Kejang Theo berhenti sebelum mereka tiba. Dokter anak menjelaskan itu kemungkinan kejang demam yang umum, tetapi pemeriksaan tetap dilakukan karena riwayat prematur serta jantung.
Tristan ingin mengambil alih penilaian. Alyn memintanya duduk sebagai ayah.
"Tim dokter sedang bekerja. Kau tidak harus menjadi dokter malam ini."
Hasil pemeriksaan tidak menunjukkan infeksi serius. Theo dirawat semalam untuk observasi.
Tristan menyalahkan tempat penitipan, sementara Alyn mengingatkan anak memang sering terpapar virus saat mulai bersosialisasi.
"Kita tidak bisa membesarkannya dalam ruang steril."
Setelah pulang, Tristan ingin memindahkan Theo dari penitipan. Mereka membicarakan kebutuhan sosial, pekerjaan Alyn, dan pilihan pengasuh rumah.
Mereka memilih mengurangi hari penitipan, bukan menghentikan sepenuhnya. Andin dan ayah membantu sesekali tanpa menjadi pengasuh wajib.
Theo pulih dan kembali aktif. Namun kejadian itu membuat Alyn menyadari betapa mudah hidup mereka kembali berputar hanya pada ketakutan.
Ia mengajak Tristan menjalani satu malam kencan sementara Theo dijaga Andin. Tristan memeriksa ponsel setiap lima menit.
"Kalau ada masalah, Andin akan menelepon," kata Alyn.
"Aku tahu. Tanganku belum percaya."
Mereka meletakkan ponsel di tengah meja dan sepakat siapa yang menyentuh lebih dulu membayar makanan. Tristan kalah dalam tujuh menit.
Kencan itu sederhana, tetapi membantu mereka mengingat diri sebagai pasangan.
Ketika pulang, Andin membawa kabar bahwa ayah bermaksud pensiun dan menyerahkan bisnis keluarga kepada kedua putrinya.
Alyn tidak pernah menginginkan bisnis tersebut. Andin juga baru memiliki bayi dan karier sendiri.
Ayah menganggap Alyn serta Andin harus meneruskan usaha karena keluarga. Kedua putrinya menolak kewajiban tersebut.
"Ayah dulu mengatur pernikahanku demi nama baik. Sekarang jangan mengatur karierku demi warisan," kata Alyn.
Ayah tersinggung dan menuduh mereka tidak menghargai kerja kerasnya. Aldo, yang selama ini dianggap masih terlalu muda, justru tertarik mempelajari bisnis.
"Kenapa bukan aku?" tanyanya.
Ayah mengaku tidak pernah mempertimbangkan karena Aldo dianggap belum serius. Aldo meminta kesempatan melalui magang dan evaluasi yang sama seperti pegawai lain.
Alyn mendukung, tetapi menolak memberikan jabatan otomatis hanya karena hubungan darah.
Mereka menyewa konsultan untuk membuat rencana suksesi. Andin serta Alyn menjadi pemegang saham pasif, sedangkan pemimpin operasional dipilih berdasarkan kompetensi. Aldo menjalani program dua tahun sebelum boleh melamar posisi.
Ayah perlahan menerima bahwa warisan tidak selalu berarti anak harus menjalani hidup yang sama.
Pada saat yang sama, pekerjaan Alyn menawarkan posisi di luar kota selama enam bulan. Tristan langsung terlihat cemas, mengingat jarak setahun yang pernah mereka jalani.
"Aku ingin mengambilnya," kata Alyn. "Tapi Theo masih kecil."
Mereka mempertimbangkan Tristan serta Theo ikut, perjalanan pulang, atau Alyn menolak. Jadwal operasi Tristan tidak dapat dipindahkan seluruhnya.
Akhirnya perusahaan menawarkan sistem dua minggu di kota proyek dan dua minggu di rumah. Tristan akan menjadi pengasuh utama saat Alyn pergi, dibantu keluarga.
Ayah bertanya apakah Alyn tidak merasa bersalah meninggalkan anak.
Tristan menjawab, "Saya juga pergi bekerja. Tidak ada yang bertanya apakah saya merasa bersalah meninggalkan Theo."
Alyn menerima posisi tersebut.
Minggu pertama Alyn pergi terasa lebih berat daripada perkiraan. Theo menangis saat panggilan video dan menolak menunjukkan mainannya.
Alyn hampir mengundurkan diri. Tristan mengingatkannya memberi waktu pada penyesuaian.
"Kalau setelah masa uji coba ini tidak sehat, kita evaluasi. Jangan putuskan saat rasa bersalah sedang paling besar."
Tristan mengurus rutinitas Theo sambil tetap bekerja. Ia membuat kesalahan, lupa membawa pakaian ganti, dan sekali memberikan sarapan terlalu manis.
Alyn berusaha tidak mengatur dari jarak jauh. Ia bertanya, bukan memeriksa.
Pada periode kedua, Theo mulai memahami Mama pergi lalu pulang. Ia membuat kalender gambar bersama Tristan.
Karier Alyn berkembang. Ia memimpin proyek dengan baik dan mendapatkan rasa percaya diri yang dahulu hilang setelah kehamilan serta putus.
Masalah muncul ketika seorang rekan bernama Dion sering mengantar Alyn pulang karena tempat tinggal mereka searah. Foto keduanya tersebar di grup keluarga.
Tristan cemburu dan bertanya langsung. Alyn menjelaskan tanpa defensif, tetapi menolak berhenti menerima tumpangan hanya untuk meredakan asumsi.
Ia kemudian mengenalkan Dion melalui panggilan video. Dion ternyata sudah menikah dan istrinya juga berada dalam mobil pada beberapa perjalanan.
Tristan meminta maaf. "Masa lalu kita membuatku takut, tapi itu bukan alasan menuduhmu."
Enam bulan selesai. Alyn ditawari posisi permanen di kota tersebut. Jika menerima, sistem dua kota akan berlangsung tanpa batas waktu.
Ia menyukai pekerjaannya, tetapi tidak ingin kehidupan keluarga selalu terbagi. Tristan juga tidak mau langsung memintanya menolak.
Mereka membawa pilihan itu ke konseling pasangan, sadar bahwa tidak ada keputusan yang bebas kehilangan.
Dalam konseling, Alyn mengakui posisi tersebut membuatnya merasa kembali memiliki identitas di luar peran ibu dan istri.
Tristan mengakui sistem dua kota membuatnya lelah serta takut kehilangan kedekatan keluarga.
"Aku ingin kau pulang," katanya. "Tapi aku tidak ingin lima tahun lagi kau membenciku."
Mereka membuat tiga pilihan: Alyn menolak, keluarga pindah, atau perusahaan membuka tim di kota asal. Pilihan pindah sulit karena pekerjaan Tristan dan pemeriksaan Theo berada di sana.
Alyn mengajukan proposal membangun unit baru di kota asal dengan perjalanan bulanan. Perusahaan meminta masa uji enam bulan lagi.
"Kalau mereka menolak?" tanya Tristan.
"Aku akan mencari pekerjaan lain. Bukan karena karierku kalah, tapi karena bentuk hidup ini tidak ingin kujalani selamanya."
Proposal diterima setelah Alyn menunjukkan hasil proyek serta efisiensi biaya. Ia pulang dan memimpin tim baru.
Ayah menganggap keputusan tersebut bukti Alyn akhirnya mendahulukan keluarga. Alyn meluruskan bahwa dirinya tidak sekadar pulang; ia menciptakan posisi yang lebih baik.
Theo bahagia melihat kalender perjalanan Mama memiliki lebih banyak hari di rumah.
Kehidupan mereka kembali stabil. Tristan menyelesaikan masa evaluasi rumah sakit dan dipercaya memimpin program keselamatan bedah.
Namun stabilitas membawa masalah baru. Mereka mulai berbicara tentang kemungkinan anak kedua.
Alyn masih trauma pada preeklamsia serta persalinan prematur. Tristan mengatakan Theo cukup, tetapi Alyn menangkap kesedihan yang berusaha disembunyikannya.
"Jangan bilang cukup hanya untuk melindungiku dari percakapan sulit," katanya.
Mereka sepakat berkonsultasi sebelum membuat keputusan.