Di dalam pikirannya, Ambar sudah membuka f*******:-nya dan mulai memilih calon atau kandidat yang akan dipilih untuk menghamilinya dengan santai. Memilih calon yang sesuai hanya dengan menilik komentar dan foto profil dengan gaya keren. Tanpa menunggu lama bertanya hal-hal yang berguna untuk mengetahui tentang umur, asal dan kesehatan fisik juga psikis sang calon kepada orang yang terpilih.
Namun dalam kenyataannya, matanya justru masih terpejam rapat. Belum sempat terbuka satu detik pun dari saat dia mengetik w**************m hingga menekan tombol enter. Rasa hati belum siap untuk menengok akun f*******:-nya setelah dua hari ini dia merasa kecil hati saat harus membukanya. Ditambah lagi saat ini jantungnya berdetak sangat keras, seolah akan keluar dari d**a. Keringat dingin seolah membasahi telapak tangan. Oh, apa yang sebenarnya dia lakukan?
Saat berdebat dengan Inez sepertinya ide inilah yang terbaik. Namun sekarang, semua ini terasa salah besar. Mungkin jika dia tidak terlalu terburu-buru. Mungkin jika dia memikirkan lagi rencananya dengan lebih matang. Mungkin jika dia mencari ide yang mungkin lebih masih masuk akal.
Segala kemungkinan-kemungkinan tersebut berputar-putar di otak tanpa ada satu pun penyelesaian. Saat itu juga Ambar menyadari kalau nasi sudah menjadi bubur. Dia sudah menulis statusnya sejak dua hari yang lalu. Hal itu tidak dapat ditarik kembali. Yang dapat dia lakukan saat ini adalah membuka matanya, melihat komentar-komentar dan memilih satu komentator yang kemungkinan akan menjadi calonnya. Semudah itu, namun sulit sekali dilakukannya.
“Aku pasti bisa.” Ucap Ambar berusaha meyakinkan dirinya sendiri yang sebenarnya sama sekali tidak ada keyakinan. Tetapi jika hal ini ditunda-tunda, akan tertunda juga rencananya memiliki anak, padahal dia ingin memiliki anak secepatnya. Jadi sepertinya tidak boleh ditunda lagi. Dua hari adalah waktu yang lama untuknya berpikir. Dan hari ini adalah saatnya.
Dengan sebelumnya mengembuskan napas, Ambar perlahan-lahan mulai membuka satu per satu matanya. Dimulai dari mata kiri kemudian mata kanan. Setelah kedua matanya terbuka Ambar terlalu terkejut saat menatap apa yang ada di hadapannya.
Statusnya berada di paling atas halaman muka f*******:-nya. Dan di sana terpampang nyata, sepuluh ribu lebih like dan sekitar seribu lima ratus komentar tertulis di sana. Bahkan pada tombol chat tertulis 99+ yang entah artinya berapa pesan kudapat.
Astaga! Apa yang sebenarnya terjadi?
Ambar pikir dia sendiri yang gila memasang status seperti kemarin. Tetapi ternyata tanpa dia sadari lebih banyak orang gila berkeliaran di luaran sana. Sepuluh ribu lebih like? Di saat teman f*******:-nya hanya mencapai dua ribu sekian saja. Entah dia harus bahagia atau bersedih. Datang dari mana orang-orang yang ikut menekan tombol like ini? Memang f*******: Ambar sengaja diatur publik tetapi kan ... ugh! Rasanya Ambar tidak tahu lagi harus berpikiran seperti apa.
Ambar rasa itu tidak penting dipikirkan sekarang. Tiba-tiba saja otaknya terfokus pada hal lain, membayangkan harus membaca komentar sebanyak seribu lima ratus untuk mencari calon yang cocok, sanggupkah dia?
“Argh! Sanggup tidak sanggup aku harus sanggup.” Ucap Ambar keras-keras. Sekali lagi berusaha menyemangati diri-sendiri.
“Mari kita buka kolom komentar ini.” Dengan hati-hati Ambar mengklik tombol komentar. Berkali-kali mencoba melihat komen sebelumnya dengan mengklik previous comment. Semakin lama membaca, emosi Ambar justru semakin berkobar. Entah bagaimana kolom komentarnya menjadi ajang debat para wanita yang merutuki tindakannya sebagai tindakan yang merendahkan kaum wanita dengan para wanita yang berpikir tidak membutuhkan laki-laki untuk bertanggungjawab pada kaum wanita. Ada apa dengan para wanita ini? Dan ada apa pula dengan dirinya? Sampai-sampai membuat kericuhan sedemikian rupa.
Ambar menjedotkan kepalanya tiga kali ke meja komputer di hadapannya sembari merutuki kekacauan yang ditimbulkannya, sebelum akhirnya kembali membaca-baca komentar yang ada. Dan setelah berkali-kali memanjat komentarnya di atas, lagi-lagi Ambar diserang rasa frustasi. Merasa sekali lagi dirinya membuat kekacauan besar. Menilik dari beberapa komentar pria-pria yang kemudian dibalas oleh istri atau bahkan kekasihnya sehingga timbul pertikaian di kolom komentarnya. Kata cerai dan putus beberapa kali dibacanya di kolom komentar. Ingin rasanya Ambar mengulang waktu, supaya kekacauan seperti ini tidak terjadi, namun sekali lagi, nasi sudah menjadi bubur. Tidak ada yang bisa Ambar lakukan kecuali terus maju sesuai dengan rencananya.
Dengan sebelumnya mengembuskan napas pelan, Ambar kembali memanjat komentar tapi bukannya menemukan calon yang dicarinya, Ambar justru merasa semakin frustasi. Pria waras mana yang dengan mudahnya menyetujui segala persyaratannya? Sedangkan salah satu persyaratannya adalah pria tersebut tidak memiliki riwayat penyakit jiwa. Sepertinya di sini Ambarlah yang gila.
Kenapa juga dia berpikiran memiliki ide seperti ini? Mencari pria yang mau menghamilinya di media sosial? Dan berharap menemukan pria baik-baik di sini? Ayolah ... Ambar tidak mungkin sebodoh itu mempercayai ide segila ini akan berbuah manis, padahal hidupnya saja tidak ada manis-manisnya.
Ah, persetan! Sudah sampai sejauh ini, tidak mungkin Ambar hentikan lagi. Jadi lebih baik berhenti di sini atau teruskan. Dan untuk berhenti di sini, Ambar lebih tidak sanggup. Berpikir positif, dari ribuan pria ini, salah satu pria pasti akan memenuhi segala syarat yang Ambar berikan. Dia ingin secepatnya memiliki anak, dan dia akan mendapatkannya. Secepatnya.
Lelah menelusuri komentar yang menurutnya semakin tidak jelas, Ambar melirik tanda chat bertuliskan 99+ di pojok kanan atas. Ah ya, Ambar merasa daripada dia berlama-lama membaca komentar yang hanya berisi makian, hujatan, dan promosi diri oleh pria-pria, lebih baik dia berfokus pada pesan yang ada. Dan di pesan-pesan tersebut, Ambar dapat mulai memfokuskan diri pada salah satu syaratnya, asli Jawa. Hal itu bisa dilihat dari nama karena menurut Ambar, nama orang Jawa memiliki kekhasannya sendiri. Ya, rencana yang cukup bagus.
Di media sosial sekarang ini banyak sekali orang-orang yang menamai akun mereka dengan nama yang aneh—terkadang alay. Ambar rasa dia dapat melewatkan nama-nama aneh tersebut sehingga fokus pencariannya semakin sempit.
Perlahan-lahan Ambar menelusuri nama-nama yang mengirim pesan padanya. Beberapa kali Ambar menemukan seseorang yang sesuai pertimbangan, namun begitu menelusuri profilnya terlihat fotonya sudah berpasangan. Sedikit mengecewakan, namun salahnya juga yang tidak memasang syarat bahwa pria tersebut harus single. Tetapi apakah para pria tersebut tidak memikirkan perasaan pasangannya? Wanita normal mana pun tidak akan rela prianya menghamili wanita lain, walaupun wanita tersebut tidak menghendaki sebuah pertanggungjawaban.
Ambar semakin sibuk menelusuri pesan-pesan yang ada. Hingga tatapannya tertuju pada sebuah nama Bambang Angkasa. Nama yang menurutnya memuat unsur Jawa. Teringat tetangganya dulu di Temanggung, bernama Pak Bambang, yang setiap sore selalu duduk di beranda rumah lengkap dengan sarung dan blangkonnya, bersiul-siul ke arah burung nurinya di kandang.
Sekarang untuk semakin meyakinkan hati, dibukalah pesan dari Bambang Angkasa tersebut. Isinya sederhana, hanya sebuah sapaan dan kiriman foto KTP. Ya, bukti yang sangat otentik. Di situ tertulis, nama Bambang Angkasa, tempat tanggal lahir Magelang, 3 Juni 1986. Dua syarat terpenuhi, namun rasanya hal itu belum memuaskan hatinya. Memang di KTP tertulis status belum kawin, tetapi Ambar harus memastikan hal itu.
Dengan semangat yang tinggi Ambar membuka profil akun Bambang tersebut. Melihat-lihat bahwa tidak ada foto-foto dengan wanita lain. Status-statusnya juga masih wajar selayaknya laki-laki, membahas bola, share-share berita, dan lain-lain. Ambar rasa pria inilah calon paling memenuhi syarat. Dan ya, dialah yang akan Ambar pilih.