Daun-daun kering jatuh satu persatu. Matahari bersembunyi di balik awan gelap. Angin meniup daun-daun ke arah berlawanan dengan riang.
Ketenangan yang dibutuhkan sirna ketika terdengar langkah kaki berlarian menuju anak tangga yang melingkar dalam gedung.
"Tunggu!"
"Cepatlah, waktu kerja sebentar lagi datang."
"Beri aku nafas sekali, bisakah?"
Alvian Kato menghentikan langkahnya, berbalik kesal melihat Santanael menarik nafas lebar-lebar mirip ikan yang terlempar dari air.
"Olah raga,San!"
"Tidak sempat."
"Ayolah, aku tidak mau terlambat kali ini."
Santanael mengipas telapak tangannya, "Kamu tidak lihat, keringat di wajahku sampai begini menjijikan." teriaknya kencang.
Jarak mereka terpaut lima anak tangga, sontak kerutan berderet di wajah Alvian Kato.
Wajah Santanael memang terlihat buruk, make up yang dipakai luntur membuat Alvian Kato terpaksa menahan tawa.
"Jangan coba-coba tertawa."
"Mana ada aku tertawa."
Mata bulat cantik melotot padanya, "San, ayolah. Hari ini sangat menakutkan untukku. Kamu tidak lihat betapa takutnya wajah tampanku ini." bujuk Alvian Kato penuh kelembutan membuat bulu kuduk berdiri tanpa sebab.
"Kamu duluan saja, aku terlalu lelah."
"Astaga, tersisa satu lingkar lagi." Aimee panik, buru-buru turun ke posisi dekatnya berdiri. Tangannya cepat meraih tangan Santanael untuk mengikuti langkahnya menuju atas.
"Al!"
"Ya, aku disini."
"Kamu-- menyebalkan."
"Usiamu masih bisa dikatakan muda tapi mengapa kamu seperti orang tua menjelang mati."
Keluhan Alvian Kato berderet mirip emak-emak lagi ngomel ke anaknya. Santanael tanpa sadar menerbitkan senyuman yang cantik.
Alvian Kato termenung menatap kecantikannya, demi dewi dewa berikan satu hari kebahagiaan untuknya walaupun ilusi.
"Al...!!"
Suara teriakan Santanael membuyarkan lamunannya, Alvian Kato mencari sosoknya. Santanael berdiri di atas anak tangga akhir seraya melambaikan tangan di sertai wajah polos tanpa dosa, "Kamu-- kapan ada di sana?" tanya Alvian kebingungan.
"Kamu sibuk melamun, cepatlah."
"Ya...ya, aku datang. Dasar tidak setia kawan." Alvian Kato berlari menaiki anak tangga dengan wajah senang. Tak seorangpun yang menyadari ada sepasang mata menatapnya tajam dan dingin seperti ingin memutus kehidupan Alvian Kato sekejap.
Hidup berubah seiring arah mata angin.
Kepala Pelayan menghela nafas berulang kali untuk mengurai kemarahannya, di samping kiri ada Black.
"Jangan kamu rusak hidupnya."
"Kapan aku merusak hidupnya?"
"Dulu sekali."
Kepala berputar arah melihat Black, "Kamu temanku atau tidak, aku menginginkan Santanael tahu aku ada untuknya selalu."
"Kamu berani mengeluh padaku? Kepala, hidup kamu terlalu mudah ternyata. Kamu mengusiknya berarti kamu cari mati!"
Aura mistis kental menyelimuti sekeliling, Kepala Pelayan mendengus dingin. Black bersikap acuh tak acuh pergi tinggalkan Kepala Pelayan seperti angin setelah peringatan di berikan.
Awan gelap meluncur manis menutupi langit. Hidup mati manusia berada di tangan Langit tetapi, Langit tidak akan suka jika manusia tidak berusaha.
"Aku tidak mengusik tapi hanya masuk lewat pintu depan sesuai musim." kata Kepala Pelayan santai melangkahkan kakinya menuju anak tangga yang memutar.
Suara Kepala Pelayan menembus gendang telinga Black, "Masuk dari mana saja, kamu hanya akan menyakitinya," seru Black tidak puas.
Kedatangannya kali ini untuk memperingati tingkah laku Kepala Pelayan agar tidak gegabah. Kepala Pelayan menghentikan langkahnya, wajahnya tidak senang.
"Dia putriku."
"Kamu jelas tahu apakah dia putrimu atau bukan. Lima tahun lalu kamu sudah memilih menghancurkan, apakah kamu tidak memiliki hati nurani?"
"Aku setengah keturunan iblis. Apa itu hati nurani?"
"Kamu!!"
"Dan dia setengah keturunan iblis, aku tak percaya kali ini takdir tak berpihak padaku."
"Santanael 100% manusia. Pikirkan baik-baik, jangan kamu merubah jalannya."
"Aku adalah ayah tirinya, jalan mana yang aku rubah?"
"Mengapa kamu berbelit-belit? katakan saja kamu masih mencintainya."
Kepala Pelayan termenung kemudian tertawa keras menciptakan gelombang angin yang besar. Sebagian orang mulai merapatkan jaket masing-masing supaya tidak sakit.
....
Gospar memandang keramaian dari jauh, asap tebal berputar di sekelilingnya. Hatinya bergetar turun naik. Matanya melihat ke arah sosok wanita di gedung sebelah.
"Santanael... di waktu dulu, kita berpisah karena perbedaan tapi sekarang, aku menginginkan kita bersama."
Teropong jarak jauh di pakai untuk melihat aktivitas yang dilakukan Santanael. Tampak wajah berseri penuh makna.
"Tak kubiarkan kamu bersenang-senang tanpaku!" teriaknya penuh kemarahan sementara suara erangan terdengar sumbang masuk ke dalam gendang telinga, kerutan tak senang bersemu.
Gospar berbalik melihat sofa terdapat teman-temannya sibuk memainkan permainan dewasa, sangat membosankan.
Gedung ini berada tepat di seberang gedung, tempat Santanael bekerja sebagai pegawai administrasi. Gospar sengaja membelinya untuk mengawasi kegiatan Santanael.
"Bro...kamu masih mencintainya. Aku tidak mengerti, mengapa kamu melepaskan mantan istrimu itu?"
"Dia kotor."
"Apakah sekarang masih sama?"
"Tidak! aku harus mendapatkan dia kembali."
"Bagaimana istrimu di rumah?"
"Dia? Dia harus bersyukur bisa mendapatkan keuntungan dan kenyamanan dari kekayaan milikku, tugasnya hanya memberikan aku keturunan."
Beberapa temannya saling berpandangan satu sama lain, Gospar menyalakan rokoknya dengan acuh.
"Gila kamu-- , apakah istrimu tahu tentang ini?"
Gospar menyemburkan asap, "Aku rasa tidak. Sejak awal sudah aku katakan untuk tidak berfikir banyak, dia menyetujui."
"Tapi, Santanael sepertinya sudah melupakan tentangmu."
Sekali lagi asap di keluarkan dari mulut Gospar, "Bantu aku, semua proyek di gedung sebelah berikan padaku."
Salah satu temannya berdiri cepat, "Itu tidak mungkin, pemilik perusahaan dan gedung sudah datang."
Gospar meliriknya, "Aku membayar mu sangat besar untuk mengawasi Santanael, perkara kecil seperti itu, apakah kamu takut?"
"Aku-- "
"Bro, jangan salah paham pada kami, pemilik perusahaan dan gedung itu bukan orang yang bisa kamu singgung atau singkirkan seperti pria-pria lainnya di sekitar mantan istrimu itu."
Dua dari empat teman Gospar merupakan pegawai di gedung yang sama dengan Santanael bekerja. Mereka bertugas untuk menghalau pria-pria yang menginginkan Santanael.
"Jangan lupakan Alvian."
"Benalu itu sangat gigih melindungi."
"Mungkin kita bisa mulai dari Alvian untuk mendapatkan proyek itu."
Gospar mematikan rokoknya ke dalam asbak di depannya,"Aku ingin Santanael terlibat dalam proyek kali ini."
Mata membulat penuh kengerian tercetus dalam mata dua temannya, "Bro, kamu lepaskan dia. Kasihan hidupnya," seru salah satunya.
Bruk!!
Darah merembes dari kepala, "Kamu-- memukul? Gospar!! kita berteman sudah sangat lama," teriak kencangnya.
Di tangan Gospar tampak asbak terdapat noda darah. Isinya berhamburan di atas karpet tebal, matanya bersinar kejam berikan peringatan.
Tiga teman lain terkejut demikian juga para wanita di sudut mulai berwajah pucat. Tak ada yang berani bergerak.
"Kasihan atau tidak itu urusanku! kamu tidak berhak mempunyai perasaan padanya."
"Kamu-- !!"
"Santanael adalah istriku selamanya."
"Gospar, sadarlah!"
"Apakah kamu menyukainya?"
Kepala di pegang, badan bergetar menahan kemarahannya akibat di pukul Gospar.
"Suka? mana ada yang berani bersaing dengan yang mulia Gospar. Kamu menginginkan mantan istrimu, cari jalan sendiri, aku keluar dari lingkaran kalian!" katanya tegas, ia berdiri untuk pergi.
Bum!!
Asbak membentur pintu, teriakan kencang terdengar mewarnai seiring badan jatuh ambruk di karpet. Darah membanjiri sekitarnya.
"Kalian bantu aku atau nasib kalian sama sepertinya!"
Gospar melihat ke arah tiga teman lainnya, para wanita bergetar menahan tangisan di ujung telapak tangan masing-masing.
"Jangan khawatir, kami pastikan bantu kamu bawa Santanael satu proyek denganmu," kata pria yang berkacamata.
"Aku suka itu, ayo lanjut pestanya. Panggil petugas kebersihan untuk membuang sampah."
"Ya...ya..."
Mereka bergerak cepat menyenangkan Gospar di sertai ketakutan di wajah masing-masing. Gospar menyeringai.