Minggu pertama Alyn pergi terasa lebih berat daripada perkiraan. Theo menangis saat panggilan video dan menolak menunjukkan mainannya.
Alyn hampir mengundurkan diri. Tristan mengingatkannya memberi waktu pada penyesuaian.
"Kalau setelah masa uji coba ini tidak sehat, kita evaluasi. Jangan putuskan saat rasa bersalah sedang paling besar."
Tristan mengurus rutinitas Theo sambil tetap bekerja. Ia membuat kesalahan, lupa membawa pakaian ganti, dan sekali memberikan sarapan terlalu manis.
Alyn berusaha tidak mengatur dari jarak jauh. Ia bertanya, bukan memeriksa.
Pada periode kedua, Theo mulai memahami Mama pergi lalu pulang. Ia membuat kalender gambar bersama Tristan.
Karier Alyn berkembang. Ia memimpin proyek dengan baik dan mendapatkan rasa percaya diri yang dahulu hilang setelah kehamilan serta putus.
Masalah muncul ketika seorang rekan bernama Dion sering mengantar Alyn pulang karena tempat tinggal mereka searah. Foto keduanya tersebar di grup keluarga.
Tristan cemburu dan bertanya langsung. Alyn menjelaskan tanpa defensif, tetapi menolak berhenti menerima tumpangan hanya untuk meredakan asumsi.
Ia kemudian mengenalkan Dion melalui panggilan video. Dion ternyata sudah menikah dan istrinya juga berada dalam mobil pada beberapa perjalanan.
Tristan meminta maaf. "Masa lalu kita membuatku takut, tapi itu bukan alasan menuduhmu."
Enam bulan selesai. Alyn ditawari posisi permanen di kota tersebut. Jika menerima, sistem dua kota akan berlangsung tanpa batas waktu.
Ia menyukai pekerjaannya, tetapi tidak ingin kehidupan keluarga selalu terbagi. Tristan juga tidak mau langsung memintanya menolak.
Mereka membawa pilihan itu ke konseling pasangan, sadar bahwa tidak ada keputusan yang bebas kehilangan.
Dalam konseling, Alyn mengakui posisi tersebut membuatnya merasa kembali memiliki identitas di luar peran ibu dan istri.
Tristan mengakui sistem dua kota membuatnya lelah serta takut kehilangan kedekatan keluarga.
"Aku ingin kau pulang," katanya. "Tapi aku tidak ingin lima tahun lagi kau membenciku."
Mereka membuat tiga pilihan: Alyn menolak, keluarga pindah, atau perusahaan membuka tim di kota asal. Pilihan pindah sulit karena pekerjaan Tristan dan pemeriksaan Theo berada di sana.
Alyn mengajukan proposal membangun unit baru di kota asal dengan perjalanan bulanan. Perusahaan meminta masa uji enam bulan lagi.
"Kalau mereka menolak?" tanya Tristan.
"Aku akan mencari pekerjaan lain. Bukan karena karierku kalah, tapi karena bentuk hidup ini tidak ingin kujalani selamanya."
Proposal diterima setelah Alyn menunjukkan hasil proyek serta efisiensi biaya. Ia pulang dan memimpin tim baru.
Ayah menganggap keputusan tersebut bukti Alyn akhirnya mendahulukan keluarga. Alyn meluruskan bahwa dirinya tidak sekadar pulang; ia menciptakan posisi yang lebih baik.
Theo bahagia melihat kalender perjalanan Mama memiliki lebih banyak hari di rumah.
Kehidupan mereka kembali stabil. Tristan menyelesaikan masa evaluasi rumah sakit dan dipercaya memimpin program keselamatan bedah.
Namun stabilitas membawa masalah baru. Mereka mulai berbicara tentang kemungkinan anak kedua.
Alyn masih trauma pada preeklamsia serta persalinan prematur. Tristan mengatakan Theo cukup, tetapi Alyn menangkap kesedihan yang berusaha disembunyikannya.
"Jangan bilang cukup hanya untuk melindungiku dari percakapan sulit," katanya.
Mereka sepakat berkonsultasi sebelum membuat keputusan.
Dokter menjelaskan risiko preeklamsia dapat berulang. Ada langkah pencegahan, tetapi tidak ada jaminan kehamilan berikutnya aman.
Alyn merasa takut sekaligus memiliki keinginan kecil untuk merasakan kehamilan tanpa kekacauan seperti sebelumnya.
"Aku tidak tahu apakah keinginan ini milikku atau harapan semua orang," katanya.
Tristan mengakui ia membayangkan anak kedua, namun tidak akan meminta Alyn mengambil risiko demi dirinya.
Mereka mempertimbangkan adopsi, tetap dengan satu anak, atau menunggu. Theo masih terlalu kecil untuk dijadikan penentu.
Andin mengatakan dirinya bahagia dengan Mara dan tidak tahu apakah ingin hamil lagi. Kedua saudari itu menyadari keluarga tidak harus mengikuti jumlah tertentu.
Ayah kembali membuat komentar tentang cucu kedua. Kali ini Tristan tidak menjawab untuk Alyn; ia menunggu istrinya menetapkan batas.
"Jangan tanyakan lagi. Kalau ada keputusan, kami akan memberi tahu," kata Alyn.
Setelah beberapa bulan, Alyn memutuskan belum mau hamil lagi. Mereka memilih meninjau kembali dalam dua tahun tanpa membuat janji.
Tristan jujur bahwa dirinya sedih. Alyn tidak menganggap kesedihan itu sebagai tekanan selama Tristan tidak menjadikan tubuhnya solusi.
Mereka fokus membesarkan Theo. Kelainan jantungnya tidak kembali dan perkembangannya baik.
Pada suatu pemeriksaan, dokter menemukan Alyn memiliki gangguan hormon yang mungkin membuat kehamilan berikutnya semakin sulit.
Kabar tersebut memunculkan rasa kehilangan meski Alyn belum memilih hamil.
"Aku benci ketika pilihan terasa ditutup sebelum aku sendiri menutupnya," katanya.
Tristan duduk bersamanya tanpa menawarkan program medis langsung.
Alyn menjalani pemeriksaan lanjutan. Kehamilan masih mungkin, tetapi membutuhkan perawatan dan risiko tetap tinggi.
Ia serta Tristan memilih tidak memulai program. Keputusan itu terasa benar sekaligus menyedihkan.
Alyn mengikuti terapi untuk menghadapi kehilangan kemungkinan, bukan kehilangan anak yang benar-benar ada. Ia belajar duka tidak memerlukan bukti fisik agar sah.
Tristan juga mengikuti sesi sendiri. Ia mengakui pernah membayangkan memperbaiki pengalaman kelahiran Theo melalui kehamilan kedua yang lebih tenang.
"Anak baru tidak boleh lahir untuk memperbaiki trauma lama," kata konselor.
Mereka menutup rencana kehamilan untuk saat ini. Tidak ada pengumuman besar kepada keluarga, hanya batas bahwa pertanyaan harus berhenti.
Alyn kembali menikmati pekerjaannya. Tristan lebih banyak terlibat di rumah tanpa menganggap Theo pengganti sesuatu yang hilang.
Ketika Theo mulai sekolah, ia bertanya kenapa tidak punya adik. Alyn menjawab keluarga memiliki bentuk berbeda dan mereka bahagia bertiga.
"Kalau aku mau adik?"
"Keinginanmu boleh ada, tapi keputusan anak bukan tugasmu."
Theo menerima jawaban tersebut dan meminta anak anjing sebagai gantinya.
Mereka mengadopsi anjing dari tempat penampungan setelah memastikan mampu merawat, bukan sebagai hiburan sesaat.
Rumah menjadi ramai dan Theo belajar tanggung jawab.
Ketenangan terganggu ketika Alyn terlambat datang bulan dan tes rumahan menunjukkan dua garis samar.
Ia menatap hasil tersebut dengan campuran harapan dan ketakutan yang pernah dikira sudah selesai.
Tes darah memastikan Alyn hamil. Kehamilan terjadi tanpa program setelah mereka berhenti merencanakan.
Tristan tidak langsung bersorak. Ia bertanya, "What do you want to do?"
Alyn meminta waktu memahami perasaannya. Risiko medis nyata, tetapi ia juga merasakan keinginan melanjutkan.
Setelah konsultasi dengan spesialis risiko tinggi, Alyn memilih mempertahankan kehamilan dengan pemantauan ketat. Keputusan itu miliknya, didukung Tristan.
Mereka tidak memberi tahu keluarga sampai trimester pertama lewat. Theo diberi penjelasan sederhana tanpa janji bahwa semuanya pasti baik.
Ayah menangis bahagia, tetapi segera diingatkan tidak menyebut kehamilan sebagai hadiah atas kesabaran.
Alyn mengalami mual berat dan harus mengurangi pekerjaan. Kali ini ia menyerahkan tugas kepada tim tanpa merasa seluruh karier runtuh.
Tristan berusaha tidak menjadi dokter pribadi. Ia hadir dalam pemeriksaan sebagai suami dan mengikuti arahan spesialis.
Pada minggu kedua belas muncul pendarahan ringan. Pemeriksaan menunjukkan janin masih berkembang, tetapi Alyn harus beristirahat.
Ketakutan lama kembali. Alyn mengalami mimpi buruk tentang ruang operasi dan inkubator.
Tristan menemaninya tanpa berkata kehamilan ini akan berbeda. Mereka hanya menjalani pemeriksaan satu per satu.
Hasil tes genetik menunjukkan risiko rendah. Tekanan darah Alyn tetap stabil sampai pertengahan kehamilan.
Untuk pertama kalinya ia berani membeli satu pakaian bayi.
Namun pada minggu kedua puluh empat, dokter menemukan pertumbuhan janin lebih kecil daripada seharusnya. Kehamilan kembali dikategorikan berisiko tinggi.