Kepala Pelayan menjejakkan kaki dengan mulus di teras balkon. Malam terasa dingin, mengapa pintu balkon kamar Santanael terbuka lebar? kerutan dalam di kening melesak masuk. Iapun melangkah ke dalam, di perhatikan Santanael tertidur pulas tanpa selimut.
"Kebiasaan buruk mu masih sama, bocah kecil." Selimut yang terjatuh di bawah tempat tidur, diambilnya untuk di pakaikan menyelimuti.
Wajah cantik tanpa cela untuk di nikmati sendirian menyebabkan nyeri di d**a. Kepala Pelayan menghela nafas berat, iapun duduk di sisinya.
"Mengapa kamu tidak mengatakan padaku jika kamu keberatan dengan pernikahan kami? jika aku tahu, aku tidak akan menikahinya," katanya pelan seraya mengusap pipi Santanael yang kurus.
Gerakan halus memprotes menorehkan senyum di wajah Kepala Pelayan, "Tahukah kamu, aku ingin kamu mencegahku saat itu."
Santanael bergerak seperti kedinginan, Kepala Pelayan menarik nafasnya kemudian bergabung dengan hati-hati di sampingnya.
Bukankah cinta membutuhkan kesempatan?
Apakah ada?
Kepala Pelayan mempertaruhkan hidup abadinya untuk kali ini. Demi wanita kesayangannya ini, ia akan melepaskan segalanya. Iapun memeluk erat-erat Santanael lalu mengecup benda kenyal di wajah Santanael.
"Kali ini, aku akan mempertahankan sekuat tenaga dirimu." Kepala Pelayan memejamkan matanya yang lelah, terasa nyaman.
Pelupuk mata terbuka perlahan.
Nafas teratur menyemburkan hawa hangat di sekeliling telinga.
Santanael mendengar semuanya. Hatinya berdetak kencang, ia seperti bermain dalam mimpi pendek.
Benarkah?
Apakah ia bermimpi?
Wajahnya berubah merah ketika mendapatkan detak jantung yang sangat lama di rindukan selama ini. Santanael mengambil kesempatan untuk mendekatkan dirinya lebih dekat padanya.
"Aku merindukanmu," bisik Santanael pelan. Kepala Pelayan diam, ia masih belum tertidur. Kata-kata yang diucapkannya sangat jelas namun, Kepala Pelayan tidak berani bergerak.
Ia takut merusak momen.
Dua hati bersandar dalam keheningan.
Sinar bulan menjadi saksi bisu sekali lagi.
Udara malam menjadi pelengkap suasana memainkan peranannya.
Apakah boleh berharap sekali lagi pada Langit?
Apakah ada jalan jika keduanya bersama?
Langit mengeluarkan suaranya yang menggelegar kemudian air turun deras mengguyur.
Kepala Pelayan sedikit bergerak ketika di rasakan tak ada pergerakan lagi dari Santanael. Keluhan di dengarnya membuat hati hangat, "San, apakah kamu belum tidur?" tanyanya penuh harap.
Badan mendadak kaku dalam pelukan.
Hati bergerak melingkupi keduanya.
"Maaf, aku-- "
Kepala Pelayan menjadi kebingungan menjelaskan kehadirannya dalam kamar Santanael. Ia malu ternyata Santanael belumlah tidur jadi semua kata-katanya di dengar jelas.
"San..."
"Dingin." Satu kata yang menyebabkan senyum mengembang di wajah Kepala Pelayan, menghapus perasaan malu sesaat yang di rasakan.
Pelukan di pererat, kecupan di dahi di berikan untuk menenangkan, detak jantung bertambah kuat mengisi keduanya.
"Ayah.."
"Aku-- tidak ingin di panggil ayah."
"Aku tidak terbiasa."
"Biasakan."
"Aku tidak mau."
"Mengapa tidak mau?"
"Aku sudah berjanji pada ibu."
"Apakah janji ini penting sehingga mengubah panggilan tidak bisa?"
"hmm..."
"San..."
"Ayah, biarkan seperti ini saja. Aku-- tidak bisa berikan lebih saat ini."
"San..."
"Ayah, aku mengantuk."
Tepukan pelan di punggung menyebarkan kehangatan sekaligus ingatan di masa lalu.
Dimana Santanael masih kecil?
Wajah Santanael muram seketika, beruntung Kepala Pelayan tidak melihat perubahan wajahnya.
Masa lalu dan masa depan tidak bisa di tentukan tapi kesempatan di buat sendiri, apakah ini bisa menjadi awal yang baik?
Sejenak harapan muncul dalam diri Kepala Pelayan sementara Santanael tenggelam dalam lamunannya.
Di luar villa BLU. Black dan Bayu berdiri mengamati, air hujan yang turun tidak menyentuh seperti ada payung yang melindungi.
Black melirik ke arah Langit yang sengaja mengirimkan hujan untuk menambah taburan kesempatan yang mustahil.
Sungguh kejam pikirnya.
"Mereka..." gelengan kepala Black kepada Bayu menekan kalimatnya untuk tidak diteruskan.
"Karma, nasib dan takdir menjadi bagian kehidupan tapi manusia setengah iblis tidak bisa melepaskan dirinya."
Bayu terkejut mendengarnya, "Nona kecil kasihan sekali," serunya penuh keprihatinan teramat sangat.
"Waktunya tidak banyak."
"Siapa?"
"Siapa lagi kalau bukan cucuku. Jika menikahi pria aneh itu, hidupnya paling lama satu tahun."
Bayu mengumpat pelan, "Kalau tidak bersamanya?" kepala menoleh ke arah Black yang berjalan menembus kegelapan malam dengan wajah sedih.
"Sangat lama."
"Bukankah itu tidak adil untuk nona kecil?" tanya Bayu berlari mengejar Black dengan kesusahan. Perasaan baru berjalan tetapi mengapa terasa jauh.
"Adil? aku bahkan tidak tahu apa itu adil dalam dunia ini."
Bayu terdiam mendengarnya, benar begitu adanya. Manusia berusaha dan berusaha tapi tanpa ijin dari Langit, tak seorangpun bisa merubah jalan kehidupannya.
---
Mobil berjalan lambat depan villa BLU. Hujan deras masih turun. Gospar menarik lepas satu batang rokok dari bungkusan.
"Tuan, saya pikir nyonya sudah tidur. Ini sudah sangat larut, tidak akan baik untuk kesehatannya."
Asap rokok mendominasi seluruh bagian dalam mobil, kaca jendela di turunkan oleh Gospar.
"Tidak!"
"Tapi tuan, nyonya tidak akan senang jika di ganggu tidurnya."
Gospar mengerutkan keningnya, teringat masa lalu dimana Santanael sangat tidak senang jika tidurnya di ganggu.
Iapun berikan isyarat untuk menepi. Sopir sigap menepikan mobilnya ke seberang villa BLU. Penjaga yang melihatnya segera waspada mengamati. Selama beratus-ratus tahun, tak seorangpun berada di wilayah keluarga BLU.
Apakah cinta terasa sulit? tentunya, jika jalan di tutup oleh cemburu dan curiga. Apa artinya?
Orang kepercayaan Gospar melirik ke arah kursi penumpang, simpati di berikan demikian juga sopir.
---
Alvian Kato gelisah di tempatnya. Beberapa kali melihat jam yang berputar seperti sesuatu yang mencekiknya tanpa terlihat.
"San, dimana kamu sekarang?"
Matanya memancarkan kebencian ketika diingatnya Kepala Pelayan mudah membawa pergi Santanael. Ia merasakan ancaman.
Tangannya meraih ponsel di atas meja, menekan satu nomor di luar imajinasi. Satu dering terangkat.
"Ada apa?"
"Aku ingin membuat perjanjian."
"Perjanjian?"
"Perjanjian hidup dan mati."
"Apa kamu nyakin?"
"Ya, aku nyakin."
"Mengapa?"
"Aku menginginkan Santanael."
Dengusan dingin terdengar kasar di balik telepon, Alvian Kato mencengkram kuat ponselnya. Tidak ada jalan mundur, jika harus menyerahkan hidupnya, ia akan langsung lakukan.
"Kamu tidak bisa."
"Tuan Black, anda terlalu meremehkan."
"Manusia dan manusia barulah benar, tapi kamu ingin melepaskan hidup demi menjadi iblis, apakah layak?"
"Layak atau tidak, saya yang tentukan."
"Kamu tidak layak melakukan perjanjian denganku."
klik.
Alvian Kato tertekan.
Bagaimana bisa di tolak?
Apakah ia hanya bisa melihat wanitanya berjalan bersama pria setengah iblis atau pria yang mengaku mantan suami?
Ia meletakan hati-hati ponselnya di atas meja, berjalan mondar mandir di atas karpet tipis miliknya.
Harta?
Ia tidak memiliki banyak.
Masa depan?
Ia bisa berusaha.
Kalau begitu, dimana letak tidak layaknya?
Apakah ini hanya akal-akalan dari Black untuk mencegahnya menginginkan Santanael?
Pasti seperti itu.
Alvian Kato menyambar kunci mobil dan ponselnya, ia berjalan keluar rumah. Ia harus menetapkan hatinya untuk menyakinkan Black berada di pihaknya.
"San, tunggu. Aku pasti akan membuat kamu menjadi istriku, apapun caranya." mobil di nyalakan, bulan masih menggantung di Langit.
Hidup ini sedikit sulit di tebak.
Black menggeleng kepalanya berulang kali, mengutuk Langit yang memainkan permainan usang padanya.
"Jangan libatkan aku."
Suara petir menggelegar, siapapun yang mendengarnya pasti ketakutan. Tidak ada yang membuat mudah ketika cinta berbicara.
"Itu sangat menjijikan!"
Petir menyahut kuat hingga bagian dalam rumah bergetar. Black mengusap wajahnya dengan gerutunya, Bayu menunduk takut.
"Aku penjaga pintu neraka bukan Mak comblang!!"
Tidak ada suara dari Langit.
Bayu mengamati perubahan di luar jendela, hujan deras berlipat-lipat kali. Tidak ada yang bisa meramalkan masa depan tapi orang yang setengah otaknya di pastikan datang.
"Dia datang."
Black menghilang sekejap.
Rumah tua keluarga BLU merupakan pintu gerbang neraka dan dunia. Tidak ada yang mengetahui tetapi bukan berarti, semua harus di ketahui.