Alvian Kato berdiri gemetaran di depan pintu gerbang rumah Black. Tidak ada tanda-tanda orang yang berniat membukakan pintu walau sudah berulang kali menekan tombol pintu atau menggerakkan pintu gerbang dengan sekuat tenaga.
"Tuan Black, saya mohon. Anda harus mengerti kesulitan saya saat ini," teriaknya kencang berusaha mengalahkan suara hujan deras.
"Saya sangat mencintai Santanael tapi mustahil mengingat kemampuan saya yang terbatas. Tuan harap tolong saya mewujudkan permintaan kecil ini."
bang...bang...
"Tuan, saya berjanji tidak akan menyia-nyiakan kesempatan yang di berikan."
"Tuan....tuan...!!!"
"Tolong tuan, saya membutuhkan bantuan anda."
bang...bang...
"Tuan, saya akan memenuhi semua persyaratan apapun asalkan saya bisa bersama Santanael."
Alvian Kato terus mengatakan banyak hal tetapi seakan tidak ada yang mau mendengarkan semua pemikirannya.
Bayu memandang pemandangan Alvian Kato dari balik jendela tertutup gorden. Satu orang menunggu dengan sabar dalam mobil dan satu orang berteriak penuh kegilaan.
Sungguh pemandangan menyedihkan.
"Tuan, apakah anda tidak kasihan padanya?"
"Kasihan?"
"Manusia ini tidak buruk untuk nona kecil."
Black menghentikan tulisannya, melihat ke arah Bayu dengan kerutan dan ketidaksenangan yang nampak jelas di wajahnya.
"Atas dasar apa aku harus mengijinkan manusia yang memiliki kekurangan isi dalam otaknya demi kehidupan diatur iblis!" kata Black penuh emosi.
Asap rokok di keluarkan dari sela mulutnya, "Tapi..." kata Bayu tidak jadi melanjutkan.
"Apakah menurutmu, aku sebagai kakeknya tidak ingin melihat kebahagiaannya? aku ingin melihatnya."
Bayu terdiam.
"Pintu gerbang neraka mudah untuk di masuki setiap orang tapi kebahagiaan tidak semudah memejamkan mata."
"Ini... terlalu berat untuk di pahami."
"Persinggahan atau awal kehancuran bergantung pada diri sendiri. Nasib, takdir dan iblis hanya bertugas mengacaukan."
Bayu hendak mengucapkan sanggahan tetapi lambaian tangan dari Black mengurungkan kata-kata di ujung lidahnya.
"Sebagai raja neraka, aku ingin mencabut nyawanya karena sudah bertindak bodoh tapi sebagai kakeknya, aku ingin menghadiri pernikahan yang sesungguhnya," ucap Black pelan, jarinya perlahan-lahan melanjutkan kegiatannya menulis sesuatu.
"Santanael berhak bahagia dengan caranya sendiri dan di restui Langit," lanjutnya lirih.
Terkadang manusia sering lupa jika pertaruhan yang di buat berakhir penuh tanda tanya di masa depan.
Apakah terlupakan anak cucu tujuh keturunan menanggung beban di masa depan akan terpikir kan?
Sungguh cinta yang luar biasa demi keselamatan hari ini untuk mengorbankan kekonyolan di masa depan.
---
Gospar mengerutkan keningnya melihat kehebohan depan pintu gerbang melalui kaca mobil.
"Untuk apa dia datang?"
Orang kepercayaan dan sopir menghela nafas bersamaan, "Apa dia tidak tahu jika sekarang sudah mulai tengah malam?" tanya Gospar mulai kesal.
"Tuan Alvian kemungkinan ingin bertemu dengan kakek Santanael," jawab orang kepercayaan penuh perhitungan, sopir meringis di samping.
"Di tengah malam?"
"Tuan, bagaimana jika kita mencari penginapan di sekitar? besok pagi bisa bertemu dengan nona Santanael dalam kondisi baik," bujuk orang kepercayaan seraya berbalik melihat Gospar.
"Nona? apakah kamu sudah lupa, Santanael adalah istriku!" katanya mulai marah, orang kepercayaan tertegun lima detik.
"Maaf tuan, maksud saya nyonya."
"Jangan lupa! Santanael istriku!"
"Baik tuan, maafkan saya."
"Penginapan? apakah ada?"
Orang kepercayaan cepat mencari penginapan 24 jam di sekitarnya, tetapi tidak ada satupun yang di nilainya mampu memuaskan kebutuhan Gospar.
Hujan tidak berhenti.
Udara dingin di sertai kabut tebal mulai menutupi pemandangan sebatas. Gospar mulai gelisah, "Tuan, jarak 3 km dari sini terdapat penginapan. Apakah anda setuju pergi ke sana? kabutnya bertambah tebal," kata orang kepercayaan Gospar sembari membantu sopir membersihkan kaca depan mobil yang mulai tertutup rapat oleh kabut.
"Pergi!"
Sopir cepat menyalakan mobil, orang kepercayaan segera melakukan reservasi melalui ponselnya. Mobil bergerak cepat meninggalkan tempat itu.
Suara mobil mengusik Alvian Kato, memalingkan wajahnya ke arah kepergian mobil dengan penuh tanda tanya dalam hati.
Baju basah kuyup.
Perut mulai keroncongan karena sepanjang hari belum sempat makan. Alvian Kato melihat sekali lagi ke arah rumah. Ia tidak mau sakit dan membuat kesempatan mendapatkan Santanael hilang gara-gara sepele.
"Tuan, saya akan mencari makanan tapi saya akan datang lagi!"teriaknya sekencang mungkin kemudian berjalan ke arah mobilnya yang terparkir tak jauh dari situ.
Kabut tebal terus menerus berdatangan seakan-akan mengubur rumah tersebut. Bayu menggelengkan kepalanya, "Ternyata hanya sebatas ini," gumamnya.
Black mengangkat matanya dari kertas yang di bacanya, "Apa yang kamu harapkan dari manusia?"
"Saya berharap dramatis."
"Huh! manusia hanya menikmati isi perutnya dan memikirkan keegoisan, dramatis bisa bertahan jika mereka mempunyai alasan."
"Tuan Black, anda terlalu sinis."
"Sinis?"
"Iya."
"Ayolah, aku adalah raja neraka. Raja semua iblis, simpati atau apapun sebutannya tidak berlaku."
Tidak salah.
Neraka dan surga menjadi paradoks dari mata manusia. Black bangkit berdiri, berjalan pergi meninggalkan ruang kerjanya diikuti Bayu.
"Apakah Kepala pelayan di pastikan menang?"
Black menggelengkan kepala, "Menang kalah, Santanael yang mengetahuinya."
Bayu terkejut mendengarnya.
"Bocah kecil bau itu memiliki dasar perhitungan sendiri untuk orang di sekitar. Dia datang bukan menerima tapi meminta semuanya membayar bunga kesulitan karenanya."
"Saya tidak mengerti."
Black tidak mengatakan apapun lagi, Bayu melangkah dengan kebingungan. Bukankah nona kecil mencintai? atau ada yang salah? dimana letak kesalahannya?.
Hidup mati adalah urusan neraka dengan campur tangan Langit di buku nasib dan takdir namun, cinta? manusia yang tentukan.
Tidak ada yang kebetulan di dunia ini selama Langit merestui kehidupan.
---
Santanael membuka matanya, menatap pria yang tertidur pulas di sebelah. Hati berdetak kencang meneriaki telinga hingga memerah wajahnya.
Jarinya menyentuh ringan sisi wajahnya.
Air mata pelan meluncur manis di pipi. Sungguh wajah yang mempesona mata dengan karakter kuat mendambakan.
"Ayah..." bisiknya halus tapi terdengar oleh Kepala pelayan bagai irama yang menghangatkan hati walau ada ganjalan kata ayah di telinga.
Kepala pelayan berusaha keras untuk tidak bergeming dari tidurnya seperti orang mati. Ia sangat ingin mengetahui apa langkah selanjutnya dari Santanael. Tiba-tiba tidak lagi di rasakan jari halusnya, detak jantung berserak protes. Santanael bangkit seraya menghapus air mata dengan punggung tangannya, "Kamu datang tapi .... terlambat," katanya setengah berbisik. Wajah sedikit membungkuk berikan kecupan lembut, merapikan rambutnya dengan hati-hati. Hati Kepala pelayan tersentak lugas menginginkan lebih, tetapi ia merasakan tekanan tempat tidur yang berubah.
Santanael hendak turun, tangan kiri Kepala pelayan cepat menahannya untuk mencegah pergi dengan menarik ke arahnya. Terjatuh keras dalam pelukan yang hangat.
"Mau pergi?"
Suaranya dalam bak sihir menguasai semua indera Santanael. Sejenak, Santanael terkejut memandang mata Kepala pelayan yang berwarna hijau zamrud, jarak sangat dekat.
Dunia terasa terhenti.
Nafas saling melengkapi.
Apakah ini surga?
Hati bersorak-sorai
Bolehkah mencicipi satu sama lainnya untuk kali ini?
duarr....suara petir menyambar merusak keharmonisan di antara mereka berdua. Kutukan dan keluhan di ucapkan secara bersamaan dalam hati masing-masing.
"Aku-- "
"Kemana?"
"Kamar mandi."
"Butuh bantuan?"
Warna merah kembali muncul di wajah Santanael, "Itu tidak perlu," ucapnya pelan berusaha melepaskan belitan kokoh tangannya.
"Apakah lama?"
"Hah?"
"Apa hah?"
Santanael di buat bingung. Kepala pelayan bergerak cepat mengendong untuk di bawa ke kamar mandi yang ada di kamarnya.
"Masuklah!"
Linglung di perlakukan, Santanael masuk ke dalam kamar mandi. Kepala pelayan bersandar di dinding dengan mata setengah terpejam.
Hujan di luar tidak terdengar lagi. Santanael mematung depan kaca, "Aku-- bingung," gumamnya tidak nyakin dengan diri sendiri yang mendadak di perlakukan bak princess.
tok...tok...
"Santanael, apakah kamu masih lama?"
"Tunggu sebentar."
"Apa yang kamu lakukan di dalam? mengapa lama sekali?"
Santanael merasa kesal tanpa sebab, ia menuntaskan keinginan panggilan alamnya kemudian bergegas menyelesaikan. Ia takut apabila mendadak pintu di buka.
Kepala pelayan membuka matanya bertepatan dengan pintu kamar mandi terbuka, Santanael canggung berdiri.
"Kita perlu bicara."
"Eh..a...a...a" teriak spontan Santanael ketakutan karena Kepala pelayan cepat mengendong untuk kedua kalinya. Tangan memeluk erat lehernya, senyum tipis Kepala pelayan bikin geram sekaligus manis di hati Santanael.
Bulan masih menggantung di langit dengan kabut yang setia menemani. Udara dingin menyapu sebagian waktu.
Hati-hati meletakan.
Jarak di hapus.
Wajah polos membuat puncak rantai makanan mendasar seorang pria bergejolak sementara Santanael kebingungan di dekatnya.
"Kamu sangat cantik."
"Benarkah?" tanyanya sedikit memiringkan kepala, Santanael memandang wajah di hadapannya yang menggoda semua sarafnya.
"Ya."
"Mengapa ayah datang?"
"Merindukanmu."
Semua kata benar berterbangan tak tentu arah sehingga suasana tercipta keindahan.
"Ayah..."
"Biarkan ayah melihat wajahmu."
"Untuk apa?"
"Ayah ingin merekamnya agar tidak lupa."
"Mengapa?"
"Kamu sudah lama meninggalkan ayah. Apakah kamu tidak merindukan ayah?"
"Aku--"
"Ayah sangat merindukanmu."
Dunia seakan berhenti.