Bambang Angkasa.
Nama pria yang Ambar pilih untuk menjadi calon yang tepat untuknya. Dilihat dari penampilan, walau dia bukan tipe kesukaan Ambar, tapi dia termasuk dalam kategori tampan. Bukan tampan yang membuat setiap wanita akan meliriknya setiap dia lewat, namun tampan yang tidak membosankan. Yah ... bisa dibilang manis ala pria Jawa.
Belum-belum Ambar sudah membayangkan seorang anak laki-laki perpaduan antara wajahnya dan wajah Bambang. Senyum otomatis mengembang di wajahnya saat ini. Pasti menyenangkan, memiliki anak laki-laki yang nantinya akan berlagak melindunginya. Ah, pasti menggemaskan.
Ambar mengamati coffee shop yang menjadi tempat pertemuannya dengan Bambang. Coffee shop yang baru dibuka beberapa hari tersebut memiliki desain yang apik. Sederhana dan terlihat modern namun menyuguhkan rasa nyaman untuk para pengunjungnya. Tempat yang sangat pas untuk sebuah pertemuan. Apalagi pertemuan seperti dirinya dan Bambang yang jelas membutuhkan kenyamanan untuk saling mengenal satu sama lain.
Tanpa sadar Ambar tersenyum mengingat kiriman pesan dari Bambang yang hanya menyertakan foto KTP-nya. Membuat Ambar mudah untuk mengetahui umur dan asalnya tanpa harus bertanya-tanya lagi. Ambar rasa faktor penting kenapa dia bisa memilih Bambang karena foto KTP-nya tersebut—yang jelas tidak akan membohonginya.
Diliriknya jam tangan yang terpasang di pergelangan tangan kirinya. Lima menit sebelum waktu janji pertemuan mereka. Ambar memang sengaja datang lebih awal. Bukan karena dia terlalu bersemangat dengan prospek menemukan pria yang mau menghamilinya—walaupun itu adalah salah satu faktor—namun karena dia belum terlalu hapal dengan lokasi pertemuan yang Bambang usulkan ini. Untung saja semua abang gojek seolah tahu tempat ini, coffee shop yang katanya sudah sangat terkenal dengan racikan kopinya yang nikmat, hingga memiliki beberapa cabang di daerah lain. Jadilah Ambar sampai di sini dua puluh menit lebih cepat dari waktu janjian mereka.
Secangkir ice coffee latte tersaji di hadapannya. Dan ya, benar kata abang gojek yang memboncengnya kemari, racikan kopi di sini benar-benar nikmat, setengah gelas ice coffee latte sudah berhasil Ambar habiskan dalam waktu sepuluh menit. Pantas saja hampir delapan puluh persen tempat duduk sudah ada yang menempati. Pengunjung di coffee shop ini terbilang bermacam-macam, dari pekerja kantoran, mahasiwa, pelajar, keluarga atau beberapa orang yang berniat kumpul-kumpul bersama kerabat dan sahabat. Jadi pasti racikan yang dibuat di sini sesuai dengan selera bermacam-macam orang, pantas saja sepertinya coffee shop ini selalu ramai.
Ambar masih mengamati sekeliling saat tatapannya tiba-tiba saja terpaku pada seorang pria di balik bar—tempat di mana barista meracik kopi pesanan pelanggan. Bukan karena merasa mengenal pria tersebut, tetapi karena pria tersebut menatapnya dengan aneh, tanpa berkedip. Bahkan pria tersebut seakan terkejut melihatnya. Memangnya kenapa harus terkejut saat Ambar dan pria tersebut tidak saling mengenal? Ck, pria yang aneh! Namun entah bagaimana, Ambar seolah tidak dapat mengalihkan tatapannya dari pria aneh tersebut. Karena harus diakui, pria tersebut masuk kategori tampan kesukaan Ambar. Dengan hidung bangir, mata agak sipit dan bibir seksi yang tiba-tiba saja sudah melengkungkan senyum yang diarahkan padanya. Membuat Ambar mengerutkan keningnya merasa bingung dengan tingkah pria tersebut.
Apakah Ambar mengenalnya? Tapi seberapa keras pun berusaha, otak Ambar sama sekali tidak dapat memproses ingatan apa pun yang berhubungan dengan pria itu.
Atau jangan-jangan, pria itu merupakan pria playboy yang suka memanfaatkan pekerjaannya untuk merayu para gadis. Lihat saja pekerjaannya sebagai barista, apalagi dengan wajahnya yang tampan, ya, pasti dia jenis-jenis pria seperti itu.
Baru saja Ambar mencoba memutus acara tatap-menatap mereka saat seorang pria sudah berdiri di hadapannya. “Ambar ya?”
“Eh, iya. Mas Bambang?” tanya Ambar basa-basi yang langsung tersenyum menyadari kedatangan Bambang. Mengamati sekilas, Ambar menyimpulkan bahwa Bambang ini jenis-jenis pria di mana foto dan wujud nyatanya terlihat sama. Karena saat ini, penampilannya sesuai dengan foto yang dilihatnya di f*******:.
“Panggil Bam aja. Bambang terlalu panjang buat diucapin.” Jawab Bambang yang segera duduk di hadapan Ambar.
“Ah, iya. Mas Bam.”
“Udah nunggu lama ya? Padahal aku udah ke sini secepatnya. Tapi Ambar duluan malah yang nyampe.”
“Eh, iya, Mas. Soalnya Ambar nggak tahu daerah sini, jadi tadi sengaja berangkat lebih awal.”
“Oh gitu. Maaf ya aku minta ketemuan di sini. Jauh ya dari rumah Ambar?”
“Eh, enggak kok. Makanya aku bisa sampai lebih cepat.”
“Aku pesen minum dulu ya. Ambar nggak nambah minum atau camilan? Biar aku pesenin sekalian?” tanya Bam yang segera dijawab Ambar dengan gelengan. Setelah kedatangan Bam entah bagaimana sekarang perutnya terasa tidak enak. Mungkin dia mulai menyadari, hal yang dimintanya pada Bam nanti menyangkut hal yang sangat serius. Dan pertimbangan matang seharusnya dipikirkan sebelum pertemuan mereka ini sama sekali belum Ambar lakukan. Seperti biasanya sikap impulsif sudah begitu lekat dan mendarah daging dalam dirinya. Hingga terjadilah seperti hari ini, lakukan dulu, baru pikirkan kemudian. Kalau kata Inez, kekacauan akan selalu datang menghampirinya. Berpikir positif, tidak akan ada kekacauan hari ini.
Mata Ambar tanpa sadar tertuju pada Bam yang saat ini sudah berada di kasir. Benarkah Bam pria yang tepat? Sebenarnya Ambar sendiri bingung, apa yang dimaunya dari seorang calon yang dicarinya? Apakah patokan bahwa pria itu tepat atau tidak baginya?
Masih merasakan kebingungan dan bertanya-tanya akan itu semua saat Ambar merasakan seseorang sedang menatapnya lekat. Tahukan rasa menggelitik yang dirasakan saat kita menyadari seseorang sedang mengamati? Nah itulah yang Ambar rasakan sekarang. Tanpa melihat, Ambar sudah dapat menebak siapa yang sedang menatapnya lekat-lekat. Sang barista playboy menyebalkan.
Pria itu terlihat menatapnya terang-terangan, lengkap dengan seringai yang entah kenapa seolah mengejeknya. Atau itu hanya perasaannya saja?
Tatapan pria itu kini diarahkan pada Bam yang saat ini sedang membayar pesanannya di kasir. Sadar dirinya sedang diamati, pria itu menatap Bam dari ujung kepala hingga ujung kaki. Lalu sebuah senyum menyepelekan dia arahkan pada Bam, kemudian beralih kepada Ambar. Seolah dia tahu apa yang sedang Ambar lakukan sekarang dan mengejeknya. Benar-benar! Apa sih masalah pria itu?
Andai saja Bam tidak sedang berjalan menuju ke arahnya, ingin rasanya Ambar menghampiri pria itu dan mencoba menghapus senyum menyebalkan itu dari bibirnya. Jadi saat ini Ambar hanya dapat membalas pria itu dengan sebuah pelototan yang menandakan kekesalannya. Dasar pria aneh!
Setelahnya Ambar memilih menghiraukan pria tadi dan kembali mengalihkan tatapannya pada Bam yang saat ini sudah duduk kembali di hadapannya. Senyum otomatis mengembang di bibir Ambar. Yah, walaupun belum ada rencana apa pun di kepalanya, Ambar rasa berbasa-basi sejenak tidak masalah.
“Mas Bam kerja di dekat sini?” Pertanyaan itu meluncur begitu saja dari bibir Ambar tanpa berpikir bahwa itu sebagian dari privasi Bam. Bukannya apa, hanya saja masalah tempat kerja, rumah dan hal-hal yang menyangkut itu terasa terlalu pribadi. Padahal yang diinginkan Ambar hanya Bam menghamilinya lalu angkat kaki dari hidupnya. Tanpa drama, tanpa air mata. Sesederhana itulah pikiran Ambar.
Namun sebelum Ambar berhasil mencoba mengoreksi kesalahannya, Bam justru menjawabnya dengan sangat santai, “Oh, enggak. Justru karena tempat ini jauh dari tempat kerjaku.”
“Oh gitu.” Hanya itu jawaban yang dapat Ambar berikan. Meskipun sedikit bertanya-tanya, kenapa harus memilih tempat yang jauh dari tempat kerjanya?
“Nah kalau Ambar, kerja di mana?”
“Di rumah aja. Kerjaan online, biasa.”
“Oh, online shop?”
“Ya. Itu.” Entah bagaimana Ambar malas membahas apa pekerjaannya. Dijelaskan pun pada umumnya tanggapan mereka hanya akan seperti Bam. Jadi daripada susah payah menjelaskan lebih baik mengikuti saja apa yang mereka mengerti.
“Wah, enak dong. Bisa santai.” balas Bam seperti yang sudah diduga oleh Ambar. Berkali-kali ada orang bertanya apa pekerjaannya, pasti tanggapan mereka mirip dengan Bam. Kerja di rumah, santai. Yah, padahal mana ada kerja yang santai kalau mau mendapatkan banyak uang? Pekerjaan Ambar sama repotnya dengan mereka, hanya saja hal terpenting dari pekerjaan tersebut adalah kecepatan internet yang memuaskan. Selebihnya bisa dilakukan di mana saja. Dan untuk online shop, Ambar juga menobatkan dirinya sebagai seorang reseller. Jadi jawaban Bam tadi tidak salah.
“Iyalah. Kerja santai banyak uang.” gurau Ambar yang menghasilkan tawa dari mereka berdua.
“Impian semua manusia.” ucap Bam yang dijawab Ambar dengan sebuah bisikan sembari memajukan dirinya mendekat supaya Bam mendengarnya, “Dan beruntungnya, aku salah satu manusia tersebut. Jadi, tolong jaga rahasia ini.”
Mereka berdua hanya bisa tertawa atas gurauan yang sebenarnya tidak terlalu lucu itu. Namun tawa itu berubah saat tiba-tiba setengah cangkir ice coffee latte-nya mendarat dengan cantik pada kemeja putih yang Ambar kenakan hari ini.
“Apa-apaan ini?!” teriak Ambar terlalu terkejut hingga berdiri mendapati kemeja putihnya kini sudah basah dan bernoda coklat. Bukan hanya kemejanya, sebagian celana jinsnya juga basah dan bernoda coklat.
“DASAR CEWEK KEGATELAN! BERANI-BERANINYA NGEGODAIN TUNANGANKU!” Seorang wanita cantik saat ini berdiri di hadapan Ambar dengan kemarahan yang terlihat jelas di wajahnya.
Ah, sial! Apalagi ini? Tunangan? Maksudnya Bam sudah memiliki tunangan dan Ambar sama sekali tidak mengetahuinya?
Double sial! Ya, tunangan. Di KTP tidak akan terlihat seorang pria sudah bertunangan atau belum. Dan setahu Ambar, Bam sama sekali tidak memakai cincin yang menandakan bahwa dia sudah bertunangan. Di f*******: pun tidak ada foto Bam berduaan dengan seorang wanita. Benar-benar lelaki buaya!
Ambar benar-benar terjebak kali ini. Bagaimanapun caranya mencoba menjelaskan, wanita itu jelas tidak akan memahami. Bayangkan saja, masa iya Ambar akan menjelaskan bahwa tunangan wanita itu yang menawarkan diri untuk menghamilinya. Yang ada bukan hanya disiram kopi, bisa-bisa Ambar disiram air raksa.
Dengan kesal tatapan Ambar terpaku pada Bam yang saat ini hanya diam saja melihat wanita cantik tersebut memaki-maki Ambar. Tidak mencoba menghentikan wanita tersebut atau mencoba menjelaskan entah apa pun.
“Maaf, sebelumnya. Sepertinya kamu salah paham.” Dengan lembut Ambar mencoba menjelaskan. Namun wanita yang sedang emosi tersebut jelas tidak butuh penjelasan apa pun. Lagipula penjelasan apa yang dapat Ambar berikan? Berbohong? Saat otaknya tiba-tiba saja tidak dapat memikirkan kebohongan apa pun saat ini?
“Hah! Kamu kira aku bodoh? Jangan bilang kamu salah satu kliennya. Klien apa yang tersenyum-senyum dan berbisik-bisik menggoda sepertimu? Dasar pelakor!” tangan kanan yang melayang ke arah wajahnya, membuat Ambar refleks memejamkan matanya. Tetapi saat beberapa detik setelahnya tidak dirasakannya rasa perih di pipi, Ambar langsung membuka matanya. Dan tatapannya segera terpaku pada mata agak sipit yang tidak asing baginya.
Pria playboy menyebalkan telah menolongnya. Tangan kanan yang bermaksud menamparnya kini ada di genggaman pria itu.
“Maaf. Kebijakan di coffee shop ini, dilarang menyebabkan keributan yang dapat mengganggu kenyamanan pengunjung lain. Silakan anda berdua keluar, sebelum saya paksa untuk keluar.” Ucapnya melepaskan tangan wanita tadi dan memberi gestur kepada wanita tadi dan Bam untuk segera keluar dari coffe shop ini.
“Awas aja kamu pelakor! Masalah kita belum selesai!” ucap wanita tadi yang memelototinya sebelum akhirnya menarik Bam pergi bersamanya.
Saat itu juga Ambar merasa sangat lelah. Bukan drama seperti ini yang diinginkannya. Dia hanya ingin punya anak. Kenapa harus serumit ini?
“Kamu nggak apa-apa?” pertanyaan tersebut jelas ditujukan untuknya. Tetapi entah bagaimana Ambar justru membalas pertanyaan tersebut dengan sebuah pelototan. Ya jelas dia kenapa-napa. Bajunya basah dan bernoda, belum lagi saat ini hampir seluruh pengunjung coffee shop ini memandanginya dengan ekspresi yang bermacam-macam, ada yang mencemooh, ada yang mengasihani, dan ekspresi lain yang menurutnya menyebalkan. Dan saat ini yang ingin Ambar lakukan adalah pergi secepatnya dari tempat ini.