“Jadi ... kamu pelakor?” Pertanyaan tersebut secara otomatis menghentikan langkah kaki Ambar yang baru saja keluar dari kamar mandi. Siapa sebenarnya pria ini? Ambar sama sekali tidak mengenalnya, tapi entah kenapa pria ini bertingkah seolah-olah mereka sudah lama mengenal. Tatapan matanya tadi sewaktu berada di coffee shop juga terlihat seperti itu. Bahkan kini pria itu mencampuri urusan yang bukan urusannya. Hanya karena mendengar tuduhan wanita tadi pria ini berpikir dia juga bisa dengan santainya bertanya hal seperti itu padanya? Hah! Memangnya siapa dia?
“Apa urusannya kalau aku pelakor? Masalah buat kamu?” jawab Ambar ketus. Pelakor? Ambar bergidik ngeri membayangkan kalau saja pertemuannya dengan Bambang tadi berjalan dengan lancar, kemudian dia hamil, sebutan itu akan benar-benar melekat padanya. Meskipun hubungan Bambang dan wanita tadi hanya sekedar tunangan, tetap saja Ambar akan merasa seperti telah mengkhianati wanita lain.
Ya Tuhan ... entah dia harus merasa kesal atau justru bersyukur. Memang kejadian di luar tadi memalukan dan mengesalkan, dengan teriakan wanita tadi yang pastinya menarik perhatian semua orang yang ada di coffee shop, namun Ambar juga tidak bisa berhenti bersyukur dijauhkan dari kejadian seperti tadi di masa yang akan datang. Membayangkannya saja membuat bulu kuduk Ambar meremang.
Ini semua salahnya, bisa-bisanya dia tidak menanyakan status Bambang sebelum mereka bertemu. Kesalahan yang tidak akan dilakukannya lagi. Lain kali dia akan menanyakan dengan lebih detail tentang topik yang menyangkut keberadaan wanita lain di sisi calon yang akan dipilihnya.
Lain kali? Tiba-tiba Ambar baru terpikir kemungkinan harus memilih pria lain untuk menghamilinya. Benaknya langsung saja mengerang hanya membayangkannya. Kenapa mencari pria untuk menghamilinya ternyata tidak semudah yang dipikirkan? Rasanya ada saja yang menghalangi. Ataukah mungkin benar kata Inez, idenya ini terlalu gila? Haruskah dia menyerah saja dan menerima saja hidupnya dalam kesendirian?
Tidak! Ambar tidak akan menyerah begitu saja. Ini baru satu kali. Kegagalan mungkin saja terjadi dalam satu kali percobaan ini. Asal Ambar bertekad, hal seperti ini tidak akan terjadi lagi. Trial and error. Ambar dapat menganalisis kesalahan hari ini hingga ke depannya dia tidak akan gagal lagi. Ya, keputusan sudah dibuat. Tanpa sadar Ambar tersenyum untuk menyemangati dirinya sendiri. Dan hal itu jelas tidak luput dari pengamatan J yang sejak tadi menatapnya sejak mendengar suara pintu kamar mandi dibuka.
“Bisa ya ... bisa tidak.” Jawab J yang saat ini hanya tersenyum menatap ekspresi Ambar yang berubah-ubah. Sesaat dia terlihat kesal padanya, lalu bergidik, mengerutkan keningnya berpikir, dan tiba-tiba senyum yang sangat manis tersungging di bibirnya. Senyum manis langsung luntur digantikan oleh kerutan di kening. Ambar tiba-tiba menatapnya seolah baru menyadari ada J di hadapannya.
“Hah? Maksudnya?” tanya Ambar dengan wajah benar-benar bingung.
“Bisa ya atau tidak, masalah tadi akan menjadi urusanku.” Jawab J santai yang membuat kening Ambar semakin berkerut, menandakan kebingungannya.
“Aku nggak ngerti.”
“Ah ya, jadi? Kamu beneran pelakor?” J mengalihkan pembicaraan, mencoba mengulang pertanyaan yang sebenarnya dia sudah tahu jawabannya. Bukan. Ambar jelas bukan pelakor. Entah bagaimana J bisa meyakini hal itu. Hanya saja dia tahu, Ambar bukan jenis wanita yang rela hanya dijadikan seorang selingkuhan atau istilah keren saat ini pelakor.
Teringat kembali status Ambar yang meminta dihamili tanpa butuh pertanggung jawaban dari pihak pria saja sudah membuktikan dia tidak membutuhkan pria dalam hidupnya. J hanya ingin menggoda Ambar saja dengan menanyakan hal tersebut. Lagipula, dengan begini Ambar akan semakin lama bersamanya.
“Apaan sih?” Wajah kesal Ambar sudah kembali. Dan J lebih menyukai ekspresi kesal Ambar tersebut daripada keningnya yang berkerut-kerut seperti tadi.
“Aku bertanya serius.” Ucap J yang memasang wajahnya dengan seserius mungkin. Padahal dalam hatinya merasa gemas dengan wajah kesal yang diperlihatkan Ambar saat ini. Jika kesal, Ambar otomatis akan memelototkan matanya yang bulat, pipinya akan merona, dan bibirnya akan membentuk garis lurus tipis, keseluruhan ekspresi itu benar-benar menggemaskan di mata J.
“Memangnya mau apa sih?” tanya Ambar terdengar tidak sabar. Ambar bertanya-tanya, apa yang sebenarnya pria ini mau? Rasa penasarannya tentang apakah Ambar benar-benar pelakor atau bukan terasa sangat mengganggu.
“Mau komentar.” Jawab pria di hadapannya yang membuat Ambar ingin sekali menepuk keningnya keras. Dia menanyakan itu untuk berkomentar? Hah! Benar-benar menyebalkan! Sudah Ambar duga kalau pria ini benar-benar menyebalkan.
“Kalau iya, terus?” balas Ambar sewot.
“Enggak apa-apa sih. Tapi sayang ....” jawab J yang tiba-tiba saja ingin menggoda Ambar, sengaja mengucapkan kata sayang supaya terdengar seperti seperti memanggil Ambar dengan kata itu.
“Sayang?” tanya Ambar kembali bingung.
“Iya, sayaaang ....” balas J dengan sok mesra yang saat itu juga membuat Ambar sadar apa yang sedang pria itu lakukan. “Hih? Apaan sih? Gaje banget.”
“Nggak apa-apa kok, sayang. Manggil aja.” tambah J lagi yang membuat Ambar bergidik geli. Dan melihat ekspresi Ambar tersebut, mau tak mau J tertawa. Memanggil Ambar sayang entah kenapa seperti memaksa Ambar menelan kodok bulat-bulat. Wajahnya saat ini menyiratkan ketidakpercayaan dan kekesalan yang jelas ditujukan pada J. “Ih, apaan sih?”
“Tapi beneran loh. Sayang ....” ucap J kali ini serius. Walaupun dia yakin Ambar bukan pelakor, J pasti akan menyayangkan kalau kenyataannya keyakinannya salah. Toh dia hanya manusia biasa. Tebakannya belum tentu benar.
“....”
Namun ucapannya tadi sama sekali tidak mendapatkan balasan dari Ambar. Sepertinya Ambar takut dia akan menggodanya seperti tadi. Tapi J sama sekali tidak berniat menggoda Ambar lagi. Dia benar-benar hanya ingin mengatakan kalimat yang sejak tadi disimpan-simpannya dalam hati. “Sayang banget kalau cewek secantik kamu cuma jadi pelakor.”
“Duh, bukan urusanmu juga. Tapi makasih atas pujiannya.” Ambar berkata dengan setengah hati.
“Siapa yang muji?” tanya J dengan senyum menggoda yang membuat Ambar mencebikkan bibirnya kesal. “Lupain aja.”
“Ah, ya. Aku mau bilang terima kasih sudah menolongku tadi dan terima kasih sudah meminjamiku kaos ini.” Kali ini Ambar berkata dengan tulus. Mengingat lagi kalau tadi pria ini telat satu detik saja, bukan hanya baju basah yang dia dapatkan, tapi juga luka memerah akibat tamparan. Dan pinjaman kaos yang saat ini dikenakannya benar-benar membantu. Kemeja putihnya benar-benar tidak bisa diselamatkan, jika dia nekat memakainya, bisa-bisa sepanjang jalan dia akan menjadi tontonan orang-orang.
“Sama-sama.”
“Sebaiknya aku pamit.” Ucap Ambar yang mulai beranjak dari tempatnya berdiri, bermaksud untuk segera keluar dari coffee shop tersebut. Dalam hati Ambar berjanji tidak akan menginjakkan kakinya lagi di tempat ini. Rasanya malu jika mengingat keramaian yang dia timbulkan tadi. Dan pastinya hal itu akan diingat oleh orang-orang yang ada di coffee shop ini, terlebih para pegawai di sini.
Tetapi belum sampai di pintu saat Ambar teringat kaos yang dikenakannya sekarang. Dia harus mengembalikan kaos ini. “Oh ya, aku pasti akan mengembalikan kaos ini setelah kucuci nanti.”
“Nggak usah dipikirkan. Ambil saja kaosnya.” Jawab J yang langsung sadar bahwa jawabannya benar-benar bodoh. Kalau Ambar mengambil kaos itu, dia tidak akan kembali ke sini. Paling tidak dengan kaos itu, ada satu alasan yang membuat Ambar datang ke situ. Jadi saat itu juga J meralat jawabannya, “Eh, jangan. Kembalikan kaosnya. Aku menunggu.”
“Iya! Pasti akan langsung kukembalikan setelah mencucinya.” Dengan kesal Ambar mulai berpaling dan berjalan lagi saat didengarnya pria tadi bertanya, “Namamu siapa? Namaku J.”
“Nina.” Hanya itu jawaban yang Ambar berikan sebelum dirinya menghilang di balik pintu.
Nina? J hanya bisa tertawa mendengarnya. Wanita pintar. Dia tidak memberikan nama aslinya begitu saja pada J. Ah, hari ini benar-benar hari yang menyenangkan bagi J. Bertemu dengan Ambar dan menggodanya benar-benar menyenangkan. Dan J berharap dia akan bisa melakukannya lagi. Secepatnya!