Dokter menjelaskan risiko preeklamsia dapat berulang. Ada langkah pencegahan, tetapi tidak ada jaminan kehamilan berikutnya aman.
Alyn merasa takut sekaligus memiliki keinginan kecil untuk merasakan kehamilan tanpa kekacauan seperti sebelumnya.
"Aku tidak tahu apakah keinginan ini milikku atau harapan semua orang," katanya.
Tristan mengakui ia membayangkan anak kedua, namun tidak akan meminta Alyn mengambil risiko demi dirinya.
Mereka mempertimbangkan adopsi, tetap dengan satu anak, atau menunggu. Theo masih terlalu kecil untuk dijadikan penentu.
Andin mengatakan dirinya bahagia dengan Mara dan tidak tahu apakah ingin hamil lagi. Kedua saudari itu menyadari keluarga tidak harus mengikuti jumlah tertentu.
Ayah kembali membuat komentar tentang cucu kedua. Kali ini Tristan tidak menjawab untuk Alyn; ia menunggu istrinya menetapkan batas.
"Jangan tanyakan lagi. Kalau ada keputusan, kami akan memberi tahu," kata Alyn.
Setelah beberapa bulan, Alyn memutuskan belum mau hamil lagi. Mereka memilih meninjau kembali dalam dua tahun tanpa membuat janji.
Tristan jujur bahwa dirinya sedih. Alyn tidak menganggap kesedihan itu sebagai tekanan selama Tristan tidak menjadikan tubuhnya solusi.
Mereka fokus membesarkan Theo. Kelainan jantungnya tidak kembali dan perkembangannya baik.
Pada suatu pemeriksaan, dokter menemukan Alyn memiliki gangguan hormon yang mungkin membuat kehamilan berikutnya semakin sulit.
Kabar tersebut memunculkan rasa kehilangan meski Alyn belum memilih hamil.
"Aku benci ketika pilihan terasa ditutup sebelum aku sendiri menutupnya," katanya.
Tristan duduk bersamanya tanpa menawarkan program medis langsung.
Alyn menjalani pemeriksaan lanjutan. Kehamilan masih mungkin, tetapi membutuhkan perawatan dan risiko tetap tinggi.
Ia serta Tristan memilih tidak memulai program. Keputusan itu terasa benar sekaligus menyedihkan.
Alyn mengikuti terapi untuk menghadapi kehilangan kemungkinan, bukan kehilangan anak yang benar-benar ada. Ia belajar duka tidak memerlukan bukti fisik agar sah.
Tristan juga mengikuti sesi sendiri. Ia mengakui pernah membayangkan memperbaiki pengalaman kelahiran Theo melalui kehamilan kedua yang lebih tenang.
"Anak baru tidak boleh lahir untuk memperbaiki trauma lama," kata konselor.
Mereka menutup rencana kehamilan untuk saat ini. Tidak ada pengumuman besar kepada keluarga, hanya batas bahwa pertanyaan harus berhenti.
Alyn kembali menikmati pekerjaannya. Tristan lebih banyak terlibat di rumah tanpa menganggap Theo pengganti sesuatu yang hilang.
Ketika Theo mulai sekolah, ia bertanya kenapa tidak punya adik. Alyn menjawab keluarga memiliki bentuk berbeda dan mereka bahagia bertiga.
"Kalau aku mau adik?"
"Keinginanmu boleh ada, tapi keputusan anak bukan tugasmu."
Theo menerima jawaban tersebut dan meminta anak anjing sebagai gantinya.
Mereka mengadopsi anjing dari tempat penampungan setelah memastikan mampu merawat, bukan sebagai hiburan sesaat.
Rumah menjadi ramai dan Theo belajar tanggung jawab.
Ketenangan terganggu ketika Alyn terlambat datang bulan dan tes rumahan menunjukkan dua garis samar.
Ia menatap hasil tersebut dengan campuran harapan dan ketakutan yang pernah dikira sudah selesai.
Tes darah memastikan Alyn hamil. Kehamilan terjadi tanpa program setelah mereka berhenti merencanakan.
Tristan tidak langsung bersorak. Ia bertanya, "What do you want to do?"
Alyn meminta waktu memahami perasaannya. Risiko medis nyata, tetapi ia juga merasakan keinginan melanjutkan.
Setelah konsultasi dengan spesialis risiko tinggi, Alyn memilih mempertahankan kehamilan dengan pemantauan ketat. Keputusan itu miliknya, didukung Tristan.
Mereka tidak memberi tahu keluarga sampai trimester pertama lewat. Theo diberi penjelasan sederhana tanpa janji bahwa semuanya pasti baik.
Ayah menangis bahagia, tetapi segera diingatkan tidak menyebut kehamilan sebagai hadiah atas kesabaran.
Alyn mengalami mual berat dan harus mengurangi pekerjaan. Kali ini ia menyerahkan tugas kepada tim tanpa merasa seluruh karier runtuh.
Tristan berusaha tidak menjadi dokter pribadi. Ia hadir dalam pemeriksaan sebagai suami dan mengikuti arahan spesialis.
Pada minggu kedua belas muncul pendarahan ringan. Pemeriksaan menunjukkan janin masih berkembang, tetapi Alyn harus beristirahat.
Ketakutan lama kembali. Alyn mengalami mimpi buruk tentang ruang operasi dan inkubator.
Tristan menemaninya tanpa berkata kehamilan ini akan berbeda. Mereka hanya menjalani pemeriksaan satu per satu.
Hasil tes genetik menunjukkan risiko rendah. Tekanan darah Alyn tetap stabil sampai pertengahan kehamilan.
Untuk pertama kalinya ia berani membeli satu pakaian bayi.
Namun pada minggu kedua puluh empat, dokter menemukan pertumbuhan janin lebih kecil daripada seharusnya. Kehamilan kembali dikategorikan berisiko tinggi.
Alyn harus menjalani pemeriksaan aliran darah janin setiap minggu. Dokter belum menyarankan persalinan, tetapi menjelaskan kemungkinan bayi lahir prematur.
"Aku takut mengulang semuanya," kata Alyn.
"Kita sudah pernah melewatinya, tapi itu tidak berarti kau harus kuat setiap saat," jawab Tristan.
Theo menyadari ibunya sering ke rumah sakit. Ia takut bayi akan mengambil Alyn darinya.
Alyn serta Tristan mengajaknya berbicara dengan psikolog anak. Theo diperbolehkan marah dan tidak dipaksa terlihat senang menjadi kakak.
Andin membantu menjaga Theo saat pemeriksaan. Mara yang kini lebih besar sering bermain bersamanya.
Kondisi janin bertahan. Minggu ke dua puluh delapan lewat, kemudian tiga puluh. Setiap minggu dirayakan tanpa pesta.
Pada minggu ketiga puluh dua tekanan darah Alyn mulai naik, tetapi belum mencapai kondisi darurat. Dokter memberikan obat pematangan paru sebagai persiapan.
Tristan mengurangi jadwal operasi dan menyerahkan tugas kepada tim. Alyn memastikan itu keputusan profesional yang disetujui rumah sakit, bukan tindakan impulsif.
Mereka menyiapkan tas rumah sakit tanpa menganggapnya pertanda buruk.
Pada suatu malam Alyn mengalami sakit kepala dan gangguan penglihatan. Ia langsung memberi tahu Tristan, tidak menunggu seperti kehamilan pertama.
Mereka tiba di rumah sakit sebelum kondisinya memburuk. Dokter mengatakan persalinan mungkin harus dilakukan dalam dua puluh empat jam.
Alyn menggenggam tangan Tristan. "Whatever happens, don't decide without me."
"I promise to listen," jawab Tristan.
Kali ini mereka memasuki keadaan darurat dengan rasa takut yang sama, tetapi bukan sebagai dua orang yang terpisah oleh rahasia.
Hasil pemeriksaan menunjukkan fungsi hati Alyn mulai terganggu. Dokter menyarankan operasi sesar malam itu agar kondisi tidak berkembang menjadi lebih berbahaya.
Alyn mendengarkan seluruh penjelasan dan bertanya tentang risiko bagi dirinya serta bayi. Tristan tidak menjawab menggantikan meski mengetahui istilah medis.
"Aku setuju operasi," kata Alyn setelah memahami pilihan.
Theo datang bersama Andin sebelum tindakan. Ia memeluk Alyn dan bertanya apakah Mama akan pulang.
"Mama dan dokter akan berusaha. Kamu tinggal sama Tante Andin sampai Papa memberi kabar."
Alyn tidak menjanjikan sesuatu yang tidak dapat dijamin.
Di ruang operasi, Tristan berada dekat kepalanya. Tekanan darah Alyn sempat meningkat tajam, tetapi tim berhasil menstabilkan.
Bayi perempuan lahir dengan tangisan lemah pada usia tiga puluh dua minggu. Ia segera dibawa ke unit neonatal.
"Namanya?" tanya perawat.
Alyn menatap Tristan. Mereka memilih nama Tara, berarti bintang, dari daftar yang pernah dibuat Theo.
Alyn mengalami pendarahan, tetapi lebih cepat tertangani karena tim sudah bersiap. Tristan tetap berada di sisinya sampai dokter menyatakan stabil.
Tara membutuhkan bantuan napas. Berat badannya kecil, namun tanda awal cukup baik.
Ketika Alyn sadar, Tristan memberikan informasi apa adanya. "Dia di NICU. She is fighting."
Alyn menangis karena tidak dapat langsung menggendong. Trauma lama kembali, tetapi kali ini ia sudah memiliki dukungan dan tahu perasaan tersebut tidak membuatnya gagal.
Malam pertama berlalu dengan Tristan berjalan antara kamar Alyn dan inkubator Tara, seperti saat Theo lahir. Bedanya, ia tidak lagi merasa harus menyembunyikan ketakutan.