Gaun merah muda.
Bolehkah Ambar menyebutnya gaun merah muda terkutuk? Gaun yang sebenarnya bukan Ambar benci, justru sangat disukainya. Gaun dengan model summer dress sederhana yang sangat manis. Namun karena satu dan lain hal, dia tidak suka dan tidak mau mengenakan gaun tersebut. Sama sekali. Mungkin sebagian masalah ada pada rasa percaya dirinya yang sangat minim. Gaun merah muda adalah gaun yang Inez berikan padanya dengan alasan gaun tersebut menonjolkan bentuk tubuh Ambar yang indah—itu kata Inez.
Ambar sendiri justru berpikiran lain. Gaun ini terlihat terlalu tidak senonoh saat dikenakan. Terlalu menonjolkan bagian tubuhnya yang memang menonjol di beberapa tempat. Bagaimana pun Inez meyakinkannya bahwa gaun tersebut semakin menonjolkan pesona yang ada dalam dirinya, Ambar selalu mengelak dengan kenyataan gaun tersebut bukannya menonjolkan pesonanya namun menonjolkan d**a dan pantatnya. Dan seolah ini, kesempatan yang sangat bagus, Inez memanfaatkannya dengan baik.
Ambar tidak dapat lagi mengelak tentang hal tersebut karena kenyataannya jika dia masih berniat memiliki anak seperti rencananya semula, dia harus mematuhi perintah Inez tersebut. Karena memang Inez menekankan bahwa dia telah memberi tahu pria yang akan janjian dengannya bahwa Ambar akan mengenakan gaun merah muda tersebut. Nah, Inez memang pintar. Membuat kelemahan Ambar menjadi keuntungannya. Ketidakpercayaan diri Ambar dikalahkan oleh keinginannya yang ingin segera memiliki anak.
Sehingga sekarang di sinilah Ambar.
Di depan tempat yang disebutnya tempat terkutuk, dan yang lebih dramatis lagi dia mengenakan gaun merah muda yang juga dikutuknya—kalau tidak mengingat itu hadiah dari Inez. Hah, entah kenapa rasanya hidupnya seolah dikutuk.
Hentikan! Dirinya tidak boleh berpikir hal-hal buruk, karena bisa-bisa nantinya justru hal buruk yang benar akan terjadi. Ambar menggeleng-gelengkan kepala mencoba menyingkirkan segala pikiran buruk tersebut.
Dengan sebelumnya menarik napas dalam dan kemudian mengembuskannya pelan, Ambar sedikit ragu saat akan memasuki coffe shop di hadapannya. Tiba-tiba teringat kejadian pertama dan terakhir kalinya di ke tempat tersebut. Bertemu tunangan wanita lain, kemudian dituduh pelakor dan berakhir bertemu dengan bartender menyebalkan, tentu saja bukan pengalaman yang menyenangkan.
Tiba-tiba saja terpikir, bagaimana jika ternyata beberapa pengunjung di sini adalah pengunjung tetap yang ada saat kejadiannya waktu itu, dan para pegawai di situ mengingatnya? Ambar merasa ragu untuk memasuki tempat tersebut. Dirinya tidak ingin dikenali dan diingat karena hal memalukan kemarin itu.
Rasanya ingin pergi saja dari tempat itu. Namun mengingat lagi bahwa ini adalah sebagian dari niat, rencana, dan keinginannya, mau tidak mau membuatnya harus membulatkan tekad. Kata-kata Inez terngiang kembali saat Ambar mengkonfrontasinya tentang tempat pertemuan dan gaun, “Bukan aku yang butuh cowok itu supaya hamil. Jadi, kalau memang kamu nggak mau bertemu dia, aku nggak akan menghalangimu.”
Ambar hanya bisa menghela napas sebelum akhirnya membuka pintu coffe shop yang sangat dikenalnya tersebut. Ya, walaupun dia baru satu kali ke tempat itu, tapi sudah mendapatkan kenangan yang terasa nano-nano di sana yang membuatnya bergidik ngeri setiap mengingatnya. Bukan salahnya jika masuk ke sana rasanya seperti masuk ke dalam ruang BK saat sekolah dulu. Takut, khawatir, sedikit panik, dan ada rasa- rasa terpaksa untuk memasukinya.
Namun mengingat lagi bahwa ini demi dirinya sendiri, Ambar harus memantapkan diri.
Berusaha cuek, seolah orang asing yang baru ke sana atau pelanggan yang sudah sering ke sana, Ambar segera ke tempat pemesanan minuman dan memesan segelas ice coffe latte. Paling tidak satu keuntungan didapatkannya harus bertemu dengan pria yang Inez pilih di tempat ini. Dirinya dapat merasakan ice coffe latte yang rasanya sangat sesuai dengan seleranya. Ditambah lagi, Ambar juga dapat mencoba donat gula halus yang kemarin diincarnya namun belum sempat dicobanya.
Memandang sedikit berkeliling, mata Ambar sama sekali tidak melihat bartender menyebalkan yang sebenarnya sudah membantunya—tetapi karena sikapnya yang terlalu menyebalkan, Ambar tetap menganggapnya menyebalkan. Para pelayan di sana terlihat sangat profesional. Para pengunjung tidak ada yang memperhatikannya. Semuanya seperti benar-benar sudah lupa pada kejadian yang menimpanya. Padahal kejadian itu baru satu minggu yang lalu. Tidak terlihat satu orang pun yang bertingkah mencurigakan. Ambar mulai berpikir bahwa dirinya lebih mencurigakan dari mereka semua. Atau jangan-jangan selama ini bayangan tentang orang-orang masih mengingatnya hanya keparnoannya semata?
Setelah membayar, Ambar segera menuju ke tempat duduk yang dipilihnya. Tempat yang strategis menurutnya. Jauh dari meja yang dulu didudukinya dengan Bambang. Ambar justru memilih tempat duduk di bagian pojok coffe shop, di mana di sana sedikit tertutupi oleh pohon palem yang memang sudah ada di sana. Paling tidak apa pun interaksinya dengan pria pilihan Inez nanti, tidak akan terlihat dari tempat kasir dan bartender.
Setelah mendudukan diri, Ambar merasa dirinya bisa bernapas lega. Sepertinya benar, ini semata-mata hanya keparnoannya saja. Ambar merasa ingin tertawa mengingat tingkah parno yang sepertinya sudah terlalu berlebihan dirasakannya.
Tanpa perlu menunggu lama, pesanannya sudah datang. Dengan sebelumnya mengamati keadaan sekitar satu kali lagi, dan tidak menemukan adanya kejanggalan. Sepertinya kali ini Ambar sudah benar-benar bisa bernapas lega.
Mendudukkan diri semakin nyaman di sofa sudut ini, Ambar lebih dulu melepas jaket yang sedari tadi dikenakannya. Ambar sengaja mengenakan jaket tersebut untuk sedikit menutupi ketidaksenonohan yang ditampilkan oleh gaun merah mudah walaupun tidak terlalu berguna. Karena ya, jaket tersebut dapat menutupi dadanya, namun kaki, paha, dan pantatnya cukup terekspos disebabkan oleh panjang gaunnya yang hanya sebatas lutut. Ah, tepatnya di atas lutut. Benar-benar membuat tidak nyaman. Oleh karenanya tadi Ambar sengaja pergi ke tempat tersebut dengan gocar, bukannya gojek. Membayangkan harus membonceng motor dengan gaun ini. Ugh! Bencana!
Setelah melepas jaketnya, Ambar juga segera melepas kacamata hitam dan masker yang dikenakannya demi menutupi wajahnya supaya tidak dikenali yang sepertinya hanya keparnoan semata. Lagipula rasanya aneh di tempat senyaman ini tapi masih harus mengenakan kacamata hitam dan masker. Apalagi ice coffe latte dan donat di hadapannya begitu menggugah selera, merepotkan jika harus tetap mengenakan maskernya.
Sebuah kebebasan yang didapatkan setelah melepas benda-benda tersebut benar-benar menyenangkan. Tanpa menunggu lama Ambar segera meraih ice coffe latte-nya dan menyesapnya nikmat. Donatnya juga tidak luput dari aksinya menikmati kenyamanan yang ada. Sepertinya tempat ini sudah bukan lagi tempat terkutuk yang dikenalnya, Ambar segera meralat pikirannya kemarin. Kenyamanan yang didapat saat pertama kedatangannya ke coffe shop kini juga didapatkannya kembali.
Seolah kenyamanan tersebut menandakan sebuah awal yang baru seperti perasaannya saat ini. Dan pikiran baik tersebut berlanjut hingga membuat Ambar berpikir bahwa ini pertanda, hal baik akan segera terjadi. Ambar rasa dia akan mempercayai Inez kali ini. Pilihan Inez adalah pilihan terakhir dan terbaiknya. Ambar dapat merasakannya.
Namun semua pikiran tersebut musnah saat sebuah suara yang entah bagaimana menjadi sangat diingatnya menyapa, “Ambar Anindya.”
“KAMU?” tanya Ambar terkejut saat di hadapannya senyum menyebalkan bartender menyebalkan kemarin membuatnya sedikit tidak mempercayai penglihatan dan pendengarannya. Ambar Anindya katanya? Jangan bilang dia ....
“Perkenalkan aku Joko Lesmana. Tapi biasa dipanggil J. Senang bertemu denganmu.” Senyum yang saat ini ditunjukkannya benar-benar membuat Ambar ingin memukulnya. Kerlingan dalam mata pria itu jelas terlihat mencemoohnya.
Ah, sial! Hal baik apanya? Yang ada semuanya terasa menyebalkan!
Bagaimana mungkin pria yang Inez pilih adalah bartender menyebalkan yang sebisa mungkin ingin dihindarinya? Ambar rasa dirinya benar-benar dikutuk!