Mata Santanael terbuka lebar, menyadari tidak berada di kamarnya. Iapun loncat dari tempat tidurnya. Kepanikan muncul seketika, tanpa memperhatikan sekitar. Ia membuka pintu kamar.
"Di mana ini?" tanyanya pelan pada dirinya, berjalan keluar menuju satu tangga yang melingkar.
Langkahnya terhenti di anak tangga kedua. Santanael berkedip kaget melihatnya, ingatannya berputar di masa lalu.
Kepala Pelayan berada tepat di bawah anak tangga, "Turunlah, kita makan malam dulu."
"Makan malam?". Santanael memalingkan kepalanya ke arah jendela besar yang ada di sisi samping, "Ini..." gumamnya tak berdaya.
"Rumah."
"Ini...bukan rumahku."
Satu tangan tiba-tiba bertengger mulus di pinggangnya bikin Santanael terkejut, Kepala Pelayan berada dekatnya. Kapan? mengapa ia tidak mendengar pergerakannya? Santanael merasa risih.
"Atau?" tanyanya setengah berbisik, Kepala Pelayan sengaja menghapus jejak di antara mereka berdua. Kepala Pelayan membutuhkan menyentuhnya walau sedikit demi ketenangan batinnya yang melonjak seakan menenggelamkan ke dasar laut tanpa bisa kembali. Ini adalah waktunya.
Santanael merasa tidak nyaman dengan sikap anehnya, ia ingin bergeser tetapi tekanan pada pinggangnya membuat kesal.
"A..."
"Aku tidak suka nama ayah, kita tidak ada hubungan."
"Tapi...."
"Panggil namaku." Kepala Pelayan melepaskan tangannya dari pinggang Santanael, mengambil alih kebingungan Santanael dengan meraih tangannya untuk turun tangga.
"Nama?"
Mereka berjalan bersama menuju ruang makan, kebingungan Santanael bertambah melihat ruang makan yang ternyata sudah siap.
"Duduk lah, kita makan lebih dulu. Tidak baik membicarakan sesuatu dengan perut kosong."
Santanael duduk dengan patuh, pelayan di sekitarnya sigap melayani keduanya tanpa bicara.
Keheningan merebak.
Otak kecil Santanael merespon dengan cepat untuk melarikan diri dari situasi tapi Kepala Pelayan tidak membiarkan ia melakukan hal itu. Gerakannya seakan mengingatkan untuk diam dan patuh.
"Aku sudah selesai" Kepala Pelayan diam mengangkat cangkir kopi di tangannya bikin Santanael kesal.
"Aku harus pulang."
"Kemana?"
"Ya, rumahku sendiri."
"Kamu sudah ada di rumah. Santanael, kita perlu bicara yang sangat banyak."
"Tapi aku tidak ada minat untuk bicara."
"Apakah termasuk nama ku?"
"Tidak ingin tahu dan tidak mau tahu."
"Benarkah?"
"Ya!"
"Apakah kamu membenciku?"
"Aku-- "
"Santanael, jangan katakan sesuatu yang bisa saja kamu sesali di masa depan."
Santanael mendengus kesal, "Aku sudah banyak penyesalan, bertambah satu tidak akan melukaiku."
Mata Kepala Pelayan tajam menghunus mencari tahu seberapa dalam luka yang dibawa Santanael. Mengetahui itu, Santanael berpura-pura mengambil gelas berisi jus melon di dekatnya.
"Maaf."
Satu kata terlontar sangat rendah di dengar baik oleh Santanael, gelas berisi jus melon di pegang kuat olehnya.
"Maafkan aku telah menyakitimu sebegitu dalam."
Gelas di angkat mendekat bibir, jus melon mengalir pelan memasuki, Kepala Pelayan mendadak iri dengan jus melon yang di minum Santanael.
"Santanael..."
"Aku katakan, aku tidak ingin tahu dan tidak mau tahu."
"Mengapa kamu sangat keras kepala?"
Santanael meletakan gelas berisi jus melon yang kosong ke atas meja, bangkit berdiri. Matanya terarah pada Kepala Pelayan dengan sorotan dingin.
"San..."
"Jika kata maaf mudah di katakan untuk menghapus masa lalu lebih baik jangan katakan."
"San..."
Kepala Pelayan berusaha meraih pergelangan tangannya tetapi di tepis cepat oleh Santanael.
"Maaf ayah, aku sangat capek." Tanpa menunggu persetujuan dari Kepala Pelayan, Santanael berjalan cepat ke arah kamar.
"San...san..." panggil Kepala Pelayan kencang namun, di acuhkan oleh Santanael.
Ruang makan seketika terasa kosong, Kepala Pelayan menghela nafas marah. Pelayan yang berdiri tak jauh darinya, ketakutan. Kepala Pelayan berikan isyarat untuk membereskan meja kemudian iapun pergi ke ruang baca di lantai yang sama dengan kamar Santanael.
... di kamar lantai dua
Santanael bersandar pada pintu balkon yang terbuka, hatinya berdebar kencang dengan sikapnya tadi yang melawan.
"Siapapun namamu, itu tidak lagi penting. Kamu adalah ayahku seperti janjiku pada ibu."
Angin membawa kata-kata Santanael pergi. Malam berlanjut dengan tetesan hujan yang turun menghiasi. Santanael berbalik melangkah ke arah tempat tidur, ia memerlukan tenaga untuk esok hari. Tidur merupakan salah satu pilihan terbaiknya saat ini.
---
Gospar melempar semua barang yang dapat di jangkauan tangannya. Wajahnya merah menahan emosi yang turun naik.
"Pria itu...."
bum!!
Meja di hantam kuat oleh Gospar. Tidak pernah terbayangkan di kepalanya jika kematian sang ibu membuat Kepala Pelayan mulai mendekati Santanael.
"Santanael, mengapa kamu berani pergi dengannya? apa salahku?"
Pertanyaan yang di tujukan tetapi tak satupun ada jawaban pasti ketika kesalahan tidak di akui.
Orang kepercayaan berdiri tidak nyaman dekat pintu, Gospar berulang kali memukul meja dengan kuat. Suaranya memekakkan telinga, beruntung meja tidak pecah atau ambruk.
"Tuan..."
Gospar menghentikan gerakannya, berputar arah melihat. Orang kepercayaan diam-diam mengumpat dalam hatinya melihat buruk wajah Gospar mirip binatang buas yang siap memangsa.
"Tuan, nyonya Santanael di bawa tuan Kepala Pelayan ke villa BLU." Orang kepercayaan gelisah di dekatnya, "Kondisi nyonya saat ini belum dapat dipastikan, orang dalam belum berikan kabar," lanjutnya.
"Bagaimana nyonya satunya?" tanyanya mengacu kepada Magdalena di rumah. Gospar sangat mengenalnya, Magdalena bisa merencanakan hal buruk jika ia salah langkah.
"Sejak tengah hari menanyakan anda setelah menonton berita online di berbagai media."
"Apa yang kamu katakan padanya?"
"Untuk sementara tuan tidak bisa di hubungi karena ada rapat mendadak. Tuan, nyonya Magdalena berpesan anda harus cepat kembali."
"Dia berani mengancam?"
"Tuan..."
Gospar menarik lepas jas yang dipakai, "Kita pulang dulu. Kamu perjelas keadaan Santanael di sana dengan orang dalam. Pastikan keselamatannya."
"Baik tuan."
Jas di berikan kepada orang kepercayaan, Gospar melangkah penuh kemarahan lebih dulu. Otak kejamnya merespon kuat dengan rencana kejam lainnya.
Perjalanan mulus tanpa hambatan. Gospar bergegas turun dari mobilnya, masuk dengan langkah tegas. Tidak ada keraguan sedikitpun.
"Gospar, kamu pulang..." teriak Magdalena senang ingin bergerak mendekat tetapi melihat wajahnya, ia mengurungkan niatnya.
Jarak mereka terdapat lima langkah.
"Magdalena, kamu sudah berani mengancam aku?"
"Aku-- , apa yang kamu katakan? aku tidak mengerti."
"Berpura-pura bodoh?"
"Gospar, aku tidak mengerti."
Tangan Gospar terulur ke arah leher Magdalena dengan cepat, Magdalena tidak sempat menghindari.
"Kamu harus tahu posisimu sebagai apa di sini Magdalena."
"Aku-- "
Wajah cantik berubah pucat seiring tekanan di lehernya, "Gospar, aku-- tidak punya maksud apapun. Aku hanya mencemaskan kamu, Gospar lepaskan aku."
"Bukankah sudah aku katakan, rawat baik-baik anak dalam kandungan dan jangan ikut campur urusanku."
"Aku--"
Tekanan di leher perlahan di lepaskan, Magdalena berusaha keras untuk bernafas. Badannya menggigil ketakutan, Gospar memeluk dengan santai.
"Apa kamu merindukan aku?"
"Ya...ya, aku merindukanmu."
"Benarkah?"
"Ya, sangat."
"Apakah karena itu kamu mengancam aku untuk pulang?"
"Ya..ya.."
"Seharusnya kamu katakan jika kamu merindukan daripada berfikir aneh-aneh. Mulai sekarang, jangan lagi lihat berita di manapun."
"Aku tahu."
Magdalena bernafas hati-hati dalam pelukan Gospar, hatinya sangat sedih. Menikahi Gospar dengan harapan Gospar sama seperti dirinya yaitu sama-sama cinta tetapi, setelah sekian lama. Ia hanyalah pengganti.
"Gospar..."
"Ya?"
Pelukan bertambah kuat, Magdalena merasakan perut buncitnya terhimpit. Ia sangat tak nyaman.
"Aku lelah."
"Apakah kamu mengundang aku untuk turut serta?"
"Ya, jika kamu tidak keberatan."
"Tentu saja tidak, untukmu selalu tidak ada kata keberatan."
Gospar melepaskan pelukannya, menarik kasar Magdalena ke arah kamar mereka. Walau tidak ingin tapi Magdalena terpaksa mengikuti daripada Gospar melakukan kekerasan padanya.
Namun, Magdalena salah perhitungan. Begitu pintu tertutup, suara teriakan kesakitan meluncur manis dari mulut Magdalena hingga pagi.
Matahari muncul dengan awan gelap di sekitarnya. Angin berhembus lemah di sekeliling kamar.
Gospar bangkit, Magdalena terbaring lemah di sisinya. Ia segera meraih pakaiannya, matanya menyoroti jijik.
"Gospar... tolong..."
"Apakah kamu masih berani merindukan aku?"
"Tidak, aku-- tidak berani."
"Apakah kamu masih ingin aku pulang cepat?"
"Tidak, kamu bebas lakukan apapun."
"Bagus, ingat kata-kata mu itu."
Kondisi Magdalena penuh luka dan cairan yang mengering. Perutnya yang buncit tertutupi sebagian oleh selimut.
Tangan besar membelai perut buncitnya dengan penuh kasih sayang, "Ini anakku dan Santanael, kamu harus ingat untuk menjaganya."
"Ya."
Air mata jatuh ke satu sisi. Magdalena menahan sakit yang teramat kuat dari dalam hatinya. Anak ini adalah anaknya dan Gospar. Mengapa menjadi anak Santanael? apakah Gospar sudah gila? mengapa berubah banyak? berbagai pertanyaan timbul di kepalanya.
Gospar berbalik pergi, pelayan dan dokter keluarga bergegas masuk dalam kamar. Mereka segera berikan pertolongan.
Gospar melangkah keluar rumah, di depannya tampak orang kepercayaan serta sopir yang siap.
"Pergi ke villa BLU."
Mobil bergerak setelah semua berada di dalamnya, "Santanael, aku datang."kata Gospar dingin.