Ayah mengundang Alyn berbicara berdua. Untuk pertama kalinya ia meminta maaf tanpa menjelaskan bahwa kemarahannya dilakukan demi keluarga.
"Ayah mempermalukanmu ketika kau sedang takut. Ayah menganggap pernikahan dapat menutupi semuanya."
Alyn mendengarkan sambil menangis.
"Aku tidak bisa langsung melupakan."
"Ayah tidak meminta itu."
Ayah menawarkan membantu biaya Theo, tetapi Alyn meminta bantuan diberikan sebagai kasih kepada cucu, bukan imbalan agar dirinya patuh.
Mereka membuat dana pendidikan atas nama Theo dengan pengawasan bersama. Tristan tidak mengambil kendali karena pendapatannya lebih besar.
Hubungan ayah dan Alyn membaik melalui kunjungan singkat. Ayah belajar menggendong Theo dan berhenti bertanya kapan Alyn menikah.
Sementara itu, Andin melewati trimester berikutnya dengan aman. Mark mengikuti konseling pasangan karena ketakutan mereka mulai mengganggu komunikasi.
Tristan juga menyelesaikan penelitian kerja sama dengan Inggris dari Indonesia. Ia membuktikan keputusan pulang bukan akhir kariernya.
Alyn memperoleh promosi di kantor. Posisi itu membutuhkan perjalanan sesekali. Tristan menawarkan menyesuaikan jadwal operasi untuk menjaga Theo.
"Kau tidak keberatan?"
"Aku ayahnya. Ini bukan bantuan kepadamu."
Perkataan tersebut membuat Alyn semakin yakin perubahan Tristan tidak hanya dilakukan saat mengejarnya.
Pada ulang tahun pertama Theo, mereka mengadakan pesta kecil. Setelah tamu pulang, Alyn mengambil cincin lama dari laci tempat Tristan menyimpannya.
"Aku belum menjawab pertanyaan yang belum kau ajukan," katanya.
Tristan tersenyum. "Apakah sekarang aku boleh mengajukannya?"
Alyn mengangguk.
Tristan berlutut di ruang keluarga yang dipenuhi sisa balon ulang tahun. Tidak ada musik atau bunga besar. Theo tertidur di pangkuan Aldo.
"Alyn, aku pernah meminta menikah lalu pergi saat ketakutan menguasai. Kali ini aku tidak berjanji selalu benar. Aku berjanji bicara, mendengar, dan tidak membuat keputusan hidupmu sendirian. Will you marry me?"
Alyn meminta waktu beberapa menit. Ia tidak ingin jawaban keluar hanya karena kenangan sembilan tahun.
"Yes," katanya akhirnya. "Tapi kita ikut konseling pranikah dan membuat perjanjian pengasuhan serta harta yang jelas."
"Aku setuju."
Tristan memasangkan cincin setelah meminta izin. Aldo ternyata merekam dari sudut ruangan dan langsung dimarahi Alyn.
Kabar pertunangan disampaikan hanya kepada keluarga. Mereka tidak ingin media atau rumah sakit menjadikannya cerita dokter romantis yang kembali kepada mantan hamil.
Konseling membuka banyak masalah lama. Alyn masih takut Tristan menghilang ketika tertekan. Tristan masih takut satu kesalahan membuat Alyn meninggalkannya tanpa kesempatan bicara.
Mereka menyusun cara menghadapi konflik: tidak mengancam putus saat marah, memberi waktu menenangkan diri dengan batas jelas, dan kembali berbicara pada waktu yang disepakati.
Andin membantu memilih gaun dari rumah karena masih dibatasi aktivitas. Mark menjadi pendamping Tristan dan terus mengejek lamaran ruang keluarga.
Pernikahan direncanakan enam bulan kemudian, setelah perkiraan persalinan Andin.
Namun pemeriksaan terakhir menunjukkan Andin harus melahirkan lebih awal melalui operasi. Tanggalnya bertepatan dengan hari ketika gedung pernikahan Alyn harus dilunasi.
Alyn membatalkan urusan gedung dan memilih menemani kakaknya. Tristan menangani pembayaran serta jadwal tanpa mengeluh bahwa persiapan mereka terganggu.
Operasi Andin berjalan dengan baik. Bayi perempuan lahir prematur ringan, tetapi dapat bernapas tanpa bantuan besar.
Mark menangis lebih keras daripada bayinya. Ia menamai putri mereka Mara setelah berdiskusi dengan Andin.
Alyn mendampingi kakaknya melewati hari-hari pertama menyusui dan kurang tidur. Ia tidak menganggap pengalamannya dengan Theo sebagai satu-satunya cara benar.
"Setiap bayi berbeda," katanya ketika Andin kesulitan.
Theo bertemu sepupunya dan terlihat lebih tertarik pada selimut daripada bayi.
Ayah memeluk kedua cucunya dan meminta maaf lagi kepada putri-putrinya. Andin mengaku dirinya dahulu juga merasa harus memenuhi gambaran cinta sempurna.
"Sekarang aku tahu pernikahan bukan bukti akhir. Setelah menikah, kita tetap harus memilih cara mencintai setiap hari."
Mark menyetujui. Ia dan Andin menunda pesta besar serta fokus pada pemulihan.
Persiapan pernikahan Alyn kembali berjalan. Gedung lama sudah diambil pasangan lain, sehingga mereka memilih taman rumah ayah.
Alyn menyukai keputusan itu karena tempat yang dahulu menjadi lokasi kemarahan kini dapat menyimpan kenangan baru.
Tristan mengundang Clara hanya melalui pemberitahuan pengacara? Tidak. Ia menyadari tidak ada alasan menjadikan pernikahan sebagai panggung pengampunan. Clara tetap menjalani hidupnya sendiri dengan batas hukum yang berlaku.
Beberapa minggu sebelum acara, Alyn mengalami serangan panik ketika mencoba gaun. Ingatan tentang pertunangan lama yang batal kembali muncul.
Tristan tidak mengatakan, "Kali ini pasti berbeda." Ia duduk bersamanya dan berkata, "Kalau kau berubah pikiran, kita berhenti. Aku ingin pernikahan yang kau pilih, bukan yang kau tahan."
Alyn menenangkan diri dan memutuskan tetap melanjutkan.
Hari pernikahan datang dengan hujan ringan. Tenda dipasang di taman dan para tamu duduk dekat keluarga.
Alyn berjalan bersama ayahnya setelah menegaskan dirinya tidak sedang diserahkan. Ayah hanya menemani sampai tempat Alyn memilih berdiri.
Theo dibawa Aldo dan memakai jas kecil yang langsung terkena makanan.
Tristan menunggu dengan mata basah. Saat Alyn tiba, ia berbisik, "You are beautiful."
"Jangan menangis dulu. Riasanku mahal."
Janji mereka tidak menyebut selamanya tanpa syarat. Alyn berjanji bicara sebelum pergi dan menjaga dirinya tetap utuh. Tristan berjanji tidak menyembunyikan ketakutan atau membuat keputusan atas nama perlindungan.
Mereka menikah di hadapan keluarga yang pernah menyaksikan hubungan itu runtuh.
Ayah meminta maaf secara terbuka karena pernah mencoba menikahkan Alyn demi nama baik. Revan hadir bersama tunangannya dan mengucapkan selamat tanpa kecanggungan.
Pada resepsi, Andin serta Mark berdansa singkat sebelum kembali kepada Mara. Aldo mengambil terlalu banyak makanan dan mengingatkan semua orang pada dirinya sendiri.
Malamnya Alyn dan Tristan pulang bersama Theo. Tidak ada bulan madu panjang karena mereka tidak ingin meninggalkan anak terlalu lama.
Saat rumah sunyi, Tristan bertanya apakah Alyn bahagia.
"Hari ini, iya. Besok kalau kau menaruh kaus kaki sembarangan mungkin tidak."
"Very romantic."
Mereka tertawa dan berciuman.
Pernikahan tidak menghapus luka masa lalu, tetapi memberi mereka ruang baru untuk membangun kehidupan.
Keesokan pagi Tristan menerima surat dari rumah sakit. Seorang keluarga pasien menuntutnya atas dugaan kesalahan bedah dalam operasi yang dilakukan sebelum fellowship.
Karier yang baru stabil kembali terancam, dan kali ini Alyn harus memisahkan dukungan sebagai istri dari kebutuhan mencari kebenaran secara objektif.