Mark terdiam cukup lama setelah mendengar ucapan Andin.
"Menikahkan Alyn dengan laki-laki lain? Ayahmu serius?"
Andin mengangguk. "Ayah bilang ini satu-satunya cara untuk menutup malu keluarga dan memberikan seorang ayah untuk anak Alyn."
"What a ridiculous idea! Anak itu punya ayah. Tristan memang bodoh, tapi dia masih hidup."
Andin menatap cincin di jarinya. Kebahagiaan yang baru saja dirasakan tertutup kekhawatiran kepada adiknya.
Mark menelepon Tristan, tetapi panggilannya tidak dijawab. Ia kemudian mengirim pesan singkat: Jika kau masih mencintai Alyn, datang sebelum terlambat.
Di rumah, Alyn duduk di hadapan ayahnya. Laki-laki yang akan dijodohkan dengannya bernama Revan, putra rekan bisnis keluarga. Revan mengetahui kehamilan Alyn dan tetap bersedia menikah.
"Aku tidak membutuhkan pernikahan," kata Alyn.
Ayahnya membanting tangan ke meja. "Kau membutuhkan nama baik dan anakmu membutuhkan ayah!"
"Anakku sudah punya ayah biologis. Aku hanya tidak ingin kembali kepadanya."
"Pria yang meninggalkanmu itu tidak pantas disebut ayah."
Alyn menahan tangis. Tristan tidak benar-benar meninggalkannya; dialah yang mengakhiri hubungan setelah luka serta salah paham menumpuk. Namun menjelaskan hal itu tidak akan mengurangi kemarahan ayahnya.
Revan meminta waktu berbicara berdua. Ia mengatakan tidak ingin memaksa dan hanya datang karena orangtuanya menyebut Alyn membutuhkan bantuan.
"Saya bisa menolak perjodohan ini," katanya. "Tapi saya ingin memastikan keputusanmu benar-benar milikmu."
Alyn lega karena Revan tidak seperti yang dibayangkan. Ia meminta pria itu menolak di depan keluarga agar tekanan berhenti.
Sebelum Revan menjawab, pintu rumah terbuka. Tristan berdiri di sana dengan napas memburu.
"Tidak ada yang akan menikahi Alyn selain aku," katanya.
Alyn bangkit dengan marah. "Siapa yang mengizinkanmu datang dan menentukan hidupku?"
Tristan terdiam. Ia datang untuk memperjuangkan, tetapi kalimat pertamanya justru kembali mengabaikan pilihan Alyn.
ALYN'S POV
Aku menatap Tristan dan merasakan seluruh luka lama terbuka lagi. Wajahnya terlihat lelah, lingkar hitam di bawah matanya semakin jelas.
"Keluar," kataku.
"Alyn, dengarkan aku."
"Kau datang lalu bicara seolah aku hadiah yang diperebutkan. Pernikahanku bukan keputusanmu."
Ayah berdiri dan menyuruh Tristan pergi. Tristan menolak sebelum mendapat kesempatan membicarakan kehamilanku.
"Anak itu anakku. Aku akan bertanggung jawab."
"Bertanggung jawab bukan berarti aku harus menikah denganmu," jawabku.
Ruangan mendadak sunyi. Revan menjadi orang pertama yang mundur.
"Alyn benar. Tidak ada pernikahan yang boleh diputuskan tanpa persetujuannya," katanya.
Ayah marah karena Revan membela diriku. Andin serta Mark datang dan berdiri di sisiku. Untuk pertama kalinya, aku tidak menghadapi ayah sendirian.
Tristan meminta berbicara di teras. Aku menerima hanya karena ingin seluruh persoalan selesai.
"Aku tidak punya kekasih baru," katanya. "Wanita yang kau lihat di rumah sakit adalah rekan dokter dan aku membiarkanmu salah paham karena marah."
"That makes it worse. Kau tahu aku hancur dan memilih diam."
Tristan menunduk. Ia mengaku terlalu terluka setelah aku memutuskan hubungan. Ketika bertemu lagi, gengsi membuatnya ingin terlihat sudah melanjutkan hidup.
"Aku menyesal."
"Penyesalanmu tidak menghapus sembilan tahun yang berakhir karena kita tidak bisa bicara dengan jujur."
Tristan meminta terlibat dalam pemeriksaan kehamilan, bukan sebagai kekasih, melainkan ayah anakku. Aku belum siap, tetapi aku juga tidak ingin memakai bayi untuk menghukumnya.
Kami sepakat semua komunikasi mengenai kehamilan dilakukan langsung, bukan melalui keluarga. Ia tidak boleh datang tanpa memberi tahu dan tidak boleh menyentuhku tanpa izin.
"Aku akan menunggu," katanya.
"Jangan menunggu aku kembali. Tunjukkan saja bahwa kau bisa menjadi ayah yang baik."
Tristan mengangguk. Saat ia pergi, dadaku terasa sakit. Aku masih mencintainya, tetapi cinta tidak cukup membuat kepercayaan kembali dalam satu malam.
Tristan tiba tiga puluh menit lebih awal untuk pemeriksaan kandungan. Alyn datang bersama Aldo dan terkejut melihatnya sudah menunggu.
"Mas Tristan tidak sedang kerja?" tanya Aldo.
"Aku menukar jadwal operasi."
Alyn tidak berterima kasih berlebihan. Menghadiri pemeriksaan anak sendiri adalah tanggung jawab, bukan pengorbanan luar biasa.
Di ruang dokter, suara detak jantung janin terdengar. Tristan menutup mulut dengan tangan dan matanya basah.
"Dia benar-benar ada," bisiknya.
Alyn juga menangis. Selama ini kehamilan terasa seperti ketakutan, kemarahan ayah, dan bukti hubungan yang gagal. Suara kecil tersebut mengingatkannya ada kehidupan yang tidak bersalah di tengah semua masalah.
Dokter menjelaskan kondisi Alyn baik, tetapi stres serta kurang tidur harus dikurangi. Tristan langsung ingin menyusun jadwal makanan dan istirahat.
"Aku bisa mengurus diriku," kata Alyn.
"Aku hanya ingin membantu."
"Tawarkan, jangan memerintah."
Tristan berhenti dan mengangguk. "Apa yang kau butuhkan?"
Alyn meminta bantuan biaya pemeriksaan dibagi, bukan ditanggung seluruhnya. Ia juga meminta Tristan tidak memberi informasi kepada keluarganya tanpa izin.
Setelah pemeriksaan mereka makan siang bersama Aldo. Tristan memesan makanan sehat untuk Alyn tanpa bertanya. Alyn menukar pesanannya dengan makanan yang diinginkan dan menatapnya menantang.
"Dokter bilang nutrisi seimbang, bukan makanan hambar seumur hidup."
Aldo tertawa melihat Tristan tidak berkutik.
Saat pulang, Tristan memberikan buku catatan berisi jadwal kontrol. Tidak ada hadiah mahal atau cincin.
"Aku membuat satu salinan untukmu dan satu untukku," katanya.
Alyn menerima. Langkah itu kecil, tetapi terasa lebih nyata daripada janji besar.
Malamnya Alyn menerima pesan dari nomor tidak dikenal: Jangan percaya Tristan. Tanyakan kenapa pernikahan kalian dahulu dibatalkan.
Alyn menunjukkan pesan tersebut kepada Andin. Kakaknya mengira itu hanya orang yang ingin mengganggu, tetapi Alyn teringat Tristan tidak pernah memberi jawaban lengkap mengenai minggu terakhir sebelum pertunangan mereka batal.
Ia meminta bertemu Tristan di tempat umum.
"Kenapa dulu kau tiba-tiba meminta menunda pernikahan?" tanyanya.
Tristan terdiam. Ia akhirnya mengaku mendapat hasil pemeriksaan yang menunjukkan kemungkinan memiliki penyakit genetik turunan. Ia takut tidak dapat memiliki anak sehat dan memilih menjauh tanpa menjelaskan.
"Kau membuat keputusan untuk kita berdua," kata Alyn. "Lalu membiarkanku berpikir kau tidak yakin menikah denganku."
"Aku takut kau akan bertahan karena kasihan."
"Kau tidak memberi aku kesempatan memilih."
Tristan telah menjalani pemeriksaan lanjutan. Risiko penyakit tersebut ternyata rendah dan dapat diperiksa selama kehamilan. Ia menyesal mempercayai ketakutannya sebelum hasil lengkap.
Alyn marah bukan karena penyakit, melainkan kebohongan serta sikap Tristan yang merasa berhak melindunginya melalui kepergian.
Mereka berkonsultasi dengan dokter genetika. Pemeriksaan awal janin tidak menunjukkan masalah, tetapi tes tambahan tersedia jika Alyn menginginkannya.
Alyn meminta waktu memutuskan. Tristan menghormati.
Nomor anonim kembali mengirim pesan, kali ini dengan salinan hasil pemeriksaan lama Tristan. Artinya pengirim memiliki akses pada data medis rahasia.
Rumah sakit membuka penyelidikan. Seorang pegawai mengakses berkas Tristan tanpa alasan pekerjaan.
Pegawai itu mengaku dibayar oleh seorang perempuan bernama Clara—mantan pasien Tristan yang selama ini mengaku sebagai kekasih barunya di depan Alyn.
Tristan menjelaskan Clara pernah terobsesi kepadanya dan sudah dilarang mendekat. Ia menyembunyikan masalah tersebut karena malu serta takut Alyn menganggapnya berbohong lagi.
"Kau baru saja membuktikan bahwa kau masih menyembunyikan sesuatu saat takut," kata Alyn.
Kepercayaan yang mulai tumbuh kembali retak.