Agung Pambudi Akbar.
Nama calon kedua yang Ambar pilih. Calon yang Ambar pilih dengan lebih matang dan hati-hati untuk menghindari kejadian seperti kemarin. Dirinya masih sering bergidik ngeri saat harus mengingat hal itu. Panggilan pelakor untuknya terasa sangat mengganggunya. Dia tidak mau dan tidak ingin dicap dengan nama tersebut.
Untuk masalah moral mungkin dirinya bisa disebut setara dengan para pelakor tersebut—meminta dihamili orang asing. Tapi paling tidak Ambar tidak ingin dan tidak bermaksud mengganggu sesuatu yang bukan miliknya. Dia hanya ingin hamil kemudian membesarkan anaknya sendiri, tidak kurang tidak lebih. Mungkin kesalahannya juga karena tidak menyebutkan tentang status single sebagai salah satu persyaratannya kemarin.
Diperiksanya kembali chat dengan Agung kemarin. Dengan detail Ambar menanyakan tentang status Agung kemarin.
Punya pacar? Tidak.
Punya tunangan? Tidak.
Punya istri? Tidak.
Punya anak? Tidak.
Agung juga menjelaskan bahwa dia hanya tinggal bersama ibu dan dua orang adiknya. Memberi banyak bukti tentang status single-nya termasuk foto-foto. Bahkan di status KTP-nya tertera status belum kawin. Sama seperti Bambang kemarin, tetapi menurut Ambar Agung lebih bisa dipercaya daripada Bambang. Dan semoga saja hal itu benar.
Melirik jam tangan di tangan, ya, lagi-lagi Ambar datang lebih awal. Sepertinya sudah menjadi kebiasaan untuk datang lebih awal. Untuk bertemu dengan Agung, Ambar sengaja memilih family resto dengan sekat-sekat bambu yang dapat memberikan privasi bagi para tamunya. Tidak akan lagi Ambar memilih coffee shop sebagai tempat pertemuan. Apalagi coffee shop kemarin. Walaupun terkadang dirinya tidak tahu malu, tetapi dilabrak wanita lain tentu menjadi hal yang sangat memalukan sehingga Ambar tidak ingin mengingatkan orang lain dengan kejadian tersebut.
Apalagi saat mengingat kemarin saat Ambar membuka menu profil f*******: Bambang, dia memposting foto pertunangannya dan foto undangan pernikahan yang akan dilaksanakan bulan depan. Bulan depan dia mau menikah dan seenaknya saja dia mendaftarkan diri menjadi calon Ambar. Mungkin dikiranya Ambar akan bisa digunakannya sebagai tubuh hangat alat latihannya sebelum malam pertama. Rasanya kalau mengingat itu Ambar merasa geram sekaligus malu menyadari kebodohannya.
Sudah ... lupakan hal itu. Sudah berlalu dan tidak perlu diungkit lagi.
Toh Ambar sudah memilih calon yang baru—yang semoga saja sesuai dengan yang diharapkannya.
Tepat saat pikirannya tersebut selesai, terlihat seorang pria berpenampilan necis lengkap dengan tas ransel berdiri di hadapannya.
“Ambar ya?” tanyanya yang segera disambut dengan anggukan kepala dan senyum dari Ambar. Ya, Agung ternyata terlihat lebih menarik daripada di foto. Berbalut kemeja biru muda lengan panjang, dasi berwarna merah, dan celana kain berwarna navy, menimbulkan kesan seorang pekerja keras. Ditambah senyum dengan gigi putih dan berderet rapi, tiba-tiba Ambar memikirkan kata sales yang melekat pada Agung.
“Mas Agung ya? Silakan duduk. Maaf saya pilih tempat duduk lesehan, karena merasa lebih nyaman di sini.” Dengan gestur tangan, Ambar mempersilakan Agung untuk duduk di hadapannya yang segera dituruti oleh Agung. “Terima kasih.”
“Mau langsung pesan makanan atau ....” Belum selesai Ambar berkata saat dilihatnya Agung sibuk mengibaskan tangannya, “Nggak usah. Nanti saja. Saya datang ke sini dengan persiapan yang lengkap. Jadi biar saya jelaskan dulu, setelah itu baru kita makan.”
Ambar hanya memandang bingung saat tiba-tiba Agung membuka tas ranselnya, mengeluarkan laptop dan map yang terlihat berisi beberapa dokumen.
Persiapan apa yang membutuhkan laptop dan dokumen seperti ini? Bingung Ambar menatap Agung yang saat ini mulai menyalakan laptopnya.
“Sebelumnya perkenalkan nama saya Agung Pambudi Akbar.” Agung memulai penjelasannya lengkap dengan senyum ala pasta gigi yang menurut Ambar sangat mencerminkan jiwa seorang sales.
“Orang-orang bisa memanggil saya Apa.” Jelasnya lagi yang otomatis membuat kening Ambar berkerut. Tanpa sadar Ambar mengulangi nama itu dengan penuh tanya, “Apa?”
“Iya, Apa. Itu singkatan dari Agung Pambudi Akbar. A ... P ... A ....”
Kening Ambar semakin berkerut mendengarkan penjelasan Agung tersebut. Ah, ralat, Apa. Hah, rasanya Ambar ingin menghela napasnya keras-keras. Orang seperti apa yang memilih dipanggil Apa daripada Agung? Tiba-tiba Ambar merasa terjebak dengan suasana yang mirip dengan sebuah kegagalan.
Namun sebuah pikiran positif mencoba menenangkannya. Itu hanya masalah nama, toh tadi Agung, eh Apa, tidak keberatan saat dia memanggilnya Agung. Lagipula, apalah arti sebuah nama? Supaya kita lebih mudah untuk memanggil, menyebut, atau sekedar membedakan satu manusia dengan manusia yang lain.
Tiba-tiba saja Agung membalik laptopnya supaya menghadap padaku. Dan di layarnya terbuka sebuah halaman power point dengan background foto wajah Agung yang terpampang nyata di sana. “Bisa dilihat di sini. Saya membuat biodata pribadi supaya Ambar bisa mengenal saya dengan lebih baik.”
Terlihat di sana sebuah biodata diri lengkap. Nama, tempat tanggal lahir, alamat, sampai pendidikannya sejak TK hingga sarjana tertera lengkap di sana. Ah, bayangkan sebuah curriculum vitae yang ada di surat lamaran pekerjaan, seperti itulah biodata diri yang Agung perlihatkan padanya. Ambar yang masih bingung hanya bisa mengangguk-anggukkan kepalanya seolah mengerti. Padahal otaknya benar-benar tidak habis pikir dengan sosok pria di hadapannya ini.
“Bisa dilihat di situ, saya lulus dari sekolah negeri favorit di Kota Pekalongan. Lalu lulus dari Universitas Diponegoro Semarang dengan IPK 3,56. Untuk lebih meyakinkan, saya membawa ijazah-ijazah saya. Lengkap.”
Terkejut, Ambar hanya bisa melongo saat Agung mengeluarkan dokumen yang disimpannya di map tadi. Diserahkannya ijazah SD, SMP, SMA, dan S1-nya kepada Ambar. Ambar segera tersadar dari rasa takjubnya saat lembaran-lembaran dokumen tersebut teracung di hadapannya. Demi membahagiakan Agung, Ambar meraih dokumen-dokumen tadi dan mencoba mengamatinya satu per satu.
Pertama-tama dilihatnya ijazah SD Agung. Dia lulus dengan nilai yang lumayan, tidak bagus sekali juga tidak jelek sekali, bisa disebut di tengah-tengah. Entah bagaimana fokus Ambar segera teralihkan pada foto bocah laki-laki menggemaskan yang ada di sana. Agung SD benar-benar berbeda dengan sekarang. Saat SD terlihat pipinya terlihat chubby dan membuat Ambar ingin menggigit pipi tersebut gemas. Matanya menyiratkan kejenakaan anak-anak yang tentu saja langsung melelehkan hati Ambar.
Setelahnya Ambar beralih ke ijazah SMP Agung. Tanpa melihat pada nilai yang tertera di sana, mata Ambar langsung terfokus pada foto bocah laki-laki yang mulai terlihat jejak kekanakannya memudar. Senyum yang diguratkan di sana adalah senyum penuh keisengan ala anak remaja. Wajah yang masih sama dengan pipi sudah berubah menjadi tirus.
Dan yang ketiga ijazah SMA di mana fotonya memperlihatkan wajah remaja yang sudah mulai mengenal cinta monyet. Senyum tengil yang pastinya memikat bagi siswa-siswa seusianya mau tidak mau membuat Ambar tersenyum.
Yang terakhir Ambar lihat adalah ijazah S1 milik Agung. Foto ijazahnya tidak lagi memperlihatkan sosok bocah, tetapi sudah berubah menjadi pria dewasa yang seolah-olah siap mengarungi rumitnya dunia kerja.
Memang wajah Agung bukan tipe tampan memikat seperti barista playboy di coffee shop kemarin. Tetapi melihat perkembangan wajahnya dari SD hingga S1, Ambar yakin Agung memiliki gen yang bagus untuk seorang anak kelak. Nah, tapi kenapa pikiran Ambar tertuju pada pria coffee shop kemarin? Duh ... lupakan!
Ambar kembali mengangguk-anggukkan kepalanya seolah sedang mengamati ijazah-ijazah tadi dengan cermat. Padahal di otaknya sedang menyusun cara, bagaimana menolak Agung. Entah kenapa semakin lama Ambar merasa semakin sesak dan merasa terjebak dengan suasana yang bukan saja mirip, tapi Ambar pastikan adalah sebuah kegagalan.
“Mungkin Ambar ada pertanyaan yang ingin ditanyakan? Saya siap menjawabnya.” Ucap Agung dengan senyumnya yang masih terlihat menawan ala iklan pasta gigi.
“Kalau boleh tanya. Mas Agung ... eh, maaf, Mas Apa kerja sebagai apa?” Saat pertanyaan tersebut meluncur dari bibir Ambar, entah bagaimana Ambar sudah bisa menebak jawabannya. Entah Agung ini bekerja sebagai sales atau staff marketing. Tebakan Ambar mengacu pada dua pekerjaan tersebut.
“Ah, saya bekerja sebagai staff marketing.” Dan bingo! Benar sekali tebakan Ambar. Sesuai sekali dengan apa yang dia lakukan sekarang dalam menawarkan dirinya, juga sesuai dengan senyum pasta giginya.
“Oh ya, satu lagi. Bolehkah saya memberi kepastian jawaban nanti melalui messenger? Karena rasanya saya butuh waktu untuk berpikir.” Tanya Ambar lagi yang segera dijawab Agung dengan anggukan kepala pasti.
“Ya, tidak apa-apa. Saya akan menunggu jawaban Ambar via messenger. Jadi, sekarang kita bisa mulai memesan makanan?” tanya Agung yang segera dijawab Ambar dengan anggukan kepala.
Ya, yang pasti Ambar tidak akan bisa menolaknya dengan berhadapan langsung seperti ini. Tapi nanti lewat messenger, Ambar akan langsung menolaknya. Kegagalan pertama terasa sesuatu yang biasa, namun kegagalan kedua ini seolah semuanya sudah hancur. Sepertinya memang Ambar tidak boleh memilih calonnya sendiri. Karena siapa pun calon yang dipilihnya akan berakhir dengan sebuah kegagalan yang jelas mengecewakannya.