J merasa tertegun saat ini. Diam-diam jantungnya merasakan sebuah degupan samar yang menimbulkan kebahagiaan. Dewi fortuna pasti sedang berpihak padanya. Keberuntungannya masih belum memudar seiring dengan waktu.
Dirinya masih tertegun sejak mendengar bunyi lonceng depan coffee shop-nya berbunyi, menandakan ada pengunjung baru yang datang. Dan wajah familiar yang saat ini berada tidak terlalu jauh darinya terasa tidak asing. Seakan J sudah mengenalnya sebelum benar-benar berkenalan dengannya. Walau belum pernah bertemu, namun wajah itulah yang beberapa hari ini selalu menghantui otak dan pikirannya, terlebih lagi saat malam tiba. Wajah yang mau tidak mau dihafalnya akibat terlalu sering hilir mudik di dalam otak dan pikirannya.
Ambar Anindya.
Oh, benar-benar pucuk dicinta ulam pun tiba. J sama sekali tidak menyangka keberuntungannya bertemu dengan Ambar saat ini. Bertemu dengannya saat yang diharapkannya hanya sebuah pesan melalui messengernya. Tak dipungkirinya, hingga saat ini J masih menunggu balasan dari Ambar. Sungguh bohong kalau dulu dia bilang dia hanya menguji keberuntungannya saja. Jika dipilih berarti dia beruntung, jika tidak berarti tidak ada ruginya bagi J. Tapi kenyataannya otaknya sama sekali tidak bisa melupakan, dan hatinya pun tidak bisa berhenti berharap. Bahkan jiwa pemberontaknya sedari kemarin memaksa untuk mencoba mengirim pesan baru kepada Ambar, untuk memastikan bahwa dialah pilihan terbaik untuk Ambar. Untung saja semua itu dapat ditahannya.
Dan kini yang terjadi sungguh di luar dugaan. Ambar justru berada di hadapannya. Hanya berjarak lima meter di depannya, sedang duduk mengamati coffee shop kebanggaannya ini. J rasa Tuhan pasti berbahagia saat menciptakannya, hingga banyak sekali keberuntungan yang terjadi dalam hidupnya.
Masih tetap dengan posisi tertegunnya. Mata melotot, terlalu terkejut dan merasa tidak percaya, ditambah dengan mulutnya yang pasti ikut terkejut hingga pastinya membuka dengan tampannya. Intinya seluruh tubuhnya saat ini seakan membeku. Benar-benar mimpi yang menjadi nyata.
J bahkan sama sekali tidak menyadari bagaimana Ambar masuk, mendekat ke arah kasir, memesan secangkir ice coffee latte, dan memilih tempat duduk yang tidak jauh dari tempatnya berdiri saat ini. Semua tatanan pikirannya seolah hancur saat wajah cantik tersebut muncul dari balik pintu kaca coffee shop-nya. Sebuah gelas di tangannya seolah terlupakan. Entah apa yang akan dilakukannya tadi, J sama sekali tidak mengingatnya saat ini.
Wajah kecil, dengan mata bulat besarnya yang polos mirip anak kucing, hidung mancung, bibir yang mungil berwarna semerah ceri, dan pipinya yang chubby benar-benar berhasil mengalihkan pikirannya. Wajah yang hanya dilihatnya dari sebuah foto pada kenyataannya terlihat lebih cantik jika dilihat bentuk aslinya. Wanita itu nyata. Bukan hanya halusinasi atau proyeksi bayangan dari pikirannya yang mulai melantur sejak membaca status Ambar kemarin.
Ya, wanita itu nyata dan kini ada di hadapannya. Amazing!
Tatapannya sama sekali tidak lepas dari Ambar yang masih mengagumi coffee shop-nya. Tiba-tiba rasa bangga yang hari ini sudah mulai memudar kini memuncah kembali dengan intensitas yang membuat J terkejut. Ambar sedang mengagumi hasil kerja kerasnya selama ini. Entah mengapa hal itu benar-benar terasa membahagiakan.
Menatap berkeliling coffee shop-nya yang berarti tatapan Ambar kini berlabuh tepat kepadanya. Karena tidak bisa dipungkiri, J adalah bagian dari coffee shop yang terlihat menonjol. Apalagi saat ini dirinya berdiri di tempat para bartender meracik minuman pesanan para pembeli. Dengan penampilannya yang bisa dibilang tampan, jelas saja dia akan menarik perhatian beberapa pengunjung wanita, dan Ambar adalah salah satunya.
Beberapa detik, J masih merasa tertegun, terlalu terkejut saat tatapan mata mereka bertemu. Dan lebih tertegun lagi saat Ambar membalas tatapannya dengan sedikit bingung. Namun dalam kebingungan tersebut J menangkap sebuah rasa penasaran. Salah satu cara menarik perhatian seorang wanita adalah dengan rasa penasaran. Itulah yang akan J lakukan untuk menarik perhatian Ambar, memancingnya dengan rasa penasaran.
Perlahan sudut bibirnya terangkat, berniat menorehkan sebuah senyuman termanis yang J siapkan khusus untuk para wanita yang sedang berusaha dipikatnya—yang akan ditujukannya pada Ambar, saat semua itu dihancurkan oleh kedatangan seorang pria.
Pria yang entah siapa dan dari mana datangnya. Mengganggunya. Sial!
Masih dari tempatnya berdiri, diamatinya sang pria yang menyapa dan Ambar yang membalasnya dengan rona merah menggemaskan di wajah. Siapa pria itu? Kenapa reaksi Ambar harus seperti itu?
Tidak perlu menunggu lama saat pria tersebut berdiri dari duduknya dan berjalan menuju kasir untuk memesan minumannya. Tiba-tiba saja lampu di otak J menyala dengan terangnya. Jangan bilang kalau pria itu adalah pria pilihan Ambar untuk menghamilinya. Tidak bisa dibiarkan!
Dengan matanya, J mengamati pria tersebut, memesan ice americano. Membuat J kesal, kenapa pesanannya tidak dapat J cemooh. Coba saja jika pria tersebut memesan caramel machiato, J akan mencemoohnya habis-habisan dengan menyebutnya pria banci penyuka manis. Sayang sekali, pria itu memesan sesuatu yang klasik dipesan oleh sebagian besar pria di dunia.
J mengalihkan tatapannya, bermaksud menatap kembali Ambar saat dengan tepat Ambar juga menatapnya, sebuah senyum mau tak mau merekah di bibir J. Senyum yang awalnya merupakan senyum pemikat J ganti dengan senyum yang mungkin bisa diartikan sebagai senyum ejekan.
Entah bagaimana, saat itu juga J mengarahkan tatapannya pada pria pilihan Ambar tadi, berusaha menilainya dengan menatapnya dari atas ke bawah kemudian memberikan senyum mencemooh yang ditujukannya pada Ambar. Berusaha memperlihatkan pada Ambar bahwa dia mencemooh pilihan pria Ambar tersebut yang jelas saja berbuah sebuah pelototan menggemaskan dari Ambar yang disusul sebuah pengabaian. Mereka memang tidak saling mengenal, tapi J akan pastikan bahwa mereka akan mengenal dengan sangat baik. Sebuah aksi yang berbuah sebuah reaksi sebuah pertanda yang bagus untuk nantinya sampai ke tahap itu.
J hanya mengangkat bahunya tanda tidak peduli dengan pengabaian yang kini dilakukan oleh Ambar, karena yang perlu dilakukannya hanya satu, menggagalkan pertemuan Ambar dan pria tersebut. Dan memikirkan apa yang harus dilakukannya untuk merealisasikan hal tersebut ternyata tidak semudah yang dipikirkannya. Apalagi saat senyuman berkali-kali menghiasi wajah cantik Ambar dan sebuah tawa merdu lolos hingga terdengar di telinganya. Mereka semakin akrab dan kesempatan J semakin memudar.
Jadi J pikir hanya satu yang dapat dilakukannya saat ini, yaitu berdoa. Tidak perlu campur tangan manusia untuk menggagalkannya jika Tuhan sudah berkehendak.
Dan tidak perlu menunggu lama saat doa tersebut langsung dikabulkan dalam wujud seorang wanita yang berjalan tergesa menuju ke arah pasangan yang sedang terlihat saling tertawa dan menggoda.
J sama sekali tidak akan mengira saat sisa ice coffee latte milik Ambar kini sudah berpindah dari cangkir ke kemejanya. Terlebih lagi dirinya tidak akan mengira saat wanita tadi berteriak menuduh Ambar menggoda tunangannya. Tiba-tiba saja J menyadari satu hal, kejadian seperti ini akan berakhir dengan baku hantam antar wanita. Dan jelas J tidak akan membiarkan Ambar—calon wanitanya—mendapatkan perlakuan kasar dari orang lain.
Dengan gerakan yang cepat yang tak pernah J sadari bisa dilakukannya, J sampai di meja Ambar pada saat yang sangat tepat. Sebuah tamparan yang berniat wanita tadi layangkan pada Ambar saat itu juga J menahannya. Tanpa menunggu lama mengusir pasangan tersebut dari coffee shop ini.
“Kamu nggak apa-apa?” tanya J yang jelas ditujukan pada Ambar yang dibalasnya dengan sebuah pelototan.
Jika saja J tidak memikirkan keadaan Ambar saat ini, J pasti akan tertawa dengan tanggapan Ambar padanya. Namun melihat kemeja putih Ambar yang saat ini dengan jelas memperlihatkan warna coklat di bagian d**a, mau tak mau memaksa J untuk segera bertindak.
Ditariknya tangan Ambar supaya mengikutinya, dan masuk lebih dalam ke arah kantor kecil yang dimilikinya di bagian dalam coffee shop.
“Eh ... apa-apaan ini?” Terkejut, J merasakan Ambar sedikit memberontak, berusaha lepas dari cekalan tangannya.
“Lebih baik masuk dulu dan bersihkan dirimu.” Jawab J yang menariknya ke dalam kantornya. Untung saja di setiap kantornya selalu dibangun sebuah kamar mandi pribadi yang dapat digunakannya dengan leluasa. Dan saat ini kaar mandi tersebut benar-benar berguna.
Dengan sedikit mendorong, J mengarahkan Ambar ke dalam kamar mandi, “Bersihkan dulu noda di bajumu sebelum pulang.”
Tanpa menunggu, J segera berlalu, bermaksud mengambilkan baju ganti untuk Ambar. Sepertinya dia bisa mengambil salah satu kaos cadangan yang diperuntukkannya untuk seragam pegawai. Dengan sigap diambilnya salah satu kaos yang menurut J sesuai dengan ukuran tubuh Ambar dan menyerahkannya pada Ambar yang sudah berada di dalam kamar mandi.
Ya, hari ini belum berlalu. Dan J akan memastikan hari ini akan berlalu dengan menyenangkan.