Alvian Kato di jatuhkan petugas hingga tak berkutik di lantai, sementara Gospar berhasil berada di atas panggung. Nafasnya memburu, matanya tajam menembus hati Santanael untuk mengingatkan.
"Lepaskan tangan istriku."
"Istri? siapa istrimu?" tanya setengah mengejek Kepala Pelayan terhadap perkataan percaya diri yang dilontarkan Gospar depan umum.
Tarikan nafas penuh keinginan tahu melanda seluruh pegawai di aula. Drama di mulai dari kata 'istri'.
"Santanael adalah istriku."
Boom!
Kata yang di tunggu-tunggu.
Senyum sinis menghiasi wajah Kepala Pelayan, "Apakah itu benar?" tanyanya sembari melirik ke arah Ges.
Ponsel cepat di tekan mencari data pegawai, "Tidak benar, Santanael bercerai empat tahun lalu," jawab Ges penuh kelegaan akan sikapnya yang sigap.
"Itu tidak benar, aku belum menceraikan Santanael," sanggah Gospar dengan cepat berikan tuduhan kepada Santanael.
Mata polos Santanael memandang ke arah Gospar. Badannya yang mungil bergerak di samping Kepala Pelayan, perlu dorongan kuat untuk bertahan tidak memeluknya.
"Ayah, aku tahu salah tapi Santanael adalah istriku," kata Gospar mengulangi peryataan di awalnya.
"Ayah? siapa ayah di sini? aku adalah pemilik perusahaan ini sekaligus tunangan tersembunyi Santanael, kamu siapa?"
"Ayah!! tolong jangan katakan hal-hal bohong. Santanael adalah putri tirimu."
Beberapa orang mulai teringat siapa Kepala Pelayan sesungguhnya. Santanael menatapnya, Kepala Pelayan menatapnya balik dengan senyum lembutnya.
"Berhenti! apa kamu sudah gila memanggil orang tak dikenal dengan ayah bahkan mengatakan tunangan siapa tadi? istri? buka mata lebar-lebar." kata Ges mulai tak sabar melihat situasi aneh di depannya. Urusan perusahaan berubah menjadi tontonan, betapa menyedihkan.
Kepala Pelayan tak bergeming di tempatnya, matanya sedikit beralih ke arah Santanael. Menunggu bantahan.
"San...kemari!" pinta Gospar putus asa melambaikan tangan kepadanya, semua orang menunggu reaksinya.
Apakah tahu rasanya dunia seperti mengejek tepat depan mata?
Apakah pernah mengatakan apa yang di kepala ketika segala terlihat terlalu luar biasa momen sehingga kehilangan akal?
Apakah ada seseorang yang bisa menyelamatkan dari situasi aneh dan canggung sekarang ini?
Kejutan.
Badan bergetar menahan diri dari kemarahan yang bergerak menghimpit di d**a seperti raungan gila.
Santanael memperhatikan pria yang pernah menjadi suaminya di masa lalu. Tawa tak terbendung keluar dari mulutnya, semua mata tertuju dengan unsur kejutan di dalamnya.
"Mengapa kamu tertawa? kemari lah, San," kata Gospar berusaha tenang menangapi tingkah laku aneh dari Santanael.
Matanya meneliti dari atas sampai ke bawah, Gospar tak senang di perlakukan demikian. Ini penghinaan.
"San...dengarkan aku."
Jarak mereka tak jauh namun, terhalang oleh Kepala Pelayan dan beberapa orang yang berwaspada. Gospar tidak bisa gegabah di atas panggung.
"Aku belum menceraikan kamu. Aku berfikir, kamu akan pulang setelah aku berikan kebebasan selama empat tahun terakhir ini."
Orang-orang mulai berbisik.
Kepala Pelayan mengubah wajah secepat air, tangannya bergetar ingin mengeluarkan jantung dari tubuhnya sendiri.
"Aku bahkan membeli gedung di seberang agar kamu tahu, aku selalu ada untukmu."
Beberapa orang berteriak membenarkan, Santanael melihatnya. Orang-orang ini merupakan pegawai seberang dan ada yang dari perusahaan ini juga.
Kebohongan demi kebohongan di tebarkan penuh untuk membuat buruk Santanael depan mata orang.
Apakah dunia begitu licik?
Santanael mengerjap beberapa kali, menghalau hatinya yang terluka untuk kesekian kalinya.
"Aku tahu aku salah, bisakah kita pulang? kamu bisa katakan pada ayah jika ini hanyalah salah paham."
Gospar terus menghitung dalam hatinya, berapa waktu yang di butuhkan untuk mengambil alih otak kecil Santanael yang kebingungan.
"Santanael, apakah kamu percaya kepadanya atau kepadaku?" tanya Kepala Pelayan tenang melihatnya.
Mata besar dan tegas berikan janji samar yang membuat Gospar dan Alvian Kato merasa cemburu di tingkat tak tertahankan.
"Aku-- "
Santanael memandang ke arah keduanya lalu ke arah Alvian Kato di bawah panggung. Pandangan lembut penuh permohonan Alvian Kato berikan isyarat jika apa yang di lakukan selama ini berhak mendapatkan balasan.
Hembusan angin dingin membuat bulu kuduk semua orang berdiri. Kepala Pelayan mengeluh dalam hatinya, tidak sekarang Black.
"Tunangan? istri? otak kalian sudah miring kah?" tanya Balck memasuki kekacauan aula, semua orang bingung melihat perubahan situasi. Pertanyaan di ajukan dengan hati-hati satu sama lain, siapa pria yang menerobos masuk dengan santai dan memiliki aura kuat.
"Tuan Black, alangkah bagus jika anda tidak memperkeruh suasana," tegur Gospar tidak senang.
Kaki Black berhenti beberapa langkah dari tangga panggung, sisi lainnya. Matanya merah darah.
Santanael mengeluarkan senyuman dengan langkah santai dan hati lega menghampiri, "Kakek.." panggilnya pelan membuat semua mata terbelalak.
Apa ini?
Apakah ini pembuatan film?
Mengapa semua orang mengatakan sesuatu hal yang membuat bingung kepala?
"Pergi!"
Santanael mengganguk, "San, kamu keluar dari ruangan ini, kita benar-benar sah bercerai," teriak lantang Gospar berusaha menghentikan langkahnya.
Namun, Santanael tidak melihat ke arah belakang. Ia terus menguntit langkah Black yang santai seperti dunia bukan apa-apa baginya.
"San, jangan..." kata Alvian Kato lemah di bawah tekanan petugas yang meringkus dirinya.
Kepala Pelayan diam membisu.
Semua orang mulai mencari tahu asal usul pria yang membantu Santanael keluar dari situasi di aula.
"Kamu tidak jalan!"
Suaranya menggelegar menegur membuat semua orang terkejut dan ketakutan secara bersamaan.
"Aku datang," seru Kepala Pelayan menghela nafas seraya berjalan santai. Sekejap semua orang terbengong melihat kejadian ini.
Apa hubungannya?
Gospar menahan dirinya sekuat tenaga agar tidak menerjang, "Santanael!" teriaknya sekali lagi.
Jarak Santanael dan pintu aula hanya tersisa dua langkah. Black berdiri di luar pintu, menunggu keputusan. Kepala Pelayan berdiri di belakangnya, "Aku cemburu,"katanya tenang.
Santanael berbalik, matanya meneliti. Ia biasa merasakan dan melihat tekanan dari Kepala Pelayan.
"Ayah."
"Aku bukan ayahmu dan aku akan membuktikan siapa aku sebenarnya."
"Ibu..." bibir bawah di gigit untuk menahan segala keluhan yang mungkin saja keluar.
"Mati, lalu kenapa? janjiku sudah selesai."
"Aku tidak mengerti."
"Mengerti atau tidak, aku tetap cemburu."
Pembicaraan mereka berdua tidak terdengar oleh Gospar yang bertambah marah, "Santanael! apa kamu dengar kataku?" tanyanya keras.
Badan mungil tersembunyi oleh badan Kepala Pelayan berikan kekacauan di kepala dan hati Gospar dan Alvian Kato.
Ruangan aula sepi.
Barang jatuh akan terdengar sangat keras.
Santanael bergerak ke sisi yang bebas, menatap Gospar dan Alvian Kato dengan pandangan rumit.
"Santanael, aku sangat cemburu di sini," bisik Kepala Pelayan melihat tingkahnya yang imut menurutnya.
"Ayah, aku dan keduanya tidak ada hubungan."
"Tetap saja."
Santanael menstabilkan dirinya tepat ke arah Kepala Pelayan, matanya jernih. Black tidak mengatakan apapun, tugasnya hanya menolong.
Katakan cinta, apakah layak?
Katakan cemburu, siapa dirinya?
Kepala Pelayan memandang wajah Santanael seperti godaan seribu ular, "Kamu sengaja," tuduhnya.
"Aku--? ayah, kamu membuat kekacauan di sini. Aku hanya pegawai kecil."
"Katakan jujur, kamu menikmati ini?"
"Tidak!" gelengan kepala dan senyuman menawan bisa melelahkan, "Aku membencinya," kata Santanael berbalik melanjutkan langkahnya melewati pintu aula.
"Santanael!!"
Teriakan kemarahan Gospar tidak menghentikan langkah Santanael pergi dari sana. Dadanya sesak. Ia tahu bisa gila meladeni ketiga orang yang memiliki kecemburuan level tetangga.
Kepala Pelayan mengikuti.
Perlahan-lahan kekacauan di belakang menghilang, udara bebas menyapu wajah Santanael dengan santai.
"Mau pergi kemana?" tanya Kepala Pelayan menarik lengan tangan Santanael, Black sudah menghilang dari pandangan.
"Pulang."
"Rumahku."
"Aku punya rumah."
"Tidak, kamu pulang bersamaku."
Santanael menepis tangan Kepala Pelayan, "Ayah, ini sudah berada di luar. Ayah tidak perlu memainkan drama lanjutan."
Mata bertemu dengan dorongan yang berbeda, apakah ada kata kesempatan kedua untuk memperbaiki?
"Itu bukan rumahmu tapi milik Alvian."
"Di manapun rumahku, apa hubungannya dengan ayah? jangan katakan..."
Mata bulat menyipit, tiba-tiba tanpa aba-aba badan Santanael di gendong apa bridal style.
"Eh, ayah! turunkan aku."
Kepala Pelayan memutuskan membawa Santanael dengan caranya, "Aku benci panggilan ayah ini, bisakah kamu menggantinya."
"Tapi kamu memang ayahku."
"Tidak ada hubungan darah."
"Ayah, ibu bisa bangkit dari kuburannya."
"Tidak akan."
"Ayah, turunkan aku."
"Mengapa berat badanmu sangat ringan? kamu harus makan banyak di rumah."
"Eh?"
"Aku bisa gila kedua kalinya jika aku tidak melihatmu sekarang ini, apa kamu mengerti Santanael?"
"Tidak. Ayah, apa kamu benaran aneh? kita baru bertemu dan kamu melakukan ini, apa kata orang?"
"Tidak tertarik mendengar dan tahu."
"Tapi, aku kerja di sini. Ayah turunkan aku. Ayah..." teriak kencang Santanael kesal, ia mengerakan diri.
"Santanael diam lah."
"Ayah, turunkan aku."
Kepala Pelayan melangkah tegas ke arah mobil yang terparkir tak jauh, Santanael berusaha keras menurunkan dirinya tapi kekuatan tangan Kepala Pelayan menguncinya.
Sopir sigap membuka pintu mobil, Kepala Pelayan memasukan dirinya dengan hati-hati agar Santanael tidak mengenai sisi mobil.
"Jalan."
Mobil berjalan meninggalkan gedung, Santanael berada di pangkuan Kepala Pelayan. Detak jantung berdebar kuat, bagai dejavu di masa lalu. Perlahan kepala Santanael bersandar di bagian depan Kepala Pelayan, tertidur.
"Kamu milikku dan selalu milikku, maafkan aku terlambat menyadari," bisik Kepala Pelayan melihatnya.