KOPI KINI. Bukan nanti.
Sebuah merek kopi yang saat ini menjadi favorit di kalangan pecinta kopi, bersanding dengan slogan yang memang diciptakan oleh pemiliknya. Tulisan tersebut terpampang jelas di sebuah papan besar yang memuat jenis-jenis racikan kopi yang tersedia di coffe shop yang baru dibuka di bilangan Sudirman tersebut.
“Hebat lu, Bro. Coffe shop cabang keberapa?” tanya Gama ikut mengagumi sekeliling coffe shop yang selalu menjadi kebanggaan sahabatnya, J.
“Cabang ketiga, sama kaya jumlah anak lu.” jawab J sembari tertawa mengingat dua anak Gama yang sudah berumur empat dan tiga tahun, sekarang ditambah bayi yang baru saja lahir bulan kemarin. J tidak akan pernah menyangka Gama sahabat senasib seperjuangannya dalam menikmati kesenangan bersama wanita sudah lima tahun ini menikahi wanita yang—katanya—dicintainya. Dan bersama-sama mereka mengasuh dua bocah kecil dan satu bayi, mengakui bahwa itulah makna dari kebahagiaan.
“Dan cabang lu sama anak gue lahir di tahun yang sama. Pencapaian banget, Bro.” Ucap Gama menepuk bahu J dengan rasa bangga sebagai sahabat yang kentara. Ya, sebuah pencapaian yang sangat besar bagi J. Kenekatannya saat resign dari perusahaan sama sekali tidak pernah terpikirkan memberi dampak sebesar ini pada dirinya sendiri. Hanya sebuah mimpi iseng sebagai barista, kini menghasilkan tiga cabang coffe shop yang selalu ramai didatangi para pecinta kopi. Bukankah luar biasa?
“Yoi.” Dengan penuh rasa bangga J menatap sekeliling coffe shop-nya tersebut. Coffe shop yang didesain demi kenyamanan para pengunjung menyediakan ruangan smoking dan non smoking. Dilengkapi sofa berwarna coklat kehitaman menyerupai warna kopi dan meja bulat berwarna putih, memberi kesan elegan pada coffe shop-nya. Beberapa tanaman hijau diletakkan di sudut-sudut memberi kesan menyejukkan di dalamnya. Menurutnya coffe shop itu sempurna.
“Terus kapan cabang keempat?”
“Nunggu istri lu hamil anak keempat.” jawab J asal yang tentu saja mendapatkan tinjuan di lengannya dari Gama.
“Bah, sial! Nggak ... nggak ada lagi anak keempat. Kalau perlu gue vasektomi biar nggak kebobolan lagi.” Jawab Gama menggeleng-gelengkan kepalanya keras. Berkali-kali juga di mengetuk-ngetuk kepalanya seolah hal itu dapat menampik hal-hal buruk yang tidak diinginkan. Melihatnya J hanya dapat tertawa keras. Membayangkan sahabatnya repot dengan empat anak membuat tawanya semakin keras dan puas.
“Kenapa nggak vasektomi dari dulu aja, lu? Ngapain nunggu anak tiga baru kepikiran? Keenakan ya punya anak? Eh, atau keenakan bikin anak?” J tertawa puas setelah melontarkan pertanyaan yang menurutnya konyol itu. Gama mengaku anak ketiganya adalah hasil kebobolan yang tidak disengaja saat sang istri lupa meminum pil KB-nya. Tetapi senyum sumringah yang diperlihatkannya saat anak ketiganya lahir tidak dapat membohongi bahwa dia bahagia dengan kehadiran anak ketiganya tersebut. Cinta dan pernikahan? Suatu hal yang sampai saat ini tidak pernah dan tidak ingin J mengerti. Apa enaknya punya istri atau anak? Kebebasan hilang dan dia harus sibuk mengurus bisnis juga bermain dengan anak-anaknya. Kurasa itu bukan takdir yang diinginkan oleh J.
“Kadang gue iri sama lu. Hidup sendiri, bebas, dan sibuk dengan bisnis yang semakin sukses. Nggak perlu mikirin perasaan istri dan anak-anak. Bisa main-main sesuka hati.” Ucap Gama yang membuat J mengerutkan keningnya bingung, kenapa tiba-tiba sahabatnya ini berkata seperti itu. “Tapi ... gue tahu, lu nggak akan sebahagia gue. Saat capek setelah pulang kerja, lihat wajah istri dan anak-anak yang lagi tidur pulas, gue rasa kebahagiaan yang seperti itu nggak akan pernah lu rasain.”
Dengan kesal J mendorong kepala Gama dari belakang, “Jelaslah. Gue nggak akan pernah ngerasain kaya lu. Cukup lihat lu aja yang repot ngurus istri dan tiga anak. Gue sih ogah.”
“Nah, kan. Udah gue tebak. Tapi ngomong-ngomong lu nggak iri?” tanya Gama yang sebenarnya ingin sekali J mengikuti jejaknya. Mencoba mencintai satu wanita dan bahagia bersama. Namun sahabatnya ini selalu menyepelekan makna cinta hingga dia selalu menyakiti hati wanita yang dekat dengannya.
“Sama siapa?”
“Gue.”
“Nggaklah. Ngapain?” jawab J sewot. Untuk apa dia iri dengan Gama yang setiap kali bertemu selalu terlihat lelah dan acak-acakan? Sangat berbeda dengan Gama yang dulu sangat memperhatikan penampilannya. Dia tidak mau dan tidak akan menjadi Gama kedua. Big no!
“Gue bahagia. Hidup gue sempurna dengan istri yang cantik dan anak-anak yang sehat.” Jawaban Gama tersebut membuat J merasa dongkol. Sejak menikah, Gama selalu memamerkan kebahagiaan yang diperolehnya dari istri dan anak-anaknya, namun hal tersebut sama sekali tidak mengusik J. Dan kali ini pun sama. J tidak akan pernah menikah. Titik. Persetan dengan godaan yang Gama lancarkan.
“Hidup gue juga sempurna. Lihatlah coffe shop ini, dan dua cabang yang lain.”
“Sendirian? Tanpa cinta?” tanya Gama terdengar sangat menyebalkan bagi J.
“Apaan sih, lu? Habis nikah jadi banci gini. Bahasannya cinta aja. Cowok sejati nggak kenal namanya cinta.”
“Enak aja banci. Justru cowok sejati itu yang bisa mencintai seseorang dan jujur akan perasaannya.”
“No! Itu cowok banci.”
“Lu tuh, banci! Gue kutuk lu bakalan jatuh cinta.”
“Gila, lu! Ogah! Gue nggak bakalan jatuh cinta. Dan lagi, gue nggak sendirian. Karena akan selalu ada banyak cewek yang bersedia menemani menikmati hari dengan bahagia.” Ucap J yang membuahkan tawa dan gelengan kepala dari Gama. Sepertinya sahabatnya itu sudah tidak dapat tertolong lagi. Tapi dalam hati Gama tidak pernah lelah mendoakan yang terbaik untuk J. Semoga J dapat bahagia dengan wanita yang dicintai dan balas mencintainya dengan tulus hingga dapat meluluhkan hatinya yang sekeras batu itu.
“Ya udahlah, gue cabut dulu. Jam istirahat hampir habis.” Gama pun berlalu tanpa menunggu jawaban apa pun dari J.
J hanya dapat menghela napas melihat kepergian sahabatnya tersebut. Entah kenapa ada yang terasa berbeda darinya. Dulu sengotot apa pun Gama memamerkan dan menggoda J dengan kebahagiaan rumah tangganya, dia tidak akan tergoda. Tetapi hari ini, setelah melihat kesuksesan coffe shop-nya, tetiba ada sesuatu yang menggelitik dari kebiasaan Gama memamerkan keluarganya tersebut. Entahlah. Hanya saja apa pun rasa yang menggelitik itu, J tidak akan membiarkannya berkembang menjadi rasa apa pun yang akan membuatnya bingung. Hidupnya sudah bahagia, dan dia akan selalu membuatnya bahagia apa pun caranya.
Dengan matanya, J melihat berkeliling coffe shop. Baru selama tiga hari coffe shop itu buka, namun pengunjungnya sudah lumayan. Paling tidak 70% dari bangku yang ada sudah terisi pengunjung. Pencapaian baru lagi untuknya. Matanya masih nyalang mengamati sekitar saat aplikasi messenger-nya berdenting. Menandakan ada pesan baru masuk untuknya dari aplikasi f*******:.
Tergesa, J mengambil ponsel dari saku celananya. Berharap pesan tersebut dari satu nama yang sejak dua hari lalu ditunggu-tunggunya. Namun begitu dilihatnya, nama Bambang yang tertera di sana. Supervisor cabang Kopi Kini keduanya yang mengabarkan bahwa keadaan di sana aman terkendali di jam istirahat makan siang. Tanpa sadar helaan kekecewaan lolos darinya.
Ambar Anindya, entah kenapa nama tersebut seolah sudah melekat erat di otaknya. Wajah yang ada pada profil f*******:-nya pun seolah sudah J hapalkan tiap sudutnya di luar kepala. Bahkan malam-malam J kini, tidak pernah absen dari bayangan wajah Ambar.
Tiba-tiba saja pikiran tentang uji keberuntungan dalam pendaftaran dirinya sebagai calon Ambar seolah menjadi obsesi yang entah bagaimana harus J penuhi. Bayangan Ambar memilih pria lain sebagai calonnya, tidak dapat lagi J terima.
Sepertinya jika Ambar tidak memilihnya, J akan mengambil tindakan yang lain, karena J telah memilih Ambar.