Ketukan pintu depan yang perlahan berubah menjadi gedoran membuyarkan segala lamunan dan pikiran liar Ambar.
“Ambar, buka nggak pintunya?!” Teriakan yang mengikuti ketukan atau saat ini berupa gedoran tersebut, membuatnya menghela napas pelan. Dari nada suara dan teriakan dua oktaf miliknya, Ambar yakin kalau sang empunya suara sudah mengetahui apa yang telah dia lakukan. Dan jelas Ambar tahu kalau setelah ini dia akan mendapatkan banyak omelan dari sang empunya suara. Tetapi saat ini bukan omelan yang dia butuhkan, sebuah pelukan dan kata-kata penyemangatlah yang dibutuhkannya, yang pastinya tidak akan dia dapatkan.
Masih terdengar gedoran-gedoran di pintu depan, namun rasanya Ambar malas untuk bangun dari posisi duduknya saat ini. Ditatapnya layar laptop di hadapan, waktu deadline pekerjaannya semakin dekat, tetapi karena segala pikiran liar yang tidak dapat diatur, pekerjaan-pekerjaan itu menjadi terhambat.
“AMBAR! BUKA NGGAK! KALAU NGGAK AKU DOBRAK PINTU INI!” Dan teriakan tersebut segera saja membuat Ambar bergerak. Karena teriakan yang semula dua oktaf kini sudah menjadi empat oktaf, dan dia tahu kalau orang tersebut benar-benar akan mendobrak pintu rumahnya jika tidak dituruti perintahnya.
“Iya, sabar ... sabar ....” jawab Ambar segera membuka kunci dan gerendel pintu depan yang memang sengaja dia pasang untuk keamanan. Maklumlah, dia adalah wanita yang tinggal sendirian.
Belum sempat Ambar memutar kenop pintu saat pintu sudah menjeblak terbuka, kalau saja gerakan refleksnya lambat, Ambar pasti sudah terjepit di antara pintu dan tembok. “Aduh! Ya ampunn hati-hati dong, Nez. Hampir aja aku kejepit.”
“Gila kamu!” Bukannya khawatir dengan Ambar yang hampir terjepit, Inez justru terlihat sangat marah, menudingkan telunjuk ke arah Ambar seolah menudingnya telah melakukan kesalahan besar. Ya, memang keputusan yang diambilnya terlalu berlebihan atau kelewat nekat, tetapi menurutnya itu bukanlah kesalahan besar. Hanya sesuatu yang mungkin lebih bijak jika dipikirkan lebih matang lagi. Jadi kenapa Inez harus bersikap sedramatis ini?
“Aku nggak gila. Enak aja.” Jawab Ambar sembari menutup kembali pintu depan rumahnya. Dilipatnya kedua lengan di d**a, berbalik menatap Inez dengan kesal.
“Hah! Jadi menurutmu mencari laki-laki yang mau menghamili di f*******: tidak gila?” tanya Inez yang membuat Ambar semakin cemberut. Kenapa Inez harus memperjelas apa yang sudah jelas? Bukankah wajar kalau dia ingin hamil tanpa biaya yang mencekik hanya itu satu-satunya cara?
“Lalu? Kamu bisa mikirin ide lain lagi yang lebih nggak gila? Kalau menurutmu ideku gila?” tanya Ambar yang langsung dijawab Inez dengan mudah. “Berpacaran, menikah, dan buatlah anak sebanyak mungkin sesuka hati.”
“Kamu yang gila!” Ambar jelas semakin kesal dengan semua ini. Ambar ingin hamil dan punya anak, tapi dia tidak mau menikah. Inez tahu itu, namun dia tidak pernah mau memberi persetujuan akan hal itu. Dan hal itulah yang selama ini selalu menjadi keributan di antara dua sahabat tersebut. “Aku nggak mau nikah!”
“Terus? Kamu benar-benar mau ngeseks sama orang nggak dikenal hanya demi punya anak?” tanya Inez tidak habis pikir dengan sahabatnya ini. Dia sangat menyayangi Ambar seperti saudaranya sendiri, tetapi dia tidak pernah bisa memahaminya dengan baik.
“Iya! Itu lebih baik daripada aku punya suami yang kasar!” Lagi-lagi pembicaraan mereka akan kembali ke masalah ini. Inez mengerti dan berkali-kali juga menjelaskan pada Ambar bahwa tidak semua suami kasar. Tetapi sahabatnya yang keras kepala tersebut benar-benar tidak mau mendengarkan segala ucapannya kalau bersangkutan dengan bidang persuamian. Seolah telinganya tiba-tiba saja menjadi tuli kalau membahas tentang suami dan t***k bengeknya. Sudah berbagai cara Inez lakukan untuk meyakinkan Ambar dengan hasil nihil.
Cerita tentang rumah tangga orangtuanya yang aman-aman saja, jauh dari KDRT, sama sekali tidak dapat menenangkan Ambar. Kata Ambar keluarganya adalah sebuah pengecualian. Berkali-kali juga dia mengajak Ambar menemui teman-temannya yang sudah menikah dan bahagia. Hal itu pun tidak dapat menenangkan Ambar. Menurut Ambar, teman-temannya tersebut hanya pura-pura bahagia. Kadang ingin rasanya Inez membenturkan kepala Ambar supaya kekeraskepalaannya bisa sedikit berkurang. Kalau perlu sekalian saja Ambar hilang ingatan supaya jalan pikirannya bisa berubah. Tidak lagi segila saat ini.
Inez merasa emosinya sudah benar-benar mencapai puncaknya. Seperti yang sudah diketahui, dia sangat menyayangi Ambar, tetapi kekeraskepalaan Ambar ini melebihi kemampuannya menyayangi Ambar.
“Kamu tahu nggak sih yang namanya cyber crime?” tanya Inez gemas. Perpaduan antara kepolosan dan kekeraskepalaan terkadang membuahkan kebodohan luar biasa. Contoh nyatanya adalah Ambar sendiri.
“Tahu. Kejahatan online.”
“Tahu contohnya?”
“Tahulah. Sebagai reseller olshop sepertiku pasti pernah ngalamin. Penipuan jual beli online.” Jawab Ambar yang dibalas anggukan kepala oleh Inez. “Itu salah satunya. Yang lain kamu tahu?”
“Eum ....” Ambar terlihat mengerutkan keningnya berpikir. Baguslah kalau dia masih mau berpikir. Namun dari kerutan keningnya yang tak kunjung memudar, Inez yakin pikirannya tidak akan dapat sampai ke arah yang dia mau. Hal inilah yang membuat Inez kesal, marah dan gemas pada Ambar.
“Ambar, cyber crime itu nggak melulu cuma tentang penipuan jual-beli online. Banyak hal di luaran sana yang berbahaya. Apalagi di zaman sekarang di mana ketenaran berbanding lurus dengan keviralan. Dan sekarang apa? Kamu membuat status mencari pria yang mau ngehamilin? Apa kamu sama sekali nggak mikir akibatnya setelah itu? Gimana kalau pria yang kamu pilih ternyata orang gila, punya penyakit menular, bahkan seorang penipu atau yang lebih parah, seorang residivis?” tanya Inez yang membuat Ambar bergidik ngeri membayangkan. Ingatannya kembali pada status yang dibuatnya. Syarat pria yang dicarinya asli Jawa, berumur 20 - 40 tahun, sehat jasmani dan rohani, tidak mempunyai riwayat penyakit kejiwaan, diutamakan berpenampilan menarik.
“Kan sudah kutulis dalam syarat.” Elak Ambar yang saat itu juga menyadari kebodohannya setelah kalimat tersebut meluncur dari bibirnya. Tidak semua orang adalah orang jujur, banyak juga pembohong di luar sana. Pasti akan banyak pria pembohong yang mencoba mencari kesempatan. Ambar mulai menyadari kelalaiannya tersebut. Bagaimana caranya membuktikan calon yang dipilihnya bukan pembohong? Atau mungkinkan dia membuktikan calon tersebut bukan penjahat?
“Apakah hal itu bisa menjamin?” tanya Inez yang langsung dijawab Ambar dengan kata tidak.
“Lalu?” tanya Inez lagi.
“Untuk masalah kesehatan, sebelum kami melakukan seks, kurasa kami harus memeriksakan diri. Ya ... itulah yang harus kami lakukan. Jika terbukti sama-sama sehat. Tidak akan ada masalah.” Jawab Ambar yang saat ini mulai bisa tersenyum dengan lega. Ya, mereka harus memeriksakan diri sebelum melakukan seks.
“Terus kalau masalah dia penjahat atau bukan?”
“Aku pasti bisa menilai apakah orang tersebut penjahat atau bukan. Feeling seorang wanita kan tajam.” Jawaban Ambar tersebut terdengar sama sekali tidak meyakinkan membuat Inez mengacak rambutnya frustasi.
“Argh! Kamu konyol tahu nggak sih!” Rasanya Inez ingin sekali membenturkan kepalanya ke dinding. Bicara dengan Ambar seolah bicara dengan batu. Apa pun yang sudah diputuskan tidak dapat digoyahkan. Walaupun keputusan tersebut benar-benar konyol seperti saat ini.
“Kamu yang konyol! Apa susahnya mendukung semua keputusanku? Kamu sahabatku, kan?”
“Justru karena aku sahabatmu aku harus bikin kamu sadar kalau keputusan kamu ini bodoh!”
Tiba-tiba saja Ambar terdiam. Terlalu terkejut dengan ucapan Inez tersebut. Jadi Inez benar-benar berpikir keputusannya ini adalah keputusan bodoh? Berkali-kali bibirnya membuka, berniat membalas ucapan Inez tersebut, namun berkali-kali itu juga otaknya seolah mengalami korsleting tidak dapat memikirkan balasan apa pun.
Melihat Ambar yang terdiam, Inez mendekatinya. Dia tahu kalau Ambar terlalu terkejut dengan dirinya yang menyebut keputusan Ambar itu keputusan bodoh. Tetapi dia tidak akan menarik ucapannya tersebut. Keputusan Ambar memang bodoh dan dia tidak ingin Ambar terus berkubang dalam kebodohannya tersebut.
“Kenapa tidak mengambil jalan yang wajar? Cari pacar, lalu minta pacarmu menghamili. Tidak harus kalian menikah dulu.”
“Karena siapa pun pacarku akan merasa bertanggungjawab dan merasa harus menikahiku. Dan aku tidak mau itu.”
Kali ini Inez yang terdiam. Dia seolah kehilangan kata-kata mendengar ucapan Ambar tersebut. Rasanya kali ini Inez ingin marah kepada dunia. Kenapa rasanya dunia tidak adil memperlakukan Ambar hingga dia menjadi wanita yang seperti ini? Kenapa sahabatnya yang baik, ramah, polos harus menjadi wanita keras kepala?
“Lalu kamu akan tetap menjalankan keputusanmu ini?” tanya Inez yang sebenarnya sudah tahu jawabannya. Sesuai dengan watak Ambar yang keras kepala, dia akan tetap melakukan hal tersebut walaupun seluruh isi dunia menentangnya.
“Iya. Aku mau anak, Nez. Hanya ini satu-satunya cara.” Jawab Ambar yang entah bagaimana terdengar sangat menyedihkan. Mungkin satu hal tersebut yang selama ini diinginkan Ambar dalam hidupnya, seorang anak yang menjadi pusat cintanya seperti saat dia menjadi pusat cinta ibunya. Dan sebagai sahabat, mana mungkin Inez dapat menghalangi keinginannya tersebut?
“Baiklah. Kalau memang itu yang kamu mau. Aku hanya bisa mengatakan, aku mendukungmu walaupun sejujurnya aku tidak setuju.” Jawab Inez yang segera mendapatkan pelukan hangat dari Ambar. Bukankah sahabat akan mendukung apa pun keputusan sahabatnya walaupun itu keputusan bodoh. Kalaupun nantinya terjadi sesuatu, Inez akan selalu berada di sisinya dan membantu mengatasi masalah apa pun yang menggangu. Ya, itulah gunanya sahabat.