Di pojokan kantin sebuah gedung perkantoran, terlihat tiga buah kepala saling beradu berharap salah satu pasang mata di sana yang melihat paling jelas susunan kata yang tertera di sebuah benda kotak pipih sepanjang sepuluh inch bernama ponsel tersebut. Namun sudah pasti, sang pemilik ponsel yang berada di tengah yang dapat membaca jelas kalimat yang ada di sana.
“Serius? Beneran? Itu temen Inez yang itu?” tanya salah satu pemilik kepala yang duduk di paling kanan dengan nada yang terdengar sangat terkejut. Dia sempat berniat ntuk meminta Inez mencomblangkannya dengan gadis itu, namun sepertinya sekarang niatnya pudar seiring dengan kenyataan yang masih tidak dapat dipungkiri. Gadis yang dikiranya polos, ramah, dan menyenangkan tersebut ternyata memiliki sifat nakal yang berhasil disembunyikan dengan baik. Jangan-jangan sikap polosnya selama ini hanya sandiwara saja.
“Nggak nyangka ya, padahal mukanya polos gitu. Mana kalem lagi pembawaannya. Tapi ternyata ....” balas salah satu pemilik kepala yang lain yang duduk di sebelah kiri terdengar begitu kecewa menghela napas panjang. Ya, paling tidak dia sudah tahu kalau gadis yang ditaksirnya selama ini ternyata mengecewakan.
“Tapi, Bro, berminat nggak sih lu lu pada?” tanya pemilik ponsel yang juga merupakan salah satu pemilik kepala yang duduk di antara dua kepala lain tersenyum dengan sangat lebar. Sudah-sudah dia membayangkan melakukan banyak hal dengan teman Inez tersebut. Hal yang jelas menghasilkan berbagai macam cairan tersebut. Pasti menyenangkan!
“Gila kamu! Temen Inez itu.”
“Tauk nih. Gila kamu!”
“Ck, jangan muna lah lu lu pada. Kan dia sendiri yang nawarin diri. Bukan kita yang maksa.”
“Woi, apaan nih pada nyebut nama gue? Dan siapa yang nawarin diri dan siapa yang maksa?” Tiba-tiba sebuah dorongan keras di belakang kepala dirasakan ketiga buah kepala yang masih beradu tadi. Inez, gadis dengan rambut berpotongan bob yang sejak tadi namanya disebut-sebut oleh ketiga pria tersebut tersenyum dengan sangat lebar melihat kelakuan ketiga temannya tersebut. Pasti mereka sedang menonton film porno lagi seperti kebiasaan mereka saat jam istirahat. Dasar kelakuan pria-pria haus belaian!
“Eh ... anu.”
“Kagak ada apa-apa kok, Nez.”
“Temen lu Ambar apa kabar, Nez?”
Tiga balasan yang berbeda-beda tersebut sebenarnya sudah biasa Inez dapatkan saat dirinya memergoki tiga pria kardus tersebut melihat gambar atau menonton film porno. Namun disebutnya nama Ambar entah kenapa terasa janggal. Memang sih, Inez selalu berusaha mengenalkan teman-temannya pada Ambar, jadi sebagian besar teman Inez akan menjadi teman Ambar juga. Dan banyak dari teman-teman prianya tersebut sepengetahuan Inez diam-diam atau justru terang-terangan menaksir Ambar. Jadi kalau mereka memberi sinyal-sinyal godaan atau titip salam untuk Ambar padanya, itu semua wajar. Tetapi menanyakan kabar? Entah kenapa hal itu mencurigakan. Karena rasanya baru sekali ini Inez mendapatkan pertanyaan tersebut.
“Kenapa lu tanya-tanya kabar Ambar?” tanya Inez menyipitkan mata penuh curiga ke arah Doni, sang penanya kabar Ambar tadi yang juga pemilik ponsel yang mereka kerubungi tadi. Yanto dan Diki yang duduk mengapit Doni terlihat sangat resah dan berusaha memberikan sinyal pada Doni untuk tetap diam. Tetapi bukan Doni namanya kalau peka akan keadaan sekitar.
“Loh, lu belum lihat f*******:?” tanya Doni dengan ekspresi pura-pura terkejut membuat Yanto dan Diki mengerang kesal.
“Ngapain gue kudu lihat f*******:?” Sipitan mata Inez terlihat semakin tajam, dan kerutan di keningnya semakin berlipat. Memangnya apa hubungan f*******: dengan kabar Ambar? Zaman sekarang banyak sekali orang yang dapat kita ketahui kabarnya hanya dari halaman media sosialnya, tetapi selama mengenal Ambar, Inez tahu dia bukan jenis orang seperti itu. Karena setahu Inez, f*******: Ambar hanya digunakan untuk melancarkan bisnis online-nya saja. Jadi kenapa Doni menanyakan hal tersebut?
“Lah, lu nggak tahu kalau ....” Belum selesai Doni menjawab saat Yanto membekap mulut Doni dengan telapak tangannya, “Nggak usah peduliin Doni, Nez. Udah ya, kita duluan.”
Terlihat tergesa-gesa, Yanto dan Diki menyeret Doni dari hadapan Inez dengan masih membekap mulutnya. Bahkan beberapa kali terlihat Diki memukul dan mengomeli Doni. Ada apa sebenarnya dengan mereka ini?
Sebelum Yanto dan Diki berhasil menyeret Doni keluar dari kantin, terdengar seruan sebelum Yanto kembali membekap mulutnya, “NEZ ... BILANGIN AMBAR AKU BERSEDIA LAHIR DAN BATIN. AKU SIAP BUAT JADI ... BBBB ....”
Ada apa dengan mereka bertiga? Tiba-tiba Inez merasa ada yang salah dengan Ambar dan dia sama sekali belum bisa menebak apa itu. f*******:. Ya, tadi Doni menyebut-nyebut tentang f*******:. Pasti ada sesuatu di sana yang menyangkut Ambar.
Dengan cepat Inez segera meraih ponselnya yang disimpan di saku celananya, tergesa membuka halaman f*******:-nya. Namun sial, entah kenapa sinyal ponsel seolah tidak mendukungnya. Aplikasi yang dibukanya berjalan sangat lambat atau bahkan tidak berjalan sama sekali. Sudah satu menit berlalu saat Inez teringat kalau kuota internetnya habis. “Ah, sial!”
Entah kenapa semakin lama perasaannya semakin tidak enak. Teringat lagi beberapa ucapan yang Ambar katakan kemarin—yang hanya dianggapnya candaan. Sungguh-sungguh sial kalau itu semua bukan candaan!
Merasa kesal dengan ponsel yang saat dibutuhkan justru tidak dapat digunakan, Inez memelototi ponsel tersebut. Bagaimana ini? Jangan sampai hal itu benar-benar terjadi. Panik, Inez mengedarkan pandangan ke segala penjuru kantin. Masa iya dia harus menyusul trio kardus tadi yang pastinya sudah naik ke lantai tiga gedung ini, lantai yang juga merupakan tempat kerja Inez. Tidak perlu! Pasti ada seseorang yang bisa dimintai bantuan sekarang. Sekali lagi Inez mengedarkan pandangan hingga matanya melekat pada Bang Tono, penjual ketoprak langganannya di kantin. Terlihat Bang Tono sedang tersenyum-senyum dengan pandangan lekat pada ponselnya. Ya, Bang Tono pasti mau membantunya.
Dengan setengah berlari Inez mendekati Bang Tono, “Bang, Inez boleh minjem hapenya bentar nggak?”
“Eh, Neng Inez. Mau ngapain, Neng?”
“Mendesak nih, Bang. Mau buka f*******: bentar, tapi lagi nggak ada kuota. Minjem bentar ya?”
“Oh, iya. Ini, Neng.” Bang Tono memang menyerahkan ponsel, tetapi jiwa keponya jelas tidak dapat ditutupi. Pelan-pelan dia menempatkan diri di sebelah Inez yang sudah sibuk berusaha mengoperasikan ponsel Bang Tono sehingga tidak terlalu memedulikan sekitar.
Dibukanya aplikasi f*******: yang tersedia di ponsel Bang Tono. Tanpa mengganti akun Bang Tono dengan akunnya sendiri, Inez mengetik di kolom pencarian nama Ambar. Ambar Anindya. Inez tahu akun Ambar sama sekali tidak diatur dalam mode privat sehingga siapa pun bisa melihat detail informasi dan juga status-statusnya. Dan ya, tidak perlu lama saat nama Ambar terpampang.
Begitu membuka halaman akun Ambar, Inez terlalu terkejut hingga hampir saja menjatuhkan ponsel Bang Tono kalau saja Bang Tono tidak sigap meraih ponselnya, “Eh, Neng Inez ... hati-hati. Hape mahal ini.”
Tidak mungkin! Ini semua pasti mimpi! Nggak mungkin Ambar senekat itu! Inez benar-benar masih belum bisa menerima apa yang baru saja dilihat dan dibacanya di status teratas Ambar, tertulis jelas di sana.
Dicari :
Seorang pria asli Jawa, berumur 20 - 40 tahun, sehat jasmani dan rohani, tidak mempunyai riwayat penyakit kejiwaan, diutamakan berpenampilan menarik.
Syarat terpenting :
Bersedia menghamili saya tanpa menuntut dan dituntut sebuah komitmen, hubungan, ikatan dan pertanggungjawaban.
Dibutuhkan segera!
Gila! Ambar benar-benar sudah gila! Inez masih merasa tidak percaya saat terdengar celetukan dari Bang Tono yang jelas ikut membaca status Ambar tadi, “Wah, zaman sekarang ya, pengen terkenal aja kudu begini amat, bikin status aneh-aneh dulu biar viral.”
Oh ya, Inez lebih bahagia seandainya Ambar senekat itu hanya karena ingin viral dan terkenal. Tapi hatinya yang terdalam tahu bahwa bukan itu yang terjadi.
Ambar ... gila kamu!