sendiri dengan menyandarkan tubuhnya di dinding dengan satu tangannya dan perlahan berjalan keluar rumah sakit.
Joey merasakan kakinya gemetar, penglihatannya semakin gelap, tubuhnya bagai tidak bertenaga. Namun, dia tetap memaksakan diri untuk menghilang. Jauh dari keluarga Palance juga menjauh dari Frederik.
Sayangnya, belum juga dia berjalan jauh, tubuhnya tidak kuat lagi. Penglihatannya menjadi gelap, dan dia jatuh ke lantai.
Tepat saat dia mengira akan jatuh dengan wajah terlebih dahulu, sebuah tangan besar menangkap pinggangnya.
Terdengar suara gugup memanggil namanya, "Joey!"