Alyn melihat Theo pertama kali menggunakan kursi roda. Tubuh kecil itu dipenuhi kabel dan selang.
"Ini salahku," katanya.
Tristan berlutut. "Preeklamsia bukan pilihanmu. Tubuhmu tidak gagal. Tubuhmu membawa dia sampai sejauh ini."
Perawat mengajarkan mereka menyentuh Theo melalui lubang inkubator. Jari mungil bayi itu menggenggam Alyn.
Hari-hari berikutnya bergerak lambat. Theo mengalami jeda napas, lalu membaik. Bantuan oksigen dikurangi sedikit demi sedikit.
Alyn kesulitan menghasilkan ASI dan merasa tidak layak menjadi ibu. Konselor laktasi menjelaskan susu tambahan tidak mengurangi ikatan mereka.
Tristan tidak mengubah jumlah susu menjadi target medis. Ia membantu mencatat hanya ketika Alyn meminta.
Ayah datang setiap hari, tetapi tidak memaksa masuk. Suatu sore ia meminta maaf.
"Ayah lebih memikirkan nama keluarga daripada ketakutanmu. Ayah salah."
Alyn menerima permintaan maaf tanpa mengatakan semua luka hilang.
Pada minggu kedua Theo dapat bernapas sendiri. Dokter mengizinkan metode kanguru. Alyn memeluk bayi di dadanya sambil menangis.
Tristan mendapat giliran berikutnya. Melihat Theo tertidur di dada Tristan membangkitkan rasa cinta lama dalam diri Alyn, tetapi ia tidak ingin mengambil keputusan saat mereka sedang rentan.
"Kita bicara tentang hubungan setelah Theo pulang," katanya.
"Aku akan menunggu."
Theo diperbolehkan pulang tiga minggu kemudian setelah berat badan dan kemampuan minumnya cukup.
Di pintu rumah sakit, media menunggu setelah seseorang membocorkan berita kelahiran. Tristan melindungi privasi Theo dan menolak memberikan foto.
Kepulangan Theo mengubah apartemen Alyn menjadi tempat penuh botol, popok, dan tangisan. Tristan tinggal beberapa malam di ruang tamu berdasarkan kesepakatan pengasuhan.
Ia pandai menghadapi keadaan darurat medis, tetapi panik ketika Theo cegukan.
"Dia berhenti bernapas?" tanyanya.
"Dia cuma cegukan, Dokter Bedah Gila," ejek Aldo.
Alyn tertawa untuk pertama kali setelah persalinan.
Kurang tidur membuat emosi mereka mudah naik. Suatu malam Tristan mengubah jadwal pemberian susu tanpa bicara. Alyn marah karena merasa kembali diatur.
"Aku hanya mengikuti saran terbaru."
"Kau harus memberitahuku. Aku ibunya, bukan pasien yang kau beri instruksi."
Tristan meminta maaf dan mengembalikan jadwal sebagai keputusan bersama.
Andin serta Mark membantu agar Alyn dapat tidur. Ayah juga belajar mengganti popok meski berkali-kali salah memasang.
Beberapa minggu kemudian Alyn sering menangis, merasa cemas berlebihan, dan takut meninggalkan Theo bahkan saat mandi. Tristan menyarankan pemeriksaan psikologis tanpa menyebut Alyn lemah.
Alyn didiagnosis mengalami kecemasan pascapersalinan. Ia memulai terapi dan menerima bantuan keluarga.
Tristan tidak menggunakan kondisi itu untuk mengambil pengasuhan. Ia justru memastikan Alyn tetap terlibat dalam setiap keputusan sambil memperoleh waktu istirahat.
Hubungan mereka menjadi dekat, tetapi belum diberi nama. Tristan tidur di ruang tamu dan selalu mengetuk sebelum masuk kamar.
Pada malam Theo berusia dua bulan, Alyn berkata, "Aku ingin mencoba mengenalmu lagi. Bukan kembali ke hubungan lama."
Tristan menjawab, "We can start from zero."
Kencan pertama mereka setelah Theo lahir berlangsung di ruang makan. Andin menjaga bayi di kamar sebelah, sementara Alyn dan Tristan memesan makanan sederhana.
"Ini terasa aneh," kata Alyn.
"Kita sudah bersama sembilan tahun, tapi sekarang aku gugup seperti baru bertemu."
Mereka sepakat tidak membahas jadwal bayi selama satu jam. Ternyata keduanya kesulitan menemukan topik selain Theo dan masa lalu.
Tristan menceritakan konseling serta perubahan di rumah sakit. Ia mengikuti pelatihan batas profesional dan tidak lagi menangani pasien di luar prosedur pribadi.
Alyn menceritakan rencananya kembali bekerja setelah kesehatan pulih. Tristan tidak mengatakan Theo membutuhkan ibunya di rumah.
"Apa kau tidak keberatan?" tanya Alyn.
"Aku juga orangtuanya. Kita bisa membagi pengasuhan."
Jawaban itu terasa lebih romantis daripada bunga.
Mereka mulai berkencan seminggu sekali. Kadang hanya berjalan dengan kereta bayi, kadang minum kopi tanpa gula yang kini dibatasi Tristan.
Hubungan mereka diuji ketika Clara keluar dari proses hukum dengan program konseling dan larangan mendekat. Ia mengirim surat permintaan maaf melalui pengacara.
Alyn memilih membaca, tetapi tidak menjawab. Tristan juga tidak menghubungi Clara.
Ayah mengundang Tristan makan malam keluarga. Ia tidak menawarkan pernikahan paksa, hanya meminta Tristan menunjukkan tanggung jawab secara konsisten.
Saat makan malam, Mark dan Andin mengumumkan kehamilan mereka. Semua orang bahagia, tetapi Alyn mendadak teringat persalinan traumatis dan mengalami serangan panik.
Tristan tidak menyentuh sebelum diizinkan. Ia membawa Alyn ke ruangan tenang dan mengikuti teknik pernapasan dari terapis.
Setelah tenang, Alyn berkata, "Aku bahagia untuk Andin. Aku hanya takut semuanya terjadi lagi."
"Kita tidak harus memiliki anak kedua. Theo sudah cukup."
Alyn menatapnya. Untuk pertama kalinya Tristan membicarakan masa depan tanpa menganggap keputusan tubuh Alyn sudah pasti.
Namun malam itu hasil pemeriksaan rutin Theo menunjukkan kelainan jantung kecil yang mungkin berkaitan dengan kondisi genetik Tristan.
Dokter jantung anak menjelaskan kelainan Theo tergolong ringan dan sering menutup sendiri seiring pertumbuhan. Untuk saat ini ia hanya memerlukan pemantauan rutin.
Tristan tetap menyalahkan dirinya.
"Aku memberikan penyakit ini kepadanya."
"Kau memberikan gen, bukan sengaja membuatnya sakit," kata Alyn. "Jangan membuat rasa bersalahmu menjadi pusat kondisi Theo."
Tes genetik menunjukkan kaitannya belum pasti. Dokter mengingatkan mereka tidak mencari penyebab tunggal sebelum hasil lengkap.
Tristan mulai memeriksa napas Theo terlalu sering dan mencatat setiap suara. Alyn merasa diawasi di rumah sendiri.
"Kau ayahnya, bukan dokter yang berjaga dua puluh empat jam."
"Bagaimana kalau aku melewatkan tanda bahaya?"
Mereka meminta dokter membuat daftar tanda yang benar-benar membutuhkan pertolongan. Di luar daftar itu, Tristan harus mempercayai pemantauan terjadwal.
Hasil lanjutan menunjukkan risiko genetik rendah. Kelainan Theo tidak mengancam dan dapat dipantau tanpa obat.
Kabar baik tersebut tidak langsung menghilangkan kecemasan Tristan. Ia kembali ke konseling dan mengakui ketakutan kehilangan keluarga membuatnya ingin mengontrol semua hal.
Alyn juga membicarakan trauma persalinan dalam terapi. Mereka saling mendukung tanpa menjadikan pasangan sebagai satu-satunya penyembuh.
Pada pemeriksaan tiga bulan kemudian, lubang kecil di jantung Theo mulai mengecil.
"He is getting stronger," kata dokter.
Tristan menangis lega. Alyn menggenggam tangannya, kali ini tanpa ragu.
Di perjalanan pulang, Tristan bertanya apakah hubungan mereka sudah dapat disebut pacaran.
Alyn tertawa. "Kau menunggu hasil jantung anak untuk menanyakan status?"
"Aku mencari waktu yang tidak buruk."
Alyn mengatakan iya, tetapi menegaskan mereka tetap memulai dari nol.