Alyn harus menjalani pemeriksaan aliran darah janin setiap minggu. Dokter belum menyarankan persalinan, tetapi menjelaskan kemungkinan bayi lahir prematur.
"Aku takut mengulang semuanya," kata Alyn.
"Kita sudah pernah melewatinya, tapi itu tidak berarti kau harus kuat setiap saat," jawab Tristan.
Theo menyadari ibunya sering ke rumah sakit. Ia takut bayi akan mengambil Alyn darinya.
Alyn serta Tristan mengajaknya berbicara dengan psikolog anak. Theo diperbolehkan marah dan tidak dipaksa terlihat senang menjadi kakak.
Andin membantu menjaga Theo saat pemeriksaan. Mara yang kini lebih besar sering bermain bersamanya.
Kondisi janin bertahan. Minggu ke dua puluh delapan lewat, kemudian tiga puluh. Setiap minggu dirayakan tanpa pesta.
Pada minggu ketiga puluh dua tekanan darah Alyn mulai naik, tetapi belum mencapai kondisi darurat. Dokter memberikan obat pematangan paru sebagai persiapan.
Tristan mengurangi jadwal operasi dan menyerahkan tugas kepada tim. Alyn memastikan itu keputusan profesional yang disetujui rumah sakit, bukan tindakan impulsif.
Mereka menyiapkan tas rumah sakit tanpa menganggapnya pertanda buruk.
Pada suatu malam Alyn mengalami sakit kepala dan gangguan penglihatan. Ia langsung memberi tahu Tristan, tidak menunggu seperti kehamilan pertama.
Mereka tiba di rumah sakit sebelum kondisinya memburuk. Dokter mengatakan persalinan mungkin harus dilakukan dalam dua puluh empat jam.
Alyn menggenggam tangan Tristan. "Whatever happens, don't decide without me."
"I promise to listen," jawab Tristan.
Kali ini mereka memasuki keadaan darurat dengan rasa takut yang sama, tetapi bukan sebagai dua orang yang terpisah oleh rahasia.
Hasil pemeriksaan menunjukkan fungsi hati Alyn mulai terganggu. Dokter menyarankan operasi sesar malam itu agar kondisi tidak berkembang menjadi lebih berbahaya.
Alyn mendengarkan seluruh penjelasan dan bertanya tentang risiko bagi dirinya serta bayi. Tristan tidak menjawab menggantikan meski mengetahui istilah medis.
"Aku setuju operasi," kata Alyn setelah memahami pilihan.
Theo datang bersama Andin sebelum tindakan. Ia memeluk Alyn dan bertanya apakah Mama akan pulang.
"Mama dan dokter akan berusaha. Kamu tinggal sama Tante Andin sampai Papa memberi kabar."
Alyn tidak menjanjikan sesuatu yang tidak dapat dijamin.
Di ruang operasi, Tristan berada dekat kepalanya. Tekanan darah Alyn sempat meningkat tajam, tetapi tim berhasil menstabilkan.
Bayi perempuan lahir dengan tangisan lemah pada usia tiga puluh dua minggu. Ia segera dibawa ke unit neonatal.
"Namanya?" tanya perawat.
Alyn menatap Tristan. Mereka memilih nama Tara, berarti bintang, dari daftar yang pernah dibuat Theo.
Alyn mengalami pendarahan, tetapi lebih cepat tertangani karena tim sudah bersiap. Tristan tetap berada di sisinya sampai dokter menyatakan stabil.
Tara membutuhkan bantuan napas. Berat badannya kecil, namun tanda awal cukup baik.
Ketika Alyn sadar, Tristan memberikan informasi apa adanya. "Dia di NICU. She is fighting."
Alyn menangis karena tidak dapat langsung menggendong. Trauma lama kembali, tetapi kali ini ia sudah memiliki dukungan dan tahu perasaan tersebut tidak membuatnya gagal.
Malam pertama berlalu dengan Tristan berjalan antara kamar Alyn dan inkubator Tara, seperti saat Theo lahir. Bedanya, ia tidak lagi merasa harus menyembunyikan ketakutan.
Tara mengalami kesulitan bernapas dan infeksi ringan pada minggu pertama. Setiap alarm membuat Alyn panik.
Tim medis meminta orangtua memahami alat tanpa terus membaca angka sendiri. Tristan harus belajar menjadi ayah, bukan dokter yang mengawasi koleganya.
Theo melihat adiknya melalui kaca. "Kenapa dia kecil sekali?"
"Karena dia lahir lebih cepat," jawab Alyn. "Dia sedang tumbuh dengan bantuan dokter."
Theo menggambar bintang dan menempelkannya dekat inkubator.
Alyn kesulitan menghasilkan ASI seperti sebelumnya. Ia menerima bantuan nutrisi tanpa menyalahkan tubuhnya.
Pada hari kesepuluh Tara mengalami jeda napas yang membutuhkan tindakan. Tristan keluar dari ruangan dengan tangan gemetar.
"Aku tahu apa yang dilakukan tim, tapi aku tetap takut," katanya.
"Knowing doesn't cancel fear," jawab Alyn.
Kondisi Tara membaik setelah antibiotik. Bantuan napas dikurangi pada minggu kedua.
Ayah datang dan tidak membawa pertanyaan tentang masa depan. Ia hanya duduk bersama Theo saat Alyn dan Tristan berada di NICU.
Andin memahami posisi kakaknya karena Mara juga lahir lebih awal. Ia memberi dukungan tanpa membandingkan bayi mereka.
Setelah lima minggu Tara dapat minum dengan baik dan mempertahankan suhu tubuh. Dokter mengizinkan pulang dengan pemantauan ketat.
Alyn takut meninggalkan rumah sakit yang memiliki alat lengkap. Konselor membantu mereka membuat rencana darurat serta jadwal kontrol.
Saat membawa Tara pulang, Theo berdiri di pintu dengan tulisan Welcome Home, Little Star.
Rumah mereka kini berisi dua anak, dua sejarah kelahiran sulit, dan orangtua yang berusaha tidak membiarkan ketakutan menjadi aturan utama.
Kehidupan bersama bayi prematur menguras tenaga. Tara harus minum sedikit tetapi sering, sedangkan Theo mulai mencari perhatian melalui kenakalan.
Ia menumpahkan susu dan mengatakan tidak menyukai adiknya. Tristan hampir memarahinya, tetapi Alyn bertanya apa yang dirasakan.
"Semua orang lihat Tara. Tidak ada yang lihat aku."
Mereka membuat waktu khusus untuk Theo tanpa membebani dirinya menjadi kakak sempurna. Tristan membawanya ke taman, sementara Alyn menjaga Tara bersama Andin.
Kurang tidur membuat Alyn serta Tristan sering bertengkar. Suatu malam Tristan mengkritik cara Alyn mensterilkan botol. Alyn melempar kain dan menuduhnya selalu merasa paling benar karena dokter.
Mereka berhenti sebelum pertengkaran membesar dan bergantian tidur. Pagi hari keduanya meminta maaf.
Tristan mengambil cuti orangtua resmi. Rumah sakit sempat menganggap dokter laki-laki cukup mengambil beberapa hari, tetapi ia menuntut kebijakan yang sama bagi semua orangtua.
Alyn juga tidak buru-buru kembali bekerja. Kali ini keputusan cuti bukan karena tekanan keluarga, melainkan kebutuhan pemulihan yang ia pilih.
Pada pemeriksaan tiga bulan, perkembangan Tara sesuai usia koreksi. Jantung serta paru-parunya baik.
Kabar tersebut membawa lega, tetapi Alyn masih mengalami mimpi buruk. Ia kembali terapi dan didiagnosis trauma persalinan, bukan sekadar kelelahan.
Tristan mengikuti sesi pasangan agar memahami pemicu Alyn tanpa menganggap dirinya dapat menyembuhkan semuanya.
Keluarga berempat perlahan menemukan ritme. Tidak sempurna, tetapi cukup aman untuk mengatakan lelah, marah, dan butuh bantuan.