Bab 7 Jangan Buat Aku Membencimu!
Joey membuka matanya. Tepat di hadapannya adalah sebuah wajah yang sangat dikenalnya. Rasanya seperti dia berhasil meraih tali penyelamat.
Dengan suara yang lemah dan mencengkeram kemeja pria penolong itu sangat erat, Joey memohon dengan suara lemahnya, "Stan, bawa aku pergi dari sini."
Dia tidak ingin Frederik melihatnya dalam kondisi yang menyedihkan dan jadi mengasihinya. Tidak ada yang diinginkannya selain pergi dari tempat ini secepat mungkin.
Stan melihat Joey dengan lembut, dia membungkuk dan menggendong Joey.
Dengan ucapan lembut menghibur, dia berkata, "Shht... Jangan takut. Aku akan membawamu pergi dari sini."
Frederik bergegas keluar tapi emosinya langsung memuncak saat melihat Joey digendong oleh seorang pria yang menatapnya penuh kasih sayang dan kelembutan. Pria itu membawa Joey ke sebuah mobil.
Pria itu menatapnya dengan mata penuh belas kasih dan kelembutan.
Frederik mengepalkan tinjunya karena sangat marah, buku-buku jarinya sampai memutih.
Dengan tatapan muram, dia melihat mobil itu menghilang dari pandangannya.
*****
Joey terbangun keesokan pagi. Semalaman dia tidak makan dan kehilangan banyak darah, membuatnya merasa sangat kelaparan.
Joey mencium aroma lezat masakan, membuatnya mencari sumber aroma itu ke arah dapur. Keningnya berkerut saat melihat sosok tinggi yang ada di dapur. Ternyata Stan yang memasak.
Stan memegang semangkuk sup yang dia berikan kepada Joey. Dia tampak lucu mengenakan celemek bergambar babi merah muda.
"Tadi malam, aku meminta dokter untuk memeriksamu. Kamu kehilangan banyak darah dan butuh asupan makanan bergizi. Jadi aku membuatkan sup untukmu. Ayo cobalah, ini enak kok."
Joey tersenyum malu-malu. "Stan, terima kasih sudah menjagaku sepanjang malam. Kalau aku sudah sehat, aku akan mentraktirmu makan nanti."
Joey dan Stan sama-sama mahasiswa berprestasi lulusan fakultas hukum Sekolah Hukum Universitas Boston. Stan dua tahun lebih tua darinya. Mereka berdua adalah murid kesayangan dari seorang tokoh hukum terkenal, Andrew Judika.
Tiga tahun lalu, Stan lulus dengan gelar master dan dia pergi ke luar negeri agar semakin berkembang, sementara Joey menjadi sekretaris Frederik.
Jalan hidup mereka sangat berbeda terutama pilihan pekerjaan profesional.
Stan tersenyum. "Hei Joey, Pak Andrew bilang dia sangat merindukanmu. Setelah kamu merasa lebih baik, gimana kalau kita mengundangnya untuk bertemu? Kita bisa temu kangen kan?"
Joey mengusap kepalanya dengan canggung dan tersenyum. "Beliau sangat baik padaku, tetapi aku malah tidak mengikuti jejaknya waktu itu. Aku jadi merasa bersalah. Aku tidak memiliki keberanian untuk bertemu dia."
Joey adalah salah satu murid Andrew yang paling disayang.
Andrew sangat berharap pada Joey agar mengikuti jejaknya. Dia bahkan pernah secara terbuka berkata bahwa saat Joey berkecimpung di bidang hukum, dia akan bisa menimbulkan badai.
Namun, setelah lulus, Joey lebih memilih untuk bersama Frederik dan melepaskan cita-citanya. Joey dengan tegas melepaskan kariernya di bidang hukum dan memilih menjadi sekretaris Frederik. Waktu itu Andrew merasa kasihan padanya karena membuat pilihan yang salah.
Stan menarik kursi untuk Joey, berkata sambil tersenyum menenangkan, "Setiap orang memiliki keinginannya sendiri. Aku yakin, Pak Andrew tidak pernah menyalahkanmu."
Ada sedikit kepahitan muncul di hati Joey mendengar itu.
Dia menatap Stan dan bertanya penasaran, "Stan, kamu kan sudah menjadi pengacara terkenal dan bergaji tinggi di Eropa Utara. Penghasilan tahunanmu juga gede banget, lebih dari puluhan juta. Mengapa kamu tiba-tiba kembali ke sini?"
Mata Stan berbinar, tetapi segera menghilang. Dengan lembut dia menjawab klise, "Aku tidak terbiasa dengan makanan di sana, jadi aku kembali."
Dia menyerahkan sendok kepada Joey dan bertanya dengan santai, "Apa yang terjadi antara kamu dan Frederik?"
Joey memaksakan sebuah senyum dan menjawab, "Kami sudah putus."
Tatapan tajam Stan terpaku pada Joey selama beberapa detik sebelum dia berkata dengan santai, "Baguslah kalau begitu. Jangan khawatir, dengan aku ada di dekatmu, seharusnya dia tidak akan berani menindasmu."
Stan menepuk kepala Joey dengan lembut seolah ingin menghiburnya. Bagaimana mungkin dia tidak tahu betapa Joey telah menderita selama ini akibat Frederik?
Hatinya teriris saat mendengar Joey yang terus menangis saat tidur.
Belum juga Stan menarik tangannya dari kepala Joey, pintu ruangan itu didorong paksa oleh seseorang. Frederik!
Pria itu berdiri di pintu dengan aura dingin yang membunuh. Matanya yang tajam terpaku pada tangan besar di atas kepala Joey.
Tanpa mau menunggu salah satu dari mereka menyadari kehadirannya, dia bergegas ke arah Joey.
Dia membuang sendok dari tangan Joey, kemudian membungkuk, dan mengangkat tubuh Joey dari kursi.
Matanya memindai ruangan dan menemukan sebuah kamar. Dia tergesa-gesa ke kamar tidur itu dan membanting pintu hingga tertutup, lalu menguncinya.
Pada saat Joey menyadari apa yang terjadi, Frederik telah menindih tubuhnya di tempat tidur.
Di luar, terdengar Stan menggedor pintu.
Frederik memancarkan aura dingin yang membuat Joey menggigil, bibirnya bergetar karena ketakutan.
"Frederik Alexander, apakah kamu sudah gila?" teriak Joey.
Mata Frederic melihat Joey penuh kemarahan, suaranya bahkan serak.
"Aku bahkan bisa lebih gila dari ini!"
Setelah itu, Frederik menggigit bibir pucat Joey. Pikirannya dipenuhi dengan gambaran seorang pria yang menatap Joey dengan mata penuh kasih sayang. Dia cemburu!
Dia tidak pernah kehilangan kewarasannya untuk seorang wanita seperti ini sebelumnya.
Frederik menciumi dan menggigiti bibir Joey dengan penuh gairah, bergerak ke bawah leher jenjang Joey yang seputih salju.
Joey meronta dan mengumpat marah, "Frederik Alexander, dasar b******n kamu! Kita sudah putus. Jangan membuatku jadi membencimu!"
Alih-alih melepaskannya, Frederik malah semakin bernafsu menciumi Joey.
Dia menggigit d**a Joey dengan keras dan bertanya dengan dingin, "Apa kau sudah menemukan kekasih baru secepat ini huh?"
"b******n! Kita sudah putus! Bukan urusanmu aku bersama siapa!"
"Begitukah? Bagaimana jika aku membuatnya menghilang dari dunia hukum? Apakah itu tetap saja bukan urusanmu?"
"Frederik Alexander, jangan berani-berani kamu lakukan itu!" teriak Joey.
"Dia berani menyentuh wanitaku. Kenapa aku tidak berani?"
"Dia hanya seniorku. Tidak ada apa-apa di antara kita. Jangan coba-coba hancurkan dia, atau aku akan membalasmu tidak peduli apapun yang dibutuhkan!" Joey tahu taktik licik Frederik. Dia tidak pernah menunjukkan belas kasihan kepada orang-orang yang tidak dia suka.
Stan baru saja kembali dari luar negeri. Posisinya belum stabil. Satu gerakan mengancam dari Frederik maka akan dapat menghancurkan masa depannya.
Melihat ekspresi gugup Joey, Frederik mencibir.
"Kembalilah kepadaku, atau aku tidak bisa menjamin apa yang akan kulakukan padanya."
Tepat saat itu, pintu ditendang paksa Stan hingga terbuka. Tanpa menunggu reaksi Joey, Stan bergegas masuk dan meninju Frederik. Frederik terkejut menerima sebuah pukulan keras. Darah menetes dari sudut bibirnya.
Dengan seringai jahat, Frederik berdiri di depan Joey, menghalangi Stan untuk mengambilnya. Mata tajamnya menatap Stan. "Lihat baik-baik, dia wanitaku!"
Stan mencengkeram kerah Frederik dan memberikan bogem mentah lagi. "Dia tidak mau denganmu! Jangan paksa dia!"
Frederik bisa menghindari pukulan itu malah mendaratkan pukulan balik di wajah Stan.
"Kau hanya teman sekolahnya! Berhentilah bermimpi dia menyukaimu!" bentak Frederik.
Keduanya saling adu jotos, sementara Joey mencoba menghentikan mereka dan berteriak, "Hentikan, kalian berdua!"
Keduanya seperti dua banteng yang melihat warna merah dan mengabaikan Joey.
Akhirnya, Frederik berhasil membanting tubuh Stan dan menguncinya. Mereka berdua sudah terlalu lelah untuk melanjutkan adu jotos itu.
Sambil menyeka bibirnya yang berdarah, dia menatap Joey dengan pandangan muram. "Ikut aku atau tetap di sini. Pilihan ada di tanganmu!"