Gospar menyipitkan mata ke arah gedung seberang. Ia bisa melihat interaksi Santanael dan Kepala Pelayan melalui kaca jendela.
Wanita ini pikirnya penuh gejolak kemarahan yang meluap. Santanael adalah milikku pikirnya sekali lagi.
bum!!
Beberapa orang terkejut melihatnya berapi-api, sejenak terhanyut dalam permainan wanita-wanita di sekitarnya tapi sejurus waktu berubah hanya karena melihat kaca jendela.
"Ada apa?"
"Pria itu...sangat menjengkelkan."
Semua orang bergerak untuk melihat keluar jendela namun, tak seorangpun paham apa yang dilihat oleh Gospar.
"Mana?"
"Siapa?"
"Gospar, kamu jangan bertindak impulsif."
Gospar menggeser kepalanya hingga terlihat mereka semua, "Impulsif? Santanael adalah istriku! kalian cepat pergi selamatkan istriku."
"Mantan istri," gumam salah satu wanita di dekatnya penuh iri sekaligus kagum padanya.
Brak!!
Badan wanita tersebut jatuh ke lantai yang keras, semua mata terbelalak untuk kedua kalinya. Wanita itu menggelepar mirip ikan menjelang mati.
"Tolong...." serunya dengan tangan terangkat minta pertolongan tetapi, tak satupun ada yang bergerak.
Mata tajam nan kesal mengikuti gerakan nafas wanita tersebut yang melambat lalu menghilang. Gospar tersenyum sinis.
"Apa rencana anda, tuan Gospar?"
Gospar melirik sekilas ke arahnya, wanita kecil dan mungil dengan sedikit tampilan visual menggugah kehidupan untuk sementara hidup.
"Kamu pergi kesana!" Suaranya keras menyebabkan semua orang memiliki firasat buruk.
"Tapi tuan Gospar, kita tidak memiliki hubungan apapun dengan perusahaan tersebut."
"Kalian!!"
"Tenang dulu tuan Gospar. Anda pikirkan matang-matang sebelum kesana."
Namun, Gospar tidak mengacuhkan perkataan semua orang. Ia bergegas pergi seperti angin kencang. Tak seorangpun mengikuti langkah kuat dan cepatnya Gospar.
.... Dalam gedung.
Pegawai pria dan wanita yang terpisah menyebabkan keramaian. Kepala Pelayan memandang satu persatu ke arah semuanya, "Tuan, ada tamu tak di undang," bisik orang kepercayaan Kepala Pelayan.
Udara AC yang semula dingin bertambah dingin seketika. Orang-orang tidak menyadari perubahan sekitar namun, Santanael mengetahui.
Mata melihat ke arahnya. Gemetar menahan dingin sekaligus takut tanpa sebab yang di timbulkan.
Wajah Kepala pelayan sangat buruk, "Santanael maju ke depan," teriak kencangnya membuat suasana ramai sekejap sepi.
Kebingungan melanda semua orang.
Alvian Kato menatap tajam ke arah panggung, ia ingin maju tapi tertahan oleh beberapa orang menyebabkan sedikit sulit bergerak.
"Permisi... permisi..."
Namun, tak seorangpun mengindahkan perkataan Alvian Kato yang kesal. Sebagian memandang ke arah pegawai wanita dan sebagian lagi menoleh ke arah panggung dengan pertanyaan di kepala.
"Hei, awas."
"Apaan sih, sempit tahu."
"Minggir, aku mau kesana."
"Cari jalan lain."
Alvian Kato bertambah kesal dengan kasak kusuk pelan memenuhi aula yang tidak berikan jalan untuknya.
Santanael berada di barisan paling belakang, orang-orang yang mengenalnya menggeser jalan untuknya maju.
"Nona, tolong jangan persulit kami," seru orang kepercayaan Kepala Pelayan yang mendadak muncul di hadapannya.
"Aku-- "
"Dia bukan Santanael," teriak Alvian Kato berusaha sangat keras agar suaranya sampai tapi seakan-akan tidak ada yang mendengarkan.
"Nona...?"
Mata mereka berdua bertemu di udara. Ada kata-kata yang menyerap semua penolakan yang ingin dikatakan ketika Kepala Pelayan mengedipkan mata sebelah kiri ke arahnya.
"Ayah..." serunya pelan yang hanya bisa di dengar oleh Kepala Pelayan, "Patuh!" katanya.
Santanael terpaksa maju ke arah panggung dengan sikap canggung di bawah tekanan pandangan pegawai di aula.
"San...jangan pergi."
Tiba-tiba ada beberapa petugas yang menghalangi jalan menuju panggung dan membatasi orang.
"San...san, jangan..."
Santanael menoleh, pandangan matanya kosong seperti berada di tiang gantungan. Alvian Kato membeku di tempatnya, "San..." panggilnya lirih.
Kepala Pelayan diam menunggu hingga Santanael berada di depannya. Wajah pucat Santanael sudah berikan satu alasan kuat untuk Kepala Pelayan bertindak.
Beberapa petinggi sedikit bingung, Ges mengusap keringat yang muncul di wajahnya. Ia sangat bingung.
Kepala Pelayan menggenggam tangan Santanael, mikropon di berikan oleh Ges. Pembawa acara melirik ke arahnya dengan iri, Santanael gugup di samping.
"Perkenalkan sekali lagi saya adalah pemilik perusahaan dan gedung ini. Wanita di samping saya ini adalah tunangan saya."
Sontak semua teriakan heboh dan kemarahan meledak pada diri Alvian Kato yang akhirnya berhasil menembus penjagaan.
"Lepaskan Santanael!" teriakan kencang Alvian Kato menambah keramaian di sertai kejutan semua orang.
brak!
"Lepaskan istriku!"
brak!
Semua bergerak secara bersamaan ke arah pintu aula yang terbuka paksa dengan teriakan satu orang pria, Gospar.
Tak pelak aula menjadi sepi dengan wajah-wajah kebingungan dan gosip. Ada yang memotret bahkan mulai menggunggah ke media sosial.
"Ayah..."
Pegangan di tangan tidak di lepaskan sedikitpun. Kepala Pelayan menarik lembut Santanael ke arahnya, "Tidak apa-apa."
"Tuan terhormat, tolong lepaskan Santanael," kata Alvian Kato lantang sembari berusaha memikirkan masa depannya di perusahaan ini.
Gospar melangkah cepat tapi terhalang oleh petugas yang menghalanginya, "Ayah, kembalikan istriku."
Teriakan-teriakan dari Alvian Kato dan Gospar tidak mendapatkan perhatian dari Kepala Pelayan. Orang-orang semakin ramai berkata-kata, mencemooh bahkan bergosip riang.
Kepala Pelayan mengatur nafasnya ke level paling rendah, ia tidak ingin menakuti Santanael yang bertambah pucat wajahnya.
"Mengapa dia ada di sini?"
"Mengapa? mereka mencintaimu tentunya."
Santanael menolehkan kepalanya, "Aku juga," ungkap Kepala Pelayan yang membuat mata Santanael melebar.
"Ayah?"
"Mengapa? bukankah itu yang ingin kamu tanyakan? beri ayah waktu untuk menjawabnya."
"Aku-- tidak ingin mendengar."
"Kamu harus."
"Ayah..."
"Bisakah kamu tidak memanggil aku ayah? kamu tahu, aku bukan ayah aslimu."
"Hah?"
"Kenapa? kaget? Santanael, kamu tidak akan pernah tahu jika kamu terus melarikan diri dariku seberapa besar keinginan hatiku."
Santanael melongo.
Para petinggi perusahaan yang berada di belakang mereka berdua, Ges dan pembawa acara di buat syok.
"Jangan bercanda."
"Siapa yang bercanda? kamu tidak lihat orang-orang di bawah sana, itu bukti cintaku padamu."
"Hah?"
"Santanael, apa hanya kata hah saja yang keluar dari mulutmu itu."
"Aku-- bingung."
"Bagus kalau bingung karena aku juga."
Kepala Pelayan memandang hangat ke arahnya, "Perlu waktu lama untuk menyadari hatiku kemana perginya selama ini. Maaf telah membuat kamu menunggu cukup lama dan menderita."
Air mata jatuh bebas, genggaman tangan bertambah erat seakan-akan berikan janji tak kasat mata.
"Jangan menangis."
"Aku-- ayah, jangan mengatakan hal-hal yang bisa menyebabkan salah paham."
"Sejak kapan kamu salah paham? kamu sendiri yang memutuskan menikahi Gospar dan pergi tanpa kabar."
"Ayah, aku tidak begitu."
"Ya, kamu begitu. Katakan, apakah perasaan kamu sama seperti aku?" tanya Kepala Pelayan penuh harapan.
"Tidak tahu."
Jari jemari kuat menghapus dengan kelembutan air mata di pipi, "Tak apa-apa, aku akan membuatmu mengerti," ujarnya.
Santanael melirik ke arah bawah, Alvian Kato berusaha memberontak dengan berteriak marah kepada petugas dan di sampingnya tampak Gospar yang memukuli.
Sangat menakutkan.
"Jangan takut, aku ada di sini."
Arah pandang kembali kepada Kepala Pelayan yang menatapnya dengan kelembutan merasuk tulang belakang. Tak seorangpun mengatakan itu padanya jika cinta itu sangat menakutkan.