Tolong.
Satu kata yang membuat Inez segera melajukan motornya sepulang kerja dengan kecepatan tinggi untuk segera menemui Ambat. Entah apa yang terjadi padanya sehingga kata tersebut muncul di pesan terbarunya untuk Inez.
Namun segala kekhawatiran, kepanikan, dan ketakutan yang dirasakannya segera hilang saat dilihatnya Ambar duduk mematung di depan komputer. Terlihat sedang merenung atau melamunkan sesuatu. Inez langsung menghela napas lega. Sahabatnya itu baik-baik saja. Tidak ada yang terjadi padanya, setidaknya untuk saat ini.
“Kalau kirim pesan yang wajar dong. Jangan cuma kata tolong doang. Kukira diculik mafia kamu.” ucap Inez yang hanya dibalas oleh wajah bingung Ambar yang seolah baru menyadari keberadaan Inez. Padahal jelas-jelas Inez datang dengan segala keributan yang selalu dia buat, dari membuka gerbang rumah Ambar hingga meletakkan barang-barang dengan berisik. “Loh, kamu di sini?”
Refleks Inez langsung mendekati Ambar dan menempelkan punggung tangannya ke kening Inez, mencoba mengukur suhu tubuhnya. Suhu tubuhnya wajar-wajar saja, tidak tinggi juga tidak rendah, yang artinya Ambar benar-benar baik-baik saja. Tapi kenapa dia seperti orang linglung begini?
“Kenapa kamu sih? Aneh!” ucap Inez yang segera menangkup wajah Ambar dengan kedua tangan dan memeriksa dengan lebih teliti. Tidak ada yang aneh juga dari wajahnya. Hanya aura kebingungan yang sangat jelas terlihat melingkupi ekspresi Ambar saat ini.
“Aku nyerah, Nez.” ucap Ambar tiba-tiba yang membuat Inez menatapnya bingung. Nah kan, kenapa situasinya jadi serba membingungkan seperti ini? Inez hanya mengamati Ambar yang terlihat sedih. Seperti apa yang membuatnya menyerah itu benar-benar menyedihkan. Tapi menyerah tentang apa?
“Nyerah kenapa? Ada apa?”
“Kayanya memang Tuhan larang aku punya anak.” ucap Ambar menyedihkan yang segera saja menyadarkan Inez apa yang mengganggu pikiran sahabatnya itu.
Sejak Ambar memutuskan untuk mencari pria pendonor s****a dari f*******:, Inez memang selalu bertanya. Apa yang terjadi? Bagaimana perkembangannya? Dan hal-hal lain yang memang perlu dia tahu sebagai bukti bahwa dia akan selalu mendukung keputusan Ambar apa pun yang terjadi. Namun memang kabar terakhir Ambar tentang kedua calon yang mengecewakan membuat Ambar mulai menyerah dan kehilangan harapan. Berbeda dengan saat kemarin Inez menentang ide Ambar terang-terangan, dan Ambar yang sudah teguh dengan keputusannya, keadaan justru berbalik. Ambar yang mulai menyerah dan Inez yang mencoba meyakinkan Ambar.
“Kenapa kamu bilang begitu?”
“Karena memang begitu kenyataannya. Lihat aja. Dua calon yang kupilih, kamu tahu sendiri kan apa yang terjadi?” Terlihat Ambar berucap dengan keteguhan yang mirip dengan sewaktu dia memutuskan mencari pendonor melalui f*******:.
“Tahu! Yang pertama ternyata punya tunangan, yang kedua nawarin diri kaya nawarin dagangannya. Terus masalahnya di mana?”
“Ya itu, masalahnya.”
“Apa? Tunjukkin sama aku yang jelas, di mana letak masalahnya?” tanya Inez mulai kesal. Kesabarannya mulai tipis menghadapi sindrom ingin punya anak milik Ambar ini. Inez sudah berjanji akan mendukung semua keputusan yang dibuat oleh Ambar. Tetapi jika sahabatnya ini terus berubah pikiran seperti ini, wajar kalau Inez mulai merasa kesal.
“Ya ituuu ....” ucap Ambar lemah. Kekesalan Inez yang tadinya membuncah langsung surut mendengar nada lemah Ambar tersebut.
“Baru dua kali kan kamu coba, Ambar. Bukankah katamu kegagalan itu kunci dari sebuah kesuksesan? Dua kali kegagalan itu hanya permulaan keberhasilanmu yang memuaskan nantinya. Percaya sama aku.” Nasehat Inez pada Ambar.
“Aku selalu percaya sama kamu. Tapi aku nggak percaya sama diriku sendiri.” Inez hanya bisa menghela napas mendengar jawaban Ambar tersebut. Sebuah ketidakpercayaan pada diri-sendiri ditambah dengan kekeraskepalaan jelas tidak akan berakhir dengan baik. Dan Inez tahu kekeraskepalaan Ambar sudah tidak dapat tertolong, jadi hanya satu yang dapat dilakukannya untuk menolong Ambar.
“Kamu beneran percaya sama aku?” Ambar menganggukkan kepalanya keras menjawab pertanyaan Inez tersebut.
“Beneran?”
“Iya.”
“Berani sumpah!”
“Ini kenapa jadi sumpah-sumpah segala?” tanya Ambar bingung dengan arah yang dituju oleh semua perkataan Inez tersebut. Bukankah sudah jelas Ambar katakan kalau dia percaya sepenuhnya pada Inez? Sudah bertahun-tahun mereka bersahabat dan hingga saat ini tidak sekali pun Inez meninggalkannya karena alasan apa pun. Bahkan semenyebalkan apa pun sikap Ambar, Inez tetap mendukungnya apa pun yang terjadi. Jadi jawabannya jelas ya, Inez adalah orang yang paling Ambar percayai.
“Jawab dulu.”
“Iya. Sumpah! Aku percaya banget sama kamu.”
“Kalau gitu, minggir kamu.” Dengan seenaknya Inez segera menyingkirkan Ambar yang sejak tadi masih duduk di depan komputernya. Sedikit memaksa, Inez menarik Ambar untuk berdiri dari kursi, dan gantian mendudukkan dirinya di sana.
“Heh ... apa-apaan kamu?” tanya Ambar yang tentu saja kebingungan dengan tingkah Inez tersebut.
“Kalau kamu percaya sama aku, menyingkir dari sini.” ucap Inez mengibaskan tangannya mengusir Ambar dari hadapannya. “Kamu mau anak? Aku pastikan kamu bakalan mendapatkannya.”
“Tapi, Nez ...?” Ambar terlihat bimbang mentap Inez, dirinya masih belum beranjak sedikit pun dari tempatnya berdiri saat ini.
“Apalagi?”
“Kamu yakin? Kamu nggak bakalan aneh-aneh kan?” tanya Ambar yang masih enggan beranjak. Menatap bolak-balik antara wajah Inez dan layar komputernya. Karena dengan sigap Inez langsung membuka web f*******:-nya. Tanpa perlu menebak, Ambar sudah mengerti apa yang sedang Inez lakukan.
“Bukannya yang selalu aneh-aneh itu kamu? Dan aku yang selalu bertugas membenahi keanehan kamu itu?” Ambar hanya bisa menjawabnya dengan anggukan. Karena memang itu yang selalu terjadi. Macam-macam hal selalu terjadi padanya, dan seringkali Inez yang membenahi segala kerumitan yang terjadi padanya. Ambar tidak akan pernah berhenti bersyukur karenanya. Walaupun dia sebatang kara di dunia ini, tumbuhan karanya melilit kuat pada sebatang bambu. Dan bambu tersebut adalah Inez, satu-satunya sahabat miliknya yang selalu ada entah untuk menegur atau mendukungnya.
“Oke, aku percaya sama kamu.” Jawab Ambar akhirnya mulai beranjak walau terlihat sedikit tidak rela. Media sosial yang rasanya merupakan bagian dari privasinya diotak-atik oleh Inez. Namun Ambar sadar, Inez melakukannya demi dirinya. Jadi, sepertinya sabar menunggu adalah yang terbaik dilakukan saat ini.
Butuh sekitar tiga jam bagi Inez untuk melakukan apa yang seharusnya dia lakukan. Dengan hasil sebuah alamat yang ditulisnya di secarik kertas yang saat ini dipegangnya erat. Senyum lebar menghias wajah Inez yang sebenarnya terlihat lelah—bagaimana tidak saat sepulang kerja dia langsung menuju ke rumah Ambar.
“Besok lusa, jam lima sore. Temui pria bernama Joko Lesmana di tempat ini.” Ucap Inez sembari menyerahkan secarik kertas yang berisi alamat tadi.
Joko Lesmana, pria yang dipilihnya untuk Ambar. Inez telah melakukan cross check selama kurang lebih tiga jam dengan hasil yang positif. Joko adalah calon yang tepat untuk menghamili Ambar.
“Joko Lesmana?”
“Yup. Kamu kenal?” tanya Inez yang segera dibalas oleh gelengan kepala oleh Ambar.
“Aku udah periksa semua. Latar belakang dan hal-hal lain sesuai dengan keinginanmu.” lanjut Inez lagi. “Bahkan namanya pun terasa sangat Jawa sesuai dengan seleramu. Walaupun kuakui namanya itu menggelikan untukku.”
“Sedangkan untuk wajah, aku yakin kamu akan menyukainya. Jadi, percayalah padaku. Datanglah ke alamat itu besok lusa jam lima sore.” ucap Inez lagi sembari mulai meraih barang-barangnya. Tubuhnya mulai terasa lelah, namun kelegaan karena dapat menyelesaikan satu lagi masalah Inez membuatnya merasa sedikit ringan. Dan, sepertinya sudah saatnya dia pulang.
“Cuma begitu? Kamu nggak nunjukkin seperti apa fotonya dan informasi apa aja yang udah kamu dapet?” tanya Ambar bingung.
“No! f*******: kamu sementara ini kuganti password dan akan kuberikan kalau kamu sudah bertemu dengan pria itu.”
“HAH? JANGAN GILA KAMU, NEZ!” teriak Ambar yang segera mendekati komputernya dan mencoba membuka facebooknya yang berakhir gagal.
“Pikir saja besok kamu akan kencan buta.” Jawab Inez dengan seringai menggoda. “Udah ya, aku pulang dulu.”
Tanpa menunggu dan mengerti kebingungan Ambar yang masih berusaha membuka f*******:-nya, Inez segera pergi dari rumah Ambar untuk pulang ke kosannya.
Dengan kesal Ambar hanya bisa membanting tetikusnya saat menyadari apa yang dilakukan Inez. Sahabatnya itu memang selalu mendukungnya dalam segala yang terjadi. Tetapi terkadang penyelesaian masalah yang dia lakukan selalu tidak dapat Ambar mengerti.
Menghela napas, akhirnya Ambar melihat secarik kertas yang tadi Inez berikan. Dan di situ terlihat jelas sebuah nama dan alamat yang Ambar kenal.
KOPI KINI.
Hah, Inez pasti sedang bercanda dengannya! Tempat terkutuk itu justru menjadi tempat pertemuan Ambar dengan pria entah siapa yang Inez pilih? Oh, Tuhan.
Tidak berselang lama, sebuah pesan masuk. Tertera jelas di sana nama Inez.
Besok pakailah gaun merah jambumu. Itu dress code untuk bertemu kencan butamu.
Gaun merah jambunya? Hadiah dari Inez yang sama sekali belum pernah dipakainya. Dan sekarang Inez memaksanya untuk memakai gaun tersebut? Inez benar-benar sialan!