Clara mendatangi rumah Alyn sebelum polisi sempat memanggilnya. Ia membawa bunga dan mengaku hanya ingin menjelaskan.
Aldo tidak membiarkannya masuk. Alyn berbicara dari balik pagar sambil merekam percakapan.
"Tristan mencintaiku sebelum kembali kepadamu," kata Clara.
"Tristan bilang kalian tidak pernah berpacaran."
Clara menunjukkan foto mereka makan malam serta Tristan memegang tangannya. Foto itu terlihat intim, tetapi tanggalnya menunjukkan masa setelah Alyn dan Tristan putus.
Alyn menahan sakit. Meski mereka sudah berpisah waktu itu, melihat Tristan bersama orang lain tetap menyakitkan.
Tristan datang bersama Mark. Ia menjelaskan makan malam terjadi setelah Clara mengalami serangan panik sebagai pasien. Memegang tangan merupakan tindakan menenangkan, bukan hubungan romantis.
Clara marah dan menuduh Tristan memberinya harapan. Tristan mengakui batas profesionalnya saat itu tidak cukup jelas. Ia meminta maaf kepada Clara, tetapi menegaskan tidak pernah menjanjikan hubungan.
Polisi membawa Clara untuk diperiksa terkait pencurian data dan ancaman. Ia tidak melakukan kekerasan, tetapi tindakannya telah melanggar privasi.
Alyn tidak langsung membela Tristan. "Kau seharusnya melaporkan obsesinya sejak awal."
"Aku tahu. Aku mencoba menyelesaikan sendiri dan membuatnya lebih buruk."
Rumah sakit meninjau perilaku Tristan. Ia diberi peringatan karena bertemu mantan pasien di luar prosedur dan diminta mengikuti pelatihan batas profesional.
Tristan menerima tanpa menggunakan reputasinya sebagai dokter bedah untuk menghindari akibat.
Setelah semua orang pergi, Alyn duduk di teras. Tristan berdiri beberapa langkah darinya.
"Aku lelah menemukan rahasia baru," kata Alyn.
"Tidak ada lagi yang kusimpan."
"Aku tidak bisa percaya hanya karena kau bilang."
"Apa yang harus kulakukan?"
"Berhenti meminta aku memberi jawaban cepat. Hadir untuk anak kita dan biarkan tindakanmu bicara."
Tristan mengangguk lalu pergi setelah memastikan Aldo berada di rumah.
Malam itu Alyn merasakan gerakan kecil pertama dari dalam kandungan. Ia hampir menelepon Tristan, tetapi berhenti. Kemudian ia mengirim pesan sederhana: Bayinya bergerak untuk pertama kali.
Balasan Tristan datang beberapa detik kemudian: Thank you for telling me. I wish I was there, but I will wait until you invite me.
ALYN'S POV
Aku menatap balasan Tristan cukup lama. Kalimatnya tidak memaksa, tidak pula penuh janji besar seperti dahulu.
Bayiku kembali bergerak. Tanpa berpikir panjang aku mengetik: Can you come?
Tristan tiba dua puluh menit kemudian masih memakai pakaian rumah sakit. Ia berhenti di depan pintu dan menunggu Aldo membukakan.
"Kau terbang ke sini?" tanyaku.
"Aku menyetir sesuai batas kecepatan. Hampir semuanya."
Aku memintanya duduk lalu mengarahkan tangannya ke perutku. Tristan tidak bergerak sampai aku sendiri menempelkan telapak tangannya.
Beberapa menit tidak terjadi apa-apa. Tristan terlihat kecewa.
"Mungkin dia tidak menyukaiku."
"Dia bahkan belum tahu kau menyebalkan."
Tepat setelah itu, gerakan kecil terasa. Mata Tristan membesar dan ia tertawa sambil menangis.
"Hi, Baby. This is your stupid father."
Aku ikut menangis. Untuk sesaat kami kembali menjadi dua orang yang pernah saling mencintai selama sembilan tahun.
Namun aku menarik tangan ketika Tristan hendak memeluk. Ia langsung mundur.
"Maaf."
"Aku belum siap."
"I know."
Tristan tinggal hanya satu jam. Ia membantu Aldo memperbaiki keran dan membawa makanan yang dipilih setelah bertanya, bukan menentukan.
Sebelum pulang, ia memberikan salinan jadwal kerjanya agar aku tahu kapan dapat menghubungi dalam keadaan darurat.
Malam itu ayah mengetahui Tristan datang. Ia marah dan mengancam kembali menghubungi keluarga Revan.
Aku berdiri di hadapannya. "Aku tidak akan menikah hanya untuk menutup malu. Kalau Ayah mengusirku, aku akan tinggal dengan Andin."
Untuk pertama kalinya aku mengucapkan pilihan itu tanpa gemetar.
Ayah benar-benar menyuruh Alyn meninggalkan rumah. Ibu menangis dan mencoba menenangkan, tetapi kemarahan ayah belum reda.
Andin membawa Alyn ke apartemennya. Mark membantu mengangkat barang, sedangkan Aldo memilih ikut karena tidak mau kakaknya sendirian.
Tristan mendengar kabar dari Mark dan menawarkan rumahnya. Alyn menolak.
"Aku membutuhkan tempat yang tidak membuatku merasa berutang kepadamu," katanya.
Tristan menerima. Ia hanya membayar bagian pemeriksaan yang telah mereka sepakati.
Andin serta Mark mulai merencanakan pernikahan. Alyn merasa bersalah karena masalahnya mengganggu kebahagiaan kakaknya.
"Kau bukan gangguan," kata Andin. "Tapi kau juga tidak boleh memakai rasa bersalah untuk mengambil alih semua keputusanku."
Hubungan kakak-adik itu menjadi lebih jujur. Andin mengakui dahulu iri pada kisah Alyn dan Tristan. Kini ia memahami hubungan panjang tidak selalu berarti sehat.
Mark mengajak Tristan berbicara. Ia menegur sahabatnya karena kebiasaan menyembunyikan masalah atas nama perlindungan.
"You are a surgeon, not God. Kau tidak bisa menentukan hasil hidup semua orang."
Tristan mengikuti konseling pribadi. Ia juga mengurangi kopi dan mulai tidur, meski mimpi buruk masih datang.
Ayah jatuh sakit beberapa hari kemudian karena tekanan darah tinggi. Alyn ingin pulang, tetapi takut kemarahan kembali melukai mentalnya.
Ia mengunjungi rumah sakit dengan Andin. Ayah memalingkan wajah dan hanya bertanya apakah Alyn sudah berubah pikiran tentang Revan.
"Tidak," jawab Alyn. "Aku datang sebagai anak, bukan calon istri pilihan Ayah."
Ayah menyuruhnya pergi. Di lorong, Alyn bertemu Tristan yang bertugas malam.
Tristan tidak langsung memeluk. Ia hanya bertanya, "Do you need me to stay?"
Alyn mengangguk. Mereka duduk bersama tanpa bicara sampai tangisnya berhenti.
Pernikahan Andin dan Mark dilaksanakan sederhana satu bulan kemudian. Alyn menjadi pendamping pengantin dengan perut yang mulai terlihat jelas.
Ayah hadir, tetapi tetap menjaga jarak dari Alyn. Ibu beberapa kali menyentuh tangannya untuk memberi dukungan.
Tristan datang sebagai sahabat Mark, bukan pasangan Alyn. Ia duduk di sisi berbeda dan tidak memaksa berfoto bersama.
Ketika Andin berjalan menuju altar, Alyn menangis. Ia teringat rencana pernikahannya sendiri yang pernah gagal.
Setelah upacara, Tristan bertanya apakah Alyn baik-baik saja.
"Aku bahagia untuk Andin. Aku hanya berduka untuk sesuatu yang pernah kubayangkan."
"Aku juga."
Mereka tidak menggunakan pernikahan orang lain untuk membicarakan lamaran baru.
Dalam resepsi, Revan datang sebagai tamu keluarga. Ayah sengaja menempatkannya dekat Alyn. Revan segera memindahkan kursi setelah menyadari maksud tersebut.
"Saya sudah menolak perjodohan itu," katanya. "Ayahmu masih berharap saya berubah pikiran."
Tristan melihat mereka bicara dan tampak cemburu, tetapi tidak ikut campur. Alyn menghargai usahanya menahan diri.
Malamnya Alyn mengalami kram. Tristan memeriksanya di ruangan tenang dan menyarankan pergi ke rumah sakit. Pemeriksaan menunjukkan hanya kontraksi palsu akibat kelelahan.
Ayah menyalahkan Tristan karena mendekati Alyn. Kali ini Mark membela sahabatnya, sedangkan Andin mengatakan ayah telah merusak hari pernikahannya dengan terus mengendalikan Alyn.
Ayah akhirnya pergi dalam keadaan marah.
Sesudah semua tenang, Alyn berkata kepada Tristan, "Thank you for not fighting with Revan."
"Aku ingin."
"Tapi kau tidak melakukannya. Itu yang penting."
Kepercayaan tidak pulih karena kata cinta. Ia kembali melalui pilihan kecil ketika tidak ada yang memaksa.