Alyn mencari apartemen sendiri sebelum bayi lahir. Andin baru menikah dan Alyn tidak ingin terus tinggal bersama pengantin baru.
Tristan menawarkan bantuan mencari tempat, bukan membayar semuanya. Mereka mengunjungi beberapa apartemen bersama Aldo.
Tempat pertama terlalu mahal, tempat kedua jauh dari rumah sakit, dan tempat ketiga berada di lantai tinggi tanpa lift yang baik.
"Kau akan melahirkan sebelum sampai kamar kalau naik tangga ini," kata Aldo.
Akhirnya Alyn memilih unit kecil dekat rumah Andin. Tabungannya cukup untuk sewa, sementara Tristan menanggung setengah biaya sebagai bagian kebutuhan anak.
Mereka membuat perjanjian pengasuhan tertulis bersama pengacara. Tristan berhak menerima informasi kesehatan bayi dan hadir jika Alyn menyetujui. Biaya dibagi sesuai kemampuan, tetapi bantuan tidak memberi Tristan hak mengatur Alyn.
"Hubungan sembilan tahun berubah menjadi dokumen," kata Tristan sedih.
"Dokumen ini bukan pengganti cinta. Ini batas agar kita tidak saling menyakiti lagi."
Tristan menandatangani.
Mereka mulai menyiapkan kamar bayi. Tristan ingin membeli semua barang terbaik, sedangkan Alyn memilih barang yang benar-benar dibutuhkan.
"Bayi tidak perlu kereta dorong seharga motor," katanya.
"Keamanannya bagus."
"Yang lebih murah juga aman."
Aldo menjadi penengah dengan membaca ulasan produk. Untuk pertama kali persiapan bayi terasa menyenangkan.
Saat memasang ranjang, Tristan terluka kecil karena salah memakai alat. Alyn tertawa melihat dokter bedah kalah oleh obeng.
Mereka saling memandang terlalu lama. Tristan bertanya apakah boleh mencium Alyn.
Alyn belum siap dan berkata tidak. Tristan menerima tanpa menunjukkan kekecewaan sebagai hukuman.
Malam itu Alyn menyadari penolakannya dihormati. Hal sederhana tersebut membuat rasa aman tumbuh sedikit lebih besar.
Ayah datang ke apartemen baru tanpa pemberitahuan. Ia melihat barang bayi serta dokumen pengasuhan di meja.
"Kau benar-benar memilih membesarkan anak tanpa menikah?"
"Aku memilih tidak menikah karena paksaan," jawab Alyn.
Ayah menawarkan membeli apartemen lebih besar jika Alyn bersedia menjauh dari Tristan. Alyn menolak uang tersebut.
"Ayah pikir semua keputusan bisa dibeli?"
"Ayah hanya ingin melindungimu."
"Melindungi bukan berarti mengambil pilihanku."
Tristan datang membawa obat vitamin yang diminta Alyn. Ayah langsung menuduhnya merusak masa depan putrinya.
Tristan tidak membalas dengan kemarahan. Ia mengakui dirinya menyakiti Alyn melalui kebohongan dan kepergian.
"Saya tidak meminta Alyn kembali sekarang," katanya. "Saya hanya ingin menjadi ayah yang bertanggung jawab."
Ayah bertanya apakah Tristan akan menikahi Alyn jika diberi kesempatan.
"Saya mau. Tapi jawaban saya tidak penting jika Alyn tidak mau."
Ucapan tersebut membuat ayah terdiam. Ia pergi tanpa meminta maaf, tetapi tidak lagi mengancam perjodohan.
Beberapa hari kemudian ibu datang membawa makanan dan mengatakan ayah diam-diam menanyakan jadwal persalinan. Kemarahannya mulai melemah, meski gengsi belum mengizinkan ia mengaku salah.
Pada pemeriksaan berikutnya dokter menemukan tekanan darah Alyn meningkat. Ia harus mengurangi stres dan dipantau lebih sering.
Tristan ingin mengambil cuti panjang. Alyn meminta ia tetap bekerja dan hanya hadir pada jadwal penting.
"Aku tidak mau seluruh hidupmu berhenti karena aku hamil."
"Kau dan bayi adalah bagian hidupku."
"Bagian, bukan seluruhnya."
Tristan memahami. Namun dua minggu kemudian tekanan darah Alyn meningkat tajam dan ia harus dirawat. Dokter memperingatkan risiko preeklamsia yang dapat membahayakan ibu serta bayi.
ALYN'S POV
Suara alat pemantau membuatku semakin cemas. Dokter kandungan menjelaskan tekanan darahku harus dikendalikan dan kondisi bayi dipantau setiap hari.
Tristan berdiri di samping ranjang, tetapi ia tidak ikut memeriksa sebagai dokter. Ia menyerahkan keputusan kepada tim yang tidak memiliki hubungan pribadi denganku.
"Apa aku harus melahirkan sekarang?" tanyaku.
"Belum tentu," jawab dokter. "Kita berusaha mempertahankan kehamilan selama aman bagi ibu dan bayi."
Tristan menggenggam tanganku setelah aku mengulurkannya. Wajahnya tenang, tetapi jemarinya dingin.
Ayah datang malam itu. Ia tidak membawa Revan atau membahas pernikahan. Ia hanya duduk jauh dan bertanya apakah aku membutuhkan sesuatu.
"Aku butuh Ayah tidak memarahiku," jawabku.
Ayah menunduk. "Ayah takut, Alyn. Tapi ketakutan bukan alasan menyakitimu."
Itu bukan permintaan maaf lengkap, tetapi menjadi awal.
Selama empat hari tekanan darahku membaik. Aku diizinkan pulang dengan aturan istirahat, obat, dan pemeriksaan rutin.
Tristan menawarkan tinggal di ruang tamu. Aku menolak karena belum ingin serumah, tetapi setuju ia membuat jadwal bergantian bersama Andin dan Aldo.
Malam pertama di rumah, sakit kepala berat kembali muncul. Aku mencoba menunggu sampai pagi karena tidak ingin merepotkan siapa pun.
Namun aku teringat semua orang memintaku bicara sebelum terlambat. Aku menelepon Tristan.
Ia datang bersama ambulans, bukan mobil pribadi. Tekanan darahku kembali sangat tinggi dan dokter mengatakan waktu persalinan mungkin lebih dekat daripada perkiraan.
Usia kandungan Alyn memasuki tiga puluh empat minggu. Tim medis memberikan obat pematangan paru bayi dan memantau tanda kerusakan organ.
Hasil darah menunjukkan kondisi preeklamsia memburuk. Dokter merekomendasikan persalinan segera.
Alyn menangis. "Aku belum siap. Kamarnya bahkan belum selesai."
"Kamar bisa selesai nanti," kata Andin. "Kau dan bayi harus selamat dulu."
Tristan menjelaskan prosedur hanya ketika Alyn meminta. Ia tidak memakai gelar dokter untuk memengaruhi keputusan.
Karena kondisi bayi menurun, operasi sesar dipilih. Alyn menunjuk Tristan sebagai pendamping setelah ayahnya menandatangani dokumen keluarga cadangan.
Di ruang operasi, Alyn gemetar.
"Look at me," kata Tristan. "Kau tidak sendirian."
Tangisan bayi terdengar beberapa menit kemudian. Bayi laki-laki mereka lahir kecil dan segera dibawa ke unit neonatal.
Alyn mengalami pendarahan yang membutuhkan penanganan tambahan. Tristan tidak dapat ikut campur dan hanya berdiri dekat kepalanya sambil berdoa.
Setelah keadaan stabil, Alyn dipindahkan ke ruang pemulihan. Bayi mereka membutuhkan bantuan pernapasan, tetapi dokter mengatakan peluangnya baik.
Tristan melihat putranya melalui dinding inkubator. Ia menangis dan memperkenalkan diri sebagai ayah.
Mereka memberi nama Theo, nama yang pernah dibicarakan saat hubungan masih baik.
Ketika Alyn sadar, pertanyaan pertamanya mengenai bayi. Tristan menunjukkan foto dan menjelaskan kondisi tanpa menyembunyikan.
"Aku ingin melihatnya."
"Setelah dokter mengizinkan. Aku akan menunggu bersamamu."
Malam itu kondisi Theo belum stabil. Tristan duduk di antara ruang Alyn dan unit neonatal, takut kehilangan keduanya sekaligus.