Santanael menggeser duduknya namun, tangan Kepala pelayan cepat menahannya. Dua pasang mata beradu dengan maksud berbeda.
"Mau ke mana?"
"Tidak kemana-mana."
"Mengapa duduk jauh-jauh?"
"Aku mau duduk di manapun bebas. Ayah, ini masih malam. Aku masih mengantuk."
"Dua jam lagi pagi."
"Ayah, aku masih ada kerjaan."
"Libur."
"Eh..." Santanael ingin mengatakan sesuatu tapi sikap Kepala pelayan seperti memperingati.
"Jangan panggil ayah, bisa tidak?"
"Tidak!"
"Santanael..."
"Aku sudah katakan alasannya."
"Ibumu sudah lama mati. Kita tidak benar-benar ayah dan anak, siapa yang ingin kamu bodohi?"
"Aku-- "
"Kamu ingin bukti tes DNA lalu publikasi ke publik? kalau begitu kita lakukan saja hari ini."
"Tidak bisa!"
"Mengapa tidak bisa?"
"Ini terlalu mendadak. Aku belum minta ijin ke kantor. Aku-- atur waktu dulu."
"Aku bisa minta ijin , lagipula perusahaan itu milikku."
Suara yang mengalun memberi getaran tak berujung sehingga akal sehat terbelit sempurna.
"Ayah..."
"Panggil aku, sayang."
"Tidak!"
"Mengapa kamu selalu mengatakan tidak bisa atau tidak? kamu sengaja membuatku kesal."
Kepala pelayan menatapnya tajam, Santanael berusaha pelan-pelan bergeser ke ujung sofa. Hati yang tenggelam perlahan muncul ke permukaan, apakah menyerah semudah itu?
"Maaf," ucap lirih Santanael, Kepala pelayan menarik nafas sekedar meredakan kekesalan di hatinya.
"Santanael, aku benar-benar ingin memulai dari awal. Bisakah kamu berikan aku kesempatan?"
"Aku--"
"Tidak sebagai ayahmu tapi sebagai seorang pria."
Santanael bangkit dari duduknya, berjalan menuju ke jendela balkon yang tertutup. Tangan terlipat, hati gelisah memikirkan.
"Ayah, aku memerlukan waktu untuk mencerna semuanya. Ini terlalu membingungkan."
"Aku tahu tapi aku tidak ingin kehilanganmu untuk kedua kalinya," kata Kepala pelayan menghampiri, memeluknya dari belakang.
Hidup adalah pilihan tapi hasil akhir? siapa yang mengerti walau hati terpaut sama dengan masa lalu kelam.
"Aku-- "
"Aku mohon Santanael, biarkan aku mencintaimu dengan caraku. Aku berjanji tidak akan menyakiti."
"Tapi, ayah sudah menyakitiku."
"Aku terjebak saat itu."
"Terjebak? ayah ingin membuatku tertawa atau menangis di sini. Siapa yang ayah tipu?"
Badan kaku Santanael dalam pelukan berikan perasaan tak nyaman di hati Kepala pelayan. Semua orang tahu bagaimana perlakuan manisnya kepada ibu Santanael di masa lalu, apakah semua orang buta hati dan tuli hati secara bersamaan?
Santanael membebaskan diri dari pelukan, berjalan ke arah tempat tidur nyamannya. Kepala pelayan terdiam memerhatikan tingkahnya, ia merasa seperti ada benang tak kasat mata yang menjerat lehernya.
"Ayah, kembali lah."
"Santanael..." Kepala pelayan hendak mendekat tetapi Santanael bergerak menutup dirinya sendiri dengan selimut. Jelas-jelas menolak berkata lagi namun, jari jemari menggenggam erat pakaian tidurnya di balik selimutnya.
Ada hati dan isi kepala bertengkar yang menyebabkan ketakutan. Santanael menelan semua dengan sikap tenang.
"Biarkan ayah tidur di sini. Ayah, tidak akan mengatakan apapun," ujarnya berusaha untuk mendamaikan suasana yang tegang.
"Tidak!"
"Santanael, kamu mengusir ayah?"
"Kalau iya, memang kenapa?"
"Apakah kamu tega melihat ayah kehujanan?"
"Sudah tidak hujan." Kepala pelayan melihat ke arah luar jendela dengan mengutuk Langit yang menghentikan hujan di saat penting.
"Ayah bisa sakit."
"Ayah tidak akan sakit. Jangan lupakan, kalau ayah setengah iblis."
"Santanael..."
"Pergilah ayah. Santanael mengantuk."
Hidup mulai terlihat konyol di mata Kepala pelayan, mengapa ia merasa akan kehilangan Santanael cepat atau lambat?.
"Baiklah, ayah pergi tapi besok kita sarapan bersama sebelum berangkat kerja?"
"Tidak bisa."
"Mengapa tidak bisa?"
"Tidak apa-apa, hanya tidak ingin saja."
"Santanael, kamu ingin menghindari ayah."
"Tidak juga, hanya sedikit malas saja."
"Kamu--"
"Ayah, Santanael merasa banyak hal yang terjadi. Bisakah ayah berikan ruang untuk Santanael memikirkan?"
Ruang? jarak? hah! mimpi! pikir Kepala pelayan ingin mengguncang badan serta isi kepala Santanael berulang kali.
Kepala pelayan mengukur baik buruk sebuah keuntungan dan kerugian apabila jauh dari Santanael.
Tidak ingin hati tersiksa, Kepala pelayan cepat menarik selimut di kepala Santanael.
Bibir mencembik penuh protes menjadi pemandangan indah di sertai mata kecil dengan sinar ingin tahu menyebabkan getaran tanpa batas hati.
"San..."
"Ayah, Santanael sangat mengantuk. Badan juga capek, bisakah Santanael tidur?"
"Tapi San..."
"Santanael manusia ayah. Butuh tidur, makan dan minum, ayah setengah iblis jadi hal dasar manusia tidak di butuhkan."
Kata-kata ringan yang di ucapkan membuat kesal di hati namun, Kepala pelayan di buat tak berdaya hingga terpaksa merapatkan selimut yang menutupi Santanael.
"Tidurlah, ayah tidak akan menggangu lagi."
"Ayah pergi?"
"Tidak! ayah duduk di sofa," Ujarnya pelan seraya bergerak ke arah sofa.
Santanael diam membisu.
Hatinya terjerat lama, apakah ia bisa melepaskan jeratannya ataukah ia harus menerima tawarannya? Bagaimana dengan ibu? Apakah ibu marah di bawah tanah sehingga datang meminta pertanggungjawaban darinya?
Perasaan dingin muncul.
Jika boleh meminta, Santanael sungguh tidak ingin di pertemukan lagi dengan Kepala pelayan tetapi perasaan ini...
Mata bertambah berat, Santanael menyerah masuk ke dalam mimpi dengan harapan esok hari terbangun tanpa melihat siapapun.
Kepala pelayan tidak percaya diri bisa bertahan jika terlalu lama berdekatan dengan Santanael.
Suara tenang dengan hembusan udara yang sejuk sekejab menidurkan Santanael.
Hidup tidak adil.
Namun, siapa yang bisa katakan jika cinta datang tanpa undangan bisa berakibat fatal?
Langit terus menguji hati dan pikiran manusia. Takdir dan nasib beradu dalam peruntungan.
Black menggelengkan kepala tiada henti sementara Bayu di samping tidak mengerti.
Drama anak manusia dan setengah iblis menjadi tontonan gratis bagai minum segelas kopi panas.
"Tuan, lihatlah mereka. Bukankah terlihat manis satu sama lain?"
"Manis? mata kamu buta."
"Hah!" Bayu menggaruk rambutnya, jelas kebingungan. Black mengambil sebatang rokok dari kantong, memainkan sejenak kemudian di nyalakan.
"Tuan, tolong jelaskan. Aku tidak mengerti."
Hembusan asap menggulung melewati udara bebas bercampur air hujan.
"Manusia hanya tahu batasan benci dan cinta sedangkan iblis hanya mengenai kekuasaan, dendam, kebencian dan pembalasan dendam."
"Maksud tuan..."
"Ibu Santanael menggadaikan jiwanya, menurutmu?"
"Astaga, aku lupa!"
"Menurut perhitungan dunia manusia dan neraka. Besok adalah waktu di mana ibu Santanael datang kembali ke dunia."
Bayu melonggo mendengar penjelasan Black, di kepalanya terdapat penjelasan sederhana yaitu mati dan hidup.
Bagaimana bisa hidup?
---
Gospar memandang langit dari balik kaca jendela di kamar penginapan.
Ingatannya melayang jauh.
Hatinya merindukan sekaligus marah apabila teringat kalimat Santanael.
"Aku siapa dan kamu siapa. Bukankah sejak awal kamu mengetahui jelas siapa yang ada di hatiku? mengapa kamu menyalahkan aku?"
"San! aku--"
"Anak ini adalah anak kita tapi mengapa kamu membunuhnya? apa salahnya?"
"Aku cemburu, San."
"Kecemburuanmu membunuh anakmu? hahaha...kamu lihat, ibuku dan dia sangat bahagia. Mengapa aku tidak boleh bahagia dengan anakku?"
Semua pertanyaan itulah yang memicu kemarahan, Gospar sangat menyesali perbuatannya tapi untuk mengakui, rasanya bagai buah simalakama.
"San...apapun yang terjadi di masa depan, aku tidak akan diam saja untuk kali ini. Kamu milikku!" katanya keras.
Gospar melirik ke arah jam di dinding, berfikir waktu pagi terlalu lama. Ia sangat takut jika Kepala pelayan berhasil mengisi otak kecil Santanael.
Iapun berbalik pergi ke arah kamar mandi, kali ini ia bertekad melakukannya menggunakan jalur langit.
Semoga anaknya yang di surga ikut memberikan jalan untuknya bersatu dengan Santanael.
Gospar bukan penganut agama yang taat, tetapi ada orang yang bilang meminta jalur langit maka hasil bisa di dapatkan asal tekun.
Kegelapan perlahan berubah warna, suara lembut di sertai udara dingin menerpa wajah lelah. Kepala pelayan berjalan keluar arah balkon, ia memandang langit.
Hatinya bergerumuh meminta. Tidak tahu apakah terdengar.
Black mencampakan rokok yang tersisa ke tanah lalu pergi diikuti Bayu.
"Mereka mulai teringat ketika jalur manusia mustahil. Sungguh sangat di sayangkan."
"Aku tidak mengerti."
"Bayu, kamu ini iblis. Mengapa banyak yang tidak mengerti?"
"Tuan, jangan bercanda. Iblis rata-rata bodoh, bagaimana bisa memahami hal-hal sepele begini?"
"Kamu benar juga. Kalau tidak, bagaimana bisa neraka penuh? sungguh membuang waktu," gumam Black terus berjalan ke arah matahari terbit dengan Bayu sesekali melihat arah Kepala pelayan yang terlihat tenggelam dalam pikirannya.
"Tuan, apakah jalur langit bisa menyelesaikan masalah mereka?"
"Tidak!"
"Mengapa?"
"Jangan lupakan takdir dan nasib."
Bayu mulai bersimpati padahal ia sangat suka melihat interaksi Santanael dan Kepala pelayan. Iapun ikut menantikan hari dimana mereka bisa bersatu.
"Tuan, ibu Santanael hidup sebagai manusia atau iblis?"
"Menurutmu?"
"Iblis."
Black sangat lelah, "Tidak!" serunya keras. Bayu terkejut mendengarnya, ia melihat Black dengan pandangan tak percaya.
"Butuh orang yang buta dan tuli hatinya untuk menyeret arwah orang mati bergentayangan untuk hidup."
"Maksud tuan..."
Black terdiam.