“Apa-apaan ini?”
“Kenapa kamu?”
“Aku ....”
“Ini ....”
J tersenyum puas menikmati kebingungan dan kekagetan Ambar yang saat ini hanya bisa membuka dan menutup mulutnya. Seolah ingin berkata banyak hal namun otaknya tidak dapat diajak kerja sama sehingga tidak ada kata-kata yang tersusun sempurna untuk mengungkapkan perasaannya.
Jujur saja, melihat Ambar yang seperti ini sedikit dapat mengalihkan pikiran dari gaun yang Ambar kenakan saat ini. Pertama kali melihat Ambar hanya mengenakan celana jins dan kemeja putih saja pandangan J tidak dapat teralihkan, apalagi saat ini. Dengan gaun merah muda sederhana yang memperlihatkan dengan jelas semua lekukan indah di tubuh Ambar, jelas saja J lebih susah untuk mengalihkan pandangannya.
Untung segala ekspresi yang Ambar perlihatkan sekarang terasa lebih menghiburnya. Dan yang terpenting, dapat mengalihkan pandangan dan pikirannya yang mulai menjurus. J sudah terlalu menginginkan Ambar, tidak perlu semakin menginginkannya.
Ambar hanya dapat menatap pria yang dengan santainya sudah duduk di kursi yang terletak di hadapannya. Terlihat senyum menyebalkan yang entah bagaimana Ambar hafal. Bahkan lekuk bibirnya saat tersenyum pun Ambar mengingat dan menghafalnya dengan jelas. Ya ampun, apa yang sebenarnya terjadi pada otaknya?
“Nggak!” ucap Ambar mencoba mengingkari sesuatu yang saat ini terlihat begitu jelas di hadapannya. Nggak mungkin!
“Iya.” jawab J pelan yang langsung menyulut rasa kesal Ambar.
“Diem kamu! Ini nggak mungkin!” Mencoba tidak mempercayai apa yang dilihat dan dipikirkannya saat ini, Ambar mengambil ponselnya yang masih berada di dalam tasnya. Dia harus memastikannya. Tidak mungkin pria yang Inez pilih adalah pria menyebalkan di hadapannya.
“Tapi ini semua mungkin kok.” jawab J masih dengan ketenangan dan senyum menyebalkannya. Entah bagaimana Ambar semakin terusik karenanya.
“Kubilang diem, ya, diem!” Kesal, tangan Ambar terlihat gemetar saat dirinya mulai membuka w******p untuk menanyakan pada Inez seperti apa pria yang dipilihkannya untuk Ambar. Apakah benar-benar pria di hadapannya ini? Atau pria ini hanya mengaku-ngaku untuk terus mengganggunya?
Tapi kalau mengaku-ngaku? Dari mana dia tahu tentang pertemuan ini? Karena seharusnya yang mengetahui hal ini hanyalah dia, Inez dan pria yang Inez pilih. Kecuali ....
Tiba-tiba saja berbagai skenario seolah terbentuk dalam otak Ambar. Dan dari sekian banyak skenario, tidak ada satu pun yang cukup masuk akal. Kenapa pria inilah yang saat ini di hadapannya?
“Perlukah aku buktikan kalau aku benar-benar ....” Belum selesai J berkata saat tiba-tiba Ambar mengarahkan kamera ponsel padanya, dan tanpa izin mengambil fotonya. “Wah, kalau memang mau fotoku minta aja. Jadi kan aku bisa siap-siap biar hasilnya ganteng.”
Namun Ambar sama sekali tidak menghiraukannya, seolah sudah ada di dunianya sendiri, sibuk menatap ponselnya dan berulang kali mengetikkan sesuatu untuk membalas pesan seseorang di seberang sana yang J tahu siapa. Pastinya sahabat baik Ambar yang bernama Inez. Orang yang sangat ingin ditemuinya karena J merasa sangat berterima kasih pada Inez ini.
Dua hari yang lalu dengan segala rasa cemas dan berharap yang dirasakannya karena tidak kunjung mendapat kabar dari Ambar, mukjizat tiba-tiba datang berupa sebuah pesan yang masuk ke dalam messenger-nya. Seseorang menggunakan akun Ambar mengaku bernama Inez—yang adalah sahabat Ambar—berkata bahwa dia merasa J mungkin pilihan yang terbaik untuk sahabatnya.
Segala pertanyaan ditanyakannya untuk memastikan bahwa J merupakan calon yang tepat. Bahkan beberapa pertanyaan mendetail tentang seorang pasangan yang J mungkin miliki membuatnya memikirkan tragedi pelakor di coffee shop-nya terakhir kali. Pasti Ambar sangat kesal karena hari itu. Hingga sahabatnya itu menanyakan tentang hal tersebut beberapa kali. Memastikan dengan detail bahwa J sama sekali tidak ada hubungan dengan wanita lain. Sedikit menyebalkan, namun hal tersebut langsung terlupakan saat Inez memilihnya dan mereka menentukan tepat pertemuan yang membuat J mengusulkan coffee shop-nya.
Rasanya jahat, memaksa Ambar ke tempat dia pernah mengalami peristiwa memalukan, tetapi J tidak dapat menahan. Coffee shop ini kebanggaannya dan dia ingin Ambar tidak menghindari tempat ini hanya karena sebuah peristiwa seperti kemarin. J berjanji, dia akan mengubah pandangan Ambar tentang coffee shop-nya.
Beberapa kali terlihat Ambar melirik ke arahnya dengan sorot mata kesal yang mau tidak mau membuat J semakin senang. Membuat Ambar kesal seolah menjadi sebuah kesenangan tersendiri baginya. Hingga akhirnya mata bulat Ambar yang menggemaskan semakin membulat dan meyakinkan J bahwa Ambar sudah mendapatkan jawabannya, dan J tahu, jawaban itu tidak disukainya.
“Ah, sial! Aku memang dikutuk!” umpat Ambar pelan namun tetap saja J dapat mendengarnya.
“Bukan aku yang mengutukmu.”
“Ya Tuhan, berilah hamba kesabaran.”
“Bukankah seharusnya aku yang berkata seperti itu?”
“Astaga! Terserahlah! Sepertinya memang ini kesalahan.” ucap Ambar yang segera saja memasukkan barang-barangnya kembali ke dalam tas, bermaksud untuk segera pergi dari situ. Baru saja berdiri dari duduknya bermaksud beranjak pergi, saat tiba-tiba sebelah tangannya sudah diraih oleh J dan digenggam erat, menahannya untuk pergi.
“Kurasa ini bukan kesalahan.” ucap J pasti, yang membuat Ambar mengerutkan kening menatap tangan J yang menggenggam tangannya erat. Seharusnya Ambar refleks menepis genggaman tangan tersebut. Namun dia justru terpesona, melihat besarnya tangan J yang melingkupi tangannya, membuat sebuah desiran pelan dirasakannya. Seminim inikah pengalamannya hingga sebuah genggaman tangan membuat hatinya berdesir sehangat ini? Sadarkanlah dirimu, Ambar!
“Kurasa ini takdir.” tambah J yang segera mengalihkan perhatian Ambar dari kedua tangan mereka yang bertautan.
“Takdir?”
“Ya.”
“Takdir?” tanya Ambar lagi yang sepertinya tidak bisa menerima kata tersebut diucapkan oleh pria di hadapannya ini. “Kita? Takdir?”
Saat sebuah anggukan kepala pelan J berikan, tanpa bisa menahannya, Ambar tertawa terbahak. Dia dan pria ini memiliki sebuah takdir bersama? Dia bercanda? Ambar tidak menyangka dirinya bisa tertawa sepuas itu. Memangnya pria ini pikir Ambar itu wanita bodoh yang dengan mudah dibohongi dan digombali oleh pria-pria sejenis ini?
“Takdir? Bullshit!” jawab Ambar yang tidak menyangka saat hinaannya tersebut justru mendapatkan sebuah cengiran yang seharusnya menyebalkan, tapi entah kenapa lagi-lagi dirinya terpesona. Wajahnya yang memang Ambar akui tampan, saat itu juga terlihat lebih tampan dengan cengiran kekanakannya. Menggemaskan. Oh, lagi-lagi! Sadarkanlah diri!
“Nah, sepertinya kita memikirkan makna yang berbeda akan takdir.” Balas J yang lagi-lagi membuat Ambar ingin memukul cengiran lebar di wajah J saat ini. Apa maksudnya makna takdir yang berbeda? Bukankah makna takdir itu seperti apa yang dipikirkannya? Setahunya tidak ada makna lain dari takdir.
“Duduklah dulu. Biar kujelaskan.” Saat itulah Ambar baru tersadar bahwa sedari tadi tangannya masih berada dalam genggaman J. Dengan cepat, dia segera menarik tangannya dari genggaman hangat tangan J yang mulai semakin mengusiknya. Meskipun merasa berat hati, Ambar merasa tidak ada salahnya mendengarkan apa maksudnya tentang makna takdir yang berbeda tersebut. Jadi tanpa pikir panjang, dia kembali duduk berhadapan dengan J.
“Jadi?” tanyanya tidak ingin berbasa-basi dan berlama-lama mendengarkan—yang pastinya omong kosong dari pria di hadapannya ini.
“Aku siap menghamilimu.” jawab J seenaknya hingga Ambar tanpa sadar mengepalkan tangannya dan membuat gerakan seolah akan memukul J. “Haish!”
“Astaga! Cantik-cantik bar-bar. Tapi aku suka.”
“Sumpah! Pengen kusumpel mulutmu!”
“Pakai bibirmu?” Dan jawaban itu membuat Ambar kembali beranjak dari tempat duduknya. Mencoba sekali lagi pergi, namun lagi-lagi ditahan oleh J dan dipaksa kembali duduk. “Just kidding.”
“Cepat jelasin! Apa maksudmu takdir tadi?” tanya Ambar mulai tidak sabar dengan segala tingkah menyebalkan J.
“Sebuah keberuntungan.” Jawab J ambigu yang membingungkan Ambar.
“Keberuntungan?”
“Ya, sejak saat aku melihat statusmu. Bisa dibilang aku mencoba bertaruh. Dan saat mengirim pesan padamu, aku berpikir inilah cara tepat bagiku untuk bertaruh. Pertaruhan apakah keberuntunganku masih tersisa ataukah sudah habis karena coffee shop ini.” Lagi-lagi jawaban yang J berikan semakin tidak Ambar pahami. Apa hubungannya statusnya, coffee shop ini, keberuntungan dan juga takdir? Dan kenapa rasanya susah sekali mendapatkan jawaban sederhana dari pria ini?
“Hah?” Hanya itu jawaban atas kebingungan yang Ambar rasakan saat ini.
“Kamu tahu, saat aku lihat kamu jalan masuk coffee shop ini pertama kali, aku sudah tahu bahwa setidaknya sebagian keberuntunganku masih ada.”
“Hah?”
“Dan melihatmu hari itu dan hari ini, kurasa takdir memang milik kita. Kalau memang kita tidak saling terikat takdir, tidak mungkin aku diberikan kesempatan melihatmu, nyata dan dalam jangkauanku.” jelas J yang membuat Ambar mengerutkan keningnya lagi. Mencoba memahami penjelasan J yang tetap saja menurutnya tidak terlalu jelas.
“Oh.” Ambar hanya dapat membulatkan bibirnya menjawab pernyataan yang tidak dipahaminya. Ya, pastinya jelas, memang makna takdir bagi mereka berdua berbeda. Meskipun sekali lagi, Ambar tidak mengerti penjelasannya.
“Hanya oh?” tanya J yang dijawab dengan anggukan pasti oleh Ambar. Memangnya dia harus menjawab apa? Dia sudah mendapatkan jawabannya walaupun tidak mengerti.
“Jadi?” Kali ini J yang bertanya pertanyaan tersebut.
“Jadi, kurasa sebaiknya aku pulang. Terima kasih atas penjelasannya.” jawab Ambar kembali beranjak pergi.
“Ah, jadi begitu. Semudah ini menyerah?” balas J yang langsung saja menghentikan langkah kaki Ambar yang sudah melangkah beberapa meter.
“Siapa yang menyerah?” tanya Ambar kesal. Memangnya tahu apa pria ini? Siapa yang menyerah? Dia tidak akan menyerah ... dia akan ....
Tiba-tiba ingatannya kembali pada momen di mana memang Ambar sepenuhnya sudah menyerah. Hingga Inez membuat Ambar percaya bahwa dia harus mempercayainya. Dan inilah yang dilakukannya, mempercayai Inez. Namun apa? Pria yang Inez pilihkan justru pria menyebalkan di hadapannya ini. Jelas dia lebih memilih menyerah.
“Kamu.”
“Nggak. Aku nggak nyerah! Aku bakal cari pria lain! Dan pastinya bukan kamu.”
“Kenapa?” tanya J yang mencoba membaca segala ekspresi yang Ambar tunjukkan saat ini. J tahu, Ambar ragu memilihnya karena sikap menyebalkan yang memang sengaja dia tunjukkan untuk menarik perhatian Ambar. Mungkin terkesan kekanak-kanakan. Tapi J mengakui kalau dia tidak ingin menarik perhatian Ambar dengan cara-cara yang biasanya dia lakukan untuk menarik perhatian wanita-wanita lain. Karena Ambar berbeda.
“Hah?”
“Ya, kenapa harus pria lain? Kenapa bukan aku?”
“Karena ....”
Pikiran Ambar terasa kosong memikirkannya. Karena apa? Masa iya alasannya hanya karena pria ini menyebalkan dan selalu mengusiknya? Bahkan nenek-nenek saja akan tertawa mendengar alasannya.
Ah, kenapa semuanya jadi serumit ini?
Bukankah seharusnya fokus Ambar hanya untuk segera hamil secepat mungkin? Tanpa perlu memikirkan hal lainnya? Apalagi memikirkan tingkah menyebalkan pria yang dipilih? Selama dia menghamilinya, lalu pergi dari hidupnya, bukankah itu sudah cukup?
Ambar teringat kata-kata J tentang pertaruhan yang dilakukannya tentang Ambar, keberuntungan, coffee shop, dan takdir. Kenapa tidak sekarang Ambar yang melakukan pertaruhan itu? Dua bulan, waktu yang akan Ambar berikan pada J. Jika Ambar bisa hamil dalam waktu itu, berarti dia memang ditakdirkan memiliki anak. Jika tidak, Ambar rasa menyerah tidak selalu berarti sebuah kegagalan. Dia hanya harus merelakan satu hal dalam hidupnya.