ALYN'S POV
Pacaran dengan ayah anakku terasa absurd. Tristan datang membawa bunga sekaligus popok. Kencan kami sering berakhir karena Theo menangis.
Namun aku menyukai usaha kecilnya. Ia memberi kabar ketika terlambat, bertanya sebelum membantu, dan berhenti menggunakan kalimat "demi kebaikanmu" sebagai penutup diskusi.
Aku kembali bekerja paruh waktu. Pada hari pertama, Tristan mengambil cuti untuk menjaga Theo. Aku pulang dan menemukan dua lelaki itu tertidur dengan botol susu kosong di meja.
"Bagaimana harimu?" tanyanya setelah bangun.
"Aku merasa bersalah sekaligus bahagia."
"Keduanya boleh ada."
Ayah masih menganggap aku seharusnya berhenti bekerja. Kali ini Tristan membelaku.
"Theo memiliki dua orangtua. Alyn tidak harus mengorbankan kariernya sendirian."
Aku menghargainya, tetapi meminta Tristan tidak selalu berbicara menggantikanku. Pada percakapan berikutnya, ia membiarkanku menjawab sendiri.
Hubungan kami berjalan baik sampai rumah sakit menawarkan Tristan program fellowship di Inggris selama satu tahun.
Kesempatan itu penting untuk karier bedahnya. Namun Theo masih membutuhkan pemeriksaan dan hubungan kami baru dibangun kembali.
"Aku bisa menolak," katanya.
"Apa kau ingin menolak?"
Tristan mengakui ia ingin pergi, tetapi takut aku menganggapnya meninggalkan kami lagi.
Aku juga takut. Kepergiannya yang dulu masih hidup dalam ingatanku. Namun menahan Tristan tidak akan menyembuhkan luka tersebut.
Kami mempertimbangkan hubungan jarak jauh, kunjungan, dan kemungkinan aku ikut beberapa bulan. Keputusan tidak dapat dibuat hanya dengan cinta.
Tristan menerima fellowship setelah rumah sakit mengatur jadwal pulang setiap dua bulan. Alyn serta Theo tetap tinggal karena pekerjaan, keluarga, dan pemeriksaan bayi berada di Indonesia.
Minggu pertama penuh panggilan video. Tristan membaca buku cerita untuk Theo melalui layar meski bayi itu lebih tertarik menggigit mainan.
Bulan kedua, jadwal operasi membuat Tristan melewatkan dua panggilan. Alyn merasa luka lama kembali terbuka.
"Kau bilang akan menelepon," katanya.
"Operasinya darurat."
"Aku mengerti pekerjaanmu. Aku hanya butuh pesan satu baris setelah selesai."
Tristan meminta maaf dan memperbaiki kebiasaan. Ia tidak menjadikan keadaan darurat alasan untuk menghilang setelahnya.
Alyn juga harus belajar tidak memakai Theo untuk menguji perhatian Tristan. Ia tidak mengirim foto dengan kalimat, "Lihat apa yang kau lewatkan," melainkan membagikan momen tanpa menyalahkan.
Pada kunjungan pertama, Theo menangis ketika digendong Tristan karena tidak mengenali. Tristan sangat terpukul.
"Aku ayahnya, tapi dia takut kepadaku."
"Hubungan biologis tidak otomatis membuat bayi mengenalmu. Bangun lagi pelan-pelan."
Tristan mengikuti rutinitas Theo tanpa memaksa. Pada hari ketiga, Theo akhirnya tertidur di dadanya.
Enam bulan berlalu. Kelainan jantung Theo menutup sepenuhnya. Mereka merayakan melalui panggilan video bersama dokter.
Namun pada bulan kedelapan foto Tristan bersama dokter perempuan bernama Evelyn tersebar. Keduanya tampak keluar dari apartemen yang sama.
Alyn bertanya langsung. Tristan menjelaskan gedung itu tempat tinggal staf rumah sakit dan Evelyn menghuni lantai berbeda.
Penjelasan masuk akal, tetapi Alyn tetap sulit percaya karena pengalaman Clara.
Alyn meminta Tristan memperkenalkannya kepada Evelyn melalui panggilan video. Tristan tersinggung pada awalnya, tetapi memahami kepercayaan mereka masih memiliki bekas luka.
Evelyn ternyata sudah menikah dan suaminya ikut dalam panggilan. Ia mengatakan foto tersebut diambil setelah mereka pulang dari operasi panjang bersama tim lain.
Alyn merasa malu, tetapi Tristan tidak mengejek.
"Aku ingin mempercayaimu," kata Alyn. "Tapi aku juga tidak mau mengabaikan tanda hanya supaya terlihat dewasa."
"Bertanya bukan masalah. Menuduh tanpa mendengar baru menjadi masalah."
Mereka menemukan keseimbangan antara transparansi dan pengawasan. Tristan tidak wajib mengirim lokasi setiap saat; Alyn berhak menanyakan situasi yang memengaruhi hubungan.
Sebaliknya, Tristan merasa cemburu ketika Revan membantu Alyn dalam proyek kerja. Ia hampir meminta Alyn menjauh, lalu mengingat hak yang sama berlaku dua arah.
Revan sendiri bertunangan dengan perempuan lain dan hanya menganggap Alyn teman. Tristan meminta maaf karena membuat asumsi.
Menjelang akhir fellowship, rumah sakit Inggris menawarkan posisi permanen. Gajinya besar dan fasilitas penelitiannya jauh lebih baik.
Tristan tidak memberikan jawaban sebelum berbicara dengan Alyn.
"Aku tidak mau lima tahun dari sekarang menyalahkanmu kalau menolak," katanya. "Aku juga tidak mau kehilangan kehidupan bersama Theo."
Alyn meminta mereka membandingkan pilihan secara nyata. Tinggal di Inggris berarti karier Alyn harus dimulai ulang dan dukungan keluarga berkurang. Tinggal di Indonesia berarti Tristan melepaskan kesempatan penelitian.
Mereka sepakat Tristan pulang setelah fellowship dan mencari kerja sama penelitian jarak jauh. Keputusan itu bukan pengorbanan sepihak; ia memperoleh jalur baru yang tetap mendukung kariernya.
Tristan pulang tepat setahun setelah keberangkatan. Theo yang kini dapat berjalan beberapa langkah menatapnya lama di bandara, lalu berlari kecil sambil memanggil, "Papa."
Tristan berlutut dan menangis saat memeluknya.
Alyn berdiri beberapa langkah kemudian. Mereka saling tersenyum sebelum berpelukan.
Hidup satu kota kembali tidak otomatis mudah. Tristan terbiasa jadwal Inggris dan ingin mengubah rutinitas Theo. Alyn merasa pengalaman setahun membuatnya lebih mengetahui kebutuhan anak.
"Aku juga ayahnya," kata Tristan.
"Iya, tapi kau perlu belajar rutinitasnya sekarang, bukan langsung mengganti."
Mereka mengikuti kelas pengasuhan bersama dan membagi tanggung jawab tertulis. Tristan mengambil dua malam jaga setiap minggu, sementara Alyn kembali bekerja lebih banyak.
Hubungan mereka semakin stabil. Suatu malam Tristan mengeluarkan cincin pertunangan lama yang tidak pernah sempat diberikan.
"Aku tidak akan melamar malam ini," katanya.
"Kenapa menunjukkannya?"
"Karena dulu aku menyembunyikan rencana dan ketakutan. Sekarang aku ingin jujur bahwa aku memikirkan pernikahan."
Alyn menghargai kejujuran, tetapi meminta waktu hidup bersama dalam ritme baru sebelum mengambil keputusan.
Tristan setuju. Cincin disimpan kembali tanpa drama.
Keesokan hari ayah mengundang seluruh keluarga. Ia mengatakan ingin meminta maaf secara resmi kepada Alyn dan mengakui Theo sebagai cucu tanpa syarat pernikahan.
Namun sebelum makan malam dimulai, Andin yang sedang hamil mengalami pendarahan dan dilarikan ke rumah sakit.
Kini giliran Alyn menghadapi ketakutan dari sisi kakak, sementara Mark harus menunggu di luar ruang tindakan seperti yang pernah dilakukan Tristan.
Dokter menemukan plasenta Andin berada terlalu rendah dan menyebabkan pendarahan. Bayinya masih hidup, tetapi Andin harus dirawat serta beristirahat ketat.
Mark duduk di lorong dengan wajah pucat. "Aku seharusnya lebih menjaga dia."
"Kondisi ini bukan karena kau kurang menjaganya," kata Alyn. "Jangan membuat rasa bersalahmu menjadi beban Andin."
Tristan tidak menangani Andin karena hubungan pribadi. Ia membantu Mark memahami penjelasan dokter setelah memperoleh izin.
Andin takut kehilangan bayi dan terus meminta kepastian. Dokter hanya dapat mengatakan mereka akan memantau dari hari ke hari.
"Aku benci jawaban itu," katanya kepada Alyn.
"Aku juga dulu membencinya. Tapi tidak ada orang yang bisa menjanjikan hasil. Kita jalani satu hari dulu."
Ayah datang dan kembali hampir mengambil alih keputusan. Kali ini Alyn menghentikannya dengan tenang. Andin sendiri menunjuk Mark sebagai pendamping medis.
Pendarahan berhenti setelah dua hari. Andin diperbolehkan pulang dengan batas aktivitas dan pemeriksaan lebih sering.
Mark mengubah rumah menjadi terlalu steril dan melarang Andin berjalan beberapa langkah. Andin marah karena merasa menjadi pasien, bukan istri.
Alyn mengingatkan Mark bahwa perlindungan tanpa mendengar dapat berubah menjadi kurungan. Mark meminta maaf dan mengikuti panduan dokter, bukan ketakutannya sendiri.
Pengalaman tersebut mendekatkan kedua pasangan. Tristan melihat Alyn mampu mendampingi kakaknya tanpa menghapus diri.
Malam setelah Andin pulang, Tristan bertanya apakah Alyn masih takut menikah.
"Aku takut mengulang hubungan lama," jawabnya. "Bukan takut pada pernikahannya."
Tristan mengangguk. Ia tidak mengeluarkan cincin. Belum waktunya.