Suasana kantor berubah di titik terendah. Santanael mengangkat kepalanya untuk melihat, siapakah yang datang. Tampak beberapa wajah petinggi perusahaan berjejer di depan lift, tegang berbalut antusias sekaligus kekhawatiran terpusat memberikan jejak.
"Perkenalkan pemilik sekaligus pemimpin perusahaan tercinta kita ini, Tuan Kepala Pelayan."
Mereka semua bergerak memberikan jalan kepada orang di belakangnya, wajah tampan dengan tampilan bak model menyapa semua mata. Suara terhenyak diiringi nafas yang tersengal bagi kaum hawa. Auranya sulit di sanggah hingga berdengung di balik layar.
"Ayah" gumam tanpa sadar ketika mata bertemu dengan kesengajaan yang dibuat oleh Kepala Pelayan.
Salah satu pegawai wanita yang mendengar segera menoleh ke arah Santanael, "Siapa ayah? Santanael, kamu mau apa? jangan main-main," bisiknya heran.
Santanael menggeleng, "Ah tidak, aku hanya teringat ayahku saja."
"Mana ada ayahmu di sini. Setahuku ayahmu sudah meninggal, pria itu bos kita."
"Aku tahu. Aku hanya berfikir selintas saja, tidak ada maksud lain"
"Bodoh! kamu tidak lihat semua mata terarah padanya, jika kamu melihatnya seperti ayahmu tapi tidak dengan lainnya."
Kepala Santanael berputar ke segala penjuru, benar perkataannya. Semua mata seperti terhipnotis dengan auranya.
Tiba-tiba, matanya bertabrakan seakan menekan tanpa bicara. Keringat dingin mulai membanjiri punggungnya.
Matanya melebar dengan penuh kegugupan setiap mata Kepala Pelayan berjalan mengawasi, mengapa ayah tiri ada di sini pikirnya gugup. Terdengar seruan dan kasak kusuk tertahan menyentuh dinding telinga Santanael.
"Beliau baru saja datang untuk mengamati, selama ini semua pekerjaan dilakukan oleh tuan Jo. Penyerahan tugas akan di laksanakan pukul 15.00 hari ini, semua di minta datang ke aula."ujar Ges tenang memperhatikan.
Semua seruan tertanam dalam hati penuh tanda tanya, "Akan ada perubahan regulasi pegawai mulai besok," lanjut Ges melihat ke arah Kepala Pelayan yang sejak tadi tidak bersuara.
"Bubar!"
Anggukan kepala terhadap semua orang menutup keberadaan Kepala Pelayan yang minim suara, berbalik pergi diikuti Ges dengan pandangan penuh ancaman kepada anak buahnya di belakang.
Sekarang pukul 14.00, para pegawai mulai berkumpul di beberapa titik untuk membicarakan.
"Ada apa ini? aku takut."
"Apakah ada pemecatan?"
"Tidak mungkin, lima tahun terakhir perusahaan berjalan cukup stabil."
"Hei..hei, untuk apa takut? kalian lihat lah Santanael pegawai sering absen ijin sakit saja terlihat santai."
Semua mata menoleh serempak ke arah Santanael duduk. Mata-mata penuh penilaian berikan perasaan gugup Santanael meningkat tajam bahkan ia nyaris ingin melarikan diri ke arah kamar mandi.
"Eh?"
"Kamu benar, kita tidak perlu takut."
"Kalau pun ada pemecatan, Santanael bisa menjadi kandidat utama."
"Hahaha, benar-benar lelucon."
"Sudah... sudah, jam berapa sekarang?"
"Astaga jam 14.30, ayo cepat turun ke aula."
Beberapa orang mulai panik membereskan bagian tubuhnya agar tampak profesional. Santanael diam-diam menggeser tempat duduknya ke sudut, ia enggan beranjak sementara, keramaian pegawai meninggalkan kursi masing-masing mulai nampak.
Keramaian berangsur menghilang, Santanael bergerak ke arah pantry. Mulutnya terasa kering, Santanael menyeduh teh kamomil tanpa sadar ada seseorang menghampiri meja kerjanya.
"Mengapa kamu tidak turun ke lantai 3?"
Suaranya yang dalam mengagetkan Santanael hingga air memercik ke punggung tangan.
"Panas..." desis Santanael meletakan cangkir berisi teh ke atas meja kerjanya, Kepala Pelayan menyambar tangannya.
"Tunggu!"
Dua pasang mata bertemu di udara bebas. Hati berdebar-debar kencang. Ini pertemuan pertama mereka berdua yang benar-benar berhadapan.
"Mengapa kamu ceroboh? tidak bisakah kamu hidup tenang hingga aku tidak perlu mencemaskan kamu." katanya seraya membawa tangan Santanael ke arah air kran yang mengalir pelan.
Santanael tertegun mendengarnya.
Kepala Pelayan cepat meniupkan udara ke arah punggung tangan Santanael, "Apakah ada salep luka bakar di sini?"
"Ini... tidak terlalu sakit."
"Katakan ada atau tidak."
"Ini hanya luka kecil."
"Luka kecil? bagaimana kalau ada bekas lukanya? Santanael, tangan yang berbekas sangat jelek."
"Ayah..."
Sejenak Kepala Pelayan terhenti gerakannya meniup, "Baru ingat aku ayahmu?"
Wajah Santanael memerah seketika, Kepala Pelayan meliriknya. Tidak mudah baginya untuk bersikap baik-baik saja tapi benar-benar membuatnya tak berdaya.
"Ayah, apa kabar?"
"Apa kabar? Santanael sebenarnya apa yang terlintas di otak kecilmu ini."
"ini luka sepele. Bukankah ayah sudah berikan air dingin? tak apa-apa."
Kepala terangkat untuk memastikan, aura pekat penuh kemarahan bergelombang merasuk tulang. Sejenak Santanael gemetar dibuatnya, Kepala Pelayan menghembuskan nafasnya untuk menetralisir.
"San, baru menyapa sekarang? bukankah itu terlambat."
"Maaf."
"Pergi kemana saja. Mengapa aku tidak pernah tahu kabarmu sama sekali? mengapa kamu bercerai? apakah ibumu tahu tentang keadaanmu?"
Pertanyaan bertubi-tubi bangkitkan senyum di bibir Santanael berlapis lipstik berwarna pink orange. Kepala Pelayan terpesona sekali lagi, hatinya menggeliat.
Apakah ada yang tahu arti cinta berada di tepian jurang tanpa bisa berkata-kata hingga mencekik leher.
"Ayah, ibu tahu."
"San, mengapa kamu tidak beritahu ayah jika Gospar telah memperlakukan kamu buruk?"
Wajah Santanael berubah pucat mirip kertas mendengar itu, kening Kepala Pelayan di tarik ke belakang bagai ada pemukul yang menempel.
Tangan putih nan halus di tarik dari genggamannya, "Aku harus pergi ke aula lantai 3," kata Santanael bergerak berdiri seperti ingin melarikan diri dari situasi ini.
Kepala Pelayan tak bergerak, matanya mengikuti arah kepergian Santanael yang cepat.
...aula kantor di lantai 3.
Pegawai telah memenuhi. Pak Jo dan Ges berbincang-bincang asyik dengan beberapa orang lain. Mereka semua menunggu kedatangan Kepala Pelayan.
Santanael berdiri di balik pilar besar yang menutupi dirinya, Alvian Kato menepuk pelan bahunya.
"Kamu kok di sini."
"Aku merindukanmu."
"Jangan konyol."
"Aku dengar perusahaan ini milik ayah tirimu, apa itu benar? apakah kamu tahu itu?"
Bola mata berputar dengan senyum masam di wajah Santanael menyebabkan seringai nakal pada Alvian Kato. Hatinya kembali tenang.
"Kamu gila atau apa? kita sama-sama kerja di sini sudah berapa tahun. Mana aku tahu siapa pemilik perusahaan ini tepatnya, ingat aku bagian tak penting di perusahaan ini," katanya tegas dengan helaan nafas berat.
"Maafkan aku. Santanael, apa kamu baik-baik saja melihat ayahmu di sini?"
"Aku--? kamu tidak lihat wajahku?"
Keluhannya cukup menghibur Alvian Kato, "Aku tidak lihat. Aku hanya melihat wajah Santanael yang cantik dan mempesona."
"Gombal."
"Hehehe,tak apa tapi aku benaran suka sama kamu, San."
Santanael memandang heran, "Kamu kalau gilanya kumat, jangan sekarang."
Alvian Kato tidak berkedip memandang wanita di depannya, sungguh cantik dan menawan hatinya sejak lama.
"Aku tidak gila."
"Al..."
"Percaya padaku, aku hanya tidak ingin ada yang menikung dari belakang jika aku tunda utarakan perasaanku ini."
Santanael membeku di tempatnya, beberapa orang mendengar pernyataan cinta Alvian Kato bikin sedikit kehebohan di sekitar.
Kepala Pelayan baru saja melangkah ke arah panggung di tengah aula, telinganya yang tajam dapat menangkap pernyataan tersebut. Iapun cepat berikan pengarahan kepada Ges di dekatnya.
"Pegawai pria dan wanita harap berikan jarak satu sama lain atau begini saja, pegawai pria di sebelah kanan dan wanita di sebelah kiri."
Terdengar keramaian dan kebingungan mendengar pengaturan yang tidak lazim ini. Namun, semua orang mengikuti.
"San, aku menunggu jawaban darimu besok siang pas makan siang."
Santanael berpura-pura tidak mendengar, ia melangkah ke sisi kiri sementara Alvian Kato di tarik salah satu teman pegawainya ke arah kanan.